Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Archive for Oktober, 2007

Ayo Dukung Karya Urang Banjar !

Posted by Anak Sultan pada Oktober 21, 2007

Bagi yang mengikuti acara Eagle Award di Metro TV, ada satu video dokumenter finalis yang berasal dari Kalimantan Selatan. Video itu berjudul “Setangkup Asa Dibalik Kemilau Intan” yang mengangkat tema kehidupan para pendulang intan di daerah Cempaka, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Video yang membanggakan ini adalah hasil karya Zuraida Hamid urang Banjar kelahiran Banjarmasin dengan temannya Iwan Ahmad.

Di akhir acara ada pemberitahuan oleh pembawa acaranya, kalau ingin menjadikan video ini menjadi video favorit maka ketik EA (spasi) INTAN kirim sms ke 3944. Untuk itu bagi teman-teman urang Banjar yang ingin menjadikan film intan ini mendapat tempat favorit sudi kiranya memberikan sedikit dukungan agar film yang mengangkat tema daerah dan adat Banjar dalam mendulang ini menjadi film yang ditengok oleh orang banyak pada malam penganugerahan hadiah nanti.

Promosi ini bersifat sukarela, sebab saya pun tidak pernah mengenal pembuat film ini. Tetapi sebagai sesama urang Banjar yang sama-sama ingin mengangkat nama daerah maka tergerak untuk mendukung dengan cara semampunya.

Jadwal tayang film dokumenter Setangkup Asa Dibalik Kemilau Intan :
Tayang Perdana : 18 Oktober 2007 , Pkl : 19.35 – 20.00
Replay : 19 Oktober 2007, Pkl: 16.05 s/ 16.30
25 Oktober 2007, Pkl: 11.05 s/ 11.30

Eagle Award memberikan penghargaan pada 3 kategori, Pembuat Film Terbaik, Pembuat Film dengan Ide Cerita Terbaik, Pembuat Film Favorit Pemirsa.

Mudah-mudahan dengan dukungan kita, film Intan ini bisa mendapat salah satu award yang diperebutkan dan kisah di dalamnya bisa membuat orang di luar daerah menengok lebih dalam mengenai kebudayaan urang Banjar.

Jangan Kada Ingat Dukung Filim Favorit Ketik : EA (spasi) INTAN Kirim ke 3944.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang Di Dunia !

Iklan

Posted in Sekapur Sirih | 6 Comments »

Balai Amas dan Batu Beranak

Posted by Anak Sultan pada Oktober 19, 2007

Cerita ini oleh-oleh dari pulang kampung tempat mertua di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Asal mula cerita Balai Amas (Balai Emas) dan Batu Beranak ini merupakan sebuah tempat berdirinya pohon Ulin yang sangat besar.

Balai Emas dan Batu Beranak

Dahulu kala, disebuah pohon Ulin yang sangat besar ini hidup seekor burung Garuda yang setiap waktu kerjaannya memakan anak bayi yang masih di dalam ayunan. Karena semakin lama semakin meresahkan, para penduduk kampung bersepakat untuk memikirkan cara bagaimana menyingkirkan burung Garuda tersebut. Pohon Ulin itu mempunyai diameter kira-kira sama besarnya dengan rumah tipe 36. (Gambar bangunan di atas mencerminkan besarnya ukuran pohon kayu ulin tersebut.)

Berbagai macam peralatan dicobakan untuk menebang pohon ulin tersebut tetapi tidak satupun yang mampu menggores batang kayunya. Akhirnya ada seorang tetuha kampung setempat mencoba menumbangkan pohon tersebut dengan sebilah pisau. Dikorek perlahan-lahan akar pohon ulin tersebut dengan hanya menggunakan sebilah pisau kecil tidak disangka-sangka pohon Ulin raksasa inipun roboh bersama burung Garuda di atasnya. Konon, saking tinggi dan besarnya pohon Ulin ini pucuknya sampai roboh ke daerah Marabahan, Barito Kuala (± 50 km dari Banjarmasin, ± 200 km dari Kandangan), sehingga nama daerah itu disebut Marabahan yang berarti tempat rabah (roboh) pohon Ulin tadi.

Setelah keadaan aman, bekas tumbuh pohon Ulin tadi dibuat sebuah balai (ada gambarnya). Di balai inilah sejak dulu diadakan berbagai macam selamatan dan acara adat setiap tahunnya. Menurut informasi pada malam ahad ini tanggal 20 Oktober 2007 akan diadakan upacara Manaradak di balai tersebut, sebagai tanda awal menanam padi.

Di kampung ini juga ada dua buah tempat yang diyakini penduduk memiliki kesaktian, yaitu Batu Beranak. Tempat batu beranak ini asalnya tidak ada apa-apa, tiba-tiba bermunculan batu-batu memenuhi tempat tersebut sehingga oleh penduduk setempat diberi gelar Batu Beranak. Konon, ukuran batu yang ada disini bisa tumbuh berkembang sampai akhirnya melahirkan batu kecil di sekelilingnya, begitu seterusnya seperti siklus hidup manusia.

Pernah ada yang iseng-iseng mencoba mengukur batu tersebut, setiap hari Jumat batu yang sama diukur dan menurut keterangan para saksi batu yang diukur tersebut memang terus bertambah ukurannya. Pernah juga ada orang yang mengambil untuk dibawa pulang ternyata beberapa hari kemudian batunya hilang setelah diperiksa batu yang sama kembali ke tempatnya semula.

Demikian sekilas oleh-oleh cerita dari kampung dan memperkenalkan tempat yang diyakini masyarakat setempat sebagai tempat berkeramat sebagai bagian dari kekayaan budaya Banjar.

Bagi yang penasaran, silakan untuk mengunjungi dua tempat tersebut. Pisau yang digunakan untuk merobohkan pohon Ulin tadi masih disimpan secara turun temurun oleh penduduk kampung, bila berkunjung ke sana bisa mencari informasi lebih lanjut. Untuk sementara diberi photonya dulu.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Cerita Rakyat Kalsel | 74 Comments »