Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Archive for Juni, 2015

Bukan ‘ngabuburit’ namanya kalau di Banua Banjar

Posted by Anak Sultan pada Juni 30, 2015

Dalam beberapa tahun ini, terutama setelah menjamurnya televisi swasta baik secara nasional maupun lokal. Lintas budaya dan bahasa terasa begitu mudahnya meloncat melewati batas wilayah. Pada masa informasi terpusat dan terkontrol melalui TVRI saluran televisi yang menjalin persatuan dan kesatuan, tidak begitu banyak lintas budaya dan bahasa mampu menembus batas wilayah. Meskipun ada tetapi kecepatannya tidak secepat saat ini.

Salah satu istilah yang berhasil melintas batas bahasa dan budaya adalah istilah ‘ngabuburit’. Kata ‘ngabuburit’ ini berasal dari bahasa Sunda dengan kata dasar ‘burit’ artinya ‘senja atau sore’. Setelah berproses dalam masyarakat Sunda mendapat berbagai penambahan sehingga menjadi ‘ngabuburit’ yang artinya kurang lebih ‘menunggu waktu sore atau senja’. Meskipun oleh orang Sunda sendiri arti kata ini bermakna luas tetapi penggunaannya lebih kepada suasana bulan Ramadhan saat masyarakat Sunda membuat berbagai aktivitas menunggu waktu Maghrib berbuka puasa.

Dengan banyaknya tayangan Ramadhan di berbagai televisi swasta nasional untuk menarik minat penonton sambil menunggu waktu berbuka, secara langsung maupun tidak langsung istilah ‘ngabuburit’ ini dikenalkan kepada masyarakat di luar Sunda. Apalagi televisi swasta tersebut berada di Jakarta yang berdekatan dengan daerah Sunda serta banyak artis-artis pengisi acara berasal dari daerah tersebut.

Istilah ‘ngabuburit’ pun melintas ke dalam budaya Banjar. Saat ini di masyarakat Banjar, anak muda terutama, begitu umumnya memakai istilah ‘ngabuburit’ untuk menunjukkan kegiatan mereka menunggu berbuka puasa. Entahlah kalau ada Urang Banjar yang sampai kepada tahap bangga memakai istilah tersebut. Padahal ‘burit’ dalam bahasa Banjar artinya ‘pantat’.

Tidaklah saya bisa bayangkan ada Urang Banjar kesana kemari berbicara ‘burit’ kepada sesama Urang Banjar yang mengerti artinya. Apalagi kepada orang yang lebih tua. Bisa ‘katulahan’ jar Urang Banjar. Orang tua dahulu tidak mengajarkan membicarakan bagian tubuh yang satu ini disampaikan secara eksplisit, kecuali di bawah keadaan terpaksa. Istilah ‘burit’ dalam Bahasa Banjar pun sering digunakan dalam kondisi mengejek atau bersenda gurau, misalnya ‘dasar si burit kempos’ atau ‘kaganalan burit ikam tu’atau yang lebih kasar ‘muha kaya burit’

Saya berpendapat ‘burit’ adalah satu kata dalam Bahasa Banjar yang artinya kurang terhormat digunakan untuk menunggu waktu suci berbuka puasa.

Akan ada yang kontra dengan pendapat saya ini, mereka bisa beralasan sekarang adalah abad globalisasi semua bahasa bisa diserap asal tahu maknanya dan penggunaannya pun tepat. Apalagi dengan istilah tersebut mengarah kepada kekinian dan tingkat pengetahuan pergaulan yang tinggi.

Ya, saya tidak akan mendebat Anda untuk itu. Tetapi saya hampir bisa pastikan bahwa tidak ada orang Sunda tempat asalnya istilah ‘ngabuburit’ akan dengan bangga menyebut kata ‘bujur’ yang dalam Bahasa Banjar yang artinya ‘betul/benar’. Sebab dalam bahasa Sunda kata ‘bujur’ artinya ‘pantat’. Mungkin orang Sunda akan tertawa geli saat pertama kali mendengar urang Banjar berkata, “babujuran aku kada badusta”. Dalam pikiran mereka ‘babujuran’ mungkin ‘berpantat-pantatan’.

Sama halnya ‘ngabuburit’ ada beberapa kawan di daerah yang memelesetkan kata ini menjadi ‘ngadu burit’. Ada yang bercanda, “ayo kita ngadu burit sambil menunggu waktu buka puasa”. Candaan yang kurang pantas di dalam suasana bulan Ramadhan, tetapi mereka tidak bisa disalahkan karena kata ‘ngabuburit’ begitu tidak nyamannya terdengar di telinga urang Banjar. Kecuali bagi urang Banjar yang merasa sudah global dan gaul.

Dari sebuah diskusi yang digagas Bapak Zulfaisal Putera di media facebook, terlontar beberapa kata dan kalimat dalam Bahasa Banjar untuk mengganti kata ‘ngabuburit’ ini. Lontaran usulan kata ini bentuk kepedulian Urang Banjar yang sama-sama tidak nyaman mendengar kata ‘ngabuburit’. Saya coba kutip bebas, dalam diskusi ini berbagai macam istilah dan maknanya disarankan, dan akhirnya mengerucut kepada istilah ‘basambang’. Istilah ‘basambang’ pertama dimunculkan oleh seniman Banjar Mukhlis Maman dari sebuah kata ulang “sambang simambang” yang bermakna menunggu langit warna jingga waktu senja. Kemudian dipertegas oleh budayawan Banjar Sirajul Huda dengan memunculkan istilah ‘menyambang dauh’. Hal ini kemudian disambut baik oleh sastrawan Banjar Arsyad Indradi dengan argumen kalau ‘menunggu dauh’ terlalu umum sebab bisa ‘dauh magrib’, ‘dauh jumat’, ‘dauh bagarakan sahur’. Arsyad Indradi cenderung memilih ‘basambang’ yang bermakna ‘menunggu waktu magrib (berbuka puasa), bukan ‘menyambang’ yang bermakna ‘menunggu seseorang yang akan lewat, yang akan datang”. Istilah ‘basambang’ ini akhirnya diterima oleh sebagian besar peserta diskusi.

Ada berbagai usulan terutama dalam bentuk akronim, namun menurut Bapak Zulfaisal Putera belum ada kata Bahasa Banjar hasil dari bentukan akronim.

Saya cenderung setuju dengan ‘basambang’ ini, karena itulah akan mencoba mulai mensosialisasikan istilah ‘basambang’ dalam berbagai kesempatan. Bukankah populernya istilah bergantung kebiasaan? kalau dangsanak mau ikut bergabung, silahkan ikut menyebarkan istilah ‘basambang’ pada setiap suasana menunggu waktu berbuka puasa dan biarkan Urang Banjar punya istilah sendiri.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

Iklan

Posted in Keluh Kesah Budaya | Leave a Comment »

Syair Sejarah Negara Dipa – 3 –

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

3

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Sebelum akhir masa hidupnya Saudagar Mangkubumi memberikan sebuah petunjuk bagaimana cara menemukan tanah idaman, tanah yang akan menjamin ketentraman berdirinya sebuah kerajaan, maju dalam perdagangan dan agar rakyat makmur sentosa.
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –  – –
Untuk menyatakan kehendak yang dalam
Galilah tanah itu di tengah malam
Ambil sekepal lalu digenggam
Semoga datang pertanda tenteram

Jika digenggam terasa panas
Harum baunya cukup keras
Itulah tanda rahmat datang dari atas
Makmur sentosa rakyat tidaklah cemas

Hendaklah anakda tinggal disana
Janganlah ragu mendirikan istana
Terhindar segala musuh dan bahaya
Perdagangan ramai makmur sentosa

Jika tanah harum baunya
Tetapi sangat dingin rasanya
Itulah tanda kurang kemakmurannya
Buruk dan baik seimbang adanya

Jika tanah berbau busuk
Tambah pula dingin terasa menusuk
Itulah tanda huru hara akibat buruk
Negeri bakal jatuh terpuruk

Pun pula segala derita
Kesukaran selalu tiada putus-putusnya
Janganlah suka tinggal disana
Buruklah nanti hidup anakda
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Akhirnya setelah berhasil menyampaikan maksud hati, pesan wasiat sakti penuh misteri, Saudagar Mangkubumi meninggalkan dunia dengan tanpa meninggalkan beban derita. Tertinggal keluarga besar, para pengikut setia yang bersedih duka, menangisi kepergian pemimpin tercinta.
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Sekalian yang hadir berduka cita
Tambah pula Empu Jatmika
Meratap menangis beriba-iba
Ditinggalkan ayahanda yang sangat tercinta

Empu Jatmika dan ibu Sitira
Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat dua bersaudara
Pilu di dada tiada terkira
Ingat amanat paduka ayahanda

(bersambung)

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 1 Comment »

Mengenal Nama Lambung Mangkurat

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

Bagi yang pernah ke Kalimantan Selatan dan memperhatikan suasana disini, pasti akan mengenal nama Lambung Mangkurat. Nama ini dipakai oleh universitas tertua di Kalimantan yaitu Universitas Lambung Mangkurat atau sering disingkat UNLAM. Tetapi banyak juga generasi muda Banjar sekarang hanya tahu namanya saja. Padahal tokoh ini adalah tokoh yang paling disebut peranannya dalam sejarah Kerajaan Negaradipa cikal bakal Kerajaan Banjar, setara dengan Mahapatih Gajah Mada dari sejarah Kerajaan Majapahit.

Tokoh legendaris ini menurunkan keturunan raja-raja Banjar berikutnya sebab Lambung Mangkurat adalah ayah dari Putri Kahuripan (hasil perkawinannya dengan Dayang Diparaja) yang kemudian dijadikan permaisuri oleh Raden Suryaganggawangsa. Adapun turunan raja-raja Banjar bermula dari Majapahit, yaitu Pangeran Suryanata (Raden Putera) adalah putra dari Kerajaan Majapahit hasil dari pertapaan.

Mangkubumi Lambung Mangkurat dikenal sebagai tokoh dengan pribadi setia dan bijaksana, tokoh kenegaraan yang cakap, tokoh militer yang tegas tanpa pilih kasih, dan sekaligus sebagai orang tua dan pendidik. Kepribadian Lambung Mangkurat selain ditentukan faktor keturunan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pada masa itu faktor lingkungan yang sangat berperan adalah sebuah lingkungan dengan unsur magis.

Di dalam sejarah kerajaan di Indonesia, sering kita temui tokoh-tokoh dengan nama binatang sebagai nama orang untuk menunjukkan fungsi atau sifat yang menyerupai nama tersebut. Misalnya Hayam Wuruk, Gajah Mada, Nara Singha Murti, Tiung Wanara, Lembu Tal, Lembu Peteng, dan salah satunya Lembu (Lambung) Mangkurat.

Nama Lambung Mangkurat terjadi dari gabungan kata “lambung”, “mangku”, “rat”. Kata “lambung” adalah dialek Banjar yang berasal dari kata “Lembung”. Di dalam bahasa Banjar huruf  ‘e’ (pepet) sering diucapkan ‘a’, misalnya kata “sesak” menjadi “sasak” sehingga “lembu” juga diucapkan menjadi “lambu”

Dari contoh itu bisa disimpulkan kata “lambung” berasal dari “lembung” kemudian terjadi penambahan “ng” akibat penyengauan untuk memudahkan penyebutan bagi masyarakat setempat zaman itu. Mungkin juga tambahan “ng” menurut bahasa Jawa Kuna/Bahasa Kawi sehingga apabila diuraikan menjadi “Lembu ng Mangkurat”. Kata “ng” menunjukkan kepemilikan (milik/menyerupai/menyamai)  atau bisa juga sama dengan kata “yang”.

Adapun gabungan kata “mangkurat” berasal dari kata “mangku” artinya memangku, mendukung, dan kata “rat” berarti jagat, dunia. Jadi seluruh gabungan “Lambung Mangkurat” berarti “lembu yang memangku dunia”. Di dalam agama Hindu Lembu/Sapi adalah binatang suci karena kesetiaannya disebabkan binatang ini menjadi kenaikan Mahadewa Siwa, dalam legenda dulu Sapi juga diceritakan sebagai binatang yang menyandang bumi di pundaknya.

Demikian sekilas tinjauan mengenai nama Lambung Mangkurat supaya generasi muda Banjar tidak terputus hubungan dengan sejarah.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | Leave a Comment »

Syair Sejarah Negara Dipa – 2 –

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

2

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Saudagar Mangkubumi sudah berumur tua dan tidak bisa melawan hukum alam, akhirnya jatuh sakitlah beliau. Dalam keadaan sakit ini beliau memanggil seluruh keluarga untuk mendengarkan wasiat yang kelak akan dilaksanakan oleh para penerusnya.
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Karena sudah keadaan
Sakitlah Mangkubumi yang dipertuan
Hamba sahaya semua bersedih menaruh kasihan
Kemudian semua sanak famili dikumpulkan

Saudagar Mangkubumi yang dipertuan
Sakitnya bertambah tidak tertahan
Selalu dijaga seluruh handai taulan
Dari hari berganti bulan

Setelah Mangkubumi merasa tidak kuat bertahan
Saatnya dunia yang  fana harus ditinggalkan
Nafas terengah air mata mengalir perlahan
Lemah tak berdaya sekujur badan

Empu Jatmika dan kedua putranya
Duduk bersimpuh bersama ibunya
Membelai mencium tangan ayahanda
Duduk terpekur membaca doa

Lalu berkata Mangkubumi tercinta
Meninggalkan amanat kepada anakda
Hadirin mendengar dengan hikmatnya
Diterimalah wasiat oleh anak cucunya

Adapun amanat yang ditinggalkannya
Kepada anaknya Empu Jatmika
Tersusun bunyi kata-katanya
Harus kerjakan diingat pula

Wahai anakku Empu Jatmika
Serta cucuku Empu Mandastana
Lambung Mangkurat duduk beserta
Sira Manguntur dan neneknya Sitira

Jika aku sudah tak ada lagi
Meninggalkan dunia yang fana ini
Pertama-tama jagalah diri
Martabat keluarga dijunjung tinggi

Kedua pula janganlah kikir
Bersikaplah adil tak boleh mungkir
Hormatilah pula setiap orang pakir
Setiap tindakan harus dipikir
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
Mangkubumi merasa dia akan segera meninggalkan dunia fana, dengan kekuatan yang tersisa berwasiatlah dia dengan tiga wasiat yang salah satunya akan menentukan sejarah dari sebuah kerajaan besar di suatu tempat yang penuh dengan kekayaan alam.
– – – – – – – – – – – – – – – – –  – – – – – – – – –  –

Selain itu sebagai ketiga
Sesudah aku meninggalkan dunia
Hendaklah turut dan kerjakan segera
Pergilah anakda dari negeri kita

Sebabnya itu wahai anakku tersayang
Di negeri Keling negeri kita sekarang
Banyaklah orang sebagai penghalang
Yang iri dengki selalu datang

Karena aku wahai anakda
Adalah orang yang kaya raya
Arif pula dan bijaksana
Lembaga adat dan tata kerama

Itulah sebabnya dengarkan petuahku
Memberi amanat kepada anakku
Tinggalkan negeri cari yang baru
Tandanya bertanah panas harum berbau

(bersambung)

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | Leave a Comment »

Candi Agung Peninggalan Kerajaan Negara Dipa

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

Candi Agung adalah situs purbakala peninggalan Kerajaan Negaradipa yang masih tersisa. Kerajaan Negaradipa diyakini merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Banjar. Candi Agung terdapat di kota Amuntai, ibukota Hulu Sungai Utara, Propinsi Kalimantan Selatan. Letaknya berada di pinggiran Kota Amuntai sebelah Barat Daya berjarak kurang lebih 1 kilometer.

Situs Candi Agung ini dikenal masyarakat Kalimantan Selatan sebagai sebuah tempat keramat bersejarah, bagi masyarakat wilayah Kerajaan Banjar situs ini merupakan kebanggaan turun temurun. Pada hari tertentu seperti hari raya selalu ramai dikunjungi orang sebagai tempat melepaskan hajat, bahkan bagi yang meyakini keturunannya berasal dari sana, cukup datang ke Candi Agung sebagai pengobatan sakit.

Pada tahun 1962 ketika Pemerintah Daerah Hulu Sungai Utara melakukan perluasan kota, disini ditemukan berbagai pecahan peninggalan benda-benda purbakala. Antaranya potongan kaki arca dari batu yang terlepas dari tubuhnya (buntung). Potongan kaki tersebut berukuran 35 x 15 cm. Disamping itu terdapat pula potongan relief Bunga Tunjung (Padma) yang berhiaskan motif Pucuk Rabung (tumpal), rantai besi yang berukuran besar, pecahan-pecahan perunggu dari arca dan lain-lain. Diperkirakan bahwa paling tidak dalam radius 300 meter dari pusat situs ini areal tanahnya mengandung pendaman benda-benda purbakala, peninggalan Kerajaan Negaradipa yang telah punah.

Pada tahun 1964 penggalian percobaan dan penelitian telah dilakukan oleh arkeolog Drs.Uka Chandrasasmita, penggalian ini dilakukan di bagian timur bukit Candi Agung, yang hanya di kedalaman 50 cm telah ditemukan beberapa pecahan bata dan genteng atap. Hal tersebut ditambah dengan data-data hasil penelitian terdahulu, akhirnya telah memperkuat kesimpulan bahwa situs ini patut digali untuk menyelamatkan nilai-nilai sejarah dan kepurbakalaannya.

Tahun 1967  melalui badan khusus yang diketuai Gubernur Kalsel Kol.H. Aberani Sulaiman, memulai proyek penggalian situs ini. Sementara Drs. Uka Chandrasasmita dan Suyono sebagai pemimpin penggalian. Penggalian resmi dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1967 dalam sebuah upacara tradisional sederhana. Selama proyek oleh para ahli telah dilakukan pemetaan, pematokan, pemotretan dan lain sebagainya di atas situs Candi Agung. Dari masyarakat umum pun datang respon yang sangat baik, ribuan orang datang melihat proses penggalian situs ini bahkan ada yang dari luar daerah setiap harinya.

Beberapa hasil positif dari penggalian tersebut, antara lain:
1) ditemukan pecahan genteng atap diantaranya masih utuh berukuran 30 x 16,5 x 1 cm, batu bata ukuran 38 x 20 x 10 cm, tiang-tiang kayu ulin, kepala Burung Enggang, pecahan perunggu, sisa-sisa emas perhiasan 18 karat, tempayan tanah liat, manik-manik.
2) ditemukan sebuah bekas bangunan berukuran 9,2 x 9,2 meter dengan batu pondasi masih terhampar, batu bata masih bersusun, sebuah pintu yang menghadap ke timur laut. Berdasarkan ilmu kepurbakalaan bangunan ini diyakini sebagai sebuah candi.

Pada tahun 1978 pemerintah pusat melalui Direktorat Sejarah dan Purbakala menetapkan situs Candi Agung salah satu objek peninggalan sejarah dan purbakala Kalimantan Selatan.

Demikian secara singkat sejarah situs purbakala Candi Agung peninggalan Kerajaan Negaradipa. Semoga dikemudian hari masih ada dilakukan penelitian lainnya oleh arkeolog asli banua.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | Leave a Comment »

Percakapan Sehari-hari Bahasa Banjar – 2 –

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

Banyak orang mau belajar bahasa Banjar, tentu saja kalau bisa yang praktis sebab belum ada lembaga pelatihan yang membuka kursus jurusan bahasa Banjar. Cara paling mudah belajar bahasa Banjar adalah langsung praktek dengan Urang Banjar, kalau belum ada kesempatan boleh lah  membaca di web ini sambil mengisi waktu luang anda bermain internet.

Kita mulai dengan bahasa yang akan Anda dengar sehari-hari.

Ulun = aku, saya, disampaikan dengan bahasa sopan kepada yang lebih tua atau seseorang yang baru kita kenal
Ikam = kamu, disampaikan kepada orang sepantaran atau lebih muda
Pian = kamu, disampaikan dengan bahasa sopan kepada yang lebih tua atau seseorang yang baru kita kenal
Nyawa = kamu,  disampaikan dalam bahasa pergaulan bagi yang seumur
Unda = saya, disampaikan dalam bahasa pergaulan bagi yang seumur

hadang = tunggu
kaina – kena = nanti
bujur = betul/benar
bungul = bodoh
kawa = bisa
hakun = mau

kada = tidak
indah = tidak

“gin” = tambahan penekanan pada kalimat, contoh “sudah gin lah” = “sudah ya”
“lah” = tambahan penekanan pada kalimat, biasanya kalimat tanya, contoh “sudahlah mandi?”
“kah” = tambahan penekanan pada kalimat biasanya kalimat tanya, contoh “handak makan kah?”

sudah dulu gin lah, kaina kita sambung lagi belajarnya (sudah dulu ya, nanti kita sambung lagi belajarnya). Kita akan belajar bahasa sehari-hari saja, sebab saya juga kurang mengetahui istilah-istilah dalam belajar bahasa. Yang penting bagi Anda yang saat ini belum mengerti bahasa Banjar punya gambaran mengenai bahasa Banjar. (bersambung)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Posted in Bahasa Banjar | Leave a Comment »

Ideham Chalid – Undas nang tahan pidakan

Posted by Anak Sultan pada Juni 29, 2015

Ideham Chalid Urang Banjar yang disegani Bung Karno

Dalam kunjungannya di Amuntai tanggal 27 Januari 1953, Bung Karno membuat sejarah dengan menyampaikan pidato yang fenomenal dan kontroversial. Menjelang berpidato, Bung Karno disambut sebuah spanduk besar berisi pertanyaan: “Minta penjelasan: Negara Nasional atau Negara Islam?” Bung Karno yang berpaham nasionalis merespon pertanyaan tersebut: “Jika kita mendirikan negara berdasarkan Islam, banyak daerah yang penduduknya bukan Islam akan memisahkan diri”. Apalagi saat itu sedang ada program politik nasional untuk merebut Irian Barat yang tak kunjung diserahkan oleh Belanda

Reaksi keras muncul setelah isi pidato diberitakan oleh Kantor Berita Antara ke seluruh tanah air dan internasional. Di Jakarta massa Masyumi berdemonstrasi di Lapangan Banteng. Sikap yang sama juga diambil oleh NU dan GPII. Ketua HMI menyurati Soekarno minta penjelasan.

Penolakan Bung Karno terhadap status negara Islam bagi rakyat Amuntai kelihatannya tidak direspon dengan keras. Artinya rakyat Amuntai menghormati presidennya dan mungkin juga karena seorang Ideham Chalid yang berdarah Amuntai yang dikenal moderat dan dekat dengan Bung Karno.

K.H. Ideham Chalid adalah tokoh banua yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Ketua Umum PBNU, Ketua MPR/DPR RI.

Ketika disodori jabatan untuk menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Wakil Presiden, Ideham menolaknya sehingga pilihan jatuh kepada Adam Malik. Pada tahun 1983, Ideham juga menolak ditawari menjadi menjadi Ketua Umum MUI. Penolakan juga dilakukan Ideham saat hendak dianugerahi Ramon Magsasay Award oleh pemerintah Filipina, alasannya Presiden Ferdinan Marcos kala itu tidak demokratis dan menekan kaum muslimin Moro.

Ideham mendebat Bung Karno

Hasil pemilu 1955 menempatkan PKI masuk 4 besar suara terbanyak.

Melihat hasil pemilu ini Bung Karno ingin mengakomodasi PKI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bung Karno meyakinkan perlunya hidup gotong royong. “Allemal aan de werktafel en allemal an de eattared” (semua anggota keluarga telah bekerja, jadi makannya harus satu meja bersama). Menurut Bung Karno berbagai elemen bangsa telah berjuang mengusir penjajah, mempertahankan kemerdekaan, dan baru saja melaksanakan Pemilu pertama 1955, jadi hasilnya harus pula dinikmati bersama, jangan ada yang disingkirkan.

Bung Karno menekankan, dari Pemilu 1955 terlihat ada 6 juta orang yang memilih PKI. “Kau Ideham kalau ingat yang sedih-sedih itu pemberontakan PKI Madiun yang mengorbankan banyak ulama, bagaimana mau hidup berbangsa dan bernegara”.

Ideham menjawab: “itulah Pak, saya ini membawa aspirasi ulama dan umat Islam. PKI itu tidak akan mau berbagi empat kekuasaan (saat itu PNI, Masyumi dan NU) mereka mau semuanya. Kalau ditaruh di kaki mereka akan naik ke atas, diberi daging mau hati. Itu pengalaman di banyak negara Komunis yang sebelumnya nasionalis”.

Bung Karno menimpali: “Ideham, di Indonesia lain. Saya akan hadapi mereka kalau macam-macam”.

Ideham bilang lagi: “Lebih baik PKI tak usah diberi angin saja Pak”.

Keberanian urang Banjar sebagai ‘undas nang tahan pidakan’ ini tercatat dalam sejarah bangsa. Ideham Chalid tokoh banua yang di anugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Urang Banjar yang juga pejuang kemerdekaan dan alim ulama ini ibarat “undas nang tahan pidakan” (jagoan yang tangguh tahan aduan/segala tantangan)

Buku DR. K.H. IDEHAM CHALID ULAMA POLITISI BANJAR DI KANCAH NASIONAL. Terbitan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kalimantan Selatan tahun 2015. Disusun oleh Bapak Ahmad Barjie B.

ideham chalid

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Posted in Tokoh Banua | Leave a Comment »