Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Archive for April, 2007

Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Banjar 2007

Posted by Anak Sultan pada April 29, 2007

Dalam dokumentasi budaya Banjar memang ditemukan sedikit mengenai sastra tertulis dalam bahasa Banjar. Entah mengapa pendokumentasian karya-karya dalam bahasa Banjar agak sulit untuk dikumpulkan. Sebagai upaya untuk memperkaya dan pelestarian budaya serta meningkatkan apresiasi tentang bahasa Banjar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalsel, melalui Sub Din Bina Kesenian mengadakan Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Banjar 2007.

Menurut Kasubdin Bina Kesenian Disbudpar Kalsel, Drs. H. Syarifuddin R, lomba ini bertujuan memberikan motivasi kepada masyarakat menuangkan kemampuannya berbahasa Banjar. (Banjarmasin Post, 27/04/2007). Peserta lomba terbuka bagi siapa saja dan dimana saja.

Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya kepada panitia. Karya yang dilombakan paling lambat diterima panitia pada tanggal 31 Mei mendatang. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 18 Juni 2007.

Khusus dewan juri, terdiri dari seniman sastra Banjar, Lembaga Budaya Banjar, serta praktisi atau budayawan Banjar. Juara akan mendapat tanda kasih berupa uang tunai, tropi, dan piagam penghargaan.

Syarat Cerpen yang dilombakan:

  • Berbahasa Banjar
  • Tema bebas, tidak bertentangan hukum
  • Jumlah karakter antara 4000 – 8000 karakter
  • Minimal 5 halaman dan maksimal 8 halaman folio
  • Diketik 1,5 spasi
  • Belum pernah dipublikasikan di media mana pun
  • Bukan terjemahan

Penilaian:

  • Orisinalitas ide
  • Nilai sosial budaya lokal
  • Teknik bercerita
  • Bahasa jelas, makna dan penulisan mudah ditangkap pembaca
  • Memakai bahasa Banjar Hulu dan Kuala yang tepat dan baik.

Kelengkapan Peserta Menyertakan:

  • Nama dan alamat lengkap
  • Photocopy kartu pengenal yang masih berlaku
  • Nomor telepon atau handphone yang bisa dihubungi

Alamat Panitia Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Banjar 2007 : Taman Budaya Propinsi Kalsel, Jl.Brigjen Hassan Basry No.2/43 Kayutangi Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70123. Telpon 3304735.

Bagi yang belum jelas, ingin mengetahui informasi lebih lengkap bisa kirimkan pertanyaan melalui kolom komentar di bawah postingan ini. Pertanyaan kalian akan langsung disampaikan ke Bapak Drs.H. Syarifuddin R. Jawabannya akan dibalas langsung di kolom komentar juga.

Ayo bagi para penulis di seluruh jagad yang jago membuat cerpen, tunjukkan kehebatan kalian dalam lomba menulis cerpen bahasa Banjar. Rugi lamunnya kada umpat. Ingat batasnya 31 Mei 2007

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Event Budaya | 5 Comments »

Anak Sultan Kawin

Posted by Anak Sultan pada April 27, 2007

Berikut sedikit dokumentasi dari walimah perkawinan Anak Sultan, ditujukan untuk seluruh teman-teman dan senior-senior yang sudah bersedia hati melawat ke dalam Kerajaan Banjar Virtual.

Terima kasih banyak untuk seluruh rekan yang ada di blogroll dan sering menitip komentar dan saran di halaman Tentang Saya. Abah H. Nurdin, kaya apa? gagah kalo? hehehe…nang sampat datang kanda Taufik Arbain lawan Om Bambang Subiyakto, Eka BPost, Om Wajidi, kawan-kawan yang lain yang tidak sempat terundang, kami mohon maaf dan mohon doa restu.

gbrnkkwn.jpg

Posted in Sekapur Sirih | 24 Comments »

Teater Japin Carita

Posted by Anak Sultan pada April 27, 2007

Japin Carita merupakan teater rakyat tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Selatan berasal dari pengembangan tari dan musik japin. Biasanya Japin Carita ini dibawakan untuk meramaikan malam pengantin dan hari besar Islam. Jenis Teater ini boleh dibilang hampir punah karena sudah sangat jarang dimainkan. Grup kesenian yang masih bisa memainkannya antara lain, Grup Teater Banjarmasin dan La Bastari Kandangan

Pada tahun 1900, di Banjarmasin telah mengenal Japin Arab, yang ditarikan oleh suku Arab di perkampungan Arab. Japin Arab berpengaruh besar masyarakat sekitar, yakni Kampung Melayu, Kuin, Alalak, Sungai Miai, Antasan Kecil, Kalayan, Banyiur. Sampai dengan tahun 1960 di Banjarmasin lebih dari sepuluh orkes Japin lengkap dengan tari-tarian Japin yang langkah-langkahnya agak mirip dengan Japin Arab. Tahun 1961 di kampung Sungai Miai dipergelarkan Japin yang berisi tari Japin dilanjutkan dengan sebuah cerita. Pada tahun 1975 dari dari Tapin menyebutkan bahwa ditemukan Japin bercerita di Kampung Binuang Dalam. Informasi sebelumnya didapatkan pada tahun 1958 terdapat pergelaran Japin Bakisah di Margasari.

Dengan demikian, Japin Carita muncul pada tahun 1958 dan tidak diketahui siapa pencetusnya. Yang jelas, bahwa Japin Carita adalah perkembangan dari Tari dan musik Japin pesisiran. Diperkirakan lahir di Banjarmasin karena pengaruh tonil/sandiwara dan komedi bangsawan kemudian berpengaruh pada masyarakat Badamuluk di Margasari.

japin-carita.jpg

Baca entri selengkapnya »

Posted in Kesenian | 11 Comments »

Percakapan Sehari-hari Bahasa Banjar – 1 –

Posted by Anak Sultan pada April 27, 2007

Bagi teman-teman yang kebetulan singgah di blog ini kemudian menemukan beberapa kalimat di kolom komentar yang memakai bahasa Banjar mungkin bisa ikut mempelajari bahasa Banjar sebagai penambah ilmu. Bahasa Banjar sebenarnya tidak susah asal bisa berbahasa Indonesia, sebab beberapa kalimatnya (bahkan banyak) mirip dengan bahasa Indonesia. Mungkin ini karena bahasa Banjar merupakan satu rumpun dengan bahasa Melayu asli yang kemudian berevolusi menjadi bahasa Indonesia.

Ada juga kata yang sama dengan bahasa Indonesia tetapi cuma vokalnya yang berubah, ini karena pengaruh pola pengucapan oleh orang Banjar. Misalnya, karing = kering, handak = hendak, karas = keras.
Kemudian kata bentukan yang mirip dengan bahasa Indonesia tetapi berubah sedikit karena pengaruh logat berbicara orang Banjar. Misalnya, biarakan = biarkan, sampaiakan = sampaikan, ambilakan = ambilkan.

Selain itu ada penambahan kata yang tidak ada artinya tetapi lebih kepada penekanan arti kata di depannya dalam percakapan. Misalnya, “am” “ai”.

Bila Anda kebetulan mendengar orang Banjar berbicara biasanya kata-kata berikut ini yang terdengar:

  • aku = aku
  • ikam = kamu (bahasa antar sebaya)
  • pian = kamu (bahasa kepada yang lebih tua; sopan)
  • ulun = aku, saya (bahasa kepada yang lebih tua; sopan)
  • nyawa = kamu (bahasa antar sebaya yang sangat akrab; di beberapa daerah Banjar dianggap kasar)
  • unda = aku, saya (bahasa antar sebaya yang sangat akrab; di beberapa daerah Banjar dianggap kasar)
  • kada = tidak
  • indah = tidak (biasanya menyatakan penolakan terhadap ajakan)
  • handak = mau; ingin; hendak
  • lawan = dengan; dan
  • uyuh = letih; lelah
  • lajui; hancapi; cepati; lakasi = cepat-cepat; lekas-lekas; segera (menunjukkan permintaan untuk ~ )
  • kanyang = kenyang
  • nyaman = enak
  • bungul = bodoh
  • bungas; langkar = cantik; tampan
  • lamak = gemuk

(bersambung)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Bahasa Banjar | 239 Comments »

Upacara Baayun Wayang dan Baayun Topeng

Posted by Anak Sultan pada April 24, 2007

Masyarakat Banjar di antaranya ada yang melaksanakan upacara berdasarkan adat yang bersifat khusus di lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Salah satu upacara yang sering diadakan adalah upacara Baayun Wayang dan Baayun Topeng. Upacara ini biasanya dilakukan bersamaan dengan diadakannya Upacara Manyanggar Banua atau Babunga Tahun.

Bentuk ayunan dan peralatan lain yang digunakan hampir sama dengan ayunan pada upacara baayun mulud, perbedaannya hanya terdapat pada waktu pelaksanaan, tempat dan tujuan upacara. Upacara baayun wayang dilaksanakan dini hari menjelang Subuh sehabis pergelaran wayang sampir yang diadakan di panggung terbuka dalam rangkaian upacara manyanggar banua. Begitu pula dengan baayun topeng, hanya waktu pelaksanaannya saja dilakukan pada sore hari, yaitu setelah upacara memainkan topeng.

Pada upacara baayun wayang yang mengayun anak dalam buaian adalah seorang dalang sambil bamamang (membaca mantra) dengan wayang di tangan. Sedangkan pada upacara baayun topeng anak-anak juga diayun oleh seorang dalang membaca mantra dengan memegang topeng. Pada kedua upacara ini kedua orang tua hanya membawa anak ke tempat upacara kemudian memohon kepada dalang agar anaknya dapat diayun.

Upacara ini dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat yang biasa menunggui anak-anak. Menurut kepercayaan pada waktu diadakan upacara manyanggar banua diundang semua mahluk halus yang menghuni jagad raya, sehingga kesempatan itu digunakan untuk meminta agar jangan mengganggu anak cucu. Sebagai pelengkap upacara disajikan berbagai jenis kue-kue tradisional.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 8 Comments »

Upacara Aruh Ganal

Posted by Anak Sultan pada April 24, 2007

Upacara Aruh Ganal ini merupakan upacara adat yang terdapat pada suku Dayak Bukit di Pegunungan Meratus. Suku Bukit yang sering melaksanakan upacara ini antara lain daerah Mancabung, Harakit, Balawaian, Batung, Danau Darah, dan Ranai.

Aruh Ganal artinya Kenduri Besar (aruh = kenduri, ganal = besar). Jadi upacara ini dilaksanakan secara besar-besaran oleh seluruh warga kampung dan dihadiri undangan dari kampung lainnya. Dinamai aruh ganal karena ada juga tradisi aruh kecil yang disebut baatur dahar. Baatur dahar ini biasanya hanya dilakukan di lingkungan keluarga. Kemeriahan aruh ganal yang dilakukan tergantung keadaan ekonomi warga di kampung tersebut, sebagai ukurannya adalah hasil panen padi, kacang, dan tanaman pokok lainnya. Apabila hasil tanaman tersebut banyak dan bagus maka akan diadakanlah upacara aruh ganal, sebaliknya jika panen kurang berhasil maka cukup diadakan aruh kecil atau bahkan tidak diadakan sama sekali.

Tujuan diadakannya aruh ganal ini sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa, sekaligus memohon agar hasil tahun yang akan datang mendapat panen yang melimpah, dijauhkan dari mara bahaya dan mahluk perusak tanaman.

Waktu Penyelenggaraan

Aruh ganal pada dasarnya dilakukan setahun sekali, namun apabila dalam musyawarah adat menganggap bahwa penduduk banyak yang kurang penghasilannya, maka aruh ganal tidak dilaksanakan pada tahun itu. Waktu penyelenggaraan sesudah panen yang biasanya jatuh pada bulan Juli dan Agustus. Untuk menetapkan hari dan tanggalnya diputuskan dalam musyawarah desa yang dipimpin oleh Kepala Adat dibantu oleh Kepala Kampung. Dalam menentukan tanggal diperhatikan bulan muda , berkisar antara tanggal 1 sampai 15, hal ini berhubungan dengan simbol bahwa rejeki akan naik apabila dilaksanakan pada tanggal-tanggal tersebut.

Persiapan Upacara

Tempat dilaksanakannya upacara adalah di dalam Balai Adat. Persiapan aruh dimulai dengan hari batarah sehari sebelum upacara dimulai. Hari batarah maksudnya hari memulai pekerjaan, mempersiapkan segala sesuatu, membuat perlengkapan upacara, menyiapkan sesaji. Pekerjaan itu harus selesai dalam satu hari.

Perlengkapan upacara yang paling penting adalah langgatan. Langgatan merupakan induk ancak dan sesaji. Untuk menghias langgatan dilakukan pada keesokan harinya setelah malam pembukaan. Langgatan dibuat bersusun lima tingkat, ancak yang terbesar terletak di bawah, makin ke atas makin kecil. Langgatan itu nantinya digantung di tengah balai dengan menggunakan tali rotan yang diikat di empat sudutnya.

Langgatan ini namanya bermacam-macam sesuai dengan isi dan tujuannya. Ada yang bernama Ancak ka gunung (tidak bertingkat), Ancak Balai Raden (berbentuk perahu)

Jenis perlengkapan lainnya adalah Kelangkung, dibuat sebanyak tiga buah. Yang pertama disebut Kelangkung Mantit (nama nenek moyang burung), Kelangkung Nyaru (Dewa Petir), Kelangkung Uria (dewa yang memelihara segala mangsa dan bala yang merusak tanaman)

Pelaksana Upacara

Untuk menyelenggarakan kegiatan upacara yang bersifat khusus mulai awal sampai selesai dilakukan oleh Balian. Balian ini mempunyai pengetahuan yang luas mengenai seluk beluk adat dan tradisi yang dipercayai. Pengetahuan ini diperoleh dengan cara berguru kepada Balian Tuha dan balampah (melakukan semacam semedi untuk bersahabat dengan berbagai jenis roh halus untuk memperoleh kesaktian tertentu).

Dalam upacara ini Balian yang melakukan tugas ada beberapa orang. Sebagai pimpinan dari Balian ini adalah Pangulu Adat (penghulu adat).

Setiap Balian selalu didampingi oleh Panjulang. Panjulang adalah wanita yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian atau dapat pula mengajukan permohonan atas kehendak masyarakat. Segala permintaan oleh Balian dilayani oleh Panjulang.

Upacara yang dilakukan oleh Balian ini akan berlangsung dalam lima hari berturut-turut sampai acara Aruh Ganal selesai.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 23 Comments »

Balai Laki

Posted by Anak Sultan pada April 20, 2007

Tempat bersanding pengantin Banjar berikutnya yang akan dibahas disini adalah Balai Laki.

Bentuk

  • Menyerupai panggung atau pentas dengan ketinggian sekitar 2 m dan lebarnya sekitar 2 – 3 m.
  • Bahan bangunan yang digunakan sebagai tiang adalah batang Pinang ataupun bahan kayu lainnya yang cukup kuat menahan beban 4-6 orang.
  • Bagian atas panggung digunakan sebagai tempat duduk yang memanjang untuk tempat duduk pasangan mempelai serta pendamping mempelai dan petugas upacara

Penempatan Balai

Balai dibangun di tepi jalan raya atau tempat lain dimana memungkinkan masyarakat dapat berkumpul untuk menyaksikan penampilan pasangan mempelai serta menampilkan atraksi kesenian sejak awal menyertai kegiatan ini.

Perlengkapan Hias Balai

  • Tempat duduk mempelai dihias megah
  • Bubungan atau atap pelindung dari teriknya matahari yang memancar, karena umumnya upacara bersanding di balai laki diselenggarakan menjelang tengah hari sekitar pukul 11.00 – 13.00
  • Tabir air guci, hiasan kain aneka warna yang menambah megahnya Balai Laki.

Hiasan Pelengkap

  • Di sekitar balai laki dihias dengan janur daun pucuk kelapa atau pucuk enau
  • Pada beberapa daerah tertentu menggunakan umbul-umbul yang terbuat dari kain sarung wanita yang disusun dan direntang ke segala penjuru sebagai layaknya bendera isyarat yang digunakan di kapal samudera pada hari-hari besar. Konon dulu jika yang mengadakan acara perkawinan adalah orang kaya maka sarung yang jadi umbul-umbul itu akan dibagi-bagikan.
  • Setelah selesai upacara balai laki tidak segera dibongkar, tetapi tetap dibiarkan mungkin akan digunakan lagi seandainya ada keluarga/tetangga yang akan menyelenggarakan upacara serupa.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 6 Comments »

Rumah Tradisional Banjar – Pondasi –

Posted by Anak Sultan pada April 19, 2007

Bentuk dari berbagai macam rumah tradisional tiap daerah biasanya dipengaruhi oleh lingkungan alam sekitarnya. Pengaruh ini bisa berupa sumber daya alam yang tersedia, bentuk daratan atau cuaca yang terjadi di daerah tersebut. Di Kalimantan Selatan yang merupakan daerah tropis dengan hutan yang banyak, tersedianya berbagai macam jenis kayu mempengaruhi bahan bangunan tradisional yang ada. Kemudian jenis tanah di Kalimantan Selatan yang cenderung berawa memberikan pengaruh kepada bentuk pondasi.

Pada daerah Kerajaan Banjar masa lalu, sungai adalah sarana yang sangat penting bagi jalur komunikasi dan transportasi. Hal ini menyebabkan begitu banyaknya bangunan-bangunan yang dibuat di sepanjang aliran sungai pada waktu itu. Mengingat daerah pinggiran sungai mempunyai jenis tanah yang rendah dan berair maka bangunan tersebut harus mempunyai bentuk pondasi yang mantap untuk menyokong bangunan di atasnya.

Untuk pondasi biasanya dipakai kayu galam yang banyak terdapat di sepanjang rawa Kalimantan. Kayu galam ini mempunyai sifat yang khusus sehingga sangat pas untuk dijadikan bagian pondasi bangunan rumah di sepanjang pinggir sungai. Sifat kayu galam adalah semakin terendam maka kekuatannya menjadi awet. Kayu galam yang terendam di lumpur terus menerus mempunyai kekuatan sampai puluhan tahun.

Teknik pemasangan pondasi ini ada dua cara, yaitu:

  1. Pondasi Batang Besar, apabila pondasi yang dipilih adalah pondasi batang besar maka digunakan teknik kalang pandal. Kayu yang digunakan biasanya berdiameter 40 cm lebih. Caranya, kayu besar ditoreh bagian atasnya sampai rata kemudian bagian yang ditoreh itu dilobangi untuk tempat menancapkan tiang dan tongkat. Setelah itu bagian ini akan direndamkan ke dalam tanah dengan kedalaman 50 – 100 cm tergantung kondisi tanah. Batang disusun berjejer sesuai dengan deretan tongkat dan tiang rumah yang akan dibangun. Untuk menahan tiang atau tongkat agar tidak terus menurun maka dipakai sunduk.

    batangbesar.jpg

  2. Pondasi Dengan Batang Kecil, kayu galam yang digunakan dalam pondasi ini biasanya berdiameter minimal 15 cm untuk tampuk ujung dan sekitar 20 cm untuk tampuk tengahnya. Cara pemasangannya agak berbeda dengan cara batang besar yang hanya satu lapis. Untuk pondasi batang kecil ada dua lapis, bagian bawah disebut Kacapuri dan lapisan atas disebut kalang sunduk, yaitu untuk penahan sunduk tiang atau sunduk tongkat. Ujung tiang atau tongkat tertancap hingga kedalaman dua meter dari permukaan tanah.

    kacapuri.jpg

Demikian garis besar pembuatan pondasi pada rumah tradisional Banjar, pondasi sederhana sesuai dengan perkembangan zaman pada masa itu. Kalau ada teman-teman insinyur sipil/arsitek yang lebih mengetahui semoga bisa menambahkan beberapa materi untuk tulisan ini.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Arsitektur Banjar | 17 Comments »

Anak Sultan Mohon Izin Satumat

Posted by Anak Sultan pada April 9, 2007

Setelah melangsungkan upacara kerajaan bersanding pengantin, maka Anak Sultan dengan ini memohon izin untuk meninggalkan tugas kerajaan sementara waktu selama satu minggu. Tugas-tugas kerajaan lainnya akan diserahkan kepada Mangkubumi WordPress.com untuk menjaga Kerajaan Banjar Virtual sementara ditinggalkan berbulan madu.

Untuk seluruh teman-teman yang sering berkunjung ke kerajaan ini, terutama yang sering mengisi komentar di halaman tentang saya. Melalui ini saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Sampai jumpa lagi.

Posted in Sekapur Sirih | 11 Comments »

Tim Kesenian Kalsel ke Malaysia

Posted by Anak Sultan pada April 6, 2007

Pada hari Senin tanggal 9 April 2007, tim kesenian Kalimantan Selatan yang diwakili oleh tim kesenian dari Amuntai, Hulu Sungai Utara akan berangkat menuju Kuala Lumpur untuk kemudian dijemput menuju Melaka.

Jemputan ini atas undangan dari Setiausaha Majilis Bandaraya Melaka Bersejarah dalam rangka untuk ikut memeriahkan Pesta Gendang Nusantara X. Event akbar tahunan yang diselenggarakan sekaligus untuk memperingati hari jadi Bandar Melaka.

Dalam Pesta Gendang akan dimeriahkan oleh rumpun Melayu dari seluruh dunia, menampilkan teknik-teknik serta karya tabuhan gendang terbaru. Setiap tahun tim kesenian dari Kalimantan Selatan mendapat undangan tetap dari panitia pesta gendang.

Jadi bagi warga Banjar yang ada di Malaysia dimohonkan agar dapat berpartisipasi memeriahkan penampilan tim kesenian dari banua kita, sekaligus mengobati kerinduan untuk melihat kesenian daerah. Mudah-mudahan sukses dan selamat kembali sampai ke tujuan.

Posted in Event Budaya | 2 Comments »

Anak Sima; Bayi Pemakan Jantung

Posted by Anak Sultan pada April 6, 2007

Cerita rakyat Anak Sima ini penuh misteri, ada beberapa sumber yang saya temui menceritakan bahwa sewaktu beliau kecil memang pernah mendengar jeritan tangis Anak Sima. Cerita ini berkembang di daerah hulu sungai, waktu itu pernah menjadi cerita yang menghebohkan tetapi sekarang tidak banyak lagi anak muda yang mengetahui kisahnya.

Anak Sima berasal dari anak kapang (anak terlahir dari hubungan tidak sah), karena merupakan anak hubungan gelap maka ibu sang bayi membuangnya ke dalam hutan lebat setelah dilahirkan, untuk membuang rasa malu. Bayi yang baru lahir ini menangis sejadi-jadinya karena ia merasa lapar dan kedinginan. Berhari-hari menangis tidak ada seorang pun yang mendengar sehingga hampir mati.

Tiba-tiba saat itu lewatlah Takau (jenis hantu paling kuat dalam cerita rakyat Kalsel, bisa berubah bermacam bentuk dan ilmunya sangat tinggi). Takau yang lewat ini sangat kelaparan, saat ia mendengar tangisan bayi segera ia menuju ke sumber suara. Baca entri selengkapnya »

Posted in Cerita Rakyat Kalsel | 77 Comments »

Undang-Undang Sultan Adam – Perkara 8 –

Posted by Anak Sultan pada April 6, 2007

Perkara 8

” Siapa-siapa jang datang kepada mufti memadahakan soeroehankoe meminta pitoea, tiada koebariakan moefti memberi pitoea lamoen tiada lawan tjapkoe”

Perkara ini sebagai kelanjutan dari pasal sebelumnya mengenai aturan dalam peradilan kerajaan. Perkara ini memberi peringatan kepada mufti kerajaan agar tidak memberikan fatwa apabila tidak ada cap/stempel dari sultan.

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 2 Comments »

Sistem Politik dan Pemerintahan Kerajaan Banjar

Posted by Anak Sultan pada April 6, 2007

Berikut adalah susunan kepemerintahan dan jabatan di dalam Kerajaan Banjar:

  1. Raja, bergelar Sultan
  2. Mangkubumi, mempunyai kementrian dibawahnya: Panganan, Pangiwa, Mantri Bumi dan 40 orang Mantri Sikap. Setiap Mantri Sikap mempunyai 40 orang pengawal elit.
  3. Lalawangan, Kepala Distrik kedudukannya sama dengan kepala distrik pada masa penjajahan Belanda.
  4. Sarawasa; Sarabumi; Sarabraja, jabatan terpisah tetapi mempunyai wewenang yang sama yaitu Kepala Urusan Keraton.
  5. Mandung; Raksayuda, jabatan terpisah tetapi mempunyai wewenang yang sama yaitu Kepala Balai Longsari dan Bangsal dan Benteng.
  6. Mamagarsari, pengapit raja saat duduk di ruangan sidang (semacam pasukan khusus)
  7. Parimala ( Kepala Urusan Dagang dan Pasar); Singataka; Singapati (pembantu/pengawal Parimala).
  8. Sarageni; Saradipa duhung, jabatan terpisah tetapi mempunyai tugas sama berkuasa dalam urusan senjata (tombak, ganjur, tameng, parang dll)
  9. Puspawarna, berkuasa dalam urusan tanaman, hutan, perikanan, ternak dan berburu.
  10. Pamarakan; Rasajiwa, Pengurus umum tentang keperluan pedalaman dan pedusunan.
  11. Kadang Aji, Ketua Balai Petani dan Perumahan; Nanang (pembantu Kadang Aji)
  12. Wargasari, Pengurus Besar tentang persediaan bahan makanan dan lumbung padi, bagian kesejahteraan rakyat.
  13. Anggarmarta, Juru Bandar (Kepala Urusan Pelabuhan)
  14. Astaprana, Juru tabuh-tabuhan, kesenian dan kesusasteraan.
  15. Kaum Mangkumbara, Kepala urusan upacara
  16. Wiramartas, Mantri Dagang, berkuasa mengadakan hubungan dagang dengan luar negeri atas persetujuan sultan
  17. Bujangga, Kepala urusan bangunan rumah dan rumah ibadah
  18. Singabana, Kepala Keamanan Umum.

Sebelum Kerajaan Banjar berdiri, pada masa Negaradaha jabatan raja selalu diambil silih berganti dari pewaris yang sah (sengketa). Kerajaan Banjar memulai kembali tradisi bahwa raja diganti oleh puteranya, sedangkan jabatan Mangkubumi (jabatan tertinggi setelah raja) diputuskan dari rakyat biasa yang mempunyai jasa besar terhadap kerajaan. Saudara raja dapat menjadi Adipati (raja kecil di daerah kekuasaan/taklukan) tetapi mereka tetap di bawah Mangkubumi. Kaum bangsawan yang bergelar Pangeran dan Raden boleh selalu ikut serta dalam sidang membicarakan masalah negara dan ikut serta memberikan kesejahteraan bagi rakyat.

Mangkubumi dalam perkembangannya disebut juga Perdana Menteri kemudian berkembang pula sebutan Wazir, ketiga sebutan ini memiliki tingkat jabatan yang sama hanya berbeda nama. Sebutan untuk sultan dalam penyebutan acara resmi adalah Yang Mulia Paduka Seri Sultan. Calon pengganti Sultan disebut Pangeran Mahkota, pada masa pemerintahan Sultan Adam disebut Sultan Muda.

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | Leave a Comment »

Syair Sejarah Negaradipa – 1 –

Posted by Anak Sultan pada April 3, 2007

Syair sejarah ini disunting dari buku Syair Sejarah Kerajaan Negaradipa di Kalimantan Selatan yang disusun oleh Nadir Adransyah,BA dan Drs.Syarifuddin R. Terbitan Taman Budaya Propinsi Kalimantan Selatan Tahun 1997. Negaradipa adalah nama kerajaan cikal bakal dari Kerajaan Banjar. Di dalam syair ini digambarkan bagaimana awal kedatangan pendiri kerajaan ke tanah Kalimantan sampai berdirinya kerajaan, disertai cerita menarik lainnya yang berhubungan dengan legenda yang ada di Negaradipa.

1

Bermula kalam kami tuliskan
Segenap pikiran dicurahkan
Untuk menyusun syair kesejarahan
Merangkai kejadian secara berurutan

Adapun nama syair yang dituliskan
Kerajaan Negaradipa di Kalimantan Selatan
Sebagai bahan pengetahuan
Untuk Saudara, Kawan sekalian

Walaupun bukti sejarah Kalimantan Selatan
Tidak berupa benda bertuliskan
Namun bekas kerajaan dapat dibuktikan
Menurut penelitian para sejarawan

Baca entri selengkapnya »

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 14 Comments »

Geta Kencana

Posted by Anak Sultan pada April 2, 2007

Pada posting sebelumnya telah diceritakan detail balai patataian pengantin Banjar, sekarang saya akan memberikan detail mengenai tempat bersanding berikutnya yaitu, Geta Kencana atau Geta Peraduan.

Bentuk

  • sebagai tempat tidur yang bertiang atau berbentuk ranjang yang dibuat dari kayu berukir
  • berbentuk dipan rendah
  • berbentuk tilam batumpang tinggi dengan posisi bubungan kelambu yang digantung

Penempatan Geta

  • menurut fungsinya sebagai tempat peraduan maka penempatannya sudah tentu di ruang dalam yang merupakan kamar tidur pengantin
  • kalau difungsikan sekaligus sebagai tempat batatai mempelai, maka posisinya di ruang tamu atau ruang tengah

Perlengkapan Geta

  • dinding air guci atau dinding tatanggaan atau bahkan dinding tambal saribu digunakan sebagai penutup bagian belakang tempat tidur
  • Kelambu bagantung balalawangan, kasur/tilam, bantal yang kesemuanya diberi sarung disulam dengan motif Banjar
  • Bantal tatumpangan dengan selempangnya
  • gagunungan atau pucuk
  • tabir adalah hiasan atas bagian depan kelambu
  • tepi di sekeliling tilam batumpang tinggi
  • kakait kalambu (penyangkut kelambu), dikenal dengan hiasan buah katu atau ada pula kekait burung
  • Hiasan puput (putik bunga yang akan menjadi buah) dan buah rambai untuk tempat kembang bunga rampai
  • Dinding halat, yaitu sepasang dinding air guci dilipat sedemikian rupa dan digantung di depan geta
  • tali berwarna kuning yang biasanya digunakan untuk mengikat bunga serta mayang

Perlengkapan Pelengkap

  • paludahan besar sebanyak 2 buah, biasanya digunakan untuk meletakkan kembang sarai atau payung kembang
  • panginangan atau paludahan kecil
  • tempat air minum (teko berisi air putih dan 2 buah cangkir)
  • obon kuningan
  • talam babatis dengan tudung saji

Ornamen Hias Lainnya

  • pada geta peraduan yang kelambunya memakai tiang (ranjang), ada kalanya pada lawangan bagian depan yaitu tiang kiri dan kanan dilapis dengan kain yang lebih bagus daripada kain kelambu yang disulam dengan benang emas dan kulingkang dengan motif pucuk rabung dan kambang tanjung atau bintang bahambur. kain yang disulam ini dipasang menjulur ke depan yang dinamakan telapak gajah
  • karena kamar tidur pengantin selain indah, juga harus segar dan harum/wangi, maka dihias pula dengan rangkaian bunga segar/bunga hidup, seperti melati, mawar, sedap malam, mayang pinang, dan bunga lainnya yang khas tumbuh di daerah Banjar
  • waktu menghias geta kencana biasanya pada pagi hari dengan terlebih dahulu mengadakan selamatan dan menyediakan piduduk
  • yang dianggap tabu atau pamali untuk digunakan sebagai hiasan maupun ornamen adalah warna hitam dan payung (kecuali payung kambang)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 3 Comments »