Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Archive for the ‘Kesenian’ Category

Dundam

Posted by Anak Sultan pada Februari 12, 2008

Tulisan mengenai mengenai kesenian Dundam ini sangat sedikit saya jumpai, sehingga pada tulisan kali ini hanya sekadar mengenalkan kepada urang Banjar bahwa ada kesenian khas Banjar yang bernama Dundam.

Kesenian Dundam atau dalam kata kerjanya Badundam, diyakini merupakan turunan dari kesenian Lamut. Dundam sudah ada sejak ± 1500 M dalam bentuk sastra lisan, setelah Islam masuk di Kalimantan Selatan, kesenian ini diiringi dengan alat musik tarbang . Dundam diperkirakan berasal dari kata “Memundang” atau “Mengundang” (tokoh-tokoh alam gaib). (Ian Emti, Dundam Sastra Lisan Kalimantan Selatan. 1991)

Diperkirakan perkembangan kesenian ini berada pada daerah pedesaan di sepanjang sungai. Satu-satunya tempat yang masih ada kesenian ini adalah di Desa Lok Baintan (Kecamatan Sungai Tabuk) dan Pundun Daun (Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar)

Tata cara penyajian diperkirakan sebagai berikut:

1. Pendundam duduk dengan perapian kemenyan yang harus tetap membara dan berasap.
2. Sebelum cerita dimulai pendundam mengundan tokoh-tokoh alam gaib dengan disertai suguhan 40 macam kue khas Banjar.
3. Semua proses dilakukan dalam keremangan gelap malam (tanpa penerangan lampu)

Setelah penyajian awal selesai maka mulailah pendundam mengumandangkan dundam. Cerita yang didundamkan biasa merupakan cerita kerajaan antah berantah dengan berbagai  macam tokoh fiksinya. Cerita tidak pernah dirancang terlebih dahulu tapi mengalir sesuai inspirasi yang datang saat mendundam. Perbedaan antara Lamut dengan Dundam adalah pada Lamut, Palamutan menceritakan tentang Paman Lamut (tokoh utama cerita) sedangkan pada Dundam, Pendundam sendiri yang berfungsi sebagai tokoh utama cerita (first point of view).

Waktu penyajian Dundam biasanya dimulai pukul 20.00 atau 21.00 dan berakhir saat menjelang subuh. Dialog yang disampaikan dalam bahasa Banjar diselingi bahasa Indonesia atau Jawa kuno seperti dalam wayang.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Iklan

Posted in Kesenian | 12 Comments »

Teater Japin Carita

Posted by Anak Sultan pada April 27, 2007

Japin Carita merupakan teater rakyat tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Selatan berasal dari pengembangan tari dan musik japin. Biasanya Japin Carita ini dibawakan untuk meramaikan malam pengantin dan hari besar Islam. Jenis Teater ini boleh dibilang hampir punah karena sudah sangat jarang dimainkan. Grup kesenian yang masih bisa memainkannya antara lain, Grup Teater Banjarmasin dan La Bastari Kandangan

Pada tahun 1900, di Banjarmasin telah mengenal Japin Arab, yang ditarikan oleh suku Arab di perkampungan Arab. Japin Arab berpengaruh besar masyarakat sekitar, yakni Kampung Melayu, Kuin, Alalak, Sungai Miai, Antasan Kecil, Kalayan, Banyiur. Sampai dengan tahun 1960 di Banjarmasin lebih dari sepuluh orkes Japin lengkap dengan tari-tarian Japin yang langkah-langkahnya agak mirip dengan Japin Arab. Tahun 1961 di kampung Sungai Miai dipergelarkan Japin yang berisi tari Japin dilanjutkan dengan sebuah cerita. Pada tahun 1975 dari dari Tapin menyebutkan bahwa ditemukan Japin bercerita di Kampung Binuang Dalam. Informasi sebelumnya didapatkan pada tahun 1958 terdapat pergelaran Japin Bakisah di Margasari.

Dengan demikian, Japin Carita muncul pada tahun 1958 dan tidak diketahui siapa pencetusnya. Yang jelas, bahwa Japin Carita adalah perkembangan dari Tari dan musik Japin pesisiran. Diperkirakan lahir di Banjarmasin karena pengaruh tonil/sandiwara dan komedi bangsawan kemudian berpengaruh pada masyarakat Badamuluk di Margasari.

japin-carita.jpg

Baca entri selengkapnya »

Posted in Kesenian | 11 Comments »

Madihin

Posted by Anak Sultan pada Maret 13, 2007

Kesenian madihin memiliki kemiripan dengan kesenian lamut, bedanya terdapat pada  cara penyampaian syairnya. Dalam lamut syair yang disampaikan berupa sebuah cerita  atau dongeng yang sudah sering didengar dan lebih mengarah pada seni teater dengan adanya pemain dan tokoh cerita. Sedangkan lirik syair dalam madihin sering dibuat secara spontan oleh pemadihinnya dan lebih mengandung humor segar yang menghibur dengan nasihat-nasihat yang bermanfaat.
Menurut berbagai keterangan asal kata madihin dari kata madah, sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia karena ia menyanyikan syair-syair yang berasal dari kalimat akhir bersamaan bunyi. Madah bisa juga diartikan sebagai kalimat puji-pujian (bahasa Arab) hal ini bisa dilihat dari kalimat dalam madihin yang kadangkala berupa puji-pujian. Pendapat lain mengatakan kata madihin berasal dari bahasa Banjar yaitu papadahan atau mamadahi (memberi nasihat), pendapat ini juga bisa dibenarkan karena isi dari syairnya sering berisi nasihat.

Asal mula timbulnya kesenian madihin sulit ditegaskan. Ada yang berpendapat dari kampung Tawia, Angkinang, Hulu Sungai Selatan. Dari Kampun Tawia inilah kemudian tersebar keseluruh Kalimantan Selatan bahkan Kalimantan Timur. Pemain madihin yang terkenal umumnya berasal dari kampung Tawia. Ada juga yang mengatakan kesenian ini berasal dari Malaka sebab madihin dipengaruhi oleh syair dan gendang tradisional dari tanah semenanjung Malaka yang sering dipakai dalam mengiringi irama tradisional Melayu asli.

Cuma yang jelas madihin hanya mengenal bahasa Banjar dalam semua syairnya yang berarti orang yang memulainya adalah dari suku Banjar yang mendiami Kalimantan Selatan, sehingga bisa dilogikakan bahwa madihin berasal dari Kalimantan Selatan. Diperkirakan madihin telah ada semenjak Islam menyebar di Kerajaan Banjar lahirnya dipengaruhi kasidah.

Pada waktu dulu fungsi utama madihin untuk menghibur raja atau pejabat istana, isi syair yang dibawakan berisi puji-pujian kepada kerajaan. Selanjutnya madihin berkembang fungsi menjadi hiburan rakyat di waktu-waktu tertentu, misalnya pengisi hiburan sehabis panen, memeriahkan persandingan penganten dan memeriahkan hari besar lainnya.

Kesenian madihin umumnya digelarkan pada malam hari, lama pergelaran biasanya lebih kurang 1 sampai 2 jam sesuai permintaan penyelenggara. Dahulu pementasannya banyak dilakukan di lapangan terbuka agar menampung penonton banyak, sekarang madihin lebih sering digelarkan di dalam gedung tertutup.

Madihin bisa dibawakan oleh 2 sampai 4 pemain, apabila yang bermain banyak maka mereka seolah-olah bertanding adu kehebatan syair, saling bertanya jawab, saling sindir, dan saling kalah mengalahkan melalui syair yang mereka ciptakan. madihin.jpgDuel ini disebut baadu kaharatan (adu kehebatan), kelompok atau pemadihinan yang terlambat atau tidak bisa membalas syair dari lawannya akan dinyatakan kalah. Jika dimainkan hanya satu orang maka pemadihinan tersebut harus bisa mengatur rampak gendang dan suara yang akan ditampilkan untuk memberikan efek dinamis dalam penyampaian syair. Pemadihinan secara tunggal seperti seorang orator, ia harus pandai menarik perhatian penonton dengan humor segar serta pukulan tarbang yang memukau dengan irama yang cantik.

Dalam pergelaran madihin ada sebuah struktur yang sudah baku, yaitu:

  1. Pembukaan, dengan melagukan sampiran sebuah pantun yang diawali pukulan tarbang disebut pukulan pembuka. Sampiran pantun ini biasanya memberikan informasi awal tentang tema madihin yang akan dibawakan nantinya.
  2. Memasang tabi, yakni membawakan syair atau pantun yang isinya menghormati penonton, memberikan pengantar, ucapan terima kasih dan memohon maaf apabila ada kekeliruan dalam pergelaran nantinya.
  3. Menyampaikan isi (manguran), menyampaikan syair-syair yang isinya selaras dengan tema pergelaran atau sesuai yang diminta tuan rumah, sebelumnya disampaikan dulu sampiran pembukaan syair (mamacah bunga).
  4. Penutup, menyimpulkan apa maksud syair sambil menghormati penonton memohon pamit ditutup dengan pantun penutup.

Saat ini pemadihin yang terkenal di Kalimantan Selatan adalah John Tralala dan anaknya Hendra.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Kesenian | 23 Comments »

Bakisah (Bakesah)

Posted by Anak Sultan pada Maret 9, 2007

Di kalangan masyarakat suku Banjar mendengarkan cerita rakyat merupakan ciri khas tersendiri. Dalam kehidupan sehari-hari cerita rakyat disampaikan oleh mereka yang telah berusia atau para orang tua kepada anak-anaknya. Pesan-pesan yang disampaikan berupa nasehat dan perumpamaan, harapan-harapan dan lain sebagainya. Mereka langsung menunjukkan mana yang patut diteladani atau dicontoh dan mana yang patut ditinggalkan atau dijauhi dalam mengarungi bahtera kehidupan seperti tersirat dalam cerita yang mereka ungkapkan. Jadi cerita yang dituturkan salah satu cara menanamkan nilai-nilai luhur tradisi Banjar pada kehidupan.

Tradisi bercerita pada suku Banjar tidak hanya dituturkan di lingkungan keluarga atau rumah tangga saja, tetapi ada juga pada masyarakat luas. Seni bercerita di tengah masyarakat umum ini populer disebut BAKISAH. Orang yang membawakan cerita dinamakan Tukang Kisah.

Mereka yang berprofesi sebagai Tukang Kisah ini sering dipanggil ke berbagai daerah untuk menuturkan koleksi cerita mereka. Kegiatan Bakisah umumnya dilakukan pada malam hari. Cerita yang mengandung pesan moral sering diselingi humor untuk menyegarkan suasana. Secara umum isi pesan berkisar tentang aspek kehidupan bermasyarakat, sikap anak terhadap orang tua, antar sesama dan sopan santun dalam pergaulan.

Fungsi utama Tukang Kisah memberikan contoh-contoh kehidupan antara yang baik dan  buruk menurut adat istiadat yang disusun dalam bentuk cerita menarik. Keahlian Tukang Kisah menentukan sampai atau tidak pesan yang diselipkan dalam sebuah cerita. Dahulu untuk hiburan rakyat sering dipanggil Tukang Kisah untuk mengisi berbagai acara keramaian di masyarakat Banjar.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Selatan melalui Sub Dinas Kesenian beberapa tahun ini rutin melestarikan kesenian ini dengan acara tahunan Lomba Bakisah Bahasa Banjar. Dalam lomba ini biasanya peserta mengeluarkan seluruh kemampuannya, selain isi ceritanya menarik disampaikan dengan logat Banjar kental, kostum dan gerak tubuh yang unik sering mereka tampilkan pula.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Kesenian | 1 Comment »

Tari Gandut

Posted by Anak Sultan pada Maret 4, 2007

Tari hasil dari kebudayaan Banjar yang mempunyai nilai mistis besar salah satunya adalah tari Gandut. Nama tarian ini berasal dari sebutan terhadap penarinya yaitu Gandut.  Kalau di masyarakat Jawa dikenal istilah tledek dalam tari tayuban. Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkawinan, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.

Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin memikatnya memakai ilmu hitam. Dahulu banyak Gandut yang diperistri oleh para bangsawan dan pejabat pemerintahan, disamping paras cantik mereka juga diyakini memiliki ilmu pemikat hati penonton yang dikehendakinya. Nyai Ratu Komalasari, permaisuri Sultan Adam adalah bekas seorang penari Gandut yang terkenal.

Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut.

Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.

Tari Gandut sejak tahun 1960-an sudah tidak berkembang lagi. Faktor agama Islam merupakan penyebab utama hilangnya jenis kesenian ini ditambah lagi dengan gempuran jenis kesenian modern lainnya.  Sekarang Gandut masih bisa dimainkan tetapi tidak lagi sebagai tarian aslinya hanya sebagai pengingat dalam pelestarian kesenian tradisional Banjar.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Kesenian | 10 Comments »

Lamut

Posted by Anak Sultan pada Maret 1, 2007

Lamut merupakan salah satu kesenian tradisional Kalimantan Selatan. Kesenian Lamut yang hampir punah ini hampir sama dengan beberapa jenis kesenian di daerah lain, misalnya kesenian Cianjuran di Jawa Barat. Perbedaannya terdapat pada cara menyampaikan dan alat musik yang mengiringi. Kalau pada kesenian Cianjuran digunakan kecapi maka dalam Lamut digunakan alat musik terbang besar.

Kesenian ini dinamai Lamut atau Balamut berasal dari seorang tokoh yang berpengaruh dalam lingkungan kerajaan yang bernama Lamut.

Biasanya kesenian lamut ini diadakan karena ada nazar, misalnya keinginan untuk mendapatkan anak laki-laki kalau terkabul maka diselenggarakan kesenian Lamut. Selain nazar bisa juga sebagai pengiring acara khitanan, perkawinan, dan acara adat lainnya.

Pelaksanaan Lamut akan dilakukan pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 atau menjelang subuh tiba. Pembawa cerita dalam Lamut ini diberi julukan Palamutan. Pada acara, Palamutan dengan membawa terbang besar yang diletakkan dipangkuannya duduk bersandar di tawing halat (dinding tengah), lamut.jpgdikelilingi oleh pendengarnya yang terdiri dari tua-muda laki-perempuan. Khusus untuk perempuan disediakan tempat di sebelah dinding tengah tadi.

Sebelum cerita Lamut dimulai disediakan dulu sesajen yang terdiri dari air kembang, air baboreh, kelapa muda, gula merah, dan ketan. Di samping itu harus ada perapen yang selalu mengepulkan kemenyan. Tujuannya agar jalannya cerita dalam pembawaan Lamut berjalan dengan lancar, tidak ada gangguan apa-apa sampai berakhirnya acara.

Cerita Lamut kalau diceritakan dengan cara biasa tidaklah memakan waktu yang lama, cukup kira-kira 2 jam. Ceritanya pun sudah diketahui oleh orang banyak. Tetapi mengapa orang selalu ingin menonton dan mendengarkan Lamut? Ini adalah keahlian khusus dari Palamutan. Cerita Lamut dibawakan dengan lagu merdu dan iringan terbang yang indah. Tidak semua bagian cerita dilagukan, ada dialog-dialog tertentu dalam cerita kemudian diselingi oleh tabuhan terbang. Apalagi yang membawakan Lamut dua orang, akan terlihat sangat menarik saat dua Palamutan ini bersahut-sahutan. Pukulan terbang sering digunakan untuk menandai perpindahan bagian cerita dalam cerita untuk menunjukkan suasana perpindahan cerita atau penyisipan pesan-pesan tertentu dalam cerita.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Kesenian | 7 Comments »