Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Archive for the ‘Adat Istiadat’ Category

Upacara Batapung Tawar Tian Tiga Bulan

Posted by Anak Sultan pada Maret 17, 2007

Masyarakat Banjar menurut tradisinya zaman dulu sangat memperhatikan usia kehamilan pada hitungan bulan yang ganjil, khususnya masyarakat yang mendiami daerah Batang Banyu mulai dari Margasari sampai Amuntai. Oleh karena itu pada hitungan ganjil inilah upacara menyambut kelahiran biasanya dilaksanakan.

Batapung tawar tian tiga bulan adalah upacara yang dilaksanakan ketika kandungan berusia tiga bulan. Upacara ini dilaksanakan pada hari Jumat dimulai pukul 07.00, hari Jumat dipilih karena menurut kepercayaan merupakan hari terbaik dalam satu minggu untuk melangsungkan upacara. Dalam upacara ini diundang para keluarga dan tetangga di sekitar tempat tinggal, mereka yang diundang umumnya ibu-ibu yang sudah berumur.

Wanita yang hamil tiga bulan tersebut ditapungtawari dengan minyak likat baboreh. Khusus untuk upacara tapung tawar tian tiga bulan ini, minyak likat baboreh dicampur dengan darah ayam tolak bala, yakni darah ayam yang diambil dari babalungan (jambul) ayam. Tempat pelaksanaan upacara tapung tawar di ruangan tengah rumah yang disebut tawing halat. Dalam upacara ini ditunjuk wanita tua yang berpengaruh dan mengerti adat batapung tawar, proses tapung tawar dilakukan dengan cara memercikkan minyak likat baboreh di atas kepala wanita yang hamil tiga bulan dengan harapan memperoleh keselamatan sampai bulan berikutnya.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 2 Comments »

Sekilas Proses Perkawinan Adat Banjar

Posted by Anak Sultan pada Maret 14, 2007

Berikut akan saya ceritakan sekilas dulu mengenai proses-proses yang mengiringi acara perkawinan dalam adat Banjar. Di tulisan yang lain akan dibahas lebih detail.

Perkawinan adat Banjar dipengaruhi oleh unsur dalam agama Islam, dalam perkawinan Banjar nampak jelas begitu besar penghormatan terhadap posisi wanita. Hal itu merupakan penerapan dari ajaran Islam yang mengemukakan ungkapan “surga itu dibawah telapak kaki ibu” dan kalimat “wanita itu adalah tiang negara”. Acara demi acara yang dilaksanakan semuanya berpusat di tempat atau di rumah pihak calon mempelai wanita, pihak dari keluarga laki-laki yang datang menghormati kepada keluarga mempelai wanita.

Urutan proses yang umum terjadi di kalangan keluarga calon pengantin adalah:

  1. Basusuluh (mencari informasi secara diam-diam mengenai riwayat keluarga calon mempelai. Mencari informasi ini bisa melalui berbagai macam cara dan dilakukan secara cerdik)
  2. Batatakun (mencari informasi definitif, pencarian ini lebih terbuka melalui kedua pihak keluarga)
  3. Badatang (meminang)
  4. Maatar Patalian ( memberikan barang-barang antaran kepada pihak mempelai wanita, berupa barang kebutuhan sehari-hari dan perlengkapan kamar tidur)
  5. Nikah (ikatan resmi menurut agama)
  6. Batatai (proses akhir dari perkawinan Banjar, upacara bersanding/pesta perkawinan)

Ditambah berbagai proses lainnya yang semuanya dilakukan di kediaman mempelai wanita. Karena perkawinan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup, maka keluarga kedua mempelai berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan kesan dan keistimewaan serta fasilitas kepada kedua mempelai, mereka dilayani bagai seorang raja dan ratu sehingga sering diberi julukan Raja Sahari (raja satu hari)

Proses-proses yang dilakukan sebelum batatai pengantin, yaitu:

  1. Manurunakan Pangantin Laki-Laki, Upacara akan dimulai saat pengantin laki-laki mulai turun dari rumahnya menuju pelaminan di rumah mempelai wanita. Proses ini memang terlihat mudah, tetapi sering pada acara inilah terjadi hal-hal yang berakibat fatal bahkan mengakibatkan batalnya seluruh acara perkawinan. Di masa lalu, tidak jarang laki-laki saingan yang gagal memperoleh hati wanita yang akan segera menikah melakukan segala cara untuk menggagalkan pernikahan yang akan segera berlangsung. Mereka berusaha menggagalkan dengan cara halus (gaib) terutama saat ijab kabul tiba. Mempelai laki-laki akan muntah-muntah dan sakit, ada juga yang tidak dapat menggerakkan kakinya untuk melangkah padahal rumah wanitanya sudah didepan mata. Untuk mengantipasi hal ini biasanya para tetuha keluarga memberikan sangu dengan doa-doa khusus. Selain itu saat kaki calon pengantin laki-laki melangkah pertama kali akan didendangkan shalawat nabi dan ditaburi baras kuning.

    manurunakan.jpg

  2. Maarak Pengantin Laki-laki, saat tidak ada lagi gangguan terjadi rombongan pengantar akan bergerak menuju rumah mempelai wanita (dahulu jarak antar rumah calon relatif dekat sehingga warga berjalan kaki beramai-ramai). Kira-kira beberapa puluh meter di depan rumah mempelai, saat inilah berbagai macam kesenian akan ditampilkan. Diantaranya, Sinoman Hadrah, Kuda Gipang, bahkan ada musik Bamban (sejenis Tanjidor Betawi). Mempelai laki-laki yang melewati barisan Sinoman Hadrah akan dilindungi oleh Payung Ubur-Ubur, payung ini akan terus berputar-putar melindungi pengantin sambil rombongan bergerak menuju rumah mempelai wanita.
    maarak.jpg

  3. Batatai Pengantin, proses terakhir dalam pesta. Kedua mempelai bertemu dan dipertontonkan di atas mahligai pelaminan disaksikan seluruh undangan yang hadir.
    batatai.jpg

Selain rangkaian proses di atas masih ada beberapa proses perkawinan adat Banjar yang dilakukan oleh keluarga kedua mempelai sebagai penunjang suksesnya hari batatai pengantin.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 45 Comments »

Upacara-Upacara Kematian Suku Dayak Maanyan

Posted by Anak Sultan pada Maret 11, 2007

Hampir semua suku Dayak yang ada di Kalimantan Selatan menggambarkan kemuliaan dunia baru yang akan dituju oleh roh orang yang meninggal dunia (negeri arwah/tumpuk audiau) yang merupakan sebuah negeri kaya raya berpasir emas, berbukit intan, berkerikil manik-manik dan penuh dengan kesenangan, kesempurnaan yang berarti tidak ada lagi kesusahan serta tangisan.

Dengan adanya hukum-hukum upacara kematian, terutama setelah kematian tatau matei yang meninggalkan sisa adanya mayat seperti sekarang maka penyelenggaraan upacara kematian harus selalu dilaksanakan sesuai dengan keberadaan dan tingkat perekonomian masyarakat pendukungnya.

Dalam perkembangan selanjutnya penyempurnaan ini melahirkan berbagai bentuk upacara kematian seperti yang dilakukan sekarang ini. Untuk daerah hukum adat suku Dayak Maanyan yang meliputi wilayah Banua Lima, Paju Empat dan Paju Sepuluh terdapat bentuk-bentuk upacara kematian sebagai berikut:

  1. Ejambe, yaitu upacara kematian yang pada intinya pembakaran tulang si mati. Pelaksanaan upacaranya sepuluh hari sepuluh malam. Upacara ini tidak pernah lagi dilakukan di desa Warukin.
  2. Ngadatun, yaitu upacara kematian yang dikhususkan bagi mereka yang meninggal dan terbunuh (tidak wajar) dalam peperangan atau bagi para pemimpin rakyat yang terkemuka. Pelaksanaannya tujuh hari tujuh malam.
  3. Mia, yaitu upacara membatur yang pelaksanaannya selama lima hari lima malam.
  4. Ngatang, yaitu upacara mambatur yang setingkat di bawah upacara Mia, karena pelaksanaannya hanya satu hari satu malam. Dan kuburan si mati pun hanya dibuat batur satu tingkat saja.
  5. Siwah, yaitu kelanjutan dari upacara Mia yang dilaksanakan setelah empat puluh hari sesudah upacara Mia. Pelaksanaan upacara Siwah ini hanya satu hari satu malam. Inti dari upacara Siwah adalah pengukuhan kembali roh si mati setelah dipanggil dalam upacara Mia untuk menjadi pangantu keworaan (sahabat pelindung sanak keluarga).

Isi dari berbagai upacara kematian biasanya berupa pergelaran berbagai kesenian atau tari-tarian tradisional Dayak Maanyan seperti Gintur, Giring-Giring, Dasas, Ebu Lele, dan sebagainya, jadi upacara kematian merupakan kesenangan belaka karena para pengunjung bebas untuk memperlihatkan kebolehannya.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 29 Comments »

Mantra (Magic Word); Ilmu Tradisi Suku Banjar

Posted by Anak Sultan pada Maret 10, 2007

Suku Banjar mengenal sastra lisan dalam bentuk mantra (magic word) yang dimaksudkan untuk memperoleh suatu kekuatan yang dapat menguntungkan bagi orang yang membacanya. Dalam agama manusia cenderung menyerahkan dirinya kepada Tuhan, sedangkan kepercayaan pada ilmu gaib manusia cenderung berusaha menguasai kekuatan-kekuatan yang melebihi kekuatannya sebagai sarana pencapaian maksud hidupnya. Mantra dalam budaya Banjar tidak semata-mata dipergunakan untuk kepentingan pengucapnya, karena sering terdapat mantra yang mengandung nilai positif dan efek penyembuhan.

Sastra lisan berupa mantra-mantra ampuh supaya setiap pekerjaan mendapatkan hasil yang cukup dan memuaskan berhubungan dengan kerja yang akan dihadapi. Misalnya munculnya mantra menyadap nira, mantra menangkap buaya, mantra mengambil madu, mantra menjinakkan ular, mantra bisik semar, mantra untuk mempercantik wanita, mantra pembungkam, dan mantra yang cukup menakutkan namanya yaitu mantra kata mayat.

Mantra biasanya diwariskan secara turun temurun atau diberikan kepada orang yang berguru dari pemilik mantra. Pada umumnya mantra memaparkan tentang adat istiadat, kepercayaan, tradisi masa lampau, mata pencaharian, dan segala aspek kehidupan.

Pada mulanya mantra timbul dari imajinasi dalam alam kepercayaan animisme yang yakin adanya hantu dan benda-benda keramat. Mungkin karena suku Banjar dulunya pernah menganut agama Kaharingan yang mengakui adanya dua kekuatan, kekuatan alam atas dan kekuatan alam bawah.

Mantra yang diucapkan bisa mengandung ilmu hitam dan ilmu putih. Para pemilik mantra ilmu putih biasanya para ulama, tuan guru, tatabiban (balai pengobatan tradisional) atau para dukun untuk mengobati penyakit yang datang menyerang. Sedangkan ilmu hitam seperti parang maya, balah saribu, gantung sarindit dan tundik, pemiliknya tidak begitu diketahui masyarakat luas. Orang yang terkena mantra hitam ini akan sering sakit-sakitan, tidak sadar, gila, dan berbagai penyakit menakutkan tidak wajar lainnya.

Untuk suku Banjar yang menganut agama Islam penggunaan mantra selalu didahului ucapan Bismillah dan diakhiri la ilaha ilalah muhammad rasulullah. Berikut contoh mantra bagi calon ibu yang susah melahirkan, mantra ini bernama mantra peluncur melahirkan:
Bismillahirrahmanirrahim/Nun kalamun walayar turun/Insya Allah inya ilang aritan/Inya turun/brakat La Ilaha Ilallah Muhammadurrasulullah
Mantra peluncur melahirkan ini biasanya dimiliki oleh para bidan kampung dan selalu dibaca saat membantu persalinan. Menjelang kelahiran, bidan akan terus menerus membaca mantra tersebut. Mantra minimal dibaca 3 kali secara berulang-ulang ditiupkan ke dalam air putih dalam botol atau gelas. Air yang sudah diberi mantra tadi akan diusapkan ke perut wanita yang akan melahirkan. Sedangkan mantra untuk membantu persalinan bayi sungsang sebagai berikut :
Bismillahirrahmanirrahim/Bungkalang-bungkaling/Tampurung bulu-bulu/Takalang-tapaling/Kaluar tadahulu/Barakat La Ilaha Ilalallah Muhammadarrasulullah

Mantra untuk menjaga anak kecil dari gangguan roh jahat atau apabila diyakini sakitnya seorang anak akibat gangguan roh jahat, sebagai berikut :
Bismillahirrahmanirrahim/Wahai parang, bilamana terjadi sesuatu nang kejahatan/Mangganggu kanak-kanak guring maka minta tulung pada para supaya parang manimpasakan kajahatannya/Barakat La Ilaha Ilallah Muhammadurrasulullah
Dalam pelaksanaan mantra ini disiapkan sebuah parang (mandau) dibuat tanda silang dengan kapur sirih (cacak burung). Parang tersebut diletakkan di bawah ayunan anak yang sedang tidur. Mantra dibaca sebanyak 3 kali dan ditiupkan pada pada parang tersebut sebanyak 3 kali pula.

Demikian sekilas mengenai tradisi membaca mantra dalam budaya Banjar, masih banyak mantra yang lain. Apabila ingin mengetahuinya silakan tulis di kolom komentar siapa tahu kami bisa menemukan mantra yang dimaksud.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 136 Comments »

Upacara Mendirikan Rumah

Posted by Anak Sultan pada Maret 3, 2007

Di daerah Kalimantan Selatan terdapat upacara bagi yang ingin mendirikan rumah baru. Upacara mendirikan rumah ini biasanya dilakukan bagi pasangan muda yang baru menikah. Setelah lama tinggal dengan mertua mereka pun ingin melanjutkan hidup dengan memiliki rumah baru. Sebelum menantu keluar, dia harus meminta izin dulu kepada mertua ‘handak balain’ rumah dan ‘salajur maulah’ rumah sebab ada juga mertua yang tidak mengizinkan anak perempuannya pindah, untuk kasus ini biasanya dibuatkan rumah baru tetapi letaknya berdekatan dengan rumah mertua. Zaman dulu tidak ada budaya rumah RSS atau kompleks perumahan yang sudah dibangun duluan oleh developer. Mungkin ini salah satu sebab upacara mendirikan rumah bagi pasangan baru sudah mulai ditinggalkan.

Setelah diizinkan untuk balain, maka hal yang selanjutnya dilakukan antara lain:
1)  Menanyakan kepada orang yang dianggap ‘hawas’ untuk minta ‘tangguhiakan’ apakah peralatan yang akan dipakai membangun rumah sudah baik atau tidak.
2) Apabila peralatan yang digunakan sudah sesuai, selanjutnya ditanyakan kapan waktu mendirikan yang tepat.
3) Pertanyaan selanjutnya, apakah tanah yang bakal didirikan bangunan baik atau buruk.
4) Setelah seluruh pertanyaan diajukan kepada orang yang hawas tadi, calon tuan rumah kemudian akan mengundang para jiran untuk shalat magrib, isya, dan sembahyang hajat di atas lokasi bakal rumah akan dibangun.

Setelah selesai melakukan shalat hajat, proses kegiatan selanjutnya membacakan doa selamat, untuk keselamatan yang membangun rumah baik itu tuan rumah atau tukang bangunannya. Makanan yang disuguhkan menurut tradisi nasi ketan serta intinya (nyiur parut gula merah). Digunakan pula minyak likat baboreh untuk dipapaikan pada saat penancapan tiang pertama. Saat tiang pertama ditancapkan, tetuha masyarakat memegang tiang tersebut sambil memasukkannya ke lobang pondasi tiang, diiringi ucapan sholawat yang disahut oleh hadirin. Setelah berdiri dipapai dengan minyak likat baboreh yang sudah dicampur darah ayam.

Pada siang hari pengerjaan rumah biasanya dihidangkan ‘gangan gadang’ yang menurut kepercayaan masyarakat supaya rumah yang akan ditempati nantinya ‘dinginan’. Setelah rumah selesai dikerjakan orang yang dianggap hawas tadi ‘mensyarati’ rumah dengan benda tertentu supaya terhindar dari bencana seperti kemalingan atau kebakaran dan sebagainya serta menentukan waktu yang tepat untuk ‘bahangkut’ ke dalam rumah baru.

Menurut tradisi waktu itu, tetangga akan datang setiap hari untuk membantu menyelesaikan rumah tersebut. Ini karena tradisi gotong royong yang sangat kuat dan saling bantu membantu sesama tetangga.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | Leave a Comment »

Batimung

Posted by Anak Sultan pada Maret 2, 2007

Di tengah serbuan berbagai macam jenis kosmetik modern dan berbagai cara perawatan kesehatan dan kecantikan di salon-salon, ada satu adat budaya di Kalimantan Selatan yang sampai sekarang masih dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Batimung, membuang keringat dari badan dengan cara diasapi serta ditambahkan bunga-bungaan dan ramuan alami untuk memberi keharuman kepada badan orang yang ditimung tadi. Batimung salah satu syarat bagi calon pengantin untuk menghadapi pesta perkawinannya nanti. Tujuannya agar mempelai laki-laki dan perempuan saat acara berlangsung tidak mengeluarkan bau keringat biasa tetapi berganti menjadi bau harum yang menambah pesona. Proses batimung biasanya dilakukan pada malam hari, dilaksanakan oleh para wanita dari keluarga orang yang batimung.

Untuk keperluan batimung biasanya terdiri dari:
1) Bedak atau wadak, yang sering disebut mangir wangi. Terbuat dari beras kencur ditambah dengan bahan alami lainnya yang mengandung wangi-wangian.
2)Bahan-bahan tambahan tersebut direbus sehingga uap itulah yang akan memberikan bau harum. Bahan tambahan antara lain, daun pudak/pandan wangi, tamu giring, limau purut, kulit bawang merah, babakan pula santan, kayu manis, menyan, daun sop, pucuk ganti, mang soe sebangsa akar, bunga akar. Semua bahan tersebut dibuat dalam ramuan kecil-kecil kemudian dimasukkan kedalam kuantan lalu direbus sampai mendidih, tutupnya dijaga agar jangan terbuka sehingga asapnya keluar sebelum diperlukan.

Proses batimung:
1) Sebelum memasuki timungan, badan orang yang akan ditimung dibedaki dengan wadak sampai bersih dan harum sehingga segala kotoran yang melekat di tubuhnya hilang. Membedaki dilakukan oleh para wanita yang ditugaskan. Biasanya sambil membedaki ini calon pengantin akan digoda dengan senda gurau para pembedak.
2) Setelah selesai diwadak, calon pengantin disuruh duduk di atas sebuah bangku yang rendah disebut dadampar, kemudian segala pakaian yang melekat disuruh tanggalkan diganti dengan selimut tebal beberapa lapis sampai ke atas kepala kecuali muka dan hidung.
3) Selesai diselimuti, barulah ramuan mendidih tadi diletakkan dibawah dadampar dan tutupnya dibuka sehingga uap harum bisa keluar dan membasahi tubuh orang yang batimung

Biasanya bagi calon pengantin laki-laki, acara batimung cukup tiga hari, tetapi bagi calon pengantin wanita bisa sampai satu minggu bahkan ada yang hampir satu bulan. Setelah acara batimung selesai akan terlihat perbedaan nyata yang tampak pada kulit orang batimung serta keringatnya mengeluarkan bau yang harum.

Handak perawatan badan ke spa? larang wal ai… batimung haja, murah.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 10 Comments »

Usung Jinggung

Posted by Anak Sultan pada Februari 25, 2007

Prosesi arak-arakan pengantin dalam masyarakat Banjar cukup beragam dan salah satunya adalah Usung Jinggung (pengantin diusung). Dalam rangkaian upacara perkawinan orang Banjar terdapat prosesi arak-arakan pengantin yang disebut maarak pengantin. usung-jinggung.jpgDalam tradisi masyarakat Banjar jika mempelai pria dan wanita telah selesai dirias dan siap untuk disandingkan, maka pengantin pria segera dibawa menuju kediaman mempelai wanita. Pengantin pria dengan diiringi rombongan pengantar pengantin dan diikuti pula kesenian Sinoman Hadrah atau Kuda Gipang dibawa berjalan kaki. Jarak untuk berjalan kaki tersebut, biasanya ditentukan batasnya agar tidak terlalu kelelahan. Sepanjang jalan yang dilalui dan pada tempat-tempat tertentu dilakukan atraksi sinoman hadrah yang dilakukan dengan gerakan-gerakan badan diikuti pukulan tarbang dan syair-syair lagu penuh syukur dan keceriaan.

Pada masa dahulu tidak hanya mempelai pria yang diarak, tetapi mempelai wanita juga ikut dalam perarakan. Jika ada kesepakatan tentang arak-arakan kedua mempelai, biasanya mempelai wanita menunggu di tengah perjalanan antara rumah mempelai pria dan rumah mempelai wanita. Kemudian dari tempat pertemuan tersebut kedua mempelai diarak dan dipertontonkan kepada masyarakat dengan melakukan usung jinggung berjalan menuju kediaman mempelai wanita sebelum duduk bersanding di pelaminan. Tetapi ada pula mempelai wanita cukup menyambut kedatangan mempelai pria di depan pintu rumah kediaman dan duduk sebentar di pelaminan kemudian diteruskan dengan usung jinggung di depan masyarakat yang menyaksikan upacara perkawinan.

Usung jinggung dalam maarak pengantin ini harus dilakukan oleh mereka yang mahir, karena selain dituntut tenaga yang kuat harus pula pandai baiigal (menari). Pengusung pengantin dalam usung jinggung yang disebut pausungan ini menari-nari mengikuti irama musik galanjur agar penonton yang menyaksikan terhibur. Dengan demikian usung jinggung ini selain sebagai media untuk memperkenalkan kedua mempelai kepada masyarakat, juga dalam usaha memeriahkan suasana hari perkawinan yang sacral dan penuh kenangan.

Kada ulun biarakan budaya Banjar hilang di dunia

Posted in Adat Istiadat | 2 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.