Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Archive for the ‘Sejarah Kerajaan Banjar’ Category

Syair Sejarah Negara Dipa – 3 –

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

3

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Sebelum akhir masa hidupnya Saudagar Mangkubumi memberikan sebuah petunjuk bagaimana cara menemukan tanah idaman, tanah yang akan menjamin ketentraman berdirinya sebuah kerajaan, maju dalam perdagangan dan agar rakyat makmur sentosa.
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –  – –
Untuk menyatakan kehendak yang dalam
Galilah tanah itu di tengah malam
Ambil sekepal lalu digenggam
Semoga datang pertanda tenteram

Jika digenggam terasa panas
Harum baunya cukup keras
Itulah tanda rahmat datang dari atas
Makmur sentosa rakyat tidaklah cemas

Hendaklah anakda tinggal disana
Janganlah ragu mendirikan istana
Terhindar segala musuh dan bahaya
Perdagangan ramai makmur sentosa

Jika tanah harum baunya
Tetapi sangat dingin rasanya
Itulah tanda kurang kemakmurannya
Buruk dan baik seimbang adanya

Jika tanah berbau busuk
Tambah pula dingin terasa menusuk
Itulah tanda huru hara akibat buruk
Negeri bakal jatuh terpuruk

Pun pula segala derita
Kesukaran selalu tiada putus-putusnya
Janganlah suka tinggal disana
Buruklah nanti hidup anakda
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Akhirnya setelah berhasil menyampaikan maksud hati, pesan wasiat sakti penuh misteri, Saudagar Mangkubumi meninggalkan dunia dengan tanpa meninggalkan beban derita. Tertinggal keluarga besar, para pengikut setia yang bersedih duka, menangisi kepergian pemimpin tercinta.
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Sekalian yang hadir berduka cita
Tambah pula Empu Jatmika
Meratap menangis beriba-iba
Ditinggalkan ayahanda yang sangat tercinta

Empu Jatmika dan ibu Sitira
Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat dua bersaudara
Pilu di dada tiada terkira
Ingat amanat paduka ayahanda

(bersambung)

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | Leave a Comment »

Mengenal Nama Lambung Mangkurat

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

Bagi yang pernah ke Kalimantan Selatan dan memperhatikan suasana disini, pasti akan mengenal nama Lambung Mangkurat. Nama ini dipakai oleh universitas tertua di Kalimantan yaitu Universitas Lambung Mangkurat atau sering disingkat UNLAM. Tetapi banyak juga generasi muda Banjar sekarang hanya tahu namanya saja. Padahal tokoh ini adalah tokoh yang paling disebut peranannya dalam sejarah Kerajaan Negaradipa cikal bakal Kerajaan Banjar, setara dengan Mahapatih Gajah Mada dari sejarah Kerajaan Majapahit.

Tokoh legendaris ini menurunkan keturunan raja-raja Banjar berikutnya sebab Lambung Mangkurat adalah ayah dari Putri Kahuripan (hasil perkawinannya dengan Dayang Diparaja) yang kemudian dijadikan permaisuri oleh Raden Suryaganggawangsa. Adapun turunan raja-raja Banjar bermula dari Majapahit, yaitu Pangeran Suryanata (Raden Putera) adalah putra dari Kerajaan Majapahit hasil dari pertapaan.

Mangkubumi Lambung Mangkurat dikenal sebagai tokoh dengan pribadi setia dan bijaksana, tokoh kenegaraan yang cakap, tokoh militer yang tegas tanpa pilih kasih, dan sekaligus sebagai orang tua dan pendidik. Kepribadian Lambung Mangkurat selain ditentukan faktor keturunan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pada masa itu faktor lingkungan yang sangat berperan adalah sebuah lingkungan dengan unsur magis.

Di dalam sejarah kerajaan di Indonesia, sering kita temui tokoh-tokoh dengan nama binatang sebagai nama orang untuk menunjukkan fungsi atau sifat yang menyerupai nama tersebut. Misalnya Hayam Wuruk, Gajah Mada, Nara Singha Murti, Tiung Wanara, Lembu Tal, Lembu Peteng, dan salah satunya Lembu (Lambung) Mangkurat.

Nama Lambung Mangkurat terjadi dari gabungan kata “lambung”, “mangku”, “rat”. Kata “lambung” adalah dialek Banjar yang berasal dari kata “Lembung”. Di dalam bahasa Banjar huruf  ‘e’ (pepet) sering diucapkan ‘a’, misalnya kata “sesak” menjadi “sasak” sehingga “lembu” juga diucapkan menjadi “lambu”

Dari contoh itu bisa disimpulkan kata “lambung” berasal dari “lembung” kemudian terjadi penambahan “ng” akibat penyengauan untuk memudahkan penyebutan bagi masyarakat setempat zaman itu. Mungkin juga tambahan “ng” menurut bahasa Jawa Kuna/Bahasa Kawi sehingga apabila diuraikan menjadi “Lembu ng Mangkurat”. Kata “ng” menunjukkan kepemilikan (milik/menyerupai/menyamai)  atau bisa juga sama dengan kata “yang”.

Adapun gabungan kata “mangkurat” berasal dari kata “mangku” artinya memangku, mendukung, dan kata “rat” berarti jagat, dunia. Jadi seluruh gabungan “Lambung Mangkurat” berarti “lembu yang memangku dunia”. Di dalam agama Hindu Lembu/Sapi adalah binatang suci karena kesetiaannya disebabkan binatang ini menjadi kenaikan Mahadewa Siwa, dalam legenda dulu Sapi juga diceritakan sebagai binatang yang menyandang bumi di pundaknya.

Demikian sekilas tinjauan mengenai nama Lambung Mangkurat supaya generasi muda Banjar tidak terputus hubungan dengan sejarah.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | Leave a Comment »

Syair Sejarah Negara Dipa – 2 –

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

2

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Saudagar Mangkubumi sudah berumur tua dan tidak bisa melawan hukum alam, akhirnya jatuh sakitlah beliau. Dalam keadaan sakit ini beliau memanggil seluruh keluarga untuk mendengarkan wasiat yang kelak akan dilaksanakan oleh para penerusnya.
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Karena sudah keadaan
Sakitlah Mangkubumi yang dipertuan
Hamba sahaya semua bersedih menaruh kasihan
Kemudian semua sanak famili dikumpulkan

Saudagar Mangkubumi yang dipertuan
Sakitnya bertambah tidak tertahan
Selalu dijaga seluruh handai taulan
Dari hari berganti bulan

Setelah Mangkubumi merasa tidak kuat bertahan
Saatnya dunia yang  fana harus ditinggalkan
Nafas terengah air mata mengalir perlahan
Lemah tak berdaya sekujur badan

Empu Jatmika dan kedua putranya
Duduk bersimpuh bersama ibunya
Membelai mencium tangan ayahanda
Duduk terpekur membaca doa

Lalu berkata Mangkubumi tercinta
Meninggalkan amanat kepada anakda
Hadirin mendengar dengan hikmatnya
Diterimalah wasiat oleh anak cucunya

Adapun amanat yang ditinggalkannya
Kepada anaknya Empu Jatmika
Tersusun bunyi kata-katanya
Harus kerjakan diingat pula

Wahai anakku Empu Jatmika
Serta cucuku Empu Mandastana
Lambung Mangkurat duduk beserta
Sira Manguntur dan neneknya Sitira

Jika aku sudah tak ada lagi
Meninggalkan dunia yang fana ini
Pertama-tama jagalah diri
Martabat keluarga dijunjung tinggi

Kedua pula janganlah kikir
Bersikaplah adil tak boleh mungkir
Hormatilah pula setiap orang pakir
Setiap tindakan harus dipikir
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Mangkubumi merasa dia akan segera meninggalkan dunia fana, dengan kekuatan yang tersisa berwasiatlah dia dengan tiga wasiat yang salah satunya akan menentukan sejarah dari sebuah kerajaan besar di suatu tempat yang penuh dengan kekayaan alam.
– – – – – – – – – – – – – – – – –  – – – – – – – – –  –

Selain itu sebagai ketiga
Sesudah aku meninggalkan dunia
Hendaklah turut dan kerjakan segera
Pergilah anakda dari negeri kita

Sebabnya itu wahai anakku tersayang
Di negeri Keling negeri kita sekarang
Banyaklah orang sebagai penghalang
Yang iri dengki selalu datang

Karena aku wahai anakda
Adalah orang yang kaya raya
Arif pula dan bijaksana
Lembaga adat dan tata kerama

Itulah sebabnya dengarkan petuahku
Memberi amanat kepada anakku
Tinggalkan negeri cari yang baru
Tandanya bertanah panas harum berbau

(bersambung)

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | Leave a Comment »

Candi Agung Peninggalan Kerajaan Negara Dipa

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

Candi Agung adalah situs purbakala peninggalan Kerajaan Negaradipa yang masih tersisa. Kerajaan Negaradipa diyakini merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Banjar. Candi Agung terdapat di kota Amuntai, ibukota Hulu Sungai Utara, Propinsi Kalimantan Selatan. Letaknya berada di pinggiran Kota Amuntai sebelah Barat Daya berjarak kurang lebih 1 kilometer.

Situs Candi Agung ini dikenal masyarakat Kalimantan Selatan sebagai sebuah tempat keramat bersejarah, bagi masyarakat wilayah Kerajaan Banjar situs ini merupakan kebanggaan turun temurun. Pada hari tertentu seperti hari raya selalu ramai dikunjungi orang sebagai tempat melepaskan hajat, bahkan bagi yang meyakini keturunannya berasal dari sana, cukup datang ke Candi Agung sebagai pengobatan sakit.

Pada tahun 1962 ketika Pemerintah Daerah Hulu Sungai Utara melakukan perluasan kota, disini ditemukan berbagai pecahan peninggalan benda-benda purbakala. Antaranya potongan kaki arca dari batu yang terlepas dari tubuhnya (buntung). Potongan kaki tersebut berukuran 35 x 15 cm. Disamping itu terdapat pula potongan relief Bunga Tunjung (Padma) yang berhiaskan motif Pucuk Rabung (tumpal), rantai besi yang berukuran besar, pecahan-pecahan perunggu dari arca dan lain-lain. Diperkirakan bahwa paling tidak dalam radius 300 meter dari pusat situs ini areal tanahnya mengandung pendaman benda-benda purbakala, peninggalan Kerajaan Negaradipa yang telah punah.

Pada tahun 1964 penggalian percobaan dan penelitian telah dilakukan oleh arkeolog Drs.Uka Chandrasasmita, penggalian ini dilakukan di bagian timur bukit Candi Agung, yang hanya di kedalaman 50 cm telah ditemukan beberapa pecahan bata dan genteng atap. Hal tersebut ditambah dengan data-data hasil penelitian terdahulu, akhirnya telah memperkuat kesimpulan bahwa situs ini patut digali untuk menyelamatkan nilai-nilai sejarah dan kepurbakalaannya.

Tahun 1967  melalui badan khusus yang diketuai Gubernur Kalsel Kol.H. Aberani Sulaiman, memulai proyek penggalian situs ini. Sementara Drs. Uka Chandrasasmita dan Suyono sebagai pemimpin penggalian. Penggalian resmi dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1967 dalam sebuah upacara tradisional sederhana. Selama proyek oleh para ahli telah dilakukan pemetaan, pematokan, pemotretan dan lain sebagainya di atas situs Candi Agung. Dari masyarakat umum pun datang respon yang sangat baik, ribuan orang datang melihat proses penggalian situs ini bahkan ada yang dari luar daerah setiap harinya.

Beberapa hasil positif dari penggalian tersebut, antara lain:
1) ditemukan pecahan genteng atap diantaranya masih utuh berukuran 30 x 16,5 x 1 cm, batu bata ukuran 38 x 20 x 10 cm, tiang-tiang kayu ulin, kepala Burung Enggang, pecahan perunggu, sisa-sisa emas perhiasan 18 karat, tempayan tanah liat, manik-manik.
2) ditemukan sebuah bekas bangunan berukuran 9,2 x 9,2 meter dengan batu pondasi masih terhampar, batu bata masih bersusun, sebuah pintu yang menghadap ke timur laut. Berdasarkan ilmu kepurbakalaan bangunan ini diyakini sebagai sebuah candi.

Pada tahun 1978 pemerintah pusat melalui Direktorat Sejarah dan Purbakala menetapkan situs Candi Agung salah satu objek peninggalan sejarah dan purbakala Kalimantan Selatan.

Demikian secara singkat sejarah situs purbakala Candi Agung peninggalan Kerajaan Negaradipa. Semoga dikemudian hari masih ada dilakukan penelitian lainnya oleh arkeolog asli banua.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | Leave a Comment »

Surat Wasiat Sultan Adam Untuk Pangeran Hidayatullah

Posted by Anak Sultan pada Februari 13, 2008

surat-wasiat.jpg

Naskah Asli tersimpan baik oleh Ratu Yus Roostianah Keturunan garis ke-3 / cicit dari Pangeran Hidayatullah

Surat diatas merupakan tulisan tangan dalam huruf arab berbahasa Melayu Banjar.

Terjemahan :

Bismillahirrahmannirrohim

Asyhadualla ilaha ilalloh naik saksi aku tiada Tuhan lain yang di sembah dengan se-benar2nya hanya Allah

Wa asyhaduanna Muhammadarasululloh naik saksi aku Nabi Muhammad itu se-benar2nya pesuruh Allah Ta’ala

Dan kemudian dari pada itu aku menyaksikan kepada dua orang baik2 yang memegang hukum agama Islam yang pertama Mufti Haji Jamaludin yang kedua pengulu Haji Mahmut serta aku adalah didalam tetap ibadahku dan sempurna ingatanku.

Maka adalah aku memberi kepada cucuku Andarun bernama Pangeran Hidayatullah suatu desa namanya Riyam Kanan maka adalah perwatasan tersebut dibawah ini ;

Mulai di Muha Bincau terus di Teluk Sanggar dan Pamandian Walanda dan Jawa dan terus di Gunung Rungging terus di Gunung Kupang terus di Gunung Rundan dan terus di Kepalamandin dan Padang Basar terus di Pasiraman Gunung Pamaton terus di Gunung Damar terus di Junggur dari Junggur terus di Kala’an terus di Gunung Hakung dari Hakung terus di Gunung Baratus, itulah perwatasan yang didarat.

Adapun perwatasan yang di pinggir sungai besar maka adalah yang tersebut dibawah ini;

Mulai di Teluk Simarak terus diseberang Pakan Jati terus seberang Lok Tunggul terus Seberang Danau Salak naik kedaratnya Batu Tiris terus Abirau terus di Padang Kancur dan Mandiwarah menyebelah Gunung Tunggul Buta terus kepada pahalatan Riyam Kanan dan Riyam Kiwa dan Pahalatan Riyam Kanan dengan tamunih yaitu Kusan.

Kemudian aku memberi Keris namanya Abu Gagang kepada cucuku.

Kemudian lagi aku memberi pula suatu desa namanya Margasari dan Muhara Marampiyau dan terus di Pabaungan kaulunya Muhara Papandayan terus kepada desa Batang Kulur dan desa Balimau dan desa Rantau dan desa Banua Padang terus kaulunya Banua Tapin.

Demikianlah yang berikan kepada cucuku adanya.

Syahdan maka adalah pemberianku yang tersebut didalam ini surat kepada cucuku andarun Hidayatullah hingga turun temurun anak cucunya cucuku andarun Hidayatullah serta barang siapa ada yang maharu biru maka yaitu aku tiada ridho dunia akhirat.

Kemudian aku memberi tahu kepada sekalian anak cucuku dan sekalian Raja-raja yang lain dan sekalian hamba rakyatku semuanya mesti me-Rajakan kepada cucuku andarun Hidayatullah ini buat ganti anakku Abdur Rahman adanya.

Tertulis kepada hari Isnain tanggal 12 bulan Shofar 1259

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 103 Comments »

Sekilas Riwayat Hidup Pangeran Hidayatullah

Posted by Anak Sultan pada Februari 11, 2008

hidayat.jpg

Tulisan merupakan kiriman dari Keturunan Pangeran Hidayatullah di Cianjur

Foto dari halaman pertama buku “De Bandjermasinsche Krijg” van 1859-1863 Karangan W.A. van REES dengan tulisan dibawahnya “De Hoofdopstandeling” (“Kepala Pemberontak”).

Sekilas tentang Sultan Hidayatullah Al-watsiq billah dalam Perang Banjar.

Pangeran Hidayatullah diangkat menjadi Sultan Banjar berdasarkan Surat Wasiat Kakek beliau Sultan Adam. Pengangkatan ini dilakukan karena ayah Pangeran Hidayatullah, Sultan Muda Abdurrahman wafat.

Lahir di Martapura pada tahun 1822 M, di-didik secara Islami dipesantren Dalam Pagar Kalampayan ( Didirikan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari, salah seorang tokoh Agama Islam di Nusantara ) sehingga memiliki ilimu kepemimpinan serta keagamaan yang cukup tinggi untuk kemudian dipersiapkan menjadi Sultan.

Sebelum menjadi Sultan sempat menduduki jabatan sebagai Mangkubumi kesultanan pada tahun 1855 M. Pada saat itu jabatan Mangkubumi diangkat oleh Kolonial Belanda dengan persetujuan Sultan Adam. Dengan menduduki jabatan tersebut maka Pangeran Hidayatullah bisa lebih memahami & menyelami kondisi Kesultanan maupun rakyat Banjar, serta mengetahui kekuatan dan kelemahan kolonial Belanda (spionase), hal tersebut sangat berguna untuk persiapan perang.

Akibat campur tangan berulang-ulang pihak Belanda dalam pemerintahan Kesultanan, pemaksaan monopoli perdagangan, konsesi-konsesi pertambangan yang sepihak, serta kuatnya misi kaum nasrani ( Zending ) yang masuk kedalam benua banjar dengan dukungan tentara Hindia Belanda, maka mengakibatkan kebencian rakyat yang sangat mendalam. Perselisihan-persilisihan itu telah sangat lama terjadi, semenjak Kesultanan dipimpin oleh Sultan Suriansyah (~ 1600 M). Kebencian yang tak dapat lagi didiamkan, harus di tuntaskan, Sultan dan Rakyat bersatu untuk mengadakan perang Jihad Fisabilillah.

Sebelum dan ketika perang Sultan mengangkat beberapa Panglima perang karena luasnya areal medan pertempuran. Dari sebelah barat, Kesultanan Sambas, Sampit, Sangau, Kotawaringin, Pagatan bahkan jauh ke timur Kesultanan Pasir maupun Kesultanan Kutai dll. Dipersiapkan oleh Pangeran Hidayatullah sebagai areal perang maupun penyokong Perang Banjar .

Beberapa kutipan dari buku-buku karya Hindia Belanda.

Hidayat telah merencanakan dan mempersiapkan pemberontakan yang kemudian akan meluas diseluruh kerajaan “.

….. Loera housin telah menerima dari Hidayat batu permata untuk menghasut penduduk daerah itu melawan gubernemen “.

“ ….. Hidayat sebulan yang lalu berada di gunung Batu Tiris telah mengadakan rapat akbar yang dihadiri para kepala “.

“ ….. seorang bernama Doelmatalip di Nagara telah menerima sepucuk surat dari Hidayat guna memanggil rakyat untuk melakukan perang Sabil “. (De Bandjermasinsche Krijg hal 14,20,31 & 71)

Pengangkatan salah satu pimpinan perangnya seperti berikut ;

“ Surat Seruan Pangeran Hidajatoellah ;

Dengan ini saya menganugrahkan kepada seorang rakyat bernama Gamar gelar Tumenggung Cakra Yuda dan dengan ini pula memperkenankan kepadanya melakukan Perang Sabilullah untuk menegakkan kejayaan agama dan ajaran Nabi Muhammad Rasululloh SAW.

Selanjutnya saya memaklumkan, bahwa pengangkatan ini tidak dapat diubah lagi, sehingga dengan demikian Tuan dapat mengadakan musyawarah atau persetujuan dengan Mufti Muhammad Cholid (mufti gubernemen ), Mufti Abdul Jalil, Pangulu Machmud ( pengulu gubernemen Martapura ), Tuan Chalifah Idjra-ie ( bertugas melakukan penyumpahan para saksi di Mahkamah Militer di Martapura ), semua haji yang di Dalam Pagar ( tempat tinggal para ulama ) dan yang ada di mana-mana dan semua kepala didalam perang ini disamping semua penduduk kampung, baik lelaki maupun perempuan, yang masih terikat kepada Al Khaliq dan Rasulnya.

Bilamana ada diantara mereka yang tidak memperhatikan atau ada yang menentang peraturan yang telah saya keluarkan, maka saya memperkenankan kepada Tuan untuk menghukumnya sampai mati dengan jalan dipancung kepalanya dan menghancurkan harta bendanya.

Dalam hal Tuan tidak melaksanakan kemauan saya ini dengan seksama dan tidak memperhatikan semua perintah yang telah saya keluarkan dengan persetujuan orang tua saya , maka Tuan dan seluruh keturunan Tuan selama lamanya akan terkutuk.

Saya memohon semoga Yang Maha Kuasa akan memperkenankan harapan saya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan dari Dayak Dari, Dayak Dusun (Tanah Dusun) dan Dayak Biajau menyerang dan menghancurkan Martapura. Oleh karena yang disebut diatas masih orang kafir (belum Islam) maka akan merupakan suatu kebajikan apabila mereka ikut menghancurkan musuh-musuh Nabi .

Surat ditulis Pangeran Hidajatoellah tanggal 22 Jumadil Awal 1277 / 10 Desember 1860 ditandatanganinya dan juga oleh Pangeran Wira Kusumah (masing-masing cap dan Pangeran Hidajatoellah dengan cap Sulthan).

Surat itu diperlihatkan oleh Gamar kepada Resident ketika ia ditangkap oleh Belanda. (De Bandjarmasinsche Krijg halaman 162 & 163) ”.

Setelah Pengangkatan-pengangkatan dan persiapan-persiapan yang matang maka dikobarkanlah Perang Banjar pada tanggal 28 April 1859 dengan semboyan Beatip Beamal Fisabilillah secara serempak.

Jalannya peperangan terekam dalam beberapa tulisan berikut;

“ Sambil bertandak dan berdoa mereka menerobos sampai 10 langkah dari carre` ( formasi tempur berbentuk persegi empat ); meriam houwitser diisi lagi. “Tembak !!” , kedengaran dari mulut komandan, akan tetapi baik pipa houwitser maupun beberapa bedil macet. Beberapa orang musuh sekarang datang melalui houwitser masuk kedalam carre’: dengan pemimpinnya yang berpakaian kuning di muka sekali. Kopral Smit mendapat tusukan tombak pada saat akan memasang lagi isian bedil; van Halderen mendapat dua sabetan klewang yang mematikan pada saat akan memasang lagi pipa yang baru. Pistol kepunyaan van der Heijden juga macet, ketika ia akan menembak kepala penyerbu itu. Kepala yang gagah berani ini telah menerjangnya dan akan menekankan ujung tombak ke dadanya. Koch segera melompat, menangkis dengan pedang tusukan itu, akan tetapi ia sendiri terpanggang tusukan tombak dan keris, dan jatuh tersungkur”. (De Bandjermasinsche Krijg hal. 205)

“ Tentara (Hindia Belanda) telah mempertahankan kehormatan namanya, banyak perwira dan prajurit telah menunjukan keluarbiasaanya, banyak yang mengucurkan darahnya, banyak yang mengorbankan nyawanya.

Celakanya, terlalu sering !

Barisan menjadi tipis, rumah-rumah sakit dan kapal-kapal pengangkut diisi penuh prajurit yang kelelahan karena perang.

Terlalu sering kita ini wajib mengganti pasukan, dan menggantikannya dengan yang baru, yang didatangkan dari Jawa; bahkan demikian seringnya, sehingga kita dalam melukiskan jalannya peperangan segera berhenti memuat semua mutasi !!!”. (De Bandjermasinsche Krijg hal. 395 )

Perang yang tidak berkesudahan, kekalahan yang terus menerus, kematian prajurit maupun pimpinan tentara Hindia Belanda yang tiada henti, sungguh membuat bingung, lelah dan frustasi, sehingga dipersiapkanlah cara-cara yang sangat keji dan licik. Sebuah tipu muslihat yang sangat tidak pantas dipersiapkan untuk memperoleh suatu kemenangan dalam peperangan.

Penipuan itu dimulai dengan ditangkapnya Ratu Siti , Ibunda Sultan Hidayatullah, kemudian Pihak Belanda menulis surat atas nama Ratu Siti kepada Sultan, agar mengunjungi beliau sebelum dihukum gantung oleh Pihak Belanda. Surat tersebut tertera cap Ratu Siti…, padahal semua itu hanya rekayasa & tipuan tanpa pernah Ratu Siti membuat surat tersebut. Ketika bertemu dengan Ibunda Ratu Siti ditangkaplah Sultan Hidayatullah dan diasingkan ke Cianjur. Penangkapannya dilukiskan pihak belanda :

“ Pada tanggal 3 Maret 1862 diberangkatkan ke Pulau Jawa dengan kapal perang ‘Sri Baginda Maharaja Bali’ seorang Raja dalam keadaan sial yang dirasakannya menghujat dalam, menusuk kalbu karena terjerat tipu daya. Seorang Raja yang pantas dikasihani daripada dibenci dan dibalas dendam, karena dia telah terperosok menjadi korban fitnah dan kelicikan yang keji setelah selama tiga tahun menentang kekuasaan kita (Hindia Belanda) dengan perang yang berkat kewibawaanya berlangsung gigih, tegar dan dahsyat mengerikan. Dialah Mangkubumi Kesultanan Banjarmasin yang oleh rakyat dalam keadaan huru-hara dinobatkan menjadi Raja Kesultanan yang sekarang telah dihapuskan (oleh kerajaan Hindia Belanda), bahkan dia sendiri dinyatakan sebagai seorang buronan dengan harga f 1000,- diatas kepalanya.

Hanya karena keberanian, keuletan angkatan darat dan laut (Hindia Belanda) dia berhasil dipojokan dan terpaksa tunduk.

Itulah dia yang namanya :

Pangeran Hidajat Oellah

Anak resmi Sultan muda Abdul Rachman dst, dst, dst….. “.

( Buku Expedities tegen de versteking van Pangeran Antasarie, gelegen aan de Montallatrivier. Karya J.M.C.E. Le Rutte halaman 10).

Dengan penangkapan Sultan ini maka berakhirlah peperangan besar yang terjadi, peperangan yang terjadi berikutnya dilukiskan oleh tentara Hindia Belanda sebagai pemberontakan-pemberontakan kecil.

“Dengan Hidayat, pengganti sah dari Sultan Adam, rakyat yang memberontak itu kehilangan tonggak penunjangnya; dengan Hidayat, pemimpin Agama, para pemimpin agama kehilangan senjata yang paling ampuh untuk menghasut rakyat; oleh kepergian Hidayat, hilanglah semua khayalan untuk memulihkan kembali kebesaran dan kekuasaan Kerajaan Banjar, dengan kepergian Hidayat maka pemberontakan memasuki tahap terakhir” (De Bandjermasinsche krijg hal. 280)

“Dengan Hidayat hilanglah semua khayalan, hasrat suci yang berlebihan, pendorong semangat dan penyebab dari perang ini”(De Bandjermasinsche Krijg hal. 342)

Selesai

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 88 Comments »

Undang-Undang Sultan Adam – Perkara 8 –

Posted by Anak Sultan pada April 6, 2007

Perkara 8

” Siapa-siapa jang datang kepada mufti memadahakan soeroehankoe meminta pitoea, tiada koebariakan moefti memberi pitoea lamoen tiada lawan tjapkoe”

Perkara ini sebagai kelanjutan dari pasal sebelumnya mengenai aturan dalam peradilan kerajaan. Perkara ini memberi peringatan kepada mufti kerajaan agar tidak memberikan fatwa apabila tidak ada cap/stempel dari sultan.

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 1 Comment »

Sistem Politik dan Pemerintahan Kerajaan Banjar

Posted by Anak Sultan pada April 6, 2007

Berikut adalah susunan kepemerintahan dan jabatan di dalam Kerajaan Banjar:

  1. Raja, bergelar Sultan
  2. Mangkubumi, mempunyai kementrian dibawahnya: Panganan, Pangiwa, Mantri Bumi dan 40 orang Mantri Sikap. Setiap Mantri Sikap mempunyai 40 orang pengawal elit.
  3. Lalawangan, Kepala Distrik kedudukannya sama dengan kepala distrik pada masa penjajahan Belanda.
  4. Sarawasa; Sarabumi; Sarabraja, jabatan terpisah tetapi mempunyai wewenang yang sama yaitu Kepala Urusan Keraton.
  5. Mandung; Raksayuda, jabatan terpisah tetapi mempunyai wewenang yang sama yaitu Kepala Balai Longsari dan Bangsal dan Benteng.
  6. Mamagarsari, pengapit raja saat duduk di ruangan sidang (semacam pasukan khusus)
  7. Parimala ( Kepala Urusan Dagang dan Pasar); Singataka; Singapati (pembantu/pengawal Parimala).
  8. Sarageni; Saradipa duhung, jabatan terpisah tetapi mempunyai tugas sama berkuasa dalam urusan senjata (tombak, ganjur, tameng, parang dll)
  9. Puspawarna, berkuasa dalam urusan tanaman, hutan, perikanan, ternak dan berburu.
  10. Pamarakan; Rasajiwa, Pengurus umum tentang keperluan pedalaman dan pedusunan.
  11. Kadang Aji, Ketua Balai Petani dan Perumahan; Nanang (pembantu Kadang Aji)
  12. Wargasari, Pengurus Besar tentang persediaan bahan makanan dan lumbung padi, bagian kesejahteraan rakyat.
  13. Anggarmarta, Juru Bandar (Kepala Urusan Pelabuhan)
  14. Astaprana, Juru tabuh-tabuhan, kesenian dan kesusasteraan.
  15. Kaum Mangkumbara, Kepala urusan upacara
  16. Wiramartas, Mantri Dagang, berkuasa mengadakan hubungan dagang dengan luar negeri atas persetujuan sultan
  17. Bujangga, Kepala urusan bangunan rumah dan rumah ibadah
  18. Singabana, Kepala Keamanan Umum.

Sebelum Kerajaan Banjar berdiri, pada masa Negaradaha jabatan raja selalu diambil silih berganti dari pewaris yang sah (sengketa). Kerajaan Banjar memulai kembali tradisi bahwa raja diganti oleh puteranya, sedangkan jabatan Mangkubumi (jabatan tertinggi setelah raja) diputuskan dari rakyat biasa yang mempunyai jasa besar terhadap kerajaan. Saudara raja dapat menjadi Adipati (raja kecil di daerah kekuasaan/taklukan) tetapi mereka tetap di bawah Mangkubumi. Kaum bangsawan yang bergelar Pangeran dan Raden boleh selalu ikut serta dalam sidang membicarakan masalah negara dan ikut serta memberikan kesejahteraan bagi rakyat.

Mangkubumi dalam perkembangannya disebut juga Perdana Menteri kemudian berkembang pula sebutan Wazir, ketiga sebutan ini memiliki tingkat jabatan yang sama hanya berbeda nama. Sebutan untuk sultan dalam penyebutan acara resmi adalah Yang Mulia Paduka Seri Sultan. Calon pengganti Sultan disebut Pangeran Mahkota, pada masa pemerintahan Sultan Adam disebut Sultan Muda.

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | Leave a Comment »

Syair Sejarah Negaradipa – 1 –

Posted by Anak Sultan pada April 3, 2007

Syair sejarah ini disunting dari buku Syair Sejarah Kerajaan Negaradipa di Kalimantan Selatan yang disusun oleh Nadir Adransyah,BA dan Drs.Syarifuddin R. Terbitan Taman Budaya Propinsi Kalimantan Selatan Tahun 1997. Negaradipa adalah nama kerajaan cikal bakal dari Kerajaan Banjar. Di dalam syair ini digambarkan bagaimana awal kedatangan pendiri kerajaan ke tanah Kalimantan sampai berdirinya kerajaan, disertai cerita menarik lainnya yang berhubungan dengan legenda yang ada di Negaradipa.

1

Bermula kalam kami tuliskan
Segenap pikiran dicurahkan
Untuk menyusun syair kesejarahan
Merangkai kejadian secara berurutan

Adapun nama syair yang dituliskan
Kerajaan Negaradipa di Kalimantan Selatan
Sebagai bahan pengetahuan
Untuk Saudara, Kawan sekalian

Walaupun bukti sejarah Kalimantan Selatan
Tidak berupa benda bertuliskan
Namun bekas kerajaan dapat dibuktikan
Menurut penelitian para sejarawan

Baca entri selengkapnya »

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 14 Comments »

Undang-Undang Sultan Adam – Perkara 6 –

Posted by Anak Sultan pada Maret 25, 2007

Perkara 6

Mana-mana perempuan jang hendak minta pasahkan nikahnja lawan lakinja maka hakim koesoeroeh mamariksa apa-apa ekral bini-bini itoe padahakan kajah diakoe

Dikeluarkannya undang-undang perkara 6 ini masih mengatur tentang perkawinan rakyat kerajaan Banjar. Pasal ini mempunyai maksud apabila ada seorang perempuan yang sudah menikah dan suaminya masih hidup akan tetapi ingin membatalkan pernikahannya itu, maka sultan memerintahkan agar hakim menyelidiki terlebih dahulu masalah yang melatarbelakangi perbuatan perempuan tersebut.

Pasal ini mengandung keadilan bagi semua pihak, laki-laki maupun perempuan serta sikap sultan yang tidak ingin memudahkan masalah perceraian karena dalam Islam sangat dianjurkan untuk melakukan rujuk terlebih dahulu. Setelah masalah yang melatarbelakanginya jelas diselidiki oleh hakim maka akan dilaporkan kepada sultan.

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 3 Comments »

Lapisan Sosial Rakyat Kerajaan Banjar

Posted by Anak Sultan pada Maret 21, 2007

Kerajaan Banjar seperti pola lapisan sosial kerajaan lainnya di nusantara menunjukkan pola status sosial menurut keturunan. Bentuk lapisan sosial pada waktu itu secara besar terbagi 2 kelompok, yaitu:

  1. Tutus
  2. Jaba

TUTUS adalah golongan keturunan dari raja. Turunan raja ini terbagi menjadi turunan raja yang menang dan turunan raja yang kalah (dalam perebutan kekuasaan). Kedua jenis turunan ini termasuk tutus dengan berbagai gelar kebangsawanan yang disandangnya sesuai dengan tingkatan keturunan dan asal dari keturunan tersebut.

Gelar-gelar kebangsawanan yang disandang sesuai dengan tingkatan secara berurutan sebagai berikut:

  1. Pangeran dan Ratu (pangeran untuk turunan terdekat dengan raja jika pria, sedangkan ratu untuk wanita)
  2. Gusti
  3. Antung atau Raden
  4. Nanang atau Anang

Untuk gelar kebangsawanan dari raja yang kalah sebagai berikut:

  1. Pangeran dan Ratu
  2. Andin
  3. Rama

Golongan tutus inilah yang berhak untuk memegang jabatan penting dalam kerajaan serta memiliki daerah/wilayah kekuasaan. Pada masa kerajaan, golongan tutus ini sangat dominan pengaruhnya dalam kehidupan rakyat karena diyakini memiliki kekuatan gaib dan kharisma yang tinggi. Gelar kebangsawanan yang diperoleh tutus ini sifat dan fungsinya turun temurun, misalnya ayahnya bergelar Gusti maka anak-anaknya otomatis akan mendapat gelar Gusti juga. Begitu juga jabatan dalam kerajaan yang dipegang oleh orang tuanya akan diwariskan langsung kepada anak.

JABA adalah golongan rakyat biasa bukan keturunan bangsawan. Lapisan sosial ini hidup dengan berbagai macam pekerjaan seperti pedagang, petani, tukang kayu dan sebagainya. Golongan ini seperti teori piramida merupakan golongan terbesar dari rakyat kerajaan Banjar.

Untuk jaba yang memiliki prestasi bagi kerajaan, mereka akan dianugerahi oleh sultan dengan jabatan serta gelar yang boleh dipakai selama hidup mereka. Gelar-gelar bagi jaba yang memegang jabatan di pemerintahan adalah:

  1. Kiai Adipati
  2. Patih
  3. Tumenggung
  4. Ronggo
  5. Kiai
  6. Demang dan Mangku
  7. Tenarsa
  8. Lurah atau Pambakal
  9. Panakawan/Hahawar Ambun

Gelar yang dimiliki oleh jaba ini hanya untuk tujuan fungsional dalam pemerintahan kerajaan yang diberikan sultan atas jasa-jasanya, gelar untuk golongan jaba tidak bisa diwariskan turun temurun. Misalnya ayahnya seorang Kiai Adipati yang memiliki gelar dan wilayah, setelah orang tuanya meninggal maka anaknya tidak dapat mewarisi gelar dan wilayahnya tersebut.

Meskipun dalam masyarakat Kerajaan Banjar mengenal lapisan sosial, tetapi dalam hal pernikahan tidak terlalu mengikat harus sama dari golongan atau gelar tertentu. Hal ini sering terlihat pada lelaki jaba yang ingin menikahi wanita tutus, maka harus diadakan penebusan yang dikenal dengan nama manabus purih atau ganti rugi atas turunnya martabat dari wanita tutus yang akan menikah. Jika hal ini tidak dilakukan ditakutkan pasangan itu akan mendapat katulahan (kualat) yang mengakibatkan bencana di kemudian hari. Wanita tutus yang menikah dengan pria jaba akan kehilangan hak waris gelar untuk anak-anaknya nanti.

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 19 Comments »

Undang-Undang Sultan Adam – Perkara 5 –

Posted by Anak Sultan pada Maret 16, 2007

Perkara 5

Tiada koebarikan sekalian orang menikahkan perempoean dengan taklik kepada madjahab jang lain daripada jang madjahab Syafei maka siapa jang berhadjatkan bataklid pada menikahkan perempoean itoe bapadah kajah diakoe dahoeloe

Perkara ini juga mengatur masalah perkawinan yang terjadi di wilayah kerajaan. Maksud dari perkara ini adalah bagi yang ingin menikah tidak boleh berlainan mazhab selain mazhab Syafei. Apabila terjadi juga maka harus dilaporkan terlebih dahulu kepada Sultan. Dari perkara ini bisa dilihat bahwa pada masa itu mazhab Syafei menjadi mazhab resmi kerajaan sehingga ketentuan yang diambil selain dari mazhab Syafei menyebabkan tidak sahnya perbuatan hukum yang bersangkutan.

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 1 Comment »

Sekilas Hikayat Lambung Mangkurat

Posted by Anak Sultan pada Maret 10, 2007

Menurut hikayat Lambung Mangkurat, Negaradipa (cikal bakal Kerajaan Banjar) didirikan oleh Empu Jatmika, anak saudagar Mangkubumi dari Keling. Ia meninggalkan Keling menggunakan kapal besar bernama si Prabayaksa, diiringi oleh para pengikut setianya Tumenggung Tatahjiwa, Arya Megatsari, dan juru bahasa Wiramartas yang pandai berbagai macam bahasa. Perjalanan mereka memasuki sungai Barito dan sungai Nagara. Amanat yang dibawa oleh Empu Jatmika dari ayahnya adalah  mereka harus menemukan tanah baru dan menetap disana apabila tanah tersebut berbau harum seperti bau pandan. Daerah yang ditemukan adalah pertemuan sungai Nagara dengan sungai Amuntai, disitulah mereka mendirikan sebuah candi dengan gelar Maharaja di Candi. Negaradipa merupakan kerajaan Hindu pertama di Kalimantan Selatan diperkirakan berdiri sekitar abad ke-13. Penduduk asli Negaradipa terdiri dari etnis Ngaju, Maanyan, dan Bukit.

Kerajaan Negaradipa selanjutnya berpindah menjadi Negara Daha, ini merupakan kerajaan Hindu terakhir di Kalimantan Selatan. Kemudian pada abad 16 muncul kerajaan Islam Banjar yang menjadi awal pesatnya perkembangan agama Islam dan kemajuan dalam dunia perdagangan dengan Banjarmasin sebagai pusatnya. Penduduk di Kerajaan Banjar sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur Melayu.

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 4 Comments »

Undang-Undang Sultan Adam – Perkara 4 –

Posted by Anak Sultan pada Maret 9, 2007

Perkara 4

Siapa-siapa jang hendak nikah kepada hakim koesoeroeh orang jang terlebih adil didalam kampoeng itoe membawanja kepada hakim sekoerang-sekoerangnja doea orang lamoen kadada seperti itoe djangan dinikahkan

Perkara ini mengatur perkawinan menurut hukum Islam. Barangsiapa yang ingin menikah harus datang melapor kepada hakim dengan membawa dua orang saksi dari kampungnya yang dianggap adil. Kalau tidak dipenuhi persyaratan itu maka tidak boleh dinikahkan. Sesuai hukum Islam, Sultan Adam menganggap pernikahan sebagai sebuah lembaga yang suci dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

 

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 1 Comment »

Suku-Suku di Kerajaan Banjar

Posted by Anak Sultan pada Maret 8, 2007

Ketika Banjarmasin lahir di tahun 1526 yang merupakan lahirnya kerajaan Banjar, penduduknya adalah campuran dari unsur Melayu, Ngaju, Maanyan, Bukit, Jawa dan suku-suku kecil lainnya yang dipersatukan oleh agama Islam, berbahasa dan beradat istiadat Banjar. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya dengan inti pembentukan persatuan etnik lahir kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu, dan Kelompok Banjar Pahuluan.

Kelompok Banjar Kuala tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan Martapura, berasal dari kesatuan etnik Ngaju. Kelompok Banjar Batang Banyu tinggal di sepanjang Sungai Tabalong dari muaranya Sungai Barito sampai dengan Kalua, berasal dari kesatuan etnik Maanyan. Kelompok Banjar Pahuluan tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pleihari, berasal dari kesatuan etnik Bukit.

Suku lain yang tergolong penduduk asli Kalimantan Selatan, yaitu:

  1. Suku Maanyan, tinggal di daerah Warukin di Tabalong
  2. Suku Dayak Dusun Deah, tinggal di Pangelak, Upau, Kinarum, Kaong, Gunung Riut, Mangkupum, Haruai dan Muhara Uya di Tabalong
  3. Suku Bakumpai, tinggal di daerah Marabahan dan sekitarnya di Barito Kuala
  4. Suku Dayak Balangan, tinggal di Halong dan sekitarnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan
  5. Suku Bukit, tinggal di sepanjang pegunungan Meratus
  6. Suku Abal, suku ini sudah punah dulunya tinggal di daerah Tabalong
  7. Suku Lawangan di kabupaten Tabalong

koreksi dari alamnirvana: no.4, berada di Kabupaten Balangan daerah pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara
Kemudian sebagai suku pendatang:

  1. Suku Jawa, di Tamban Barito Kuala
  2. Suku Madura, di Madurejo Pengaron Kabupaten Banjar
  3. Suku Bugis, di Pulau Laut dan sekitarnya di Kabupaten Kotabaru
  4. Suku Mandar, di Pulau Laut dan sekitarnya
  5. Suku Bajau, di Rampa Bajau Kotabaru
  6. Cina Parit, di Kabupaten Tanah Laut di Sungai Perit Pleihari
  7. Penduduk pendatang dari Sumatera, Ambon, dan lain-lain menyebar ke tiap daerah di Kalimantan Selatan.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 1 Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.