Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Ungkapan Banjar: Ditinggal Manawaki, Dibawa Malinggang ka Jukung

Posted by Anak Sultan pada Maret 21, 2007

‘Ditinggal Manawaki, Dibawa Malinggang ka Jukung’

Ditinggal = ditinggal/tidak diajak
manawaki = melempari
dibawa = dibawa
malinggang = menggoyang
ka = ke
jukung = jukung/perahu khas Banjar

“Tidak diajak melempari, saat dibawa menggoyang-goyang (mau menenggelamkan) perahu”

Ungkapan ini sudah ada sejak zaman dulu dalam kehidupan masyarakat Banjar. Makna yang terkandung pada ungkapan ini adalah Orang yang selalu berusaha merusak persatuan.

Seseorang yang kena sindir melalui ungkapan ini biasanya selalu merasa tidak puas terhadap kedudukannya di masyarakat, selalu ingin menjadi pemimpin utama padahal semua orang tahu kualitas pribadinya sehingga jarang yang mempercayakan amanat kepada orang ini. Jika membentuk suatu wadah seperti organisasi/partai/perkumpulan kalau orang ini tidak diikutsertakan dalam kepengurusan, maka ia akan mencaci maki orang di dalam perkumpulan tersebut. Sebaliknya saat diikutsertakan dia sering melakukan hal-hal yang kurang baik sehingga mencoreng nama baik perkumpulan.

Orang ini kerjanya hanya bisa memberikan komentar negatif tanpa bisa mempraktekkan ucapannya atau memberikan solusi dari keluhannya. Bagi orang Banjar, orang seperti ini ‘ngalih diagungakan’ (sukar diberi penghormatan). Segala kebijakan orang dianggapnya salah, dia sering dibenci masyarakat tetapi dalam pikirannya seolah-olah selalu diperhatikan masyarakat. Walau orang ini mempunyai tingkat pendidikan tinggi atau keahlian yang hebat, masyarakat akan menganggap orang seperti ini hanya akan merusak persatuan sebab dalam masyarakat Banjar itikad baik lebih dihargai dalam rangka menunjang keberhasilan bersama.
Ungkapan ini akan diucapkan di hadapan yang bersangkutan di tengah orang banyak sebagai teguran sopan dan berbudaya agar orang tersebut mau merenungi kelakuannya.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

5 Tanggapan to “Ungkapan Banjar: Ditinggal Manawaki, Dibawa Malinggang ka Jukung”

  1. Wah saya baru denger ada falsafah seperti itu dengan bahasa banjar. tambah wawasan saya. makasih pangeran-lah.

    sama-sama pak Urip, mungkin bisa disampaikan sebagai selingan mengajar kimia di kelas sebagai pelajaran ‘tambahan’ bagi murid-murid

  2. nah baiknya ha ada pian hakuan mamadahkan bahasa paninian kadanya kaya ulun ni parak parak bahahar lawan bahasa amun kada ada pian maka ngalih ulun handak ma lajari anak dang sanak nyang baganak jauh dari banua tanah tumpah darah kawitan tarimakisih lah ulun baucap untuk jasa baik pian.

  3. Nasrun Zaylani said

    nyaman jua kalau tahuk lebih dalam tentang banjar.
    Rahat urang banjar sekarang kadak tahuk memadahakan bahasa bajar.
    bagi orang banjar yang kadak tahuk memadahakan bahasa banjar, lakasik belajar disiak, biar suku kita kadak hilang.

  4. Ass,……
    Tulisan ini sangat bagus sekali untuk pengetahuan orang banjar khususnya.

    Ijinkan saya nencopi beberapa artikel tentang sejarah dan asal usul Bajnar. saya juga orang banjar. terima kasih..

  5. iqbal said

    gasan balajar basa banjar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: