Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Archive for the ‘Keluh Kesah Budaya’ Category

Bukan ‘ngabuburit’ namanya kalau di Banua Banjar

Posted by Anak Sultan pada Juni 30, 2015

Dalam beberapa tahun ini, terutama setelah menjamurnya televisi swasta baik secara nasional maupun lokal. Lintas budaya dan bahasa terasa begitu mudahnya meloncat melewati batas wilayah. Pada masa informasi terpusat dan terkontrol melalui TVRI saluran televisi yang menjalin persatuan dan kesatuan, tidak begitu banyak lintas budaya dan bahasa mampu menembus batas wilayah. Meskipun ada tetapi kecepatannya tidak secepat saat ini.

Salah satu istilah yang berhasil melintas batas bahasa dan budaya adalah istilah ‘ngabuburit’. Kata ‘ngabuburit’ ini berasal dari bahasa Sunda dengan kata dasar ‘burit’ artinya ‘senja atau sore’. Setelah berproses dalam masyarakat Sunda mendapat berbagai penambahan sehingga menjadi ‘ngabuburit’ yang artinya kurang lebih ‘menunggu waktu sore atau senja’. Meskipun oleh orang Sunda sendiri arti kata ini bermakna luas tetapi penggunaannya lebih kepada suasana bulan Ramadhan saat masyarakat Sunda membuat berbagai aktivitas menunggu waktu Maghrib berbuka puasa.

Dengan banyaknya tayangan Ramadhan di berbagai televisi swasta nasional untuk menarik minat penonton sambil menunggu waktu berbuka, secara langsung maupun tidak langsung istilah ‘ngabuburit’ ini dikenalkan kepada masyarakat di luar Sunda. Apalagi televisi swasta tersebut berada di Jakarta yang berdekatan dengan daerah Sunda serta banyak artis-artis pengisi acara berasal dari daerah tersebut.

Istilah ‘ngabuburit’ pun melintas ke dalam budaya Banjar. Saat ini di masyarakat Banjar, anak muda terutama, begitu umumnya memakai istilah ‘ngabuburit’ untuk menunjukkan kegiatan mereka menunggu berbuka puasa. Entahlah kalau ada Urang Banjar yang sampai kepada tahap bangga memakai istilah tersebut. Padahal ‘burit’ dalam bahasa Banjar artinya ‘pantat’.

Tidaklah saya bisa bayangkan ada Urang Banjar kesana kemari berbicara ‘burit’ kepada sesama Urang Banjar yang mengerti artinya. Apalagi kepada orang yang lebih tua. Bisa ‘katulahan’ jar Urang Banjar. Orang tua dahulu tidak mengajarkan membicarakan bagian tubuh yang satu ini disampaikan secara eksplisit, kecuali di bawah keadaan terpaksa. Istilah ‘burit’ dalam Bahasa Banjar pun sering digunakan dalam kondisi mengejek atau bersenda gurau, misalnya ‘dasar si burit kempos’ atau ‘kaganalan burit ikam tu’atau yang lebih kasar ‘muha kaya burit’

Saya berpendapat ‘burit’ adalah satu kata dalam Bahasa Banjar yang artinya kurang terhormat digunakan untuk menunggu waktu suci berbuka puasa.

Akan ada yang kontra dengan pendapat saya ini, mereka bisa beralasan sekarang adalah abad globalisasi semua bahasa bisa diserap asal tahu maknanya dan penggunaannya pun tepat. Apalagi dengan istilah tersebut mengarah kepada kekinian dan tingkat pengetahuan pergaulan yang tinggi.

Ya, saya tidak akan mendebat Anda untuk itu. Tetapi saya hampir bisa pastikan bahwa tidak ada orang Sunda tempat asalnya istilah ‘ngabuburit’ akan dengan bangga menyebut kata ‘bujur’ yang dalam Bahasa Banjar yang artinya ‘betul/benar’. Sebab dalam bahasa Sunda kata ‘bujur’ artinya ‘pantat’. Mungkin orang Sunda akan tertawa geli saat pertama kali mendengar urang Banjar berkata, “babujuran aku kada badusta”. Dalam pikiran mereka ‘babujuran’ mungkin ‘berpantat-pantatan’.

Sama halnya ‘ngabuburit’ ada beberapa kawan di daerah yang memelesetkan kata ini menjadi ‘ngadu burit’. Ada yang bercanda, “ayo kita ngadu burit sambil menunggu waktu buka puasa”. Candaan yang kurang pantas di dalam suasana bulan Ramadhan, tetapi mereka tidak bisa disalahkan karena kata ‘ngabuburit’ begitu tidak nyamannya terdengar di telinga urang Banjar. Kecuali bagi urang Banjar yang merasa sudah global dan gaul.

Dari sebuah diskusi yang digagas Bapak Zulfaisal Putera di media facebook, terlontar beberapa kata dan kalimat dalam Bahasa Banjar untuk mengganti kata ‘ngabuburit’ ini. Lontaran usulan kata ini bentuk kepedulian Urang Banjar yang sama-sama tidak nyaman mendengar kata ‘ngabuburit’. Saya coba kutip bebas, dalam diskusi ini berbagai macam istilah dan maknanya disarankan, dan akhirnya mengerucut kepada istilah ‘basambang’. Istilah ‘basambang’ pertama dimunculkan oleh seniman Banjar Mukhlis Maman dari sebuah kata ulang “sambang simambang” yang bermakna menunggu langit warna jingga waktu senja. Kemudian dipertegas oleh budayawan Banjar Sirajul Huda dengan memunculkan istilah ‘menyambang dauh’. Hal ini kemudian disambut baik oleh sastrawan Banjar Arsyad Indradi dengan argumen kalau ‘menunggu dauh’ terlalu umum sebab bisa ‘dauh magrib’, ‘dauh jumat’, ‘dauh bagarakan sahur’. Arsyad Indradi cenderung memilih ‘basambang’ yang bermakna ‘menunggu waktu magrib (berbuka puasa), bukan ‘menyambang’ yang bermakna ‘menunggu seseorang yang akan lewat, yang akan datang”. Istilah ‘basambang’ ini akhirnya diterima oleh sebagian besar peserta diskusi.

Ada berbagai usulan terutama dalam bentuk akronim, namun menurut Bapak Zulfaisal Putera belum ada kata Bahasa Banjar hasil dari bentukan akronim.

Saya cenderung setuju dengan ‘basambang’ ini, karena itulah akan mencoba mulai mensosialisasikan istilah ‘basambang’ dalam berbagai kesempatan. Bukankah populernya istilah bergantung kebiasaan? kalau dangsanak mau ikut bergabung, silahkan ikut menyebarkan istilah ‘basambang’ pada setiap suasana menunggu waktu berbuka puasa dan biarkan Urang Banjar punya istilah sendiri.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

Iklan

Posted in Keluh Kesah Budaya | Leave a Comment »

Timpakul; Nostalgia Rumah Tanpa Urukan Tanah

Posted by Anak Sultan pada Maret 19, 2007

Tadi baru membaca websitenya komunitas Timpakul, tiba-tiba teringat kenangan masa kecil waktu saya dan kawan-kawan (Banjarmasin awal tahun 90-an) bermain-main menjebak Timpakul. Dulu di setiap bawah rumah di kawasan Kayutangi Banjarmasin, kondisinya berlumpur dan selalu dialiri air karena termasuk daerah pinggir sungai (rumah di Banjarmasin memang selalu di pinggir sungai dulunya). Rumah kami ada dua lawang (pintu) yang satu menghadap darat (jalan yang dibangun dari tumpukan galam diuruk memakai lumpur dan tanah liat dari sungai di sampingnya dilapisi dengan blok-blok semen dibagian paling atas), satunya lagi menghadap sungai dihubungkan oleh tumpakan (semacam pijakan dermaga) seadanya. Apabila air lagi surut terlihat jelas tiang-tiang rumah dari ulin yang panjang-panjang, dibawah tiang terlihat juga licak (lumpur). Nah, diantara lumpur ini kalau diamati akan ada lubang-lubang kecil seperti bekas ditusuk-tusuk memakai tongkat. Lubang-lubang itu penghuni utamanya Ular, Kepiting, Walut (Belut), Biawak, dan Timpakul. Penghuni lumpur yang sering terlihat adalah Timpakul, bentuknya unik kadang-kadang agak menakutkan. Menurut pengamatan kami Timpakul akan menampilkan diri bila air pasang tiba, mereka akan berloncatan dengan matanya yang lucu.

Teman-teman saya akan mulai menyiapkan sumpit yang terbuat dari jari-jari besi sepeda dengan pipa paralon plastik. Maka perburuan Timpakul akan dimulai saat hari mulai sore sampai waktu Maghrib tiba atau sampai masing-masing dipanggil orang tua untuk masuk rumah. Timpakul cuek, diburu, disumpit, ditawak (lempar), diinjak lubangnya, mereka akan terus ada di sana berloncatan dengan ceria seperti mengejek kami untuk terus memburu mereka tiap hari. Dan memang selama beberapa tahun itu Timpakul selalu terlihat di bawah rumah kami.

Memasuki akhir tahun 90-an, saya dan teman-teman sudah mulai sibuk kuliah, jarang diantara kami memikirkan Timpakul lagi. Jalan darat di depan rumah sudah semakin lebar dan jalan raya di seberang sungai sudah diaspal. Sedangkan sungai di belakang rumah sudah menyempit karena kebutuhan akan ruangan rumah saya dan tetangga yang terus menerus mendesaknya. Sungai yang dulunya lebar 3 meter sekarang sisa 1.5 meter, jalan darat yang dulunya 1.5 meter kini menjadi 2.5 meter sampai bisa dilalui mobil padahal cuma jalan dalam gang. Satu-satunya yang kami pertahankan sampai sekarang adalah rumah kami tetap memakai tiang sebagai pondasinya.

Rupanya orang-orang yang mempunyai rumah di pinggir jalan raya tidak berpikiran sama, satu persatu membangun kembali rumah mereka memanggil berpuluh-puluh truk pengangkut tanah dari gunung. Ruko dan toko sudah menghiasi jalanan kota Banjarmasin. Tiang digantikan oleh urukan tanah, lantai papan digantikan lantai marmer. Dan tanah becek berisi lubang kecil tempat mahluk hidup lainya tinggal tertutup dan dilupakan.

Kebiasaan baru yang menggantikan budaya orang Banjar dalam membangun rumah ini sudah merusak rumah Timpakul. Sekarang demi gengsi pasti orang akan menguruk dengan tanah untuk membangun di atas kota seribu sungai ini. Untuk selembar dinding beton dan sehelai lantai marmer, pondasi bangunan perlu diperkuat dengan urukan tanah, begitu kata para pembangun kota. Masalah tertutupnya sungai, terhambatnya aliran air dan hilangnya hewan-hewan penghuni asli tanah kota, bukan urusan mendasar asal manusia tidur tenang di atas rumah gedungnya.

Memasuki tahun 2000, saya tidak pernah lagi melihat timpakul di bawah rumah, sungai kami sudah menjadi sungai tanpa kekayaan biotanya. Timpakul pergi entah kemana, mungkin mereka masih bertahan hidup tapi di suatu tempat yang tidak bisa kami lihat lagi. Bisa jadi di suatu tempat di Banjarmasin dimana tiang masih menjadi pondasi rumah dan tanah urukan hanya untuk membuat jalan.

Posted in Keluh Kesah Budaya | 6 Comments »

Kelakuan Busuk Anggota DPRD Tala Terhadap Sejarah Banua

Posted by Anak Sultan pada Maret 11, 2007

Berikut berita yang saya ambil dari harian Banjarmasin Post hari Ahad, 11 Maret 2007:

Puluhan kursi kosong melompong pada acara silaturahmi dan dialog dengan pendiri Kabupaten Tanah Laut (Tala) di gedung olahraga dan seni (GORS) Pelaihari, Sabtu (10/3). Pejabat Pemkab dan banyak yang tidak datang.
Bahkan tak satu pun anggota dewan dan unsur muspida yang diundang hadir dalam kegiatan yang digagas LSM Forum Lintas Bangsa (FLB) itu. Beberapa pejabat yang hadir diantaranya, Kadisdik Noor Ifansyah, Kepala BPMD H. Sudaryana, Asisten III Abdul Hakim. Kepala BKD Suriansyah, dan beberapa pejabat eselon III. Sedangkan Kakandepag H.Ariansyah datang menjelang siang.

Sementara 2 dari 71 pendiri Tala yang masih hidup, A. Wahid dan Noor Asliyah, hadir sejak pagi. Di usianya yang senja, mereka harus duduk selama berpuluh menit, karena harus menunggu kedatangan undangan yang datang satu per satu. 

Pantauan B.Post, hanya sekitar 100 orang yang hadir. Sementara ratusan bangku yang telah disusun rapi lengkap dengan nasi kotak, tak berpenghuni. Acara pun mundur hingga satu jam lebih.

Ketua LSM FLB M.Noor mengaku kecewa ketidakhadiran anggota dewan dan unsur muspida tersebut. Padahal sara itu cukup penting karena bertujuan mencari solusi dalam upaya menerbitkan buku sejarah pendirian Kabupaten Tala.

“Kita kan tahu hingga sekarang belum ada paten tentang sejarah berdirinya daerah ini. Yang ada hanya sebatas tulisan sederhana yang tidak lengkap,” tukas M.Noor. 

Demikian bunyi beritanya, ada beberapa kalimat yang tidak lengkap atau salah ketik di koran tersebut tapi kita bisa menangkap maksudnya.

Pertama kali membaca berita ini timbul kejengkelan yang memuncak terhadap kelakuan anggota DPRD Tala yang diharapkan kehadirannya dalam acara. Beginilah kalau orang-orang tidak berbudaya menjadi wakil rakyat di negeri ini. Seharusnya mereka sadar bahwa sejarah berdirinya Kabupaten Tala merupakan salah satu prioritas dalam peran serta mereka menyerap aspirasi rakyat. Kalau kada bubuhan sidin itu nang berinisiatif mendirikan Tala bahari, bubuhan DPRD nang piragah sugih itu kada jadi DPRD pang wahini. Saat membaca kalimat bagaimana dua orang dari 71 pendiri Tala yang masih hidup berusia lanjut harus lama menunggu mereka yang diundang, saya semakin ingin mengeluarkan caci maki, tapi itu tidak pantas karena saya sadar kita lebih berbudaya dari anggota DPRD itu.

Begitu mudahnya melupakan sebuah acara yang sangat bersejarah, seandainya ada satu saja – satu saja – anggota DPRD yang datang itu pun sudah cukup sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang hadir. Tapi ini tidak satupun, kelakuan busuk anggota DPRD ini ibarat meulah anak handak, tapi indah maharagunya. Kalau sudah menyangkut acara bagi-bagi proyek pasti banyak yang datang, tapi kalau acara yang dianggap tidak ada untungnya masing-masingnya izin.

Saya tidak ikut acara ini, sebab baru tahu sesudah membaca koran pagi tadi. Saya yakin dalam pertemuan itu tidak menghasilkan apa-apa karena pihak yang diharapkan suaranya tidak bisa dihadirkan. Dan anggota DPRD yang tidak hadir pun tidak peduli sebab dalam seminggu berita ini akan hilang sendirinya. Mereka tidak tahu peran mereka di pertemuan ini, padahal kalau memang mereka mengaku pintar, dengan hadir di acara tersebut mereka bisa mengeluarkan kebijakan kepada pemerintah untuk segera menyusun penelitian sejarah berdirinya Kabupaten Tala tempat mereka mencari duit sekarang.

Mungkin panitia bisa lebih kreatif dengan memberikan iming-iming mengenai bagi-bagi proyek pembuatan buku sejarah pendirian Kabupaten Tala untuk Anggota DPRD yang hadir. Buku tersebut akan dicetak ribuan copy untuk dijual ke sekolah-sekolah. Pasti banyak yang datang.

Inilah nasib memiliki wakil rakyat yang tidak terdidik mencintai sejarah dan budaya tempat ia jadi wakil. Duitnya haja handak, bagawinya koler ! 

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Keluh Kesah Budaya | 7 Comments »

Belajar dari Barongsai

Posted by Anak Sultan pada Maret 5, 2007

Memasuki perayaan imlek dan cap go meh di kota Banjarmasin terlihat ramai dengan lalu-lalang mobil pick up bermuatan naga dan gendang besar. Pasukan Barongsai selalu panen order saat imlek tiba. Show resmi barongsai biasanya pada malam hari di depan klenteng jalan Veteran. Karena bersamaan dengan arah turunan dari Jembatan Merdeka maka jalan di sekitar klenteng akan padat dan macet. Disini saya melihat penyebab kemacetan tersebut bukanlah pasukan Barongsai, tetapi penonton yang berjubel sampai meluber keluar klenteng dan menutupi jalan. Orang tua dan muda otomatis berhenti sejenak untuk menyempatkan melihat atraksi ini dari atas sepeda motornya.

Barongsai sebuah kesenian Tionghoa yang sudah berumur ratusan tahun, kalau dibandingkan dengan kemajuan teknologi sekarang, merupakan kesenian kuno dan ketinggalan zaman. Tetapi kenapa orang tetap tertarik untuk menyempatkan diri melihat atraksi ini. Anda bisa lihat kalau kebetulan lewat di jalan raya, ada atraksi Barongsai dari toko ke ruko, dan setiap kali pula banyak penonton dadakan menyempatkan diri berhenti sejenak untuk menikmatinya. Kalau begitu apakah anggapan kesenian kuno adalah kesenian yang tidak disukai orang lagi itu benar?

Para seniman Banjar sering mengeluhkan minimnya apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah Banjar. Dengan mengemukakan alasan munculnya kesenian modern membuat kesenian tradisional Banjar tidak diminati oleh orang lagi.

Saya pun belajar dari Barongsai. Kesenian kuno usianya ratusan tahun tetap ditonton oleh orang banyak, padahal dari segi musik Barongsai hanya menampilkan bunyi dung dung dung tak lebih dari itu. Dari segi tarian saya hanya melihat orang memakai topeng naga meloncat-loncat kesana kemari. Tapi kenapa rasa rami haja lah?

Menurut pendapat saya pribadi, kesenian tradisional menjadi kehilangan peminatnya karena tidak ada event di daerah ini yang mampu turun langsung ke bawah mengajak masyarakatnya. Selama saya hidup di Banjarmasin, tidak ada sebuah kesenian Banjar yang ditampilkan begitu bebasnya di pinggir-pinggir jalan. Kalau ingin melihat tarian, saya harus menunggu adanya festival tari. Kalau ingin melihat mamanda saya harus menunggu ada festivalnya juga, begitu juga jenis kesenian lainnya. Sehingga disini yang menjadi masalah adalah kesenian tradisional Banjar secara tanpa sadar dijadikan tontonan khusus, eksklusif, dan susah didapat.

Saya melihat kesenian Banjar mendekati kepunahan karena masalah seperti tertulis di atas. Pada acara Banjar Basaruan yang lalu, kebetulan saya juga menjadi panitia salah satu acara, saya amati betapa antusiasnya masyarakat Kalimantan Selatan menyaksikan berbagai macam jenis acara tradisional yang disuguhkan. Mereka memadati arena balogo, batungkau, bagasing, bersorak menyemangati lapangan orang main baasinan, berdesakan melihat tari japin, tertawa terbahak-bahak mendengar madihin, dan rela semalam suntuk mengikuti acara wayang banjar. Ini menunjukkan kesenian tradisional tidaklah ditinggalkan masyarakat tetapi selama ini masyarakat tidak tahu kemana mencari kesenian mereka.

Saya tidak bisa menawarkan solusi hanya sekadar memberikan rumusan masalah, sambil mengharapkan ada seniman dan pejabat pemerintahan urang Banjar di luar sana membaca tulisan ini dan bisa memberikan solusi terbaik. Terutama mengharap saran dari masyarakat umum sendiri sebagai bukti mereka masih mencintai dan merindui kesenian asli tanah lahir mereka.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Keluh Kesah Budaya | 1 Comment »

Penyiar Radio Remaja Sering Meremehkan Bahasa Banjar

Posted by Anak Sultan pada Februari 24, 2007

Mendengar penyiar radio di Banjarmasin seperti mendengar siaran dari Jakarta. Bahasa yang dipakai adalah bahasa gaul anak ibukota yang diklaim  sebagai bahasa Indonesia. Kata-kata, gue – elu – ngga – gitu – sumpe lo – dsb, yang merupakan bahasa sehari-hari anak-anak ibukota dianggap bahasa baku untuk pergaulan sehari-hari meskipun tempat tinggalnya jauh dari ibukota sana. Apabila ada pendengar yang menelpon kemudian terselip kata bahasa Banjar dengan cepat ditertawakan, seolah-olah bahasa murahan dan tidak pantas didengar.

Sungguh sedih apabila di daerah kita sendiri bahasa Banjar tidak mampu menjadi tuan rumah untuk generasi mudanya. Sekarang tahun 2007, anggaplah dalam tahun ini sudah 20% generasi muda Banjar yang tidak lagi bangga memakai bahasa Banjar dalam pergaulannya. Dan 10 tahun  ke depan meningkat 2x lipatnya, maka kita tinggal menunggu masa-masa bahasa Banjar akan punah. Mengapa Bahasa Banjar bisa punah? karena generasi mudanya sudah tidak tahu lagi istilah dan kata dalam bahasa Banjar.

Kalau sampai terjadi bahasa Banjar punah, maka orang yang patut disalahkan adalah orang seperti saya dan Anda yang tahu bahasa Banjar tapi tidak ikut melestarikannya. Dalam tulisan berikutnya saya akan mencoba memasukkan kamus bahasa Banjar sedikit demi sedikit agar bahasa Banjar tetap terdokumentasikan dengan baik dan tetap diingat oleh generasi muda Banjar.

Kada ulun biarakan budaya Banjar hilang di dunia !

Posted in Keluh Kesah Budaya | 13 Comments »

Pemimpin Putra Daerah, Akankah Memajukan Budaya Banjar?

Posted by Anak Sultan pada Februari 24, 2007

Setiap pilkada akan berlangsung, isu yang menjadi hangat mengemuka salah satunya mengenai pemimpin putra daerah. Maksudnya, orang yang menjadi pemimpin di daerah tersebut haruslah orang kelahiran setempat, bukan hanya kelahiran tapi harus merupakan keturunan dari orang asli daerah tersebut. Hal ini karena warisan budaya politik masa lalu yang kebanyakan pejabat titipan pemerintah pusat yang tidak memikirkan perasaan masyarakat setempat. Karena pusat pemerintahan kebetulan berada di Jawa, maka dulu sering orang dari Jawa memerintah orang-orang di luar Jawa. Dan hal ini diperburuk oleh pejabat bersangkutan yang tidak mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi. Mereka  lebih menonjolkan budaya bawaan mereka daripada bertoleransi dengan budaya setempat. Akibatnya terjadi kecemburuan budaya yang tinggi dan berkelanjutan sampai masyarakat bawah.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan seluruh masyarakat Kalimantan Selatan  apabila dipimpin oleh orang luar daerah/luar suku Banjar. Dan saya tidak akan menyatakan mewakili perasaan mereka. Pendapat saya pribadi apabila suatu saat ada orang non suku Banjar memimpin urang Banjar, apakah urang Banjar sudah kehabisan SDM yang bisa diandalkan untuk memimpin?

Baiklah, sudah, kita hindarkan saja provokasi kalimat saya diatas dan berfokus pada pengembangan budaya Banjar, apabila pemimpin kita mulai gubernur sampai lurah adalah putra daerah sendiri. Saya sangat bersyukur dengan terpilihnya kepala daerah asli urang Banjar, setidaknya budaya hidup beliau sama dengan saya, sehingga saya dengan rela dipimpin oleh beliau.

Harapan terbesar saya adalah daerah Kalimantan Selatan ini mampu menjadi mandiri dalam hal budaya. Mulai dari hal kecil sampai besar, mulai rumah rakyat sampai rumah pejabat. Tidaklah berlebihan apabila saya berharap seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat diisi dengan peraturan daerah yang mampu mengakomodasi kelestarian budaya Banjar. Itu karena daerah ini budayanya adalah budaya Banjar. Kalau daerah ini adalah Jawa silakan saja pakai budaya Jawa.

Pertanyaan di judul tulisan ini akan menjadi pertanyaan besar bagi orang-orang politik yang pada pilkada lalu begitu mengusung-usung ide putra daerah. Silakan Anda evaluasi sendiri, pemimpin putra daerah sudahkah memajukan budaya daerahnya?

Kada ulun biarakan budaya Banjar hilang di dunia !

Posted in Keluh Kesah Budaya | 3 Comments »