Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Ir. Pangeran Mohamad Noor

Posted by Anak Sultan pada Maret 2, 2007

“Teruskan. . . . Gawi kita balum tuntung”

Kata-kata yang diucapkan beliau sampai menjelang akhir hayatnya terus menerus memberi semangat kepada seluruh generasi muda di banua agar tetap berkarya dalam bidang apapun yang digeluti.

Bagi generasi sebelum tahun 2000, nama P.M.Noor terasa akrab ditelinga. Nama beliau diajarkan di sekolah mulai SD sampai SMA sebagai pencetus pembuatan proyek Sungai Barito yang salah satu gagasannya adalah pembangunan PLTA Riam Kanan. Entahlah generasi muda sekarang apakah masih diajarkan gurunya mengenai tokoh besar Kalimantan yang satu ini.

pmnoor.jpgPangeran.M.Noor dilahirkan 24 Juni 1901 di Martapura, Kalimantan Selatan dari keluarga bangsawan Banjar. Setelah lulus HIS (1917) ia belajar di MULO (1921), ke HBS (1923), kemudian masuk sekolah teknik tinggi di Bandung dan berhasil meraih gelar Insinyur pada tahun 1927, setahun setelah Ir. Soekarno (presiden RI pertama).

Disamping jabatan insinyurnya pada biro pengairan, ia juga anggota Badan Persiapan Kemerdekaan RI, dan setelah Indonesia merdeka diangkat sebagai Gubernur Kalimantan yang pertama. Dalam aksi gerilya bersenjata ia mendirikan pasukan M.N.1001 yang beroperasi di Kalimantan Selatan pada tahun 1945 – 1949 bersamaan dengan Tjilik Riwut di Kalimantan Tengah.

Sebagai seorang ilmuan beliau diangkat menjadi Menteri Pekerjaan Umum (1956-1957) pada Kabinet Ali Sastromijoyo. Ketika itulah membuat gagasan ‘Proyek Sungai Barito’ yang berhasil merealisasikan pembangunan PLTA Riam Kanan dan pengerukan ambang Barito, sekarang PLTA itu diabadikan memakai nama beliau menjadi PLTA P.M.Noor.

Menjelang akhir hayatnya beliau terbaring lemah di RS. Pelni Jakarta, tetapi semangat beliau untuk membicarakan pembangunan di Kalimantan Selatan tak pernah surut. Setiap ada tamu yang berkunjung beliau masih saja bertukar pikiran mengenai pembangunan di banua. Bagi beliau pembangunan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat adalah identik dengan kehidupannya. Ia akan berhenti berpikir dan berbicara akan hal itu (pembangunan) bilamana otak dan nafasnya sudah berhenti. Saat hari-hari akhir masa hidupnya dengan kondisi tubuh yang sudah mulai menurun, PM Noor berkata, “Teruskan . . . Gawi kita balum tuntung

Akhirnya, dengan ketetapan Allah Yang Maha Kuasa, Mohamad Noor, dipanggil-Nya dalam usia 78 tahun pada 15 Januari 1979. Dimakamkan disamping istri tercinta ibunda Gusti Aminah yang sudah mendahuluinya di TPU Karet Jakarta.

Untuk generasi muda ABG, MTV, dan lain sebagainya, inilah tokoh dari banua kita, jangan hanya menghapal pelajaran tentang tokoh luar daerah saja. Sudah seharusnya Pemprop Kalsel memasukkan riwayat hidup beliau dalam kurikulum muatan lokal agar generasi muda sekarang tetap mewarisi semangat juang beliau.

9 Tanggapan to “Ir. Pangeran Mohamad Noor”

  1. Ari said

    ma..terharunya ulun membaca betapa sidin begitu berjuang gesan Kalsel… ulun muar banar wan pejabat2 wahini nang cuma memikirkan diri sendiri, bukannya memajukan daerah…

    urang bahari berjuang gasan kemajuan bersama lawan jua jadi pejabat itu karena mengemban amanah titipan masyarakat yang sama-sama bejuang, kada kaya wahini kahandakan jadi pejabat pas jadi bakoyo dimana-mana. tapi itu oknum aja pang, mudahan masih banyak nang baik.

  2. Mr. Fulus said

    Wah, bagus sekali blog ini.
    Ada saran membangun dari saya. Mungkin perlu juga ditulis disini profil ulama-ulama Nusantara yang berasala dari Banjar, seperti syekh al-Banjari. Agar kaum muda sekarang juga tahu gitu loh bahwa Banjar juga punya ulama-ulama besar yang berpengaruh di Nusantara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Philipina).

    nah ide bagus jua tu, insya Allah dituliskan profil tokoh agama/ulama besar urang Banjar.

  3. HNurdinAPris-Jkt said

    IR. PANGERAN MOHAMAD NOOR, SOSOK PEMIMPIN IDOLA KU JUGA

    Ketika aku baru naik ke Kelas 3 Sekolah Rakyat, aku masih ingat almarhum Ir. P. M. Noor melaksanakan tugas dinas ke Samarinda selaku Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia.
    Dengan pengawalan Polisi disertai petugas protokol Residen Kutai, beliau secara pribadi datang ” manjinguki ” Abah Antung di rumah kediaman Abah Antung di Sungai Dama Samarinda.
    ” Mandah pang sakampungan wayahitu “, maklum saja, karena termasuk peristiwa langka.

    Sifat beliau yang senantiasa rendah hati, yaitu suka menyempatkan diri untuk menemui ” urang kampung ” seperti Abah Antung, meski beliau adalah seorang Menteri, ibarat ” kada lupa kacang wan kulitnya “, sungguh membuat aku mengidolakan Ir. P. M. Noor selama hidupku.

    Abah Antung pernah berkata : ” Nakda, aku sapantaran wan Pengeran Noor, damintu jua wan Pangeran Brangta (?), inya badua masih sapupuanku, inya memang pintar-pintar, makanya jadi pangeran, beda wan aku ”
    ” Wayah halus kami bagalut, basilat, bakuntauw, bajajagauan, wan bamandian di Sungai Martapura sama-sama ”

    Abah Antung (H. Gt. Djafar, lahir 1900 di Martapura, meninggal dunia 1988 di Samarinda) adalah anak dari Gt. Burhanudin, sedangkan isteri beliau adalah Hj. Jeles Pris (kakak kandung ayahanda kami H. Aini Pris), beliau berdua kawin masih bubuhan/keluarga sepupuan juga.
    Alhamdulillah, selama beliau hidup sebagai suami isteri tetap berkasih sayang sampai akhir menutup mata, meski beliau tidak dikaruniai anak.

    Mungkin banyak yang belum tahu bahwa antara Kerajaan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur dengan Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat, yaitu isteri alm Sultan Parkesit (Sultan Kerajaan Kutai Kartanegara yang terakhir) adalah alm kanda Gt. Masdja yang masih kemanakan Abah Antung.

    Pesan abah :
    Ayo kita yang muda-muda generasi penerus, teladani salah satu sifat terpuji ayahanda Ir. Pangeran Mohamad Noor (Tokoh Kalimantan) yang senantiasa rendah hati, ” kada lupa kacang wan kulitnya “, serta senantiasa berjuang demi kemajuan dan kemakmuran ” banua “.
    Berbekal semboyan beliau ” Teruskan … Gawi Kita Balum Tuntung “, Insya Allah diredhoi. Amin.

  4. banjar_bungas said

    ulun kada tp tahu siapa muhammad noor, tp berkat blog ini jadi semakin tahu. tolong pang tokoh2 ulama dibuat jua, seperti Syekh Arsyad, ulama mujaddfid abad 13 H, dan tokoh banjar di perantauan (kaltim, riau,malayisa) juga jgn kada ingat membuat nama Tuan guru yang alim, guru Sekumpul. Tapi ulun kada rela mun memuat ngaran pejabat wayah ini, spt Rudy Arifin.
    Makasih

  5. Drs. Ahmad Fachrurrazi, MPd said

    Bujur banar! Sudah saatnya tokoh-tokoh kita dan para panduhulu kita dimasukkan dalam kurikulum tiap satuan pendidikan, agar generasi penerus kita kaina kada lupa lawan laluhur kita. Jangan sampai anak turun kita kaina labih manganal tokoh-tokoh nang lain daripada tokoh dan pejuang kita sendiri.

  6. Anak Candi Amuntai said

    Selain tokoh2 yang sudah ada disini ditambah ulama besar kalsel, saya sarankan menampilkan tokoh legenda seperti Lambung Mangkurat yang pengorbanannya sangat besar di Bumi Lambung Mangkurat ini. Pangeran Suriansyah, Arya Taranggana, Puteri Junjung Buih dll

  7. Yon Aidil said

    Assalamu ‘alaikum wr.wb.

    Saya anggota tim riset penulisan buku “100 Tokoh Alumni ITB yang berpengaruh di Indonesia”.
    Sampai saat ini kami kesulitan untuk mendapatkan data primer berkaitan dengan Ir. P.M. Nur, karena beliau adalah salah seorang tokoh yang penting untuk diekspos dalam buku tersebut.

    Bilamana ada yang mengetahui kontak Keluarga Ir. P.M. Nur, sudi kiranya menghubungi email : yonaidil@yahoo.com

    Terima kasih,
    Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

  8. saya sudah lama mengedolakan Ir H.Pangeran Muhammad noor,karna orang tua saya dan paman saya sering bercerita tentang suri teladan beliau.. bahkan saya pernah ingin membukukan sejarah tentang beliau serta para pejuang yang lainnya tapi saya tidak dapat menemukan bahan dan ahlulbaitnya serta orang yang dapat menceritakan tentang perjuangan beliau..

  9. Amazing! Its in fact amazing post, I have got much clear idea
    about from this piece of writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: