Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Upacara Mendirikan Rumah

Posted by Anak Sultan pada Maret 3, 2007

Di daerah Kalimantan Selatan terdapat upacara bagi yang ingin mendirikan rumah baru. Upacara mendirikan rumah ini biasanya dilakukan bagi pasangan muda yang baru menikah. Setelah lama tinggal dengan mertua mereka pun ingin melanjutkan hidup dengan memiliki rumah baru. Sebelum menantu keluar, dia harus meminta izin dulu kepada mertua ‘handak balain’ rumah dan ‘salajur maulah’ rumah sebab ada juga mertua yang tidak mengizinkan anak perempuannya pindah, untuk kasus ini biasanya dibuatkan rumah baru tetapi letaknya berdekatan dengan rumah mertua. Zaman dulu tidak ada budaya rumah RSS atau kompleks perumahan yang sudah dibangun duluan oleh developer. Mungkin ini salah satu sebab upacara mendirikan rumah bagi pasangan baru sudah mulai ditinggalkan.

Setelah diizinkan untuk balain, maka hal yang selanjutnya dilakukan antara lain:
1)  Menanyakan kepada orang yang dianggap ‘hawas’ untuk minta ‘tangguhiakan’ apakah peralatan yang akan dipakai membangun rumah sudah baik atau tidak.
2) Apabila peralatan yang digunakan sudah sesuai, selanjutnya ditanyakan kapan waktu mendirikan yang tepat.
3) Pertanyaan selanjutnya, apakah tanah yang bakal didirikan bangunan baik atau buruk.
4) Setelah seluruh pertanyaan diajukan kepada orang yang hawas tadi, calon tuan rumah kemudian akan mengundang para jiran untuk shalat magrib, isya, dan sembahyang hajat di atas lokasi bakal rumah akan dibangun.

Setelah selesai melakukan shalat hajat, proses kegiatan selanjutnya membacakan doa selamat, untuk keselamatan yang membangun rumah baik itu tuan rumah atau tukang bangunannya. Makanan yang disuguhkan menurut tradisi nasi ketan serta intinya (nyiur parut gula merah). Digunakan pula minyak likat baboreh untuk dipapaikan pada saat penancapan tiang pertama. Saat tiang pertama ditancapkan, tetuha masyarakat memegang tiang tersebut sambil memasukkannya ke lobang pondasi tiang, diiringi ucapan sholawat yang disahut oleh hadirin. Setelah berdiri dipapai dengan minyak likat baboreh yang sudah dicampur darah ayam.

Pada siang hari pengerjaan rumah biasanya dihidangkan ‘gangan gadang’ yang menurut kepercayaan masyarakat supaya rumah yang akan ditempati nantinya ‘dinginan’. Setelah rumah selesai dikerjakan orang yang dianggap hawas tadi ‘mensyarati’ rumah dengan benda tertentu supaya terhindar dari bencana seperti kemalingan atau kebakaran dan sebagainya serta menentukan waktu yang tepat untuk ‘bahangkut’ ke dalam rumah baru.

Menurut tradisi waktu itu, tetangga akan datang setiap hari untuk membantu menyelesaikan rumah tersebut. Ini karena tradisi gotong royong yang sangat kuat dan saling bantu membantu sesama tetangga.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: