Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Arsip untuk ‘Adat Istiadat’ Kategori

Badudus

Posted by Anak Sultan pada April 10, 2013

Badudus mempunyai fungsi yang hampir sama dengan bapapai mandi-mandi pengantin, hanya saja badudus lebih rumit dalam persyaratannya. Dalam upacara badudus untuk keluarga kerajaan atau keturunan bangsawan yang akan dimandikan sehingga sering kali diiringi dengan upacara kebesaran kerajaan.

Perlengkapan dalam upacara badudus:
1. mayang pinang yang masih dalam upung (pembungkus mayang)
2. tempat air (mangkok, tajau/tempayan)
3. nyiur anum (kelapa muda) yang telah dipangkas bagian tangkai dan bawah, diletakkan dua buah di hadapan kedua mempelai
4. minyak likat baboreh (minyak olahan khas Banjar)
5. sasanggan (sejenis baskom dari kuningan)
6. tapih balipat (sarung yang ditumpuk dengan bentuk khusus untuk tempat duduk mempelai)
7. kasai kuning (bedak yang dicampur dengan kunyit dan air)
8. piduduk
9. cermin dan lilin

Tata cara upacara badudus:
1. kedua mempelai duduk di atas sasanggan yang dibalik dekat dengan piduduk
2. seluruh badan diolesi/dipercik-percikkan minyak likat baboreh
3. kemudian mulai dimandikan dengan air yang ada di dalam tajau yang sudah dimasukkan mayang pinang didalamnya oleh sesepuh yang ditugaskan untuk memandikan.
4. pada curahan air terakhir, dicurahkanlah “banyu bagantung” (air dari kelapa muda) kepada kedua mempelai
5. setelah selesai mandi, kedua mempelai didudukkan pada tapih balipat
6. telapak kaki kedua mempelai diberi coretan cacak burung (+) dengan kunyit dicampur kapur tujuannya agar tidak diganggu roh/makhluk halus
7. setelah itu masih di posisi duduk di atas tapih balipat, kedua mempelai dikelilingi lilin dan cermin sebanyak 3 kali
8.terakhir kedua mempelai diolesi kasai kuning dengan tujuan kedua mempelai terlihat kuning berseri, biasanya akan hilang dalam waktu tiga hari.

Dalam upacara badudus yang pernah dilakukan oleh Sultan Banjar H. Khairul Saleh, sumber air diambil dari 7 tempat bersejarah di Kalimantan Selatan.

Demikian sekilas upacara badudus untuk memandikan keluarga kerajaan dalam adat Banjar.

(sumber Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H. Syarifuddin R)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

Ditulis dalam Adat Istiadat | 2 Comments »

Bamandi-mandi Pengantin (Bapapai)

Posted by Anak Sultan pada April 9, 2013

Sebelum acara perkawinan adat Banjar dilaksanakan ada satu adat yang sering dilakukan
oleh calon pengantin, yaitu upacara bamandi-mandi, yang dinamai bapapai atau badudus.

Bapapai atau badudus, memiliki kesamaan dalam fungsinya, hanya penempatannya yang berbeda.
Badudus adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh keluarga kerajaan atau keturunan bangsawan atau yang ada hubungannya dengan keluarga candi (tutus candi). Bapapai adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh orang Banjar pada umumnya.

Kata “papai” dalam bahasa Indonesia berarti “percik”, dalam praktiknya bapapai seperti memercik-mercikkan air memakai mayang pinang kepada calon mempelai yang sedang dimandi-mandi.

Alat kelengkapan dalam bapapai ini antara lain,
1. tempat air (gayung/ember)
2. kembang (bunga-bunga harum)
3. mayang pinang
4. daun tulak yang dicampur air
5. piduduk yang berisi beras, gula, kelapa ada juga yang memuat cingkaruk (kue dari kelapa), nasi kuning, dan nasi lamak.

Orang yang bertugas memandikan atau memapai biasanya perempuan lanjut usianya yang merupakan tetua/sesepuh dalam keluarga. Ada juga satu tradisi untuk sumber air dalam bapapai diambil dari “ulak” atau pusaran air pada sungai besar, karena ada kepercayaan bahwa ada naga yang ditinggal diulakan tersebut sehingga air ulakan dimaksudkan supaya jangan kena pengaruh buruk dari naga itu.

Tata cara dalam bapapai menurut adat kawin:
1. calon pengantin pria diarak ke tempat calon pengantin wanita pada malam menjelang hari perkawinan
2. pengantin didudukkan berdampingan di serambi rumah atau di bagian belakang rumah
3. kemudian dimandikan dengan cara memercikkan air papaian oleh sesepuh wanita
4. jumlah memandikan selalu ganjil ada 3, 5, atau 7 secara bergantian.
5. setelah habis mandi, pengantin pria dan wanita disisiri, diminyaki, dan sebagainya
6. kemudian didudukkan berdampingan (batatai) dikelilingi oleh cermin dan lilin.
7. cermin dan lilin dikelilingkan kepada mempelai sebanyak 3 kali oleh wanita yang memandikan tadi.
8. setelah selesai calon pengantin pria kembali ke rumahnya

Demikian sekilas mengenai adat pengantin mandi-mandi atau bapapai
(sumber Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H. Syarifuddin R)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

Ditulis dalam Adat Istiadat | Leave a Comment »

Upacara Baayun Wayang dan Baayun Topeng

Posted by Anak Sultan pada April 24, 2007

Masyarakat Banjar di antaranya ada yang melaksanakan upacara berdasarkan adat yang bersifat khusus di lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Salah satu upacara yang sering diadakan adalah upacara Baayun Wayang dan Baayun Topeng. Upacara ini biasanya dilakukan bersamaan dengan diadakannya Upacara Manyanggar Banua atau Babunga Tahun.

Bentuk ayunan dan peralatan lain yang digunakan hampir sama dengan ayunan pada upacara baayun mulud, perbedaannya hanya terdapat pada waktu pelaksanaan, tempat dan tujuan upacara. Upacara baayun wayang dilaksanakan dini hari menjelang Subuh sehabis pergelaran wayang sampir yang diadakan di panggung terbuka dalam rangkaian upacara manyanggar banua. Begitu pula dengan baayun topeng, hanya waktu pelaksanaannya saja dilakukan pada sore hari, yaitu setelah upacara memainkan topeng.

Pada upacara baayun wayang yang mengayun anak dalam buaian adalah seorang dalang sambil bamamang (membaca mantra) dengan wayang di tangan. Sedangkan pada upacara baayun topeng anak-anak juga diayun oleh seorang dalang membaca mantra dengan memegang topeng. Pada kedua upacara ini kedua orang tua hanya membawa anak ke tempat upacara kemudian memohon kepada dalang agar anaknya dapat diayun.

Upacara ini dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat yang biasa menunggui anak-anak. Menurut kepercayaan pada waktu diadakan upacara manyanggar banua diundang semua mahluk halus yang menghuni jagad raya, sehingga kesempatan itu digunakan untuk meminta agar jangan mengganggu anak cucu. Sebagai pelengkap upacara disajikan berbagai jenis kue-kue tradisional.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat | 8 Comments »

Upacara Aruh Ganal

Posted by Anak Sultan pada April 24, 2007

Upacara Aruh Ganal ini merupakan upacara adat yang terdapat pada suku Dayak Bukit di Pegunungan Meratus. Suku Bukit yang sering melaksanakan upacara ini antara lain daerah Mancabung, Harakit, Balawaian, Batung, Danau Darah, dan Ranai.

Aruh Ganal artinya Kenduri Besar (aruh = kenduri, ganal = besar). Jadi upacara ini dilaksanakan secara besar-besaran oleh seluruh warga kampung dan dihadiri undangan dari kampung lainnya. Dinamai aruh ganal karena ada juga tradisi aruh kecil yang disebut baatur dahar. Baatur dahar ini biasanya hanya dilakukan di lingkungan keluarga. Kemeriahan aruh ganal yang dilakukan tergantung keadaan ekonomi warga di kampung tersebut, sebagai ukurannya adalah hasil panen padi, kacang, dan tanaman pokok lainnya. Apabila hasil tanaman tersebut banyak dan bagus maka akan diadakanlah upacara aruh ganal, sebaliknya jika panen kurang berhasil maka cukup diadakan aruh kecil atau bahkan tidak diadakan sama sekali.

Tujuan diadakannya aruh ganal ini sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa, sekaligus memohon agar hasil tahun yang akan datang mendapat panen yang melimpah, dijauhkan dari mara bahaya dan mahluk perusak tanaman.

Waktu Penyelenggaraan

Aruh ganal pada dasarnya dilakukan setahun sekali, namun apabila dalam musyawarah adat menganggap bahwa penduduk banyak yang kurang penghasilannya, maka aruh ganal tidak dilaksanakan pada tahun itu. Waktu penyelenggaraan sesudah panen yang biasanya jatuh pada bulan Juli dan Agustus. Untuk menetapkan hari dan tanggalnya diputuskan dalam musyawarah desa yang dipimpin oleh Kepala Adat dibantu oleh Kepala Kampung. Dalam menentukan tanggal diperhatikan bulan muda , berkisar antara tanggal 1 sampai 15, hal ini berhubungan dengan simbol bahwa rejeki akan naik apabila dilaksanakan pada tanggal-tanggal tersebut.

Persiapan Upacara

Tempat dilaksanakannya upacara adalah di dalam Balai Adat. Persiapan aruh dimulai dengan hari batarah sehari sebelum upacara dimulai. Hari batarah maksudnya hari memulai pekerjaan, mempersiapkan segala sesuatu, membuat perlengkapan upacara, menyiapkan sesaji. Pekerjaan itu harus selesai dalam satu hari.

Perlengkapan upacara yang paling penting adalah langgatan. Langgatan merupakan induk ancak dan sesaji. Untuk menghias langgatan dilakukan pada keesokan harinya setelah malam pembukaan. Langgatan dibuat bersusun lima tingkat, ancak yang terbesar terletak di bawah, makin ke atas makin kecil. Langgatan itu nantinya digantung di tengah balai dengan menggunakan tali rotan yang diikat di empat sudutnya.

Langgatan ini namanya bermacam-macam sesuai dengan isi dan tujuannya. Ada yang bernama Ancak ka gunung (tidak bertingkat), Ancak Balai Raden (berbentuk perahu)

Jenis perlengkapan lainnya adalah Kelangkung, dibuat sebanyak tiga buah. Yang pertama disebut Kelangkung Mantit (nama nenek moyang burung), Kelangkung Nyaru (Dewa Petir), Kelangkung Uria (dewa yang memelihara segala mangsa dan bala yang merusak tanaman)

Pelaksana Upacara

Untuk menyelenggarakan kegiatan upacara yang bersifat khusus mulai awal sampai selesai dilakukan oleh Balian. Balian ini mempunyai pengetahuan yang luas mengenai seluk beluk adat dan tradisi yang dipercayai. Pengetahuan ini diperoleh dengan cara berguru kepada Balian Tuha dan balampah (melakukan semacam semedi untuk bersahabat dengan berbagai jenis roh halus untuk memperoleh kesaktian tertentu).

Dalam upacara ini Balian yang melakukan tugas ada beberapa orang. Sebagai pimpinan dari Balian ini adalah Pangulu Adat (penghulu adat).

Setiap Balian selalu didampingi oleh Panjulang. Panjulang adalah wanita yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian atau dapat pula mengajukan permohonan atas kehendak masyarakat. Segala permintaan oleh Balian dilayani oleh Panjulang.

Upacara yang dilakukan oleh Balian ini akan berlangsung dalam lima hari berturut-turut sampai acara Aruh Ganal selesai.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat | 23 Comments »

Balai Laki

Posted by Anak Sultan pada April 20, 2007

Tempat bersanding pengantin Banjar berikutnya yang akan dibahas disini adalah Balai Laki.

Bentuk

  • Menyerupai panggung atau pentas dengan ketinggian sekitar 2 m dan lebarnya sekitar 2 – 3 m.
  • Bahan bangunan yang digunakan sebagai tiang adalah batang Pinang ataupun bahan kayu lainnya yang cukup kuat menahan beban 4-6 orang.
  • Bagian atas panggung digunakan sebagai tempat duduk yang memanjang untuk tempat duduk pasangan mempelai serta pendamping mempelai dan petugas upacara

Penempatan Balai

Balai dibangun di tepi jalan raya atau tempat lain dimana memungkinkan masyarakat dapat berkumpul untuk menyaksikan penampilan pasangan mempelai serta menampilkan atraksi kesenian sejak awal menyertai kegiatan ini.

Perlengkapan Hias Balai

  • Tempat duduk mempelai dihias megah
  • Bubungan atau atap pelindung dari teriknya matahari yang memancar, karena umumnya upacara bersanding di balai laki diselenggarakan menjelang tengah hari sekitar pukul 11.00 – 13.00
  • Tabir air guci, hiasan kain aneka warna yang menambah megahnya Balai Laki.

Hiasan Pelengkap

  • Di sekitar balai laki dihias dengan janur daun pucuk kelapa atau pucuk enau
  • Pada beberapa daerah tertentu menggunakan umbul-umbul yang terbuat dari kain sarung wanita yang disusun dan direntang ke segala penjuru sebagai layaknya bendera isyarat yang digunakan di kapal samudera pada hari-hari besar. Konon dulu jika yang mengadakan acara perkawinan adalah orang kaya maka sarung yang jadi umbul-umbul itu akan dibagi-bagikan.
  • Setelah selesai upacara balai laki tidak segera dibongkar, tetapi tetap dibiarkan mungkin akan digunakan lagi seandainya ada keluarga/tetangga yang akan menyelenggarakan upacara serupa.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat | 6 Comments »

Geta Kencana

Posted by Anak Sultan pada April 2, 2007

Pada posting sebelumnya telah diceritakan detail balai patataian pengantin Banjar, sekarang saya akan memberikan detail mengenai tempat bersanding berikutnya yaitu, Geta Kencana atau Geta Peraduan.

Bentuk

  • sebagai tempat tidur yang bertiang atau berbentuk ranjang yang dibuat dari kayu berukir
  • berbentuk dipan rendah
  • berbentuk tilam batumpang tinggi dengan posisi bubungan kelambu yang digantung

Penempatan Geta

  • menurut fungsinya sebagai tempat peraduan maka penempatannya sudah tentu di ruang dalam yang merupakan kamar tidur pengantin
  • kalau difungsikan sekaligus sebagai tempat batatai mempelai, maka posisinya di ruang tamu atau ruang tengah

Perlengkapan Geta

  • dinding air guci atau dinding tatanggaan atau bahkan dinding tambal saribu digunakan sebagai penutup bagian belakang tempat tidur
  • Kelambu bagantung balalawangan, kasur/tilam, bantal yang kesemuanya diberi sarung disulam dengan motif Banjar
  • Bantal tatumpangan dengan selempangnya
  • gagunungan atau pucuk
  • tabir adalah hiasan atas bagian depan kelambu
  • tepi di sekeliling tilam batumpang tinggi
  • kakait kalambu (penyangkut kelambu), dikenal dengan hiasan buah katu atau ada pula kekait burung
  • Hiasan puput (putik bunga yang akan menjadi buah) dan buah rambai untuk tempat kembang bunga rampai
  • Dinding halat, yaitu sepasang dinding air guci dilipat sedemikian rupa dan digantung di depan geta
  • tali berwarna kuning yang biasanya digunakan untuk mengikat bunga serta mayang

Perlengkapan Pelengkap

  • paludahan besar sebanyak 2 buah, biasanya digunakan untuk meletakkan kembang sarai atau payung kembang
  • panginangan atau paludahan kecil
  • tempat air minum (teko berisi air putih dan 2 buah cangkir)
  • obon kuningan
  • talam babatis dengan tudung saji

Ornamen Hias Lainnya

  • pada geta peraduan yang kelambunya memakai tiang (ranjang), ada kalanya pada lawangan bagian depan yaitu tiang kiri dan kanan dilapis dengan kain yang lebih bagus daripada kain kelambu yang disulam dengan benang emas dan kulingkang dengan motif pucuk rabung dan kambang tanjung atau bintang bahambur. kain yang disulam ini dipasang menjulur ke depan yang dinamakan telapak gajah
  • karena kamar tidur pengantin selain indah, juga harus segar dan harum/wangi, maka dihias pula dengan rangkaian bunga segar/bunga hidup, seperti melati, mawar, sedap malam, mayang pinang, dan bunga lainnya yang khas tumbuh di daerah Banjar
  • waktu menghias geta kencana biasanya pada pagi hari dengan terlebih dahulu mengadakan selamatan dan menyediakan piduduk
  • yang dianggap tabu atau pamali untuk digunakan sebagai hiasan maupun ornamen adalah warna hitam dan payung (kecuali payung kambang)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat | 3 Comments »

Proses Penguburan Suku Dayak Maanyan

Posted by Anak Sultan pada April 2, 2007

Setelah seseorang dari suku Dayak Maanyan dinyatakan meninggal maka dibunyikanlah gong beberapa kali sebagai pertanda ada salah satu anggota masyarakat yang meninggal. Segera setelah itu penduduk  setempat berdatangan ke rumah keluarga yang meninggal sambil membawa sumbangan berupa keperluan untuk penyelenggaraan upacara seperti babi, ayam, beras, uang, kelapa, dan lain-lain yang dalam bahasa Dayak Maanyan disebut nindrai.

Beberapa orang laki-laki pergi ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar dan menebang pohon hiyuput (pohon khusus yang lembut) untuk dibuat peti mati. Kayu yang utuh itu dilubangi dengan beliung atau kapak yang dirancang menyerupai perahu tetapi memakai memakai tutup. Di peti inilah mayat nantinya akan dibaringkan telentang, peti mati ini dinamakan rarung.

Seseorang yang dinyatakan meninggal dunia mayatnya dimandikan sampai bersih, kemudian diberi pakaian serapi mungkin. Mayat tersebut dibaringkan lurus di atas tikar bamban yang diatasnya dikencangkan kain lalangit. Tepat di ujung kepala dan ujung kaki dinyalakan lampu tembok atau lilin. Kemudian sanak famili yang meninggal berkumpul menghadapi mayat, selanjutnya diadakan pengambilan ujung rambut, ujung kuku, ujung alis, ujung bulu mata, dan ujung pakaian si mati yang dikumpulkan menjadi satu dimasukkan ke sebuah tempat bernama cupu. Semua perangkat itu dinamakan rapu yang pada waktu penguburan si mati nanti diletakkan di atas permukaan kubur dengan kedalaman kurang lebih setengah meter.

Tepat tengah malam pukul 24.00 mayat dimasukkan ke dalam rarung sambil dibunyikan gong berkali-kali yang istilahnya nyolok. Pada waktu itu akan hadir wadian, pasambe, damang, pengulu adat, kepala desa, mantir dan sanak keluarga lainnya untuk menghadapi pemasukan mayat ke dalam rarung.

Pasambe bertugas menyiapkan semua keperluan dan perbekalan serta peralatan bagi si mati yang nantinya disertakan bersamanya ke dalam kuburan. Sedangkan Wadian bertugas menuturkan semua nasihat dan petunjuk agar amirue (roh/arwah) si mati tidak sesat di perjalanan dan bisa sampai di dunia baru. Wadian di sini juga bertugas memberi makan si mati dengan makanan yang telah disediakan disertai dengan sirih kinangan, tembakau dan lain-lain.

Jika penuturan wadian telah selesai tibalah saatnya orang berangkat mengantar peti mati ke kuburan. Pada saat itu sanak keluarganya menangisi keberangkatan sebagai cinta kasih sayang kepada si mati. Menunjukkan ketidakinginan untuk berpisah tetapi apa daya tatau matei telah sampai dan rasa haru mengingat semua perbuatan dan budi baik si mati selagi berada di dunia fana.

Ditulis dalam Adat Istiadat | 23 Comments »

Upacara Baayun Mulud

Posted by Anak Sultan pada April 1, 2007

Salah satu tradisi masyarakat Banjar yang ramai dilakukan pada saat bulan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah tradisi upacara baayun mulud. Baayun asal katanya dari ‘ayun’, jadi bisa diterjemahkan bebas ‘melakukan proses ayunan/buaian’. Bayi yang mau ditidurkan biasanya akan diayun oleh ibunya, ayunan ini memberikan kesan melayang-layang bagi si bayi sehingga ia bisa tertidur lelap. Asal kata ‘mulud’ dari sebutan masyarakat untuk peristiwa maulud Nabi.

Upacara ini dilakukan di dalam masjid, pada ruangan tengah masjid dibuat ayunan yang membentang pada tiang-tiang masjid. Ayunan yang dibuat ada tiga lapis, lapisan atas digunakan kain sarigading (sasirangan), lapisan tengah kain kuning (kain belacu yang diberi warna kuning dari sari kunyit), dan lapisan bawah memakai kain bahalai (kain panjang tanpa sambungan jahitan).

Pada bagian tali ayunan diberi hiasan berupa anyaman janur berbentuk burung-burungan, ular-ularan, katupat bangsur, halilipan, kambang sarai, rantai, hiasan-hiasan mengunakan buah-buahan atau kue tradisional seperti cucur, cincin, kue gelang, pisang, kelapa, dan lain-lain.

Kepada setiap orang tua yang mengikutsertakan anaknya pada upacara ini harus menyerahkan piduduk, yaitu sebuah sasanggan yang berisi beras kurang lebih tiga setengah liter, sebiji gula merah, sebiji kelapa, sebiji telur ayam, benang, jarum, sebongkah garam, dan uang perak. Piduduk ini bukan maksud untuk musyrik tetapi nanti akan dimakan beramai-ramai oleh orang yang hadir. Upacara baayun mulud ini sudah merupakan upacara tahunan yang selalu digelar bersama-sama oleh masyarakat Banjar.

Peserta baayun mulud ini tidak terbatas pada bayi yang ada di kampung yang melaksanakan saja, tetapi boleh saja peserta dari kampung lain ikut meramaikan. Bahkan saat ini ada saja orang yang sudah tua ikut baayun karena mereka merasa waktu kecil dulu tidak sempat ikut upacara baayun mulud. Dalam upacara nanti akan dibacakan berbagai syair, seperti syair barzanji, syair syarafal anam, dan syair diba’i. Anak-anak yang ingin diayun akan dibawa saat dimulai pembacaan asyarakal, si anak langsung dimasukkan ke dalam ayunan yang telah disediakan.

Saat pembacaan asyarakal dikumandangkan, anak dalam ayunan diayun secara perlahan-lahan dengan cara menarik selendang yang diikat pada ayunan. Maksud diayun pada saat itu adalah untuk mengambil berkah atas kemuliaan Nabi Muhammad SAW, orang tua yang hadir berharap anak yang diayun menjadi umat yang taat, bertakwa kepada Allah SWT dan RasulNya.

Upacara baayun mulud dilaksanakan pada pagi hari dimulai pukul 10.00, lebih afdhol apabila dilaksanakan bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal. Bagi orang tua yang mendapat kesempatan untuk mengikutsertakan anaknya dalam upacara ini akan merasa sangat bahagia dan beruntung.

Tradisi yang dilakukan secara massal ini sebagai pencerminan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi sekalian alam, upacara ini diibatkan melakukan penyambutan berupa puji-pujian yang diucapkan dalam syair-syair merdu.

Bagi warga masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung upacara baayun mulud ini bisa datang pada tanggal 5 April 2007 di halaman Museum Negeri Lambung Mangkurat Banjarbaru mulai pagi hari sampai selesai. Jangan katinggalan lah dangsanak sabarataan.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat, Event Budaya | 1 Comment »

Upacara Mangarani Anak

Posted by Anak Sultan pada Maret 26, 2007

Pada masyarakat Banjar, upacara mangarani (memberi nama) anak termasuk dalam upacara daur hidup manusia. Setelah bayi dilahirkan dari rahim ibunya merupakan kewajiban untuk memberi nama yang baik sebagai harapan bagi hidupnya kelak. Pemberian nama dalam adat Banjar dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama dilakukan langsung oleh bidan yang membantu kelahiran anak tersebut. Proses ini terjadi saat bidan melakukan pemotongan tangking (tali/tangkai) pusat, pada saat itu bidan akan memberikan nama sementara yang diperkirakan cocok untuk anak tersebut.

Pada waktu pemotongan tangking bayi itu akan dilantakkan (dimasukkan seperti ditanam) serbuk rautan emas dan serbuk intan ke dalam lubang pangkal pusatnya. Hal ini dimaksudkan agar si anak kelak kalau sudah dewasa memiliki semangat keras dan hidup berharga seperti sifat intan dan emas.

Setelah Islam masuk ke tanah Banjar, proses mangarani anak ini berkembang secara resmi menjadi tahap berikutnya yang disebut batasmiah (tasmiyah). Pemberian nama anak tahap dua ini untuk memantapkan nama si anak. Jika nama pilihan bidan sesuai dengan keinginan orang tua maka nama itu yang akan dipakai. Tetapi apabila orang tuanya mempunyai pilihan sendiri maka melalui acara batasmiah ini diresmikan namanya. Kadang-kadang dalam menentukan nama anak ini sering pula meminta bantuan orang alim atau patuan guru (alim ulama).

Pada upacara ini akan dimulai dengan membaca ayat suci Al Quran kemudian diteruskan dengan pemberian nama resmi kepada anak yang dilakukan oleh patuan guru yang sudah ditunjuk. Begitu pemberian nama selesai diucapkan, rambut si anak dipotong sedikit, pada bibirnya diisapkan garam, madu, dan air kelapa. Ini dimaksudkan agar hidup si anak berguna bagi kehidupan manusia seperti sifat benda tersebut. Anak yang sudah diberi nama ini akan dibawa berkeliling oleh ayahnya untuk ditapung tawari dengan minyak likat baboreh. Tapung tawar diberikan oleh beberapa orang tua yang hadir di acara tersebut (terutama kakeknya) disertai doa-doa untuk si anak.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat | 6 Comments »

Upacara Mandi Baya

Posted by Anak Sultan pada Maret 26, 2007

Upacara ini dilakukan oleh wanita suku Banjar yang sudah pernah mengalami beberapa kali kehamilan dan melahirkan. Mandi baya terjadi pada kehamilan hitungan ganjil, hamil anak ketiga, kelima, dan seterusnya. Upacara dilaksanakan pada malam hari biasanya sesudah shalat Isya. Air yang dipergunakan untuk mandi adalah air yang sudah dibacakan doa salamat, doa halarat, doa kiparat, dan doa panjang umur serta ditambahkan air yang sudah dibacakan surah Yasin.

Dalam mandi baya ini tidak ada aturan baku dalam pelaksanaannya, setiap wanita boleh berbeda-beda dalam melakukan mandi ini. Tujuannya memohon kepada Yang Maha Kuasa agar melindungi kehamilan kali ini, mereka berharap ibu yang sudah pernah melahirkan diberi izin kembali untuk dapat menjaga janin dalam kandungannya dari gangguan roh-roh jahat dan tekanan-tekanan batin yang bisa mempengaruhi keselamatan serta psikologis ibu dan janinnya.

Mereka yang masih memegang teguh tradisi ini merasa kurang tenteram apabila belum dilakukannya upacara mandi baya. Perasaan kurang tenteram dan takut menolak adat inilah yang mendorong masyarakat Banjar masih melestarikan adat ini sampai sekarang.

Upacara mandi baya pada masa kini hanya dilakukan bersama orang-orang dekat, bersama ibu kandung atau mertua. Tempat pelaksanaannya pun lebih bebas bisa saja dilaksanakan di dalam kamar mandi tanpa harus menyiapkan tempat khusus. Tidak ada makanan atau acara khusus mengiringi upacara mandi baya ini.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat | Leave a Comment »

Balai Patataian

Posted by Anak Sultan pada Maret 25, 2007

Pada tulisan yang lalu sudah disinggung sedikit mengenai salah satu bagian dari tempat bersanding perkawinan adat Banjar. Berikut ini beberapa detail penting yang menyertai bentuk balai patataian untuk pengantin Banjar yang disunting dari buku terbitan Lembaga Budaya Banjar mengenai Perkawinan Adat Banjar.

BENTUK

  • Berupa kerangka bangunan segi empat dengan ukuran minimal
    - tinggi : 2,5 meter
    - lebar : 2,5 meter
    - panjang : 2,0 meter
  • Bagian depan atas dihias dengan ukiran motif bunga-bungaan atau sasuluran, sedangkan 4 (empat) tiang penopang juga diberi ukiran atau dibungkus dengan kain kuning sedemikian rupa sehingga membentuk manisan yang mempunyai arti tersendiri dalam budaya Banjar
  • Di bagian depan atas (di atas papan ukiran bunga) ditempatkan ukiran sepasang Naga yang saling berhadapan sebagai perlambang keperkasaan dan keagungan.
  • Pada tiang penyangga bagian depan masing-masing dihias oleh Ular Lidi atau Ular Lulut sebagai perlambang kecantikan/keindahan dan kebijaksanaan.
  • Untuk tempat duduk di dalam balai patataian dibuat tempat duduk bertingkat dua (dadampar) yang dilapisis kain satin atau bahan lainnya yang berwarna kuning.

PENEMPATAN BALAI

Balai patataian ditempatkan di ruang tengah / ruang tamu rumah mempelai wanita atau ruangan lain dalam rumah yang dianggap pantas.

PERLENGKAPAN BALAI HIAS

  • Latar belakang tempat duduk mempelai berupa Dinding Air Guci dengan motif pilihan:
    - Bunga Teratai
    - Kembang Setaman
    - Kangkung Kaombakan
    masing-masing dengan hias keliling Pucuk Rabung, sebagai bingkainya berupa kain polos vertikal (babatis) dan kain polos horizontal (bapapan)
  • Lalangitan/bubungan (plafon) balai berupa kain kuning dengan motif Pancar Matahari dan atau motif kaligrafi nama ALLAH
  • Di bawah ukiran kayu, pada bagian samping kiri dan kanan dihias dengan Tabir Higa, sedang bagian depan dihias dengan Tabir Wawancuhan (kain hias berbentuk sendok nasi/wancuh)
  • Di bawah Tabir Wawancuhan digantungkan hiasan Buah Katu
  • Di bawah hiasan Tabir Higa pada sisi kanan-kiri balai dihias dengan jalinan kain aneka warna yang membentuk sebuah jala (biasanya antara 5-7 warna) dan disebut dengan istilah Tangga Bidadari atau Tali Gapu
  • Sebagai sandaran tempat duduk mempelai ditempatkan bantal yang disulam hias
    - baris horizontal : 2 – 5 bantal
    - baris vertikal : 2 – 3 bantal
    bantal-bantal ini disebut Tatumpangan yang masing-masing kelompok bantal diikat dengan selempang hias
  • Di bagian belakang susunan bantal ditancapkan Gagunungan atau disebut juga dengan istilah Pucuk antara 1 -3 buah sesuai keserasian jumlah susunan bantal secara vertikal
  • Pada bagian tempat duduk mempelai yang bertingkat dua tersebut, bagian atas dihias dengan hiasan Tepi Bawah (biasanya dengan motif Pucuk Rabung, Sasuluran, atau Kangkung Kaombakan)

PERLENGKAPAN UPACARA ADAT

  • Perangkat makan sirih (panginangan, paludahan/pakucuran)
  • Perangkat air minum (air putih dalam teko dan 2 (dua ) buah gelas/cangkir)
  • Peralatan Batapung Tawar (Tatungkal) yang merupakan campuran air bunga, minyak wangi, dan minyak likat baboreh
  • Nasi Hadap-Hadap

HIASAN LAIN

  • Rumpun Kambang Sarai (terbuat dari kertas warna-warni)
  • Pelbagai rangkaian Janur Banjar, khususnya bentuk Halilipan/Kelabang
  • Kembang Banjar (Kambang Barenteng, Bogam Baronce, dan Kambang Rampai)

Dalam menyajikan warna hiasan pada tata busana maupun warna kain lainnya sangat ditabukan untuk memakai warna hitam.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat | Leave a Comment »

Istilah Kekerabatan Masyarakat Banjar

Posted by Anak Sultan pada Maret 23, 2007

Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar mengenal istilah-istilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga. Skema dibawah ini berpusat dari EGO sebagai penyebutnya.

Waring

Sanggah

Datu

Kai (kakek) + Nini (nenek)

Abah (ayah) + Uma (mama)

Kakak < EGO > Ading


Anak

Cucu

Buyut

Intah

Bagi EGO juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua disebut Julak, saudara kedua disebut Gulu, saudara tengah dari ayah dan ibu disebut Angah, dan yang lainnya biasa disebut Pakacil (paman) dan Makacil (bibi). Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu.

Disamping istilah di atas masih ada pula sebutan lainnya, yaitu:

  • minantu (suami / isteri dari anak EGO)

  • pawarangan (ayah / ibu dari minantu)

  • mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri EGO)

  • mintuha lambung (saudara mintuha dari EGO)

  • sabungkut (orang yang satu Datu dengan EGO)

  • mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari EGO)

  • kamanakan (anaknya kakak / adik dari EGO)

  • sapupu sakali (anak mamarina dari EGO)

  • maruai (isteri sama isteri bersaudara)

  • ipar (saudara dari isteri / suami dari EGO)

  • panjulaknya (saudara tertua dari EGO)

  • pabungsunya (saudara terkecil dari EGO)

  • badangsanak (saudara kandung)

Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam boleh juga menggunakan kata aku untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian, dan kata ulun untuk menunjuk diri sendiri.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat | 12 Comments »

Adab Mencari Intan di Tanah Banjar

Posted by Anak Sultan pada Maret 22, 2007

Intan, kata untuk melambangkan gengsi tertinggi bagi para pencinta perhiasan. Bermilyar-milyar rupiah tiap tahunnya uang dibelanjakan orang seluruh dunia untuk memiliki benda satu ini. Di daerah Kalimantan Selatan, Kabupaten Banjar, disinilah intan berada tapi tidak semua orang memiliki kemampuan mendapatkannya. Intan di tanah Banjar adalah hal gaib penuh mistis dan berbagai aturan yang ketat untuk bisa mendapatkannya.

Entah kenapa intan mungkin merupakan satu-satunya hasil bumi tanah Banjar yang tidak bisa dijamah oleh orang asing. Minyak bumi, batu bara, batu besi, emas, dan lainnya bisa saja dengan mudah ditambang, asal dengan alat modern maka hasilnya akan banyak. Tetapi intan tidak semudah itu bisa ‘dijemput’ dari singgasananya di dalam perut bumi.

Pada tahun 1960 – 1970, di Kabupaten Banjar pernah dibuka usaha pertambangan modern dengan pelaksana PT. Aneka Tambang. Lahan garapannya mencapai wilayah 2 kecamatan, sebagaimana pertambangan modern alat yang dipakai adalah alat berat dan mesin-mesin bertenaga raksasa sampai keterlibatan tenaga ahli pertambangan dari luar negeri serta karyawan yang banyak. Tapi hasilnya tidak sebanding dengan modal yang dikucurkan padahal cukup dapat beberapa butir intan saja maka modal pasti balik. Nyatanya selama sepuluh tahun itu tidak pernah mendapatkan hasil memuaskan akhirnya usaha negara ini ditutup dengan kesimpulan wilayahnya tidak layak tambang.

Berbeda dengan masyarakat Banjar yang mendulang disana, dari dulu sampai sekarang mereka masih bisa menemukan beberapa intan dalam setahun cukup untuk membeli rumah dan tanah bahkan beberapa kali pergi haji.  Memang kenyataan yang mengherankan tetapi nyata terjadi, bagi orang pendulangan mencari intan penuh dengan adab-adab yang harus mereka patuhi agar tidak terkena pamali yang mengakibatkan intan lari ke dalam perut bumi. Berikut beberapa aturan pokok yang harus ditaati saat mencari intan di tanah Banjar:

  1. DILARANG, bakacak pinggang (bertolak pinggang), mahambin tangan (jari-jari tangan direkatkan lalu diletakkan di leher seperti bantal), bersiul, dan perbuatan tak senonoh lainnya. Hal ini akan dianggap bentuk kesombongan dan tinggi hati terhadap intan yang akan dijemput.
  2. DILARANG, mengucapkan kata-kata kotor dan ada istilah-istilah tertentu yang harus diganti, misalnya saat menemukan ular di dalam lubang pendulangan maka penyebutannya diganti ‘akar’, kalau bertemu babi hutan maka diganti ‘du-ur’. Saat memasuki lubang pendulangan tidak boleh menyebut kata ‘turun’ meskipun kenyataannya gerakan tersebut turun tetapi harus disebut ‘naik/menaiki’. Ini berhubungan dengan kepercayaan bahwa intan memiliki kekuatan untuk menghindari buruan, istilah ‘naik’ dipakai agar intan mau naik ke permukaan bila intan mendengar kata ‘turun’ maka intan akan kembali masuk Bumi.  Kemudian tidak boleh juga menyebutkan kata ‘jauhkan’ tapi diganti dengan kata parakakan yang berarti tolong dekatkan. Untuk kata ‘makan’ diganti dengan ‘batirak’ atau ‘bamuat’ sebab kata ‘makan’ mengandung pengertian yang sadis seperti binatang memakan binatang lainnya. Hal ini semua dilakukan sebab intan akan menjauhi orang yang berkata tidak sopan.
  3. SAMA SEKALI TIDAK BOLEH menyebut intan dengan sebutan ‘intan’ tetapi HARUS diganti ‘GALUH’ (panggilan kesayangan untuk anak perempuan Banjar). Ini berdasarkan kepercayaan bahwa intan adalah benda yang memiliki kekuatan dan bernyawa sehingga harus mendapat panggilan yang terhormat dan mesra setara dengan sebutan anak kesayangan atau puteri raja. Seringkali ada pendulang yang tidak sengaja menyebut ‘intan’ saat mendapatkan tiba-tiba intan tersebut menghilang atau berganti menjadi batu lain.
  4. TIDAK BOLEH wanita yang sedang haid mendekat di lokasi pendulangan sebab si Galuh sangat membenci orang yang dianggap ‘kotor’ dan selama masih ada wanita yang haid Galuh tidak mau datang.

dulang.jpg

Selain itu ada istilah yang tidak boleh diucapkan yaitu ‘padi/beras/banih’ harus diganti dengan kata ‘biji’, hal ini akibat SUMPAH yang diucapkan intan kepada manusia akibat sakit hatinya intan terhadap perlakuan manusia kepadanya. Konon sumpah ini yang menyebabkan intan di tanah Banjar begitu sulit dicari sampai ke dalam perut Bumi.

Demikian hal tabu yang harus dihindari bagi orang yang ingin mengadu nasib mencari si Galuh di tanah Sultan, tanahnya urang Banjar.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia ! 

Ditulis dalam Adat Istiadat | 18 Comments »

Perkawinan Adat Banjar : Tempat Bersanding

Posted by Anak Sultan pada Maret 19, 2007

Dalam struktur masyarakat feodal seperti kerajaan, tokoh penting atau orang besar akan mendapat porsi yang lebih terhormat dalam pelayanan sehari-hari. Misalnya raja akan disediakan singgasana megah dihiasi berbagai macam ornamen dan lambang kebesaran lainnya.

Pasangan Pengantin Banjar yang telah diberi gelar Raja Sahari sudah tentu pula mendapat fasilitas duduk bersanding di atas sebuah singgasana yang khusus dan indah. Secara umum tempat batatai (bersanding) dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Balai Patataian, atau sering disebut orang pelaminan. Bentuk berupa kerangka bangunan persegi empat dengan ukuran minimal: tinggi 2.5 m, lebar 2.5 m, panjang 2.0 m. Bagian depan dihias dengan ukiran motif Sasuluran (bunga-bungaan), sedangkan empat tiang penopang diberi ukiran atau dibungkus dengan kain kuning sedemikian rupa sehingga membentuk arti tersendiri dalam budaya Banjar. Di bagian depan atas ditempatkan ukiran sepasang Naga yang saling berhadapan sebagai perlambang keperkasaan dan keagungan. Untuk tiang penyangga depan dihias dengan ular lidi atau ular lulut sebagai lambang kecantikan dan kebijaksanaan. Bagian tempat duduk patataian dibuat bertingkat dua (dadampar) yang dihiasi dengan kain satin atau bahan lainnya yang berwarna kuning.petataian.jpg
  2. Geta Kencana atau Geta Peraduan berbentuk seperti tempat beradu/tempat tidur sebagai tempat tidur yang bertiang ukir dengan dipan yang rendah. Kasurnya berbentuk batumpang tinggi dengan posisi bubungan kelambu yang digantung.geta-kencana.jpg
  3. Balai Laki, jenis tempat bersanding yang dibuat di luar rumah dan umumnya dibangun di tepi jalan raya sebagai tempat bersanding mempelai sebelum memasuki rumah. Bentuknya menyerupai panggung atau pentas dengan ketinggian sekitar 2 meter dan lebar 3 meter. Balai laki ini memungkinkan masyarakat luas untuk melihat pasangan pengantin sambil menyaksikan atraksi kesenian yang mengiringi pesta perkawinan.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia!

Ditulis dalam Adat Istiadat | 5 Comments »

Upacara Mandi Tian Mandaring

Posted by Anak Sultan pada Maret 17, 2007

Upacara Mandi Tian Mandaring sering pula disebut dengan istilah bapagar mayang, karena tempat mandi dalam upacara itu menggunakan pagar mayang. Upacara ini khusus diadakan untuk wanita hamil yang usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan.

Pada upacara ini disediakan pagar mayang, yaitu sebuah pagar yang sekelilingnya digantungkan mayang-mayang pinang. Tiang-tiang pagar dibuat dari batang tebu yang diikat bersama tombak. Di dalam pagar ditempatkan perapen, air bunga-bungaan, air mayang, keramas asam kamal, kasai tamu giring, dan sebuah galas dandang diisi air yang telah dibacakan doa-doa.

Wanita tian mandaring yang akan mandi di upacara itu akan didandani dengan pakaian sebagus-bagusnya. Setelah waktu dan peralatan yang ditentukan sudah siap, wanita tian mandaring dibawa menuju pagar mayang sambil memegang nyiur balacuk dengan dibungkus kain berwarna kuning. Saat berada dalam pagar mayang untuk dimandikan, pakaian yang dikenakan diganti kain kuning kemudian wanita hamil tadi didudukkan di atas kuantan batiharap dengan beralaskan bamban bajalin. Lima atau tujuh orang wanita tua secara bergantian menyiram dan melangir kepala wanita tian mandaring dengan air bunga-bungaan yang telah disediakan.

Salah seorang wanita yang dianggap paling berpengaruh diserahi tugas memegang upung mayang yang masih terkatup tepat diatas kepala. Kemudian upung mayang tersebut dipukul sekeras-kerasnya hanya satu kali pukulan. Apabila upung mayang tersebut dipukul satu kali sudah pecah maka merupakan pertanda baik, bahwa wanita tian mandaring tidak akan mengalami gangguan sampai melahirkan.

Kambang mayang yang ada di dalam upung dikeluarkan lalu disiramkan dengan air ke kepala sebanyak tiga kali. Siraman yang pertama tangkai posisinya harus mengarah ke atas, siraman kedua tangkai mayang harus berada di bawah dan siraman yang ketiga ditelentangkan dan ditelungkupkan.

Kambang mayang yang berada di tengah-tengah diambil sebanyak dua tangkai, kemudian diletakkan di sela-sela kedua telinga sebagai sumping. Berikutnya adalah memasukkan lingkaran benang berulas-ulas, mulai dari kaki tiga kali berturut-turut. Pada waktu memasukkan wanita tian mandaring maju melangkah ke depan setapak, memasukkan kedua mundur, memasukkan ketiga maju lagi setapak.

Pada pintu pagar mayang ditempatkan kuali tanah dan telur ayam, begitu keluar pagar mayang kuali dan telur itu harus diinjak oleh si wanita tian mandaring sampai pecah. Selesai upacara ini wanita tian mandaring dibawa ke dalam rumah beserta undangan yang hanya boleh dihadiri oleh wanita. Di hadapan hadirin rambutnya disisir, dirias dan digelung serta diberi pakaian bagus. Sebuah cermin dan lilin yang sedang menyala diputar mengelilingi wanita tian mandaring dan dilakukan sebanyak tiga kali, sambil ditapung tawari dengan minyak likat baboreh. Sumbu lilin yang telah hangus disapukan ke ulu hati wanita tian mandaring dengan maksud untuk mendapatkan keturunan yang rupawan dan baik hati. Upacara ini diakhiri dengan bersalam-salaman sambil mendokan wanita tian mandaring.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Adat Istiadat | 2 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.