Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Timpakul; Nostalgia Rumah Tanpa Urukan Tanah

Posted by Anak Sultan pada Maret 19, 2007

Tadi baru membaca websitenya komunitas Timpakul, tiba-tiba teringat kenangan masa kecil waktu saya dan kawan-kawan (Banjarmasin awal tahun 90-an) bermain-main menjebak Timpakul. Dulu di setiap bawah rumah di kawasan Kayutangi Banjarmasin, kondisinya berlumpur dan selalu dialiri air karena termasuk daerah pinggir sungai (rumah di Banjarmasin memang selalu di pinggir sungai dulunya). Rumah kami ada dua lawang (pintu) yang satu menghadap darat (jalan yang dibangun dari tumpukan galam diuruk memakai lumpur dan tanah liat dari sungai di sampingnya dilapisi dengan blok-blok semen dibagian paling atas), satunya lagi menghadap sungai dihubungkan oleh tumpakan (semacam pijakan dermaga) seadanya. Apabila air lagi surut terlihat jelas tiang-tiang rumah dari ulin yang panjang-panjang, dibawah tiang terlihat juga licak (lumpur). Nah, diantara lumpur ini kalau diamati akan ada lubang-lubang kecil seperti bekas ditusuk-tusuk memakai tongkat. Lubang-lubang itu penghuni utamanya Ular, Kepiting, Walut (Belut), Biawak, dan Timpakul. Penghuni lumpur yang sering terlihat adalah Timpakul, bentuknya unik kadang-kadang agak menakutkan. Menurut pengamatan kami Timpakul akan menampilkan diri bila air pasang tiba, mereka akan berloncatan dengan matanya yang lucu.

Teman-teman saya akan mulai menyiapkan sumpit yang terbuat dari jari-jari besi sepeda dengan pipa paralon plastik. Maka perburuan Timpakul akan dimulai saat hari mulai sore sampai waktu Maghrib tiba atau sampai masing-masing dipanggil orang tua untuk masuk rumah. Timpakul cuek, diburu, disumpit, ditawak (lempar), diinjak lubangnya, mereka akan terus ada di sana berloncatan dengan ceria seperti mengejek kami untuk terus memburu mereka tiap hari. Dan memang selama beberapa tahun itu Timpakul selalu terlihat di bawah rumah kami.

Memasuki akhir tahun 90-an, saya dan teman-teman sudah mulai sibuk kuliah, jarang diantara kami memikirkan Timpakul lagi. Jalan darat di depan rumah sudah semakin lebar dan jalan raya di seberang sungai sudah diaspal. Sedangkan sungai di belakang rumah sudah menyempit karena kebutuhan akan ruangan rumah saya dan tetangga yang terus menerus mendesaknya. Sungai yang dulunya lebar 3 meter sekarang sisa 1.5 meter, jalan darat yang dulunya 1.5 meter kini menjadi 2.5 meter sampai bisa dilalui mobil padahal cuma jalan dalam gang. Satu-satunya yang kami pertahankan sampai sekarang adalah rumah kami tetap memakai tiang sebagai pondasinya.

Rupanya orang-orang yang mempunyai rumah di pinggir jalan raya tidak berpikiran sama, satu persatu membangun kembali rumah mereka memanggil berpuluh-puluh truk pengangkut tanah dari gunung. Ruko dan toko sudah menghiasi jalanan kota Banjarmasin. Tiang digantikan oleh urukan tanah, lantai papan digantikan lantai marmer. Dan tanah becek berisi lubang kecil tempat mahluk hidup lainya tinggal tertutup dan dilupakan.

Kebiasaan baru yang menggantikan budaya orang Banjar dalam membangun rumah ini sudah merusak rumah Timpakul. Sekarang demi gengsi pasti orang akan menguruk dengan tanah untuk membangun di atas kota seribu sungai ini. Untuk selembar dinding beton dan sehelai lantai marmer, pondasi bangunan perlu diperkuat dengan urukan tanah, begitu kata para pembangun kota. Masalah tertutupnya sungai, terhambatnya aliran air dan hilangnya hewan-hewan penghuni asli tanah kota, bukan urusan mendasar asal manusia tidur tenang di atas rumah gedungnya.

Memasuki tahun 2000, saya tidak pernah lagi melihat timpakul di bawah rumah, sungai kami sudah menjadi sungai tanpa kekayaan biotanya. Timpakul pergi entah kemana, mungkin mereka masih bertahan hidup tapi di suatu tempat yang tidak bisa kami lihat lagi. Bisa jadi di suatu tempat di Banjarmasin dimana tiang masih menjadi pondasi rumah dan tanah urukan hanya untuk membuat jalan.

6 Tanggapan to “Timpakul; Nostalgia Rumah Tanpa Urukan Tanah”

  1. Evy said

    mungkin timpakul abis gara2 di tulupin pak…jadi punah neeh?

    ngga tau juga saya, bu Evy. tau-tau timpakul sudah hilang dari lingkungan kami, dicari-cari di lumpur tidak ada juga. di Banjarmasin kayanya timpakul sudah punah. tinggal menunggu waktu orang Banjarmasinnya juga ikutan punah, semoga saja tidak.

  2. timpakul said

    julak, nang bujur itu ngarannya timpakul kah atawa tempakul? atau tembakul? ulun lawas banar mancari referensi tentang itu… beberapa ada di http://id.wikipedia.org/wiki/timpakul . ngalih banar dapat nang sabujurnya.. jadinya ulun pakai haja ngaran timpakul…🙂

    kalau nang bujurnya ulun kada tahu jua, tapi kami mulai lagi bahari mandangar kai nini manyambatnya timpakul aja, kededa ngaran lain, jadi timpakul ai istilahnya🙂

  3. irum said

    pa….ulun umpat bakisah nah,

    dasar si timpakul….

    hari raya tahun lalu kami bulikan ke banjar (kuitan ulun orang kalayan), apa jar laki ulun ” de dieren dat een mooie ogen heeft, onder uw ouders huis /binatang2 yg punya mata indah itu …. zij zijn niet meer heh/ kok ga ada lagi ya…. eh jar ulun kiker?(kodok kah), nee…kada….
    jadi jar ading ulun timpakul kalo? timpakul aja di cari i jar….

    abah ulun nang mandangar tatawa ta pingkal-pingkal.

    salam dari negri kincir angin

    hehehe timpakul memang langka banar sudah, sampai urang belanda aja kaganangan.

  4. HNurdinAPris-Jkt said

    Jar kisah Anak Sultan di atas, ada 4 haiwan banyu nang barumah/badiam … ” di dalam tanah licak ” … nang ada di bawah rumah kita bahari, yaitu : ular, kapiting, walut, dan timpakul.

    Mun ular banyak pang macam ular-nya, tapi nang spesial badiam di dalam tanah licak, apa yu, … ” puraca ” … jar ngarannya … iya kada.

    Terima Kasih … Barila’an

    nah lamunnya puraca ulun bukah am kada wani ulun abah ai…hehehe bahari suah takacak puraca untung masih halus

  5. sugiarno said

    Hmm, jadi Banjar hampir kehilangan makhluk-makhluk kecil khas daerahnya? Sayang … mudah-mudahan daerah lain dapat belajar dari kasus ini. Salam.

  6. Irham said

    Ulun mula-mula pindah ke Samarinda awal tahun 91, melihat diatas teras ada tulisan WADAH TIMPAKUL BAHINIP. Jar ulun ini pasti rumah urang Banjar nang di Kalsel. Dalam budaya lisan Banjar, penyebutan timpakul dimaksudkan untuk orang yang bersifat plin plan, kada punya pendirian atau umpat batang timbul. Sebab biasanya kalau air pasang, timpakul keluar dari sarangnya lalu dia hinggap di batang timbul.
    Lain lagi dengan iwak bakut. Iwak ini jarang dimakan, sebab tidak enak. hidupnya disungai, biasanya ada ulun lihat disela sela batang lanting. Inya bahinip aja disela-sela batang. Maka kalu ada urang disebut membakut atau ambak kaya bakut, itu maksudnya orang yang pendiam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: