Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Archive for Maret, 2007

Pengantar Arsitektur Banjar

Posted by Anak Sultan pada Maret 31, 2007

Bentuk bangunan yang ada pada masa Kerajaan Banjar menunjukkan status sosial dari penghuninya. Perbedaan jenis rumah ini dari bentuknya yang unik dan memiliki makna tertentu. Yang dimaksud dengan rumah tradisional ini adalah tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukiran tersendiri, mulai sebelum tahun 1871 sampai dengan tahun 1935 (M.Idwar Saleh).

Beberapa ciri arsitektur tradisional Banjar, khususnya mengenai bangunan rumah adat yang masih ada dapat diuraikan ciri-ciri umum sebagai berikut:

  • Bangunan dalam konstruksi bahan kayu, karena alam Kalimantan kaya dengan hutan pada saat itu belum dikenal adanya bahan semen.
  • Rumah panggung, yaitu rumah yang didukung oleh sejumlah tiang dan tongkat yang tinggi dari kayu ulin.
  • Bangunan rumah bersifat simetris, konstruksi bagian sayap kiri dan kanan rumah mirip begitu pula dengan jumlah lalungkang (jendela).
  • Sebagian rumah memiliki anjung yang agak ke belakang.
  • Atap rumah dari bahan kayu ulin dan ada yang dari rumbia.
  • Hanya memiliki dua buah tangga, yaitu tangga depan dan belakang. Anak tangga selalu berjumlah ganjil.
  • Lawang (pintu) yang menghubungkan bagian luar dan dalam hanya terdapat dua buah, yaitu pintu depan dan belakang terletak seimbang di tengah.
  • Adanya tawing halat (dinding pembatas) yang terletak membatasi antara panampik basar dan palidangan. (Syamsiar Seman dan Ir.Irhamna)

Sedangkan jenis rumah dan status sosial penghuninya tercatat sebagai berikut:

  1. Bubungan Tinggi, sebagai bangunan istana Sultan Banjar, dihuni oleh raja beserta para pangeran.
  2. Gajah Baliku, bangunan yang dihuni oleh saudara-saudara raja.
  3. Gajah Manyusu, kediaman bagi para warit raja yaitu keturunan para Gusti.
  4. Balai Laki, tempat hunian para punggawa mantri dan prajurit pengawal Sultan Banjar.
  5. Balai Bini, bangunan khusus bagi para putri atau keluarga raja pihak wanita.
  6. Palimasan, bangunan untuk bendahawaran kesultanan Banjar di tempat ini tempat menyimpan kekayaan kerajaan seperti emas dan perak.
  7. Palimbangan, hunian bagi para pemuka agama dan para saudagar.
  8. Cacak Burung atau Anjung Surung, rumah bagi rakyat pada umumnya. Cacak Burung adalah istilah masyarakat Banjar untuk tanda tambah (+).
  9. Tadah Alas, rumah bagi rakyat pada umumnya.
  10. Joglo, jenis rumah bagi para Tionghoa yang mendiami kawasan Banjarmasin. Bangunan ini biasanya ikut berfungsi sebagai gudang barang dagangan.
  11. Lanting, tempat tinggal khusus bagi rakyat Banjar yang mendiami batang banyu (pinggir sungai) prinsip pondasinya mengambang seperti pelampung.

Kesebelas tipe rumah inilah yang mendominasi pemukiman masyarakat Banjar pada waktu itu. Saat ini beberapa jenis bangunan sudah punah, karena bentuk perumahan mengikuti perkembangan rumah modern.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Arsitektur Banjar | 10 Comments »

Undang-Undang Sultan Adam – Perkara 7 –

Posted by Anak Sultan pada Maret 30, 2007

Perkara 7

Tiada koebariakan moefti mambari pidatoe hendak berhoekoem atau orang jang dalam tangan berhoekoem dan tiada koebariakan orang itoe maminta pitoea hakim hanja djoea mamintakan pitoeanja

Undang-undang Sultan Adam perkara 7 mengatur kewenangan Mufti sebagai hakim tertinggi selaku pengawas peradilan umum. Meskipun Mufti sebagai hakim agung, dilarang untuk memberikan fatwa perkara atau orang yang sedang berperkara begitu pula orang yang sedang berperkara dilarang meminta fatwa Mufti dan hanya hakim biasa yang boleh meminta kepada Mufti. Jadi Mufti hanya bisa memberikan fatwa kalau diminta oleh hakim yang sedang memeriksa kasus bersangkutan. Sederhananya, apabila ada satu kasus yang sedang ditangani hakim, Mufti sebagai pengawas kehakiman tidak boleh memberikan fatwa langsung tentang perkara itu kepada orang yang sedang berperkara, Mufti hanya diperbolehkan memberikan fatwa kepada hakim yang memintanya, sesuai fungsinya sebagai pengawas kehakiman.

Dalam Kerajaan Banjar terdapat jabatan dalam pengadilan, yaitu

  1. Mufti : hakim tertinggi, pengawas pengadilan umum

  2. Qadhi : pelaksana hukuman dan pengatur jalannya pengadilan agar hukum berjalan dengan wajar

  3. Penghulu : Hakim umum, mendapat cap atau piagam dari Sultan. Penghulu merupakan hakim pada tingkat masyarakat awam/hakim pengadilan rendah dan petugas yang menjalankan pelaksanaan perkawinan.

Posted in Tak Berkategori | Leave a Comment »

Isutan Jarat

Posted by Anak Sultan pada Maret 29, 2007

Isutan Jarat adalah nama permainan tradisional yang berkembang di daerah Kalimantan Selatan. Asal katanya dari isutan dan jarat, kata isutan ini mungkin dari peralihan kata ‘usutan’ yang berarti ‘mencari’. Sedangkan ‘jarat’ adalah istilah orang Banjar untuk tali yang ujungnya bersimpul untuk menjebak atau mengikat (seperti tali lasso di Amerika). Jadi isutan jarat maksudnya mencari tali yang bajarat (memiliki jerat). Pada permainan ini tiap pemain berusaha mencari jarat pemain lainnya yang disembunyikan di dalam pasir dengan cara menusukkan bilah lidi/kayu/bambu. Permainan ini sebenarnya menebak letak jarat yang ada di dalam pasir.

Lokasi permainan ini biasanya di pinggir sungai saat air surut atau di halaman rumah yang banyak pasirnya. Permainan isutan jarat tidak ada kaitan dengan jenis upacara atau peristiwa tertentu. Waktu permainan bebas bisa dimainkan kapan saja kalau di kampung anak-anak akan memainkannya saat sore menjelang mandi di sungai.

Jumlah pemain isutan jarat minimal dua orang dan sebanyak-banyaknya empat orang. Dua orang diperlukan karena akan ada posisi pasang (yang menyembunyikan jarat) dan posisi naik (yang mencari lubang jarat). Empat orang sudah dirasa cukup karena akan terlalu ramai yang bisa menimbulkan kebingungan.

Peralatan bermain berdasarkan permainan aslinya, yaitu tali dari serat pohon pisang dan bilah kayu dari bambu atau jenis kayu lainnya. Pohon pisang yang kering biasanya terlihat seratnya, bagian inilah yang diambil oleh anak-anak untuk membuat tali jarat. Sedangkan bilahnya terbuat dari kayu atau bambu yang diraut agak runcing dengan panjang tidak lebih dari lengan.

Tahapan permainan :

  1. Tahap menyembunyikan jarat
  • misalnya jumlah pemain ada 4 orang.
  • keempat anak ini berpencar ke daerah pasir masing-masing untuk menyembunyikan jaratnya
  • teknik menyembunyikan jarat ini menentukan kelihaian tiap anak dalam bermain usut jarat, ada yang menyembunyikan jarat dengan ujungnya berkelok-kelok sehingga lawan sulit menebak letak jarat sebenarnya.
  • jarat yang ingin disembunyikan ditimbun perlahan-lahan dengan pasir agak tebal supaya tidak kelihatan.
  • ujung tali yang tidak memiliki jarat disisakan diluar untuk menariknya nanti.

usut1.jpg

2. Tahap mencari jarat

  • ditentukan dulu timbunan pasir siapa yang akan dicari duluan.
  • setelah itu masing-masing anak menusukkan bilahnya ke dalam timbunan pasir untuk menebak letak jarat.
  • apabila semua anak yang giliran mencari sudah menusukkan bilahnya maka yang mempunyai jarak menariknya sehingga akan ketahuan siapa yang berhasil menebak jarat
  • pemain yang berhasil bilahnya akan tersangkut di dalam jarat.
  • begitu seterusnya tiap pemain bergiliran menebak jarat lawan

usut2.jpg

Dalam permainan ini tidak ada konsekuensi kalah atau menang hanya memberikan kepuasan dan kebanggaan bagi anak yang berhasil mencari jarat atau anak yang jaratnya tidak berhasil ditemui lawan. Pengaruh dari permainan ini adalah memberikan sifat sportifitas bagi anak-anak, ini bisa dilihat dari kejujuran saat menyembunyikan jarat dimana anak yang lain sepakat untuk tidak saling intip serta kejujuran untuk memasang lubang jarat yang sama lebar dengan pemain lainnya.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Permainan Tradisional | 5 Comments »

Inilah Kerajaan Banjar Virtual Ku

Posted by Anak Sultan pada Maret 29, 2007

banner4.jpg

Dulu banyak orang dari luar daerah mengira bahwa di Kalimantan semua kebudayaannya adalah Budaya Dayak. Tidak banyak orang tahu bahwa di Kalimantan terutama Kalimantan Selatan juga salah satu wilayah suku Melayu di Nusantara. Orang Melayu banyak berdiam di daerah muara sungai, sedangkan orang Dayak banyak mendiami daerah perbukitan. Orang Dayak sering menyebut orang Melayu sebagai Oloh Masih, di daerah Kuin dulu ada seorang pemimpin karismatik yang diberikan gelar Patih Masih, beliau inilah yang nantinya akan menjadi salah satu pencetus lahirnya Kerajaan Banjar.

Saat Pangeran Samudera melarikan diri dari pamannya Pangeran Tumenggung yang ingin berkuasa, dia bertemu dengan Patih Masih, melalui Patih Masih inilah perjuangan untuk merebut kembali tahta sah Kerajaan Negara Daha dijalankan. Patih Masih mengusulkan agar Pangeran Samudera membangun kerajaan sendiri supaya daerah muara bisa maju dan tidak lagi mengantar upeti ke pedalaman.

Pangeran Samudera menyambut niat baik Patih Masih, maka segera dikumpulkanlah pasukan untuk menyerang Kerajaan Negara Daha. Rupanya kekuatan yang dimiliki oleh Pangeran Samudera tidak cukup untuk melawan Pangeran Tumenggung sehingga mereka pun kembali mundur ke Kuin untuk menyusun strategi. Patih Masih mengusulkan untuk meminta bantuan kepada Kerajaan Islam Demak untuk menggempur Negara Daha. Dikirimlah segera utusan kepada Sultan Demak ternyata gayung bersambut, Sultan Demak mau mengirimkan armada kapal dan tentaranya serta seorang pemuka agama yang bernama Khatib Dayan dengan syarat apabila Pangeran Samudera menang perang maka ihlas masuk Islam.

Setelah seluruh pasukan terkumpul maka diseranglah Negara Daha dengan satu serangan penghabisan, Pangeran Tumenggung berhasil dikalahkan Pangeran Samudera dalam duel satu lawan satu. Saat berduel Pangeran Samudera tidak mau melawan karena menurutnya sama saja membunuh orang tua sendiri, saat Pangeran Samudera menyerah pasrah untuk dibunuh, Pangeran Tumenggung memeluknya dan memohon ampun kepada keponakannya itu. Akhirnya Pangeran Tumenggung dengan ihlas dan sadar menyerahkan tahta sah kerajaan kepada keponakannya. Pusat kerajaan dipindahkan ke daerah muara Kuin, seluruh sumber daya dibawa dan Kerajaan Negara Daha diganti menjadi kerajaan di muara sungai ini. Kerajaan di muara sungai ini lama kelamaan diberi nama Kerajaan Banjar, Pangeran Samudera dan seluruh rakyat masuk Islam kemudian diberi gelar Sultan Suriansyah.

Kerajaan Banjar menyatukan etnis Dayak dan Melayu inilah yang akhirnya menjadi suatu etnis Banjar yang mempunyai ciri khas tersendiri

11 Juni 1860, penjajah Belanda menyatakan penghapusan Kerajaan Banjar, seluruh wewenang sultan dan keturunannya serta wilayah juga dihapuskan. Akhirnya Kerajaan Banjar hilang ditelan sejarah. Generasi mudanya menjadi lupa dan dibuat lupa, arus budaya luar diambil tanpa disaring, budaya asli dianggap barang langka dan bahasanya sering ditertawakan pewarisnya sendiri

>>> 147 tahun kemudian, disinilah ulun mendirikan Kerajaan Banjar sekali lagi, tanpa batas, tanpa wilayah. Batasku ujung dunia, wilayahku ujung langit. Dimana saja orang bisa melihat ini maka inilah kerajaanku. Akulah Anak Sultan dari Kerajaan Banjar Virtual !!

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

 

 

Posted in Sekapur Sirih | 8 Comments »

Mandai Basang; Goreng Kulit Cempedak

Posted by Anak Sultan pada Maret 28, 2007

Dalam kebudayaan Banjar juga mengenal berbagai macam jenis makanan dan minuman, masakan yang ada di daerah Kalimantan Selatan biasanya unik dan menyesuaikan dengan bahan makanan yang ada di sekitar. Seperti jenis masakan yang satu ini, namanya Mandai Basang atau kulit buah Tiwadak (cempedak) yang digoreng. Orang Banjar menyebut kulit cempedak sebagai mandai ada juga yang menyebutnya dami. Banyak orang yang bingung dan tidak tahu dengan masakan dari kulit cempedak ini, bahkan ada beberapa kenalan saya yang tidak pernah memakan mandai ini padahal lahir di Banjarmasin. Rata-rata komentarnya ketika sudah merasakan “ai nyaman lah sakalinya” (ah enak ternyata), entah kenapa ada saja orang Banjar atau orang yang sudah lama tinggal di daerah Kalimantan Selatan yang tidak tahu jenis makanan ini.

Mandai sudah lama dijadikan lauk alternatif bagi orang Banjar, kalau hanya mengingat untuk memakan buahnya kebanyakan orang tidak terpikir untuk memanfaatkan kulitnya. Sebelum diolah, kulit cempedak dikupas bagian luarnya sehingga tampak putih kemudian dibersihkan. Nah, bagian inilah yang disebut mandai atau dami tadi, setelah menjadi mandai biasanya tidak bisa langsung digoreng tetapi harus direndam lebih dulu di dalam air selama beberapa jam. Lamanya merendam tergantung yang punya niat memasak, seperti mandai di rumah saya sudah sebulan masih saja direndam karena tidak tiap hari memakannya. Dengan direndam ini daging mandai akan menjadi lunak sehingga saat digoreng nanti lebih mudah dan hasilnya lebih enak seperti menggigit daging.

Berikut ini resep sederhana untuk memasak mandai:

Bahan : kulit cempedak yang sudah dibersihkan (mandai), minyak goreng

Bumbu : brambang/bawang merah, bawang putih, lombok merah/hijau, garam. semua bumbu secukupnya.

Cara membuat :

  • kulit cempedak yang sudah dibersihkan dipotong-potong, besarnya tergantung keinginannya ada yang suka potongan besar ada juga yang kecil-kecil.
  • bumbu-bumbu dikumpulkan kemudian dihaluskan bersamaan.
  • campurkan mandai tadi ke dalam bumbu, dioles-oles atau cara apa saja yang penting mandai dan bumbu menyatu.
  • panaskan minyak goreng, tunggu sampai panasnya merata agar menggoreng mandainya mudah.
  • yang terakhir gorenglah mandai di dalam minyak yang sedang panas-panasnya untuk mendapatkan hasil yang aduhai 🙂

Cara menyajikan mandai sama seperti menyajikan lauk lainnya, cukup dihidangkan di dalam piring sudah bisa dinikmati oleh seluruh keluarga, apalagi dimakan dengan nasi panas, uma ai nyaman banar !! tapi bagi yang punya penyakit maag kambuhan hati-hati jangan kebanyakan 🙂

mandai.jpg

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Masakan Banjar | 92 Comments »

Undangan Haul ke-154 Sultan Adam

Posted by Anak Sultan pada Maret 28, 2007

Haul akbar ke-154 Sultan Adam Al Wasik Billah akan segera digelar oleh Yayasan Sultan Adam. Sultan Kerajaan Banjar yang berkuasa dari tahun 1826 – 1857 ini telah banyak membuat perubahan dan kemajuan bagi rakyat di Kerajaan Banjar.

Undangan ini ditujukan pertama bagi zuriat Sultan Adam dimanapun berada, selain itu warga masyarakat yang ingin ikut menghadiri acara haul ini sangat diharapkan dan dipersilahkan.
Rencananya, haul ini akan dihadiri Gubernur Kalsel, Wakil Gubenur Kalsel, unsur Muspida, bupati dan walikota se-Kalsel, serta alim ulama yang ada di wilayah Kalsel dan masyarakat umum.
Haul ke-154 Sultan Adam akan dilaksanakan pada:

Hari/tanggal  : Sabtu, 31 Maret 2007/12 Rabiul Awal 1428 H
Waktu             : Pukul 10.00 WITA – selesai
Tempat           : Mahligai Sultan Adam Martapura, Kabupaten Banjar

Demikian undangan ini disampaikan atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Panitia Pelaksana Haul Sultan Adam
KH. M. Djazouly Seman
Ketua Yayasan Sultan Adam
H. Gusti Rusdi Effendi AR

Turut mengundang
Ir. H. Gusti Khairul Saleh, MM (Bupati Banjar)
H. Gusti Shuria Rum

Posted in Event Budaya | 1 Comment »

Balian Mambur; Ilmu Hantu Pemakan Mayat

Posted by Anak Sultan pada Maret 27, 2007

Kisah ini berasal dari kepercayaan orang Dayak Bukit di daerah Sampanahan, daerah di ujung tenggara pulau Kalimantan berseberangan dengan Kotabaru Pulau Laut Kalimantan Selatan. Orang tua di sana bercerita secara turun temurun mengenai kisah seorang pemuda bernama Tanghi yang berubah menjadi Balian Mambur (tabib sakti menurut kepercayaan Kaharingan).

Menurut cerita, ada seorang anak bernama Tanghi yang sejak kecil sudah ditinggal mati kedua orang tuanya. Hidupnya tidak karuan dan luntang lantung mengharap belas kasihan orang. Akhirnya di kampung itu ada seorang duda yang merasa kasihan dengan Tanghi dan mengangkatnya menjadi anak. Tanghi kemudian dewasa dengan bimbingan dan lindungan oleh orang yang sudah dianggapnya ayah ini. Dia diajari bertanam, berburu, dan berbagai keahlian hidup lainnya. Tanghi merasa sangat menyayangi dan menghormati ayah angkatnya ini. Tiba-tiba bencana kembali mendatangi hidup Tanghi, ayah angkatnya yang sangat disayangi meninggal dunia. Sebagai remaja tanggung Tanghi sangat terpukul dan tidak tentu arah memikirkan nasib hidupnya kelak. Setelah ayahnya selesai dikuburkan, Tanghi tidak mau meninggalkan kuburan ayahnya ini, dia terus menerus menangis dan meratapi kepergian ayahnya. Selama tiga hari tiga malam Tanghi menjagai kuburan ayahnya, pada malam ketiga Tanghi merasa kelelahan dan tertidur di dekat kuburan itu.

Pada saat itulah datang Bumburaya (sejenis hantu pemakan mayat), Baca entri selengkapnya »

Posted in Cerita Rakyat Kalsel | 45 Comments »

Upacara Mangarani Anak

Posted by Anak Sultan pada Maret 26, 2007

Pada masyarakat Banjar, upacara mangarani (memberi nama) anak termasuk dalam upacara daur hidup manusia. Setelah bayi dilahirkan dari rahim ibunya merupakan kewajiban untuk memberi nama yang baik sebagai harapan bagi hidupnya kelak. Pemberian nama dalam adat Banjar dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama dilakukan langsung oleh bidan yang membantu kelahiran anak tersebut. Proses ini terjadi saat bidan melakukan pemotongan tangking (tali/tangkai) pusat, pada saat itu bidan akan memberikan nama sementara yang diperkirakan cocok untuk anak tersebut.

Pada waktu pemotongan tangking bayi itu akan dilantakkan (dimasukkan seperti ditanam) serbuk rautan emas dan serbuk intan ke dalam lubang pangkal pusatnya. Hal ini dimaksudkan agar si anak kelak kalau sudah dewasa memiliki semangat keras dan hidup berharga seperti sifat intan dan emas.

Setelah Islam masuk ke tanah Banjar, proses mangarani anak ini berkembang secara resmi menjadi tahap berikutnya yang disebut batasmiah (tasmiyah). Pemberian nama anak tahap dua ini untuk memantapkan nama si anak. Jika nama pilihan bidan sesuai dengan keinginan orang tua maka nama itu yang akan dipakai. Tetapi apabila orang tuanya mempunyai pilihan sendiri maka melalui acara batasmiah ini diresmikan namanya. Kadang-kadang dalam menentukan nama anak ini sering pula meminta bantuan orang alim atau patuan guru (alim ulama).

Pada upacara ini akan dimulai dengan membaca ayat suci Al Quran kemudian diteruskan dengan pemberian nama resmi kepada anak yang dilakukan oleh patuan guru yang sudah ditunjuk. Begitu pemberian nama selesai diucapkan, rambut si anak dipotong sedikit, pada bibirnya diisapkan garam, madu, dan air kelapa. Ini dimaksudkan agar hidup si anak berguna bagi kehidupan manusia seperti sifat benda tersebut. Anak yang sudah diberi nama ini akan dibawa berkeliling oleh ayahnya untuk ditapung tawari dengan minyak likat baboreh. Tapung tawar diberikan oleh beberapa orang tua yang hadir di acara tersebut (terutama kakeknya) disertai doa-doa untuk si anak.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 6 Comments »

Upacara Mandi Baya

Posted by Anak Sultan pada Maret 26, 2007

Upacara ini dilakukan oleh wanita suku Banjar yang sudah pernah mengalami beberapa kali kehamilan dan melahirkan. Mandi baya terjadi pada kehamilan hitungan ganjil, hamil anak ketiga, kelima, dan seterusnya. Upacara dilaksanakan pada malam hari biasanya sesudah shalat Isya. Air yang dipergunakan untuk mandi adalah air yang sudah dibacakan doa salamat, doa halarat, doa kiparat, dan doa panjang umur serta ditambahkan air yang sudah dibacakan surah Yasin.

Dalam mandi baya ini tidak ada aturan baku dalam pelaksanaannya, setiap wanita boleh berbeda-beda dalam melakukan mandi ini. Tujuannya memohon kepada Yang Maha Kuasa agar melindungi kehamilan kali ini, mereka berharap ibu yang sudah pernah melahirkan diberi izin kembali untuk dapat menjaga janin dalam kandungannya dari gangguan roh-roh jahat dan tekanan-tekanan batin yang bisa mempengaruhi keselamatan serta psikologis ibu dan janinnya.

Mereka yang masih memegang teguh tradisi ini merasa kurang tenteram apabila belum dilakukannya upacara mandi baya. Perasaan kurang tenteram dan takut menolak adat inilah yang mendorong masyarakat Banjar masih melestarikan adat ini sampai sekarang.

Upacara mandi baya pada masa kini hanya dilakukan bersama orang-orang dekat, bersama ibu kandung atau mertua. Tempat pelaksanaannya pun lebih bebas bisa saja dilaksanakan di dalam kamar mandi tanpa harus menyiapkan tempat khusus. Tidak ada makanan atau acara khusus mengiringi upacara mandi baya ini.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 1 Comment »

Undang-Undang Sultan Adam – Perkara 6 –

Posted by Anak Sultan pada Maret 25, 2007

Perkara 6

Mana-mana perempuan jang hendak minta pasahkan nikahnja lawan lakinja maka hakim koesoeroeh mamariksa apa-apa ekral bini-bini itoe padahakan kajah diakoe

Dikeluarkannya undang-undang perkara 6 ini masih mengatur tentang perkawinan rakyat kerajaan Banjar. Pasal ini mempunyai maksud apabila ada seorang perempuan yang sudah menikah dan suaminya masih hidup akan tetapi ingin membatalkan pernikahannya itu, maka sultan memerintahkan agar hakim menyelidiki terlebih dahulu masalah yang melatarbelakangi perbuatan perempuan tersebut.

Pasal ini mengandung keadilan bagi semua pihak, laki-laki maupun perempuan serta sikap sultan yang tidak ingin memudahkan masalah perceraian karena dalam Islam sangat dianjurkan untuk melakukan rujuk terlebih dahulu. Setelah masalah yang melatarbelakanginya jelas diselidiki oleh hakim maka akan dilaporkan kepada sultan.

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 3 Comments »

Balai Patataian

Posted by Anak Sultan pada Maret 25, 2007

Pada tulisan yang lalu sudah disinggung sedikit mengenai salah satu bagian dari tempat bersanding perkawinan adat Banjar. Berikut ini beberapa detail penting yang menyertai bentuk balai patataian untuk pengantin Banjar yang disunting dari buku terbitan Lembaga Budaya Banjar mengenai Perkawinan Adat Banjar.

BENTUK

  • Berupa kerangka bangunan segi empat dengan ukuran minimal
    – tinggi : 2,5 meter
    – lebar : 2,5 meter
    – panjang : 2,0 meter
  • Bagian depan atas dihias dengan ukiran motif bunga-bungaan atau sasuluran, sedangkan 4 (empat) tiang penopang juga diberi ukiran atau dibungkus dengan kain kuning sedemikian rupa sehingga membentuk manisan yang mempunyai arti tersendiri dalam budaya Banjar
  • Di bagian depan atas (di atas papan ukiran bunga) ditempatkan ukiran sepasang Naga yang saling berhadapan sebagai perlambang keperkasaan dan keagungan.
  • Pada tiang penyangga bagian depan masing-masing dihias oleh Ular Lidi atau Ular Lulut sebagai perlambang kecantikan/keindahan dan kebijaksanaan.
  • Untuk tempat duduk di dalam balai patataian dibuat tempat duduk bertingkat dua (dadampar) yang dilapisis kain satin atau bahan lainnya yang berwarna kuning.

PENEMPATAN BALAI

Balai patataian ditempatkan di ruang tengah / ruang tamu rumah mempelai wanita atau ruangan lain dalam rumah yang dianggap pantas.

PERLENGKAPAN BALAI HIAS

  • Latar belakang tempat duduk mempelai berupa Dinding Air Guci dengan motif pilihan:
    – Bunga Teratai
    – Kembang Setaman
    – Kangkung Kaombakan
    masing-masing dengan hias keliling Pucuk Rabung, sebagai bingkainya berupa kain polos vertikal (babatis) dan kain polos horizontal (bapapan)
  • Lalangitan/bubungan (plafon) balai berupa kain kuning dengan motif Pancar Matahari dan atau motif kaligrafi nama ALLAH
  • Di bawah ukiran kayu, pada bagian samping kiri dan kanan dihias dengan Tabir Higa, sedang bagian depan dihias dengan Tabir Wawancuhan (kain hias berbentuk sendok nasi/wancuh)
  • Di bawah Tabir Wawancuhan digantungkan hiasan Buah Katu
  • Di bawah hiasan Tabir Higa pada sisi kanan-kiri balai dihias dengan jalinan kain aneka warna yang membentuk sebuah jala (biasanya antara 5-7 warna) dan disebut dengan istilah Tangga Bidadari atau Tali Gapu
  • Sebagai sandaran tempat duduk mempelai ditempatkan bantal yang disulam hias
    – baris horizontal : 2 – 5 bantal
    – baris vertikal : 2 – 3 bantal
    bantal-bantal ini disebut Tatumpangan yang masing-masing kelompok bantal diikat dengan selempang hias
  • Di bagian belakang susunan bantal ditancapkan Gagunungan atau disebut juga dengan istilah Pucuk antara 1 -3 buah sesuai keserasian jumlah susunan bantal secara vertikal
  • Pada bagian tempat duduk mempelai yang bertingkat dua tersebut, bagian atas dihias dengan hiasan Tepi Bawah (biasanya dengan motif Pucuk Rabung, Sasuluran, atau Kangkung Kaombakan)

PERLENGKAPAN UPACARA ADAT

  • Perangkat makan sirih (panginangan, paludahan/pakucuran)
  • Perangkat air minum (air putih dalam teko dan 2 (dua ) buah gelas/cangkir)
  • Peralatan Batapung Tawar (Tatungkal) yang merupakan campuran air bunga, minyak wangi, dan minyak likat baboreh
  • Nasi Hadap-Hadap

HIASAN LAIN

  • Rumpun Kambang Sarai (terbuat dari kertas warna-warni)
  • Pelbagai rangkaian Janur Banjar, khususnya bentuk Halilipan/Kelabang
  • Kembang Banjar (Kambang Barenteng, Bogam Baronce, dan Kambang Rampai)

Dalam menyajikan warna hiasan pada tata busana maupun warna kain lainnya sangat ditabukan untuk memakai warna hitam.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | Leave a Comment »

Managuk Tiruk Mangaluarakan Sarapang

Posted by Anak Sultan pada Maret 24, 2007

“Managuk Tiruk Mangaluarakan Sarapang

Managuk = menelan
Tiruk = tombak bermata satu
Mangaluarakan = mengeluarkan
Sarapang = tombak bermata empat

“Saat menelan seperti menelan tombak bermata satu, saat mengeluarkan seperti mengeluarkan tombak bermata empat”

Ungkapan dalam bahasa Banjar ini memiliki makna: perjuangan dan kesulitan dalam mempelajari suatu ilmu, tetapi lebih sulit lagi mengamalkannya.

Dalam menuntut ilmu kita sering mengalami berbagai kesulitan, berbagai macam pelajaran yang kita terima di sekolah sering membuat kita kewalahan. Ada murid yang tidak mampu belajar matematika, ada juga murid yang susah menghapal pelajaran sejarah. Perjuangan dalam menuntut ilmu ini diibaratkan oleh orang Banjar seperti menelan tombak bermata satu, bisa dibayangkan betapa sulitnya manusia menelan sebuah tombak, seperti itulah kesulitan dalam mencari ilmu. Untuk menjadi seorang yang berilmu harus rajin, sabar, dan ulet, selalu yakin kepada diri sendiri serta tidak mudah putus asa sehingga bisa mencapai tingkat pendidikan yang diinginkan.

Pada masa ini sudah begitu banyak orang yang mampu managuk tiruk, di masyarakat sering kita lihat orang dengan titel sarjana, master, profesor dan lain gelar sebagainya. Namun kebanyakan pula dari orang-orang ini begitu sulit mengamalkan ilmu yang didapatnya untuk kemajuan masyarakat banyak, fenomena yang sering terjadi di masyarakat saat ini diantaranya sebagian besar sarjana akhirnya bekerja jauh dari bidang yang dulu ia pelajari semasa kuliah. Hal ini oleh orang Banjar diibaratkan betapa sulitnya mengeluarkan tombak bermata empat, setelah berhasil menelan tombak mata satu tadi.

Ungkapan ini juga populer untuk kalangan orang yang menuntut ilmu agama Islam, misalnya ada seorang yang telah lulus dari pendidikan pesantren tetapi dalam pergaulan di masyarakat seolah-olah tidak pernah mendapat ajaran agama atau seseorang yang selama hidupnya belajar mengenai ilmu moral tetapi tidak mampu mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

Pada hakikatnya memperoleh ilmu itu bukanlah hal yang gampang dan main-main begitu pula dalam pengamalannya harus bersungguh-sungguh. Menelan tombak bermata satu atau mengeluarkan tombak bermata empat adalah sama-sama pekerjaan yang tidak mudah. Masyarakat Banjar menjadikan ungkapan ini sebagai peringatan bagi orang berilmu untuk terus berpikiran maju dan tahan terhadap berbagai macam cobaan.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Bahasa Banjar | 1 Comment »

Pendaftaran Lomba Bakisah

Posted by Anak Sultan pada Maret 24, 2007

Mengulang kesuksesan acara tahun lalu, Disbudpar Kalsel melalui Sub Dinas Bina Kesenian kembali menggelar lomba Bakisah. Penyelenggaraan lomba Bakisah ini adalah upaya untuk terus melestarikan sastra lisan yang dimiliki oleh masyarakat Banjar. Lomba yang direncanakan akan digelar pada tanggal 4 April 2007 di halaman Taman Budaya Kalsel ini akan menampilkan ‘ahli-ahli kisah’ dari berbagai lapisan masyarakat. Melalui lomba ini diharapkan bahasa Banjar dengan berbagai ragam dialek dan kekhasannya dapat terus terpelihara dengan baik.

Drs.H.Syarifuddin R, Kasubdin Bina Kesenian Disbudpar Kalsel mengungkapkan, dalam lomba ini selain mengedepankan pesan moral dalam ujaran khas Banjar, juga dituntut kreatifitas pesertanya, sehingga gaya atau performance peserta yang bersangkutan sangat diutamakan. Termasuk pakaian yang harus mencerminkan kekhasan daerah, atau disesuaikan dengan cerita yang dibawakan. (Harian Radar Banjarmasin, Sabtu 24 Maret 2007)

Dalam lomba bakisah ini biasanya tema yang dibawakan bebas, boleh diambil dari cerita mana saja. Syarat yang terpenting adalah cerita tersebut harus berbahasa Banjar. Logat yang dibawakan peserta juga diberi kebebasan apakah akan memakai logat Banjar Kuala atau Banjar Pahuluan. Cerita yang akan dibawakan nanti harus sesuai dengan unsur budaya daerah serta tidak boleh menyinggung hal-hal yang berhubungan dengan SARA.

Waktu yang diberikan kepada tiap peserta untuk tampil adalah sebanyak 7 (tujuh) menit. Dalam waktu yang diberikan ini peserta bebas mengeluarkan seluruh kemampuan bakisahnya. Gerak yang unik dan suara yang khas bisa ditampilkan, bahkan kalau mau baduduk, badiri, baguling-guling, baluncat-luncat, bakuciak dan lain sebagainya boleh saja asal sesuai dengan tema cerita dan tidak berlebihan.

Yang harus selalu diingat dalam lomba bakisah bahasa Banjar adalah peserta harus menggunakan kosakata asli Banjar, bukan kosakata bahasa Indonesia tapi dengan logat yang di-Banjar-kan. Dewan juri mungkin akan memberikan nilai kurang apabila ada kosakata yang diucapkan oleh peserta bukan kosakata asli Banjar padahal dalam bahasa Banjar ada kosakata tersebut. Peserta diharapkan sebisa mungkin menggali dan mempelajari kosakata yang ada dalam bahasa Banjar untuk dipergunakan saat tampil nanti, kecuali kata tersebut tidak ada di dalam bahasa Banjar sehingga boleh menggunakan kata yang dimaksud.

Hadiah yang diperebutkan sebagai tanda kasih berupa sejumlah uang tunai, trophy, dan piagam penghargaan untuk enam orang pemenang. Lomba ini terbuka untuk umum, siapa saja yang berminat silakan untuk mendaftarkan diri langsung ke Subdin Bina Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalsel, Jalan Pramuka No.4 Banjarmasin telepon (0511) 3274252, atau Taman Budaya Provinsi Kalsel Jalan Brigjen Hassan Basry No.2 Banjarmasin telepon (0511) 3304735. Pendaftaran gratis.

Ayu lakasi siapa haja nang katuju bakisah, lajui umpatan mandaftar, gasan maramiakan wan mamajuakan budaya Banjar.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Event Budaya | 4 Comments »

Istilah Kekerabatan Masyarakat Banjar

Posted by Anak Sultan pada Maret 23, 2007

Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar mengenal istilah-istilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga. Skema dibawah ini berpusat dari EGO sebagai penyebutnya.

Waring

Sanggah

Datu

Kai (kakek) + Nini (nenek)

Abah (ayah) + Uma (mama)

Kakak < EGO > Ading


Anak

Cucu

Buyut

Intah

Bagi EGO juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua disebut Julak, saudara kedua disebut Gulu, saudara tengah dari ayah dan ibu disebut Angah, dan yang lainnya biasa disebut Pakacil (paman) dan Makacil (bibi). Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu.

Disamping istilah di atas masih ada pula sebutan lainnya, yaitu:

  • minantu (suami / isteri dari anak EGO)

  • pawarangan (ayah / ibu dari minantu)

  • mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri EGO)

  • mintuha lambung (saudara mintuha dari EGO)

  • sabungkut (orang yang satu Datu dengan EGO)

  • mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari EGO)

  • kamanakan (anaknya kakak / adik dari EGO)

  • sapupu sakali (anak mamarina dari EGO)

  • maruai (isteri sama isteri bersaudara)

  • ipar (saudara dari isteri / suami dari EGO)

  • panjulaknya (saudara tertua dari EGO)

  • pabungsunya (saudara terkecil dari EGO)

  • badangsanak (saudara kandung)

Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam boleh juga menggunakan kata aku untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian, dan kata ulun untuk menunjuk diri sendiri.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 12 Comments »

Adab Mencari Intan di Tanah Banjar

Posted by Anak Sultan pada Maret 22, 2007

Intan, kata untuk melambangkan gengsi tertinggi bagi para pencinta perhiasan. Bermilyar-milyar rupiah tiap tahunnya uang dibelanjakan orang seluruh dunia untuk memiliki benda satu ini. Di daerah Kalimantan Selatan, Kabupaten Banjar, disinilah intan berada tapi tidak semua orang memiliki kemampuan mendapatkannya. Intan di tanah Banjar adalah hal gaib penuh mistis dan berbagai aturan yang ketat untuk bisa mendapatkannya.

Entah kenapa intan mungkin merupakan satu-satunya hasil bumi tanah Banjar yang tidak bisa dijamah oleh orang asing. Minyak bumi, batu bara, batu besi, emas, dan lainnya bisa saja dengan mudah ditambang, asal dengan alat modern maka hasilnya akan banyak. Tetapi intan tidak semudah itu bisa ‘dijemput’ dari singgasananya di dalam perut bumi.

Pada tahun 1960 – 1970, di Kabupaten Banjar pernah dibuka usaha pertambangan modern dengan pelaksana PT. Aneka Tambang. Lahan garapannya mencapai wilayah 2 kecamatan, sebagaimana pertambangan modern alat yang dipakai adalah alat berat dan mesin-mesin bertenaga raksasa sampai keterlibatan tenaga ahli pertambangan dari luar negeri serta karyawan yang banyak. Tapi hasilnya tidak sebanding dengan modal yang dikucurkan padahal cukup dapat beberapa butir intan saja maka modal pasti balik. Nyatanya selama sepuluh tahun itu tidak pernah mendapatkan hasil memuaskan akhirnya usaha negara ini ditutup dengan kesimpulan wilayahnya tidak layak tambang.

Berbeda dengan masyarakat Banjar yang mendulang disana, dari dulu sampai sekarang mereka masih bisa menemukan beberapa intan dalam setahun cukup untuk membeli rumah dan tanah bahkan beberapa kali pergi haji.  Memang kenyataan yang mengherankan tetapi nyata terjadi, bagi orang pendulangan mencari intan penuh dengan adab-adab yang harus mereka patuhi agar tidak terkena pamali yang mengakibatkan intan lari ke dalam perut bumi. Berikut beberapa aturan pokok yang harus ditaati saat mencari intan di tanah Banjar:

  1. DILARANG, bakacak pinggang (bertolak pinggang), mahambin tangan (jari-jari tangan direkatkan lalu diletakkan di leher seperti bantal), bersiul, dan perbuatan tak senonoh lainnya. Hal ini akan dianggap bentuk kesombongan dan tinggi hati terhadap intan yang akan dijemput.
  2. DILARANG, mengucapkan kata-kata kotor dan ada istilah-istilah tertentu yang harus diganti, misalnya saat menemukan ular di dalam lubang pendulangan maka penyebutannya diganti ‘akar’, kalau bertemu babi hutan maka diganti ‘du-ur’. Saat memasuki lubang pendulangan tidak boleh menyebut kata ‘turun’ meskipun kenyataannya gerakan tersebut turun tetapi harus disebut ‘naik/menaiki’. Ini berhubungan dengan kepercayaan bahwa intan memiliki kekuatan untuk menghindari buruan, istilah ‘naik’ dipakai agar intan mau naik ke permukaan bila intan mendengar kata ‘turun’ maka intan akan kembali masuk Bumi.  Kemudian tidak boleh juga menyebutkan kata ‘jauhkan’ tapi diganti dengan kata parakakan yang berarti tolong dekatkan. Untuk kata ‘makan’ diganti dengan ‘batirak’ atau ‘bamuat’ sebab kata ‘makan’ mengandung pengertian yang sadis seperti binatang memakan binatang lainnya. Hal ini semua dilakukan sebab intan akan menjauhi orang yang berkata tidak sopan.
  3. SAMA SEKALI TIDAK BOLEH menyebut intan dengan sebutan ‘intan’ tetapi HARUS diganti ‘GALUH’ (panggilan kesayangan untuk anak perempuan Banjar). Ini berdasarkan kepercayaan bahwa intan adalah benda yang memiliki kekuatan dan bernyawa sehingga harus mendapat panggilan yang terhormat dan mesra setara dengan sebutan anak kesayangan atau puteri raja. Seringkali ada pendulang yang tidak sengaja menyebut ‘intan’ saat mendapatkan tiba-tiba intan tersebut menghilang atau berganti menjadi batu lain.
  4. TIDAK BOLEH wanita yang sedang haid mendekat di lokasi pendulangan sebab si Galuh sangat membenci orang yang dianggap ‘kotor’ dan selama masih ada wanita yang haid Galuh tidak mau datang.

dulang.jpg

Selain itu ada istilah yang tidak boleh diucapkan yaitu ‘padi/beras/banih’ harus diganti dengan kata ‘biji’, hal ini akibat SUMPAH yang diucapkan intan kepada manusia akibat sakit hatinya intan terhadap perlakuan manusia kepadanya. Konon sumpah ini yang menyebabkan intan di tanah Banjar begitu sulit dicari sampai ke dalam perut Bumi.

Demikian hal tabu yang harus dihindari bagi orang yang ingin mengadu nasib mencari si Galuh di tanah Sultan, tanahnya urang Banjar.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia ! 

Posted in Adat Istiadat | 22 Comments »