Upacara-Upacara Kematian Suku Dayak Maanyan
Ditulis oleh Anak Sultan di/pada Maret 11, 2007
Hampir semua suku Dayak yang ada di Kalimantan Selatan menggambarkan kemuliaan dunia baru yang akan dituju oleh roh orang yang meninggal dunia (negeri arwah/tumpuk audiau) yang merupakan sebuah negeri kaya raya berpasir emas, berbukit intan, berkerikil manik-manik dan penuh dengan kesenangan, kesempurnaan yang berarti tidak ada lagi kesusahan serta tangisan.
Dengan adanya hukum-hukum upacara kematian, terutama setelah kematian tatau matei yang meninggalkan sisa adanya mayat seperti sekarang maka penyelenggaraan upacara kematian harus selalu dilaksanakan sesuai dengan keberadaan dan tingkat perekonomian masyarakat pendukungnya.
Dalam perkembangan selanjutnya penyempurnaan ini melahirkan berbagai bentuk upacara kematian seperti yang dilakukan sekarang ini. Untuk daerah hukum adat suku Dayak Maanyan yang meliputi wilayah Banua Lima, Paju Empat dan Paju Sepuluh terdapat bentuk-bentuk upacara kematian sebagai berikut:
- Ejambe, yaitu upacara kematian yang pada intinya pembakaran tulang si mati. Pelaksanaan upacaranya sepuluh hari sepuluh malam. Upacara ini tidak pernah lagi dilakukan di desa Warukin.
- Ngadatun, yaitu upacara kematian yang dikhususkan bagi mereka yang meninggal dan terbunuh (tidak wajar) dalam peperangan atau bagi para pemimpin rakyat yang terkemuka. Pelaksanaannya tujuh hari tujuh malam.
- Mia, yaitu upacara membatur yang pelaksanaannya selama lima hari lima malam.
- Ngatang, yaitu upacara mambatur yang setingkat di bawah upacara Mia, karena pelaksanaannya hanya satu hari satu malam. Dan kuburan si mati pun hanya dibuat batur satu tingkat saja.
- Siwah, yaitu kelanjutan dari upacara Mia yang dilaksanakan setelah empat puluh hari sesudah upacara Mia. Pelaksanaan upacara Siwah ini hanya satu hari satu malam. Inti dari upacara Siwah adalah pengukuhan kembali roh si mati setelah dipanggil dalam upacara Mia untuk menjadi pangantu keworaan (sahabat pelindung sanak keluarga).
Isi dari berbagai upacara kematian biasanya berupa pergelaran berbagai kesenian atau tari-tarian tradisional Dayak Maanyan seperti Gintur, Giring-Giring, Dasas, Ebu Lele, dan sebagainya, jadi upacara kematian merupakan kesenangan belaka karena para pengunjung bebas untuk memperlihatkan kebolehannya.
Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !
mbah keman berkata
Wah wah. posting2 anda hanya bisa membuat saya manggut2 ….ini saya bisa tau sejarah tanpa harus keliling nusantara
Terima kasih banyak mbah keman…membuat saya semakin bersemangat menampilkan salah satu keindahan budaya di negara kita
tukangkomentar berkata
Blog yang bagus dan berguna. Selamat. Mungkin lebih lengkap, kalau bilingual (Indonesia dan Inggris), supaya bisa dibaca dan dinikmati juga oleh orang asing yang ingin mengenal budaya Indonesia selain Bali dan Jawa.
terima kasih, usul yang sangat bagus sekali ! ingin sekali membuat blog ini dua bahasa, saat ini masih terfokus mengumpulkan materi yang ingin diposting, mudah-mudahan nanti sedikit-sedikit dialihbahasakan. untuk memberi informasi kepada orang luar negeri, semoga saja bisa menjadi tujuan wisata baru menambah devisa negara kita dan memberdayakan masyarakat sekitar.
freti berkata
thank you banget kamu masih peduli pada adat-istiadat moe. jangan berhenti ya “
ahmadsalehudin berkata
menarik sekali
ahmadsalehudin berkata
kayaknya akan tambah menarik jika…ada fotonya dech…he…
bagi saya yang tidak tau kalsel…hanya bisa mereka-reka saja…coba ada picnya, pasti menarik sekali..
makasih…
dean berkata
dehhhhhhh elllah mazzzzzzz
narcizz bgt seeehh loe jade orang…
gak janji dech gue ppppoennnya komentar
bbbagoes ttg loeeeee
Meid berkata
comment about loe?! gak penting buanget deeeeeeeeeeeeeeehhhhhhhhhh…,
sok keren loe pake pasang foto segala
Fahrulraji berkata
Assalamu’alaikum. wr.wb.
Perkenalkan nama ulun Roel D Borneo………
Ulun urang Banjar asli, kelahiran Kampung Melayu di Banjarmasin, sampai saat ini keluarga ulun masih betuyuk di Banjar, walau ulun sejak tahun 1990 meninggalkan Banjar dan wahini bemukim atawa bediam di Sampit Kalimantan Tengah.
Ulun tertarik dengan ulasan pian mengenai Budaya Banjar, sebab setiap Upacara Perkawinan dan ke Agamaan, Adat Budaya Banjar Tanah Kelahiran Ulun kada pernah hilang.
Ulun menyesalkan tentang Kaum Muda Banjar seangkatan ulun, apalagi dibawahnya, mintu jua orang-orang yang kada faham atawa emmang lain “Urang Banjar” yang kada faham tentang Tata Bahasa Banjar, Adat Istiadat dan Budaya Banjar.
Pinanya kurang banar Literatur-literatur tentang “BANJAR” macam Adat Istiadatnya, Budayanya dan Tata Bahasa Banjar.
Ulun masih ingat waktu masih hahalusan, dikesahkan Datu, Nini, sampai Abah ulun sejarah Kerajaan Banjar, Legenda Cerita Rakyat, sampai Asal mula Kerajaan Banjar.
Kalau ulun ini masih keturunan Cucu 10 yang pasti pian-pian tahu tentang “Cucu 10″ dimana dikeluarga ulun masih tetap berpegang pada Tradisi Adat Banjar.
Bini ulun urang Jawa, tetapi Bini wan anak-anak ulun secara berkala rancak ulun kesahi tentang Banjar sampai ulun bawai ketempat-tempat bersejarah di Banjar.
Ulun jarang bulik ke Banjar, tetapi bila ulun ada ke Banjar, walau keadaannya sudah berobah wan semakin sumpek, tetap ulun mencintai Tanah Kelahiran ulun.
Apabila rancak ulun ke Banjar, kada terasa banyu mata belilihan mehayuyung rindu Tanah kelahiran ulun nang juga dibesarkan, walau akhirnya demi Masa depan, ulun meninggalkannya.
Tetapi ulun sampat ba ujar dalam hati, walau saat ini ulun belum bisa memberikan apa2 terhadap Tanah Kelahiran ulun, suatu saat ulun akan bulik dan membangunnya dengan menjunjung tinggi Budaya Banjar.
Specialy For Dean and Meid, You are suck, becouse you dont have Culture and You not Indonesian People. Why you to humiliate my Culture and What you mean to ugly of anyone (Anak Sultan) to appreciate of civilization?
You are (mr. Dean and Meid) of deceit this country….. My Country of Indonesia, is not you.
Untuk Dingsanak, Abang, Paman atau Abah “Anak Sultan” ulun dukung Semboyan pian Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !
Tanggapan dari “PENJAHAT BANGSA” seperti mr. Dean and Meid, kada usah ditanggapi atau dimasukan kehati, Ulun mendukung sepenuhnya Adat dan Budaya Banjar dengan semboyan “KAYUH BA IMBAI, WAJA SAMPAI KAPUTING”
Wassalam.
ROEL D BORNEO
Neng Opih berkata
Hallo Bajar,
Saya sangat ingin berkunjung kesana ke Banjar, saya ingin mencicipi langsung rasa asli soto Banjar, tapi lebih dari itu saya ingin sekali melihat langsung budaya Banjar yang banget elok dan menakjubkan….
ya kalo pun saya tidak kesampean ke Banjar, hanya satu pesan saya tolong lestarikan budayanya, agar bangsa ini kaya dengan ragam budaya, dan terus terang saya sangat suka meyimak apapun yang berhubungan dengan budaya Dayak, walopun saya berasal dari suku sunda.
Hmmmm….banyakin fotonya atuh foto pada setiap kali ada ritual.
salam untuk Banjar, sukses selalu
ferry waning berkata
Apa yang akan terjadi kemudian, jika selalu terjadi dikotomi dalam pelayanan masyarakat, Orang Dayak yang nota bene penduduk asli Kalimantan masih dipandang sebelah mata oleh Pemerintah Banjarmasin dan termarginalkan… hati-hati semakin lama ditekan akan terjadi blow up yang tidak terduga….orang Dayak susah berkiprah di pemerintahan terlebih jika dia Dayak (dan Kristen)
abuk anyan berkata
hayu puang karasa inun sa sejarah…………………..
suwito berkata
terimaksih atas infonya ttg upacara kematian suku dayak, usul saya, selain foto ditampilkan juga tampilkan “ungkapan-ungkapan” dalam acara tsb dalam bahasa aslinya, terimakasih. semoga terus berkarya.
menyun berkata
akadhi’ngEnge’….
rony berkata
bagus sekali…………….