Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Belajar dari Barongsai

Posted by Anak Sultan pada Maret 5, 2007

Memasuki perayaan imlek dan cap go meh di kota Banjarmasin terlihat ramai dengan lalu-lalang mobil pick up bermuatan naga dan gendang besar. Pasukan Barongsai selalu panen order saat imlek tiba. Show resmi barongsai biasanya pada malam hari di depan klenteng jalan Veteran. Karena bersamaan dengan arah turunan dari Jembatan Merdeka maka jalan di sekitar klenteng akan padat dan macet. Disini saya melihat penyebab kemacetan tersebut bukanlah pasukan Barongsai, tetapi penonton yang berjubel sampai meluber keluar klenteng dan menutupi jalan. Orang tua dan muda otomatis berhenti sejenak untuk menyempatkan melihat atraksi ini dari atas sepeda motornya.

Barongsai sebuah kesenian Tionghoa yang sudah berumur ratusan tahun, kalau dibandingkan dengan kemajuan teknologi sekarang, merupakan kesenian kuno dan ketinggalan zaman. Tetapi kenapa orang tetap tertarik untuk menyempatkan diri melihat atraksi ini. Anda bisa lihat kalau kebetulan lewat di jalan raya, ada atraksi Barongsai dari toko ke ruko, dan setiap kali pula banyak penonton dadakan menyempatkan diri berhenti sejenak untuk menikmatinya. Kalau begitu apakah anggapan kesenian kuno adalah kesenian yang tidak disukai orang lagi itu benar?

Para seniman Banjar sering mengeluhkan minimnya apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah Banjar. Dengan mengemukakan alasan munculnya kesenian modern membuat kesenian tradisional Banjar tidak diminati oleh orang lagi.

Saya pun belajar dari Barongsai. Kesenian kuno usianya ratusan tahun tetap ditonton oleh orang banyak, padahal dari segi musik Barongsai hanya menampilkan bunyi dung dung dung tak lebih dari itu. Dari segi tarian saya hanya melihat orang memakai topeng naga meloncat-loncat kesana kemari. Tapi kenapa rasa rami haja lah?

Menurut pendapat saya pribadi, kesenian tradisional menjadi kehilangan peminatnya karena tidak ada event di daerah ini yang mampu turun langsung ke bawah mengajak masyarakatnya. Selama saya hidup di Banjarmasin, tidak ada sebuah kesenian Banjar yang ditampilkan begitu bebasnya di pinggir-pinggir jalan. Kalau ingin melihat tarian, saya harus menunggu adanya festival tari. Kalau ingin melihat mamanda saya harus menunggu ada festivalnya juga, begitu juga jenis kesenian lainnya. Sehingga disini yang menjadi masalah adalah kesenian tradisional Banjar secara tanpa sadar dijadikan tontonan khusus, eksklusif, dan susah didapat.

Saya melihat kesenian Banjar mendekati kepunahan karena masalah seperti tertulis di atas. Pada acara Banjar Basaruan yang lalu, kebetulan saya juga menjadi panitia salah satu acara, saya amati betapa antusiasnya masyarakat Kalimantan Selatan menyaksikan berbagai macam jenis acara tradisional yang disuguhkan. Mereka memadati arena balogo, batungkau, bagasing, bersorak menyemangati lapangan orang main baasinan, berdesakan melihat tari japin, tertawa terbahak-bahak mendengar madihin, dan rela semalam suntuk mengikuti acara wayang banjar. Ini menunjukkan kesenian tradisional tidaklah ditinggalkan masyarakat tetapi selama ini masyarakat tidak tahu kemana mencari kesenian mereka.

Saya tidak bisa menawarkan solusi hanya sekadar memberikan rumusan masalah, sambil mengharapkan ada seniman dan pejabat pemerintahan urang Banjar di luar sana membaca tulisan ini dan bisa memberikan solusi terbaik. Terutama mengharap saran dari masyarakat umum sendiri sebagai bukti mereka masih mencintai dan merindui kesenian asli tanah lahir mereka.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Satu Tanggapan to “Belajar dari Barongsai”

  1. ibnu abdul karim said

    Jadi kaingatan waktu bahari di barabai balajar bakuntau,
    wayahi ini asa jarang sudah malihat kakanakan balajar kuntau, kabanyakan bamainan PS haja dirumah. Dimanakah wayahini ada urang balajaran kuntau, asa handak malihat lagi urang latihan gasan banostalgia waktu dikampung.

    Masih ada juakah urang yang mamalajari kuntau ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: