Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Arsip untuk 'Bahasa Banjar' Kategori


Ibarat Bajalan Kada Bagalumbang Banyu

Ditulis oleh Anak Sultan di/pada Mei 1, 2007

“Ibarat Bajalan Kada Bagalumbang Banyu”

ibarat = umpama
bajalan = berjalan
kada = tidak
bagalumbang = bergelombang/ombak besar
banyu = air

” umpama berjalan di atas air, tidak sampai menimbulkan gelombang/ombak besar “

Makna ungkapan:

Di dalam interaksi sosial sehari-hari janganlah sampai menyinggung atau menyakiti hati orang sekitar yang bisa berakibat ketidakharmonisan hidup.

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk bergaul dengan manusia lainnya sebagai mahluk sosial. Dalam pergaulan itu akan banyak ucapan dan perbuatan yang dilakukan atau bisa juga ekspresi wajah yang ditampilkan. Meskipun demikian hendaknya segala kelakuan itu dijaga dan diukur sesuai keadaan. Intinya segala tingkah laku harus bisa dikendalikan.

Ungkapan tradisional Banjar ini diberikan untuk tujuan mendidik masyarakat dalam menjalani pergaulan sehari-hari. Diibaratkan sebuah lapisan air yang tenang, kemudian manusia menjalani air tersebut dalam kehidupannya, tingkah laku manusia tidak sampai menimbulkan ombak besar yang akhirnya merusak ketenangan lapisan air sebagai lambang lingkungan sekitar.

Saat berhati-hati melintasi lapisan air, memang akan selalu ada riak-riak kecil, riak kecil ini diumpamakan perbedaan pendapat yang sering terjadi. Tetapi segala perbedaan itu tidak boleh sampai menimbulkan ombak besar atau permusuhan.

Orang Banjar dahulu sering menanamkan sifat untuk menghargai pendapat orang lain, tidak boleh pendapat orang lain dikatakan tidak bermutu atau mendiskreditkan prestasi orang lain. Semua itu hanya akan menimbulkan ketidaktentraman dalam hidup. Ungkapan ini merupakan salah satu warisan budaya Banjar dalam mengatur tata kelakukan bermasyarakat.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Bahasa Banjar | 11 Komentar »

Percakapan Sehari-hari Bahasa Banjar - 1 -

Ditulis oleh Anak Sultan di/pada April 27, 2007

Bagi teman-teman yang kebetulan singgah di blog ini kemudian menemukan beberapa kalimat di kolom komentar yang memakai bahasa Banjar mungkin bisa ikut mempelajari bahasa Banjar sebagai penambah ilmu. Bahasa Banjar sebenarnya tidak susah asal bisa berbahasa Indonesia, sebab beberapa kalimatnya (bahkan banyak) mirip dengan bahasa Indonesia. Mungkin ini karena bahasa Banjar merupakan satu rumpun dengan bahasa Melayu asli yang kemudian berevolusi menjadi bahasa Indonesia.

Ada juga kata yang sama dengan bahasa Indonesia tetapi cuma vokalnya yang berubah, ini karena pengaruh pola pengucapan oleh orang Banjar. Misalnya, karing = kering, handak = hendak, karas = keras.
Kemudian kata bentukan yang mirip dengan bahasa Indonesia tetapi berubah sedikit karena pengaruh logat berbicara orang Banjar. Misalnya, biarakan = biarkan, sampaiakan = sampaikan, ambilakan = ambilkan.

Selain itu ada penambahan kata yang tidak ada artinya tetapi lebih kepada penekanan arti kata di depannya dalam percakapan. Misalnya, “am” “ai”.

Bila Anda kebetulan mendengar orang Banjar berbicara biasanya kata-kata berikut ini yang terdengar:

  • aku = aku
  • ikam = kamu (bahasa antar sebaya)
  • pian = kamu (bahasa kepada yang lebih tua; sopan)
  • ulun = aku, saya (bahasa kepada yang lebih tua; sopan)
  • nyawa = kamu (bahasa antar sebaya yang sangat akrab; di beberapa daerah Banjar dianggap kasar)
  • unda = aku, saya (bahasa antar sebaya yang sangat akrab; di beberapa daerah Banjar dianggap kasar)
  • kada = tidak
  • indah = tidak (biasanya menyatakan penolakan terhadap ajakan)
  • handak = mau; ingin; hendak
  • lawan = dengan; dan
  • uyuh = letih; lelah
  • lajui; hancapi; cepati; lakasi = cepat-cepat; lekas-lekas; segera (menunjukkan permintaan untuk ~ )
  • kanyang = kenyang
  • nyaman = enak
  • bungul = bodoh
  • bungas; langkar = cantik; tampan
  • lamak = gemuk

(bersambung)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Bahasa Banjar | 16 Komentar »

Upung Mamadahi Mayang

Ditulis oleh Anak Sultan di/pada April 1, 2007

Upung Mamadahi Mayang

Upung  = seludang (kulit selaput mayang pinang kelapa)
mamadahi = menasihati
Mayang = mayang

“Seludang menasihati Mayang”

Makna dari ungkapan bahasa Banjar ini adalah nasihat yang diberikan kepada seseorang seharusnya juga berguna/diamalkan bagi diri sendiri. Ungkapan ini memiliki cerita rakyat dibaliknya, yaitu:

Pada suatu waktu, upung menasihati/memberitahu mayang,
“wahai mayang  cepatlah kau berpegang dengan erat ke pokok pohon, karena sebentar lagi akan ada angin kencang menerpa kita” demikian nasihat upung
“baiklah, segera ku berpegang” jawab mayang
Kemudian angin datang berhembus sangat kencang dan upung tiba-tiba terjatuh dari pokok pohon sehingga hancur karena ia sendiri tidak berpegangan.

Ungkapan ini ditujukan kepada orang yang hanya pandai memberikan nasihat tetapi dia sendiri belum melakukannya.  Jadi apa yang diucapkannya itu hanya sekadar ingin dianggap sebagai orang yang berpengetahuan dan dapat memberi petunjuk kepada orang lain. Orang semacam ini pandai berbicara halus, pandai menulis mengajak kesopanan, sehingga orang lain tidak mengetahui bahwa ia sering membuat kesalahan. Kesalahan yang dibuat oleh orang ini sama seperti apa yang ia pernah nasihatkan kepada orang lain.

Orang Banjar dulu sering menggunakan nasihat ini untuk instrospeksi diri, terutama kepada generasi muda agar melakukan dulu suatu perkara sebelum berani menasihatkan kepada orang lain.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia ! 

Ditulis dalam Bahasa Banjar | Tidak ada komentar »

Managuk Tiruk Mangaluarakan Sarapang

Ditulis oleh Anak Sultan di/pada Maret 24, 2007

“Managuk Tiruk Mangaluarakan Sarapang

Managuk = menelan
Tiruk = tombak bermata satu
Mangaluarakan = mengeluarkan
Sarapang = tombak bermata empat

“Saat menelan seperti menelan tombak bermata satu, saat mengeluarkan seperti mengeluarkan tombak bermata empat”

Ungkapan dalam bahasa Banjar ini memiliki makna: perjuangan dan kesulitan dalam mempelajari suatu ilmu, tetapi lebih sulit lagi mengamalkannya.

Dalam menuntut ilmu kita sering mengalami berbagai kesulitan, berbagai macam pelajaran yang kita terima di sekolah sering membuat kita kewalahan. Ada murid yang tidak mampu belajar matematika, ada juga murid yang susah menghapal pelajaran sejarah. Perjuangan dalam menuntut ilmu ini diibaratkan oleh orang Banjar seperti menelan tombak bermata satu, bisa dibayangkan betapa sulitnya manusia menelan sebuah tombak, seperti itulah kesulitan dalam mencari ilmu. Untuk menjadi seorang yang berilmu harus rajin, sabar, dan ulet, selalu yakin kepada diri sendiri serta tidak mudah putus asa sehingga bisa mencapai tingkat pendidikan yang diinginkan.

Pada masa ini sudah begitu banyak orang yang mampu managuk tiruk, di masyarakat sering kita lihat orang dengan titel sarjana, master, profesor dan lain gelar sebagainya. Namun kebanyakan pula dari orang-orang ini begitu sulit mengamalkan ilmu yang didapatnya untuk kemajuan masyarakat banyak, fenomena yang sering terjadi di masyarakat saat ini diantaranya sebagian besar sarjana akhirnya bekerja jauh dari bidang yang dulu ia pelajari semasa kuliah. Hal ini oleh orang Banjar diibaratkan betapa sulitnya mengeluarkan tombak bermata empat, setelah berhasil menelan tombak mata satu tadi.

Ungkapan ini juga populer untuk kalangan orang yang menuntut ilmu agama Islam, misalnya ada seorang yang telah lulus dari pendidikan pesantren tetapi dalam pergaulan di masyarakat seolah-olah tidak pernah mendapat ajaran agama atau seseorang yang selama hidupnya belajar mengenai ilmu moral tetapi tidak mampu mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

Pada hakikatnya memperoleh ilmu itu bukanlah hal yang gampang dan main-main begitu pula dalam pengamalannya harus bersungguh-sungguh. Menelan tombak bermata satu atau mengeluarkan tombak bermata empat adalah sama-sama pekerjaan yang tidak mudah. Masyarakat Banjar menjadikan ungkapan ini sebagai peringatan bagi orang berilmu untuk terus berpikiran maju dan tahan terhadap berbagai macam cobaan.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Bahasa Banjar | Tidak ada komentar »

Ungkapan Banjar: Ditinggal Manawaki, Dibawa Malinggang ka Jukung

Ditulis oleh Anak Sultan di/pada Maret 21, 2007

‘Ditinggal Manawaki, Dibawa Malinggang ka Jukung’

Ditinggal = ditinggal/tidak diajak
manawaki = melempari
dibawa = dibawa
malinggang = menggoyang
ka = ke
jukung = jukung/perahu khas Banjar

“Tidak diajak melempari, saat dibawa menggoyang-goyang (mau menenggelamkan) perahu”

Ungkapan ini sudah ada sejak zaman dulu dalam kehidupan masyarakat Banjar. Makna yang terkandung pada ungkapan ini adalah Orang yang selalu berusaha merusak persatuan.

Seseorang yang kena sindir melalui ungkapan ini biasanya selalu merasa tidak puas terhadap kedudukannya di masyarakat, selalu ingin menjadi pemimpin utama padahal semua orang tahu kualitas pribadinya sehingga jarang yang mempercayakan amanat kepada orang ini. Jika membentuk suatu wadah seperti organisasi/partai/perkumpulan kalau orang ini tidak diikutsertakan dalam kepengurusan, maka ia akan mencaci maki orang di dalam perkumpulan tersebut. Sebaliknya saat diikutsertakan dia sering melakukan hal-hal yang kurang baik sehingga mencoreng nama baik perkumpulan.

Orang ini kerjanya hanya bisa memberikan komentar negatif tanpa bisa mempraktekkan ucapannya atau memberikan solusi dari keluhannya. Bagi orang Banjar, orang seperti ini ‘ngalih diagungakan’ (sukar diberi penghormatan). Segala kebijakan orang dianggapnya salah, dia sering dibenci masyarakat tetapi dalam pikirannya seolah-olah selalu diperhatikan masyarakat. Walau orang ini mempunyai tingkat pendidikan tinggi atau keahlian yang hebat, masyarakat akan menganggap orang seperti ini hanya akan merusak persatuan sebab dalam masyarakat Banjar itikad baik lebih dihargai dalam rangka menunjang keberhasilan bersama.
Ungkapan ini akan diucapkan di hadapan yang bersangkutan di tengah orang banyak sebagai teguran sopan dan berbudaya agar orang tersebut mau merenungi kelakuannya.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Ditulis dalam Bahasa Banjar | 1 Komentar »