Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Upacara Mangarani Anak

Posted by Anak Sultan pada Maret 26, 2007

Pada masyarakat Banjar, upacara mangarani (memberi nama) anak termasuk dalam upacara daur hidup manusia. Setelah bayi dilahirkan dari rahim ibunya merupakan kewajiban untuk memberi nama yang baik sebagai harapan bagi hidupnya kelak. Pemberian nama dalam adat Banjar dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama dilakukan langsung oleh bidan yang membantu kelahiran anak tersebut. Proses ini terjadi saat bidan melakukan pemotongan tangking (tali/tangkai) pusat, pada saat itu bidan akan memberikan nama sementara yang diperkirakan cocok untuk anak tersebut.

Pada waktu pemotongan tangking bayi itu akan dilantakkan (dimasukkan seperti ditanam) serbuk rautan emas dan serbuk intan ke dalam lubang pangkal pusatnya. Hal ini dimaksudkan agar si anak kelak kalau sudah dewasa memiliki semangat keras dan hidup berharga seperti sifat intan dan emas.

Setelah Islam masuk ke tanah Banjar, proses mangarani anak ini berkembang secara resmi menjadi tahap berikutnya yang disebut batasmiah (tasmiyah). Pemberian nama anak tahap dua ini untuk memantapkan nama si anak. Jika nama pilihan bidan sesuai dengan keinginan orang tua maka nama itu yang akan dipakai. Tetapi apabila orang tuanya mempunyai pilihan sendiri maka melalui acara batasmiah ini diresmikan namanya. Kadang-kadang dalam menentukan nama anak ini sering pula meminta bantuan orang alim atau patuan guru (alim ulama).

Pada upacara ini akan dimulai dengan membaca ayat suci Al Quran kemudian diteruskan dengan pemberian nama resmi kepada anak yang dilakukan oleh patuan guru yang sudah ditunjuk. Begitu pemberian nama selesai diucapkan, rambut si anak dipotong sedikit, pada bibirnya diisapkan garam, madu, dan air kelapa. Ini dimaksudkan agar hidup si anak berguna bagi kehidupan manusia seperti sifat benda tersebut. Anak yang sudah diberi nama ini akan dibawa berkeliling oleh ayahnya untuk ditapung tawari dengan minyak likat baboreh. Tapung tawar diberikan oleh beberapa orang tua yang hadir di acara tersebut (terutama kakeknya) disertai doa-doa untuk si anak.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

6 Tanggapan to “Upacara Mangarani Anak”

  1. Evy said

    Ya nama juga doa ya pak? Guru yang ditunjuk itu apa guru agama? Tapung dan minyak ikan lambang apa pak? kalau garam, madu dan air kelapa emang nya sudah bisa mengisap?

    ya betul bu Evy sama seperti di kebudayaan lainnya nama juga berarti doa, pada masa ini guru yang ditunjuk adalah guru agama/ustadz.
    untuk tapung tawar menurut tradisi menggunakan minyak likat baboreh (minyak yang dimasak dari minyak kelapa, bunga-bungaan dicampur lilin), tapung tawar = semacam acara memercikkan air bunga/minyak tadi ke kepala anak yang dinamai sebagai tanda pemberkatan,
    untuk garam,madu dan air kelapa, cukup diusapkan di bibir si anak sebagai simbol pengisapannya.

    • MooChenk said

      ikut nambahin komentar ya…
      Utk simbol pengisapan, hal ini dimaksudkan sebagai simbol pengenalan manis pahitnya kehidupan dunia dan mengandung harapan agar hidup sang bayi kelak berguna bagi kehidupan masyarakat seperti sifat kedua benda tersebut. Selain itu, gula merah dan air kelapa merupakan simbol darah merah dan darah putih dalam tubuh sang bayi, sehingga diharapkan nantinya sang bayi diberikan kesehatan tubuh sepanjang hidupnya. Tahapan ini juga dimaksudkan untuk mengajari dan merangsang kemampuan sang bayi mengisap makanan yang nantinya akan diperoleh dari air susu ibunya.
      maaf, bila lancang….

  2. Yang menarik juga untuk saya:
    1. Tentunya proses pemilihan nama sekarang berbeda dengan dahulu, bukan?
    2. Apa dasar-dasar pemilihan nama anak? Apakah seperti di Jawa menurut tanggal/jam lahir? Weton dsb.? Apakah ada istilah “Namanya terlalu berat”?
    Bisakah anda memberi contoh beberapa nama asli Dayak dengan artinya?
    Siapakah yang memilihkan nama itu?
    3. Apakah ada (seperti di Jawa) nama untuk masa kecil dan nama kalau sudah dewasa?

    1) ya proses pemilihan nama sekarang berbeda dengan dulu seperti mengikuti trend
    2) dasar pemilihan anak memang kebanyakan mengikuti keadaan yang terjadi, misalnya lahir pada tahun baru hijriah dinamai Hijriati, Hijriatun. bisa juga mengikuti nama kakaknya yang terdahulu seperti Misran, Misnawati, Misriah. di kebudayaan Banjar lama belum saya temui referensi mengenai nama yang terlalu berat, setelah ada pencampuran dengan budaya Islam kemudian ditemui nama yang dianggap berat disandang oleh anak. Untuk nama asli Dayak saya cari dulu sumbernya takutnya salah nanti infonya🙂
    3) untuk nama masa kecil dan nama dewasa, masyarakat Banjar tidak mengenalnya, kecuali untuk sebutan saja misalnya Utuh Kacil, Utuh Basar, Galuh, dll tapi namanya tetap.

  3. BTW saya orang jawa yg di kalimantan kasih nama anak yah begitu saja, selamatan kecil2an sudah, doanya semoga dengan nama itu si anak menjadi manusai yang berguna pinter dan saleh.🙂

    saat ini upacara mengarani anak tidak mengikat atau harus dilaksanakan tepat seperti adat dulu, biasanya kalau orang tua si anak ingin lebih memeriahkan maka diadakanlah upacara ini. tapi untuk acara tasmiyah (meskipun sederhana) dan tapung tawar harus tetap ada. Yang penting seperti yang bapak bilang supaya anak menjadi manusia yang berguna pintar dan saleh🙂

  4. arul said

    biasanya kan pas aqiqah ortu memberikan nama anaknya…
    sama gak aqiqah dengan Mangarani??

    kalau disini aqiqah bisa saja saat sudah dewasa, kalau lagi ada rejeki bisa disamakan waktunya. aqiqah dengan mengarani tidak sama, untuk aqiqah sudah ada ketentuannya, perempuan 1 kambing, laki-laki 2 kambing.

  5. UUk said

    Bapalas bidan juga sama yah dengan mangarani ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: