Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Balogo

Posted by Anak Sultan pada Maret 23, 2014

Logo atau Lugu (logat Banjar) adalah nama alat permainan yang dipakai oleh anak-anak di daerah Kalimantan Selatan. Nama permainannya adalah Balogo (Balugu).  Dalam permainan balogo digunakan juga alat bantu kayu pemukul yang disebut penapak/cacampak.

Bahan yang digunakan untuk logo adalah tempurung kelapa yang diisi dengan aspal, dempul, atau alat perekat lainnya. Bentuk logo ada beberapa macam, yaitu logo kelayangan yang mirip bentuk layang-layang. Logo biuku atau bidawang yang mirip bentuk binatang bulus/kura-kura. Warna logo mengikuti warna serat tempurung kelapa yang digunakan.

Bahan untuk penapak adalah batang bambu yang tua. Penapak ini ada dua macam bentuknya, perbedaan terdapat pada ujung penapak, yaitu ujung bulat dan ujung segi empat. Penapak ini biasanya dibuat dengan lebar kurang lebih 2,5 cm, panjangnya kurang lebih 35 cm.

Cara membuat logo memerlukan sedikit keterampilan dalam membuat bentuk-bentuknya, serta kemampuan untuk memilih bahan dasar tempurung. Sebab logo nantinya akan dihantamkan dengan logo lawan sehingga pembuat logo harus memikirkan bagaimana agar logonya tahan hantaman. Tempurung kelapa yang dipilih biasa tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, tempurung semacam ini agak mudah dibentuk serta memiliki kekuatan yang relatif stabil. Logo dibentuk dengan parang yang tajam atau kalau sekarang bisa menggunakan alat yang lebih modern seperti mesin gerinda. Bagian tempurung kelapa yang dijadikan logo bisa dari bagian samping atau ujung, tergantung besarnya logo. Para pemain akan berusaha memukul sekuat-kuatnya logo lawan itulah sebabnya logo harus dibuat sangat kuat.

bentuk logo

Logo ada yang satu lapis dan dua lapis. Untuk logo satu lapis supaya berat diisi dengan perekatnya saja sebab kalau tidak diisi akan melayang dan tidak bisa dikendalikan saat dimainkan. Logo dua lapis tempurungnya dibuat sama persis sehingga bentuknya hampir simetris saat direkatkan.

Permainan balogo bisa dimainkan satu lawan satu atau beregu dengan jumlah pemain sama. Dalam istilah permainannya ada yang dinamakan pemain “naik” itu artinya giliran memukul, dan pemain “pasang” itu artinya pemain yang menunggu logonya untuk dipukul.

Penentuan pemain pasang dan naik dilakukan dengan pengundian. Berikut beberapa aturan dalam permainan balogo:

  1. Panjang area permainan minimal 20 meter, dengan jarak dari area penapak dengan logo pasang pertama minimal 15 meter
  2. Pemain yang naik mendapat giliran memukul pertama sebanyak 2 x, dengan syarat pukulan pertama harus berhasil melewati garis minimal, apabila tidak sampai garis minimal maka pemain yang naik dinyatakan mati.
  3. Dalam setiap posisi logo yang dipasang, ada garis pasang, apabila logo pemain yang naik berhenti di area garis ini maka pemain yang naik dinyatakan mati dan tidak boleh memukul lagi.

area balogo

4.       Skor permainan dihitung dengan banyaknya logo lawan yang berhasil dipukul dalam satu putaran permainan.

Apabila permainan beregu biasanya diatur strategi agar satu orang pemain naik berhasil memukul satu logo pemain pasang.

Demikian sekilas mengenai permainan balogo, apabila ada yang bisa menambahkan kami persilahkan untuk berbagi.

Kada ulun biarakan budaya Banjar hilang di dunia

Posted in Permainan Tradisional | Leave a Comment »

Badudus

Posted by Anak Sultan pada April 10, 2013

Badudus mempunyai fungsi yang hampir sama dengan bapapai mandi-mandi pengantin, hanya saja badudus lebih rumit dalam persyaratannya. Dalam upacara badudus untuk keluarga kerajaan atau keturunan bangsawan yang akan dimandikan sehingga sering kali diiringi dengan upacara kebesaran kerajaan.

Perlengkapan dalam upacara badudus:
1. mayang pinang yang masih dalam upung (pembungkus mayang)
2. tempat air (mangkok, tajau/tempayan)
3. nyiur anum (kelapa muda) yang telah dipangkas bagian tangkai dan bawah, diletakkan dua buah di hadapan kedua mempelai
4. minyak likat baboreh (minyak olahan khas Banjar)
5. sasanggan (sejenis baskom dari kuningan)
6. tapih balipat (sarung yang ditumpuk dengan bentuk khusus untuk tempat duduk mempelai)
7. kasai kuning (bedak yang dicampur dengan kunyit dan air)
8. piduduk
9. cermin dan lilin

Tata cara upacara badudus:
1. kedua mempelai duduk di atas sasanggan yang dibalik dekat dengan piduduk
2. seluruh badan diolesi/dipercik-percikkan minyak likat baboreh
3. kemudian mulai dimandikan dengan air yang ada di dalam tajau yang sudah dimasukkan mayang pinang didalamnya oleh sesepuh yang ditugaskan untuk memandikan.
4. pada curahan air terakhir, dicurahkanlah “banyu bagantung” (air dari kelapa muda) kepada kedua mempelai
5. setelah selesai mandi, kedua mempelai didudukkan pada tapih balipat
6. telapak kaki kedua mempelai diberi coretan cacak burung (+) dengan kunyit dicampur kapur tujuannya agar tidak diganggu roh/makhluk halus
7. setelah itu masih di posisi duduk di atas tapih balipat, kedua mempelai dikelilingi lilin dan cermin sebanyak 3 kali
8.terakhir kedua mempelai diolesi kasai kuning dengan tujuan kedua mempelai terlihat kuning berseri, biasanya akan hilang dalam waktu tiga hari.

Dalam upacara badudus yang pernah dilakukan oleh Sultan Banjar H. Khairul Saleh, sumber air diambil dari 7 tempat bersejarah di Kalimantan Selatan.

Demikian sekilas upacara badudus untuk memandikan keluarga kerajaan dalam adat Banjar.

(sumber Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H. Syarifuddin R)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

Posted in Adat Istiadat | 3 Comments »

Bamandi-mandi Pengantin (Bapapai)

Posted by Anak Sultan pada April 9, 2013

Sebelum acara perkawinan adat Banjar dilaksanakan ada satu adat yang sering dilakukan
oleh calon pengantin, yaitu upacara bamandi-mandi, yang dinamai bapapai atau badudus.

Bapapai atau badudus, memiliki kesamaan dalam fungsinya, hanya penempatannya yang berbeda.
Badudus adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh keluarga kerajaan atau keturunan bangsawan atau yang ada hubungannya dengan keluarga candi (tutus candi). Bapapai adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh orang Banjar pada umumnya.

Kata “papai” dalam bahasa Indonesia berarti “percik”, dalam praktiknya bapapai seperti memercik-mercikkan air memakai mayang pinang kepada calon mempelai yang sedang dimandi-mandi.

Alat kelengkapan dalam bapapai ini antara lain,
1. tempat air (gayung/ember)
2. kembang (bunga-bunga harum)
3. mayang pinang
4. daun tulak yang dicampur air
5. piduduk yang berisi beras, gula, kelapa ada juga yang memuat cingkaruk (kue dari kelapa), nasi kuning, dan nasi lamak.

Orang yang bertugas memandikan atau memapai biasanya perempuan lanjut usianya yang merupakan tetua/sesepuh dalam keluarga. Ada juga satu tradisi untuk sumber air dalam bapapai diambil dari “ulak” atau pusaran air pada sungai besar, karena ada kepercayaan bahwa ada naga yang ditinggal diulakan tersebut sehingga air ulakan dimaksudkan supaya jangan kena pengaruh buruk dari naga itu.

Tata cara dalam bapapai menurut adat kawin:
1. calon pengantin pria diarak ke tempat calon pengantin wanita pada malam menjelang hari perkawinan
2. pengantin didudukkan berdampingan di serambi rumah atau di bagian belakang rumah
3. kemudian dimandikan dengan cara memercikkan air papaian oleh sesepuh wanita
4. jumlah memandikan selalu ganjil ada 3, 5, atau 7 secara bergantian.
5. setelah habis mandi, pengantin pria dan wanita disisiri, diminyaki, dan sebagainya
6. kemudian didudukkan berdampingan (batatai) dikelilingi oleh cermin dan lilin.
7. cermin dan lilin dikelilingkan kepada mempelai sebanyak 3 kali oleh wanita yang memandikan tadi.
8. setelah selesai calon pengantin pria kembali ke rumahnya

Demikian sekilas mengenai adat pengantin mandi-mandi atau bapapai
(sumber Datu Mangku Adat Kesultanan Banjar H. Syarifuddin R)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

Posted in Adat Istiadat | Leave a Comment »

Tidak Perlu Ada Huruf ‘k’ itu

Posted by Anak Sultan pada November 2, 2012

Tidak perlu huruf ‘k’  pada akhiran beberapa kata bahasa Banjar

ini adalah pendapat ulun pribadi, tidak ada dasar teorinya ataupun referensi kamus bahasa dari para pakar bahasa Banjar, atau sudah pernah ada yang membahas ini sebelumnya.

menyikapi bahasa tulis dari urang Banjar yang ada di beberapa forum internet, ulun pribadi sering merasa geli apabila melihat bahasa tulis ini.

contohnya adalah ditulisnya huruf ‘k’ pada akhir beberapa kata bahasa Banjar, misal:

kadak  = kada
kawak  = kawa
kaluak = kalua
pinanduk = pinandu
bagawik = bagawi

kita urang Banjar bukan seperti beberapa suku di Indonesia yang tidak bisa mengucapkan huruf ‘k’ pada akhiran kata. misal suku Jawa mengucapkan “bak mandi” akan menjadi “ba’ mandi”

kita urang Banjar mengucapkan “bak mandi” juga tetap “bak mandi”, sehingga disinilah letak kelucuan bagi saya pribadi apabila membaca kata seperti “kadak, kawak, dan sejenisnya” sebab ulun akan tetap membacanya sebagai “kadak” atau “kawak” dan di daerah Banjarmasin sini seingat umur ulun belum pernah mendengar kawan sekampung berbahasa lisan seperti itu.

kalo sekilas terdengar saat urang Banjar mengucapkan “kada” seperti “kada’ ” mungkin itu sebabnya orang beranggapan bahwa apabila dijadikan bahasa tulis menjadi “kadak”. Tapi dalam pikiran ulun tidak pernah terpikirkan adanya huruf “k” atau tanda ” ‘ ” itu dalam penulisannya.

sebabnya ya itu tadi, kita urang Banjar lidahnya mampu mengucapkan huruf ‘k’ pada akhir kata sehingga apabila ada huruf itu maka penyebutannya pun akan menjadi seperti itu.

sekarang kita uji konsistensi tulisan kata dalam bahasa Banjar apabila kita tetap menuliskan huruf ‘k’ ini pada beberapa kata, contoh :

‘kujuk-kujuk’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi kuju-kuju
‘juluk’ apakah kita akan akan menyebutkannya menjadi julu
‘santuk’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi santu
‘rancak’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi ranca
‘dangsanak’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi dangsana
‘handak’ apakah kita akan menyebutkannya menjadi handa

dan masih banyak contoh lainnya, sehingga dirasa tidak konsisten apabila kata “kada” atau “kawa” dituliskan “kadak” atau “kawak” dibaca menjadi “kada” atau “kawa”.

jadi menurut ulun dalam kata bahasa Banjar apa yang ditulis sama dengan yang diucapkan.

demikian sekilas pendapat ulun untuk gambaran bagi kawan-kawan yang memakai huruf ‘k’ itu dalam penulisan bahasa Banjar semoga bisa ikut merenunginya.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

Posted in Bahasa Banjar | 6 Comments »

Daulat Tuan ku

Posted by Anak Sultan pada September 1, 2010

Mulai hari ini ulun umumkan bahwa tulisan berikutnya bisa diakses ke alamat baru :

KERAJAANBANJAR.COM

blog wordpress ini akan  tetap jadi arsip untuk artikel yang sudah ada sebelumnya. di situs yang baru kami usahakan lebih teratur dan lengkap dalam menanggapi komentar dari dangsanak semuaan. salam urang Banjar.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Posted in Tak Berkategori | 10 Comments »

Surat Wasiat Sultan Adam Untuk Pangeran Hidayatullah

Posted by Anak Sultan pada Februari 13, 2008

surat-wasiat.jpg

Naskah Asli tersimpan baik oleh Ratu Yus Roostianah Keturunan garis ke-3 / cicit dari Pangeran Hidayatullah

Surat diatas merupakan tulisan tangan dalam huruf arab berbahasa Melayu Banjar.

Terjemahan :

Bismillahirrahmannirrohim

Asyhadualla ilaha ilalloh naik saksi aku tiada Tuhan lain yang di sembah dengan se-benar2nya hanya Allah

Wa asyhaduanna Muhammadarasululloh naik saksi aku Nabi Muhammad itu se-benar2nya pesuruh Allah Ta’ala

Dan kemudian dari pada itu aku menyaksikan kepada dua orang baik2 yang memegang hukum agama Islam yang pertama Mufti Haji Jamaludin yang kedua pengulu Haji Mahmut serta aku adalah didalam tetap ibadahku dan sempurna ingatanku.

Maka adalah aku memberi kepada cucuku Andarun bernama Pangeran Hidayatullah suatu desa namanya Riyam Kanan maka adalah perwatasan tersebut dibawah ini ;

Mulai di Muha Bincau terus di Teluk Sanggar dan Pamandian Walanda dan Jawa dan terus di Gunung Rungging terus di Gunung Kupang terus di Gunung Rundan dan terus di Kepalamandin dan Padang Basar terus di Pasiraman Gunung Pamaton terus di Gunung Damar terus di Junggur dari Junggur terus di Kala’an terus di Gunung Hakung dari Hakung terus di Gunung Baratus, itulah perwatasan yang didarat.

Adapun perwatasan yang di pinggir sungai besar maka adalah yang tersebut dibawah ini;

Mulai di Teluk Simarak terus diseberang Pakan Jati terus seberang Lok Tunggul terus Seberang Danau Salak naik kedaratnya Batu Tiris terus Abirau terus di Padang Kancur dan Mandiwarah menyebelah Gunung Tunggul Buta terus kepada pahalatan Riyam Kanan dan Riyam Kiwa dan Pahalatan Riyam Kanan dengan tamunih yaitu Kusan.

Kemudian aku memberi Keris namanya Abu Gagang kepada cucuku.

Kemudian lagi aku memberi pula suatu desa namanya Margasari dan Muhara Marampiyau dan terus di Pabaungan kaulunya Muhara Papandayan terus kepada desa Batang Kulur dan desa Balimau dan desa Rantau dan desa Banua Padang terus kaulunya Banua Tapin.

Demikianlah yang berikan kepada cucuku adanya.

Syahdan maka adalah pemberianku yang tersebut didalam ini surat kepada cucuku andarun Hidayatullah hingga turun temurun anak cucunya cucuku andarun Hidayatullah serta barang siapa ada yang maharu biru maka yaitu aku tiada ridho dunia akhirat.

Kemudian aku memberi tahu kepada sekalian anak cucuku dan sekalian Raja-raja yang lain dan sekalian hamba rakyatku semuanya mesti me-Rajakan kepada cucuku andarun Hidayatullah ini buat ganti anakku Abdur Rahman adanya.

Tertulis kepada hari Isnain tanggal 12 bulan Shofar 1259

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 102 Comments »

Dundam

Posted by Anak Sultan pada Februari 12, 2008

Tulisan mengenai mengenai kesenian Dundam ini sangat sedikit saya jumpai, sehingga pada tulisan kali ini hanya sekadar mengenalkan kepada urang Banjar bahwa ada kesenian khas Banjar yang bernama Dundam.

Kesenian Dundam atau dalam kata kerjanya Badundam, diyakini merupakan turunan dari kesenian Lamut. Dundam sudah ada sejak ± 1500 M dalam bentuk sastra lisan, setelah Islam masuk di Kalimantan Selatan, kesenian ini diiringi dengan alat musik tarbang . Dundam diperkirakan berasal dari kata “Memundang” atau “Mengundang” (tokoh-tokoh alam gaib). (Ian Emti, Dundam Sastra Lisan Kalimantan Selatan. 1991)

Diperkirakan perkembangan kesenian ini berada pada daerah pedesaan di sepanjang sungai. Satu-satunya tempat yang masih ada kesenian ini adalah di Desa Lok Baintan (Kecamatan Sungai Tabuk) dan Pundun Daun (Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar)

Tata cara penyajian diperkirakan sebagai berikut:

1. Pendundam duduk dengan perapian kemenyan yang harus tetap membara dan berasap.
2. Sebelum cerita dimulai pendundam mengundan tokoh-tokoh alam gaib dengan disertai suguhan 40 macam kue khas Banjar.
3. Semua proses dilakukan dalam keremangan gelap malam (tanpa penerangan lampu)

Setelah penyajian awal selesai maka mulailah pendundam mengumandangkan dundam. Cerita yang didundamkan biasa merupakan cerita kerajaan antah berantah dengan berbagai  macam tokoh fiksinya. Cerita tidak pernah dirancang terlebih dahulu tapi mengalir sesuai inspirasi yang datang saat mendundam. Perbedaan antara Lamut dengan Dundam adalah pada Lamut, Palamutan menceritakan tentang Paman Lamut (tokoh utama cerita) sedangkan pada Dundam, Pendundam sendiri yang berfungsi sebagai tokoh utama cerita (first point of view).

Waktu penyajian Dundam biasanya dimulai pukul 20.00 atau 21.00 dan berakhir saat menjelang subuh. Dialog yang disampaikan dalam bahasa Banjar diselingi bahasa Indonesia atau Jawa kuno seperti dalam wayang.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Kesenian | 12 Comments »

Obat Semangat Yang Mulai Kendur

Posted by Anak Sultan pada Februari 11, 2008

Bangun pagi hari minggu tadi, tanggal 10 Februari 2008, seperti biasa saya membaca koran pagi, alangkah terkejutnya saat saya membaca pada salah satu kolomnya ada blog yang telah saya tulis selama beberapa bulan ini.

Dengan dag dig dug membaca karena masih terkejut, saya menemukan sebuah tulisan yang sangat berarti,  ditulisan itu membahas secara khusus mengenai blog kerajaan banjar virtual ini.

Sungguh suatu kebanggaan apabila ada orang di luar sana yang begitu memberi perhatian dan mau meluangkan waktunya untuk memberikan ulasan mengenai blog yang sederhana ini.

Manusia Super begitu dia mengenalkan dirinya, seperti iman manusia yang bisa naik turun, apalagi dengan semangat menulis, tulisan itu menjadi obat bagi semangat saya.

Sungguh suatu obat yang sangat mujarab bagi saya untuk memulai menulis di dalam blog ini lagi, ditengah kesibukan kerja wajib sehari-hari yang tiada pernah habis. TERIMA KASIH untuk manusia super yang telah memberikan salah satu hasil karya tulisnya untuk menulis mengenai blog ini. Mudahan suatu saat bisa bertemu.

Saat semangat menulis mulai kendur, ada obat mujarab yang mengisi kembali energi kerajaan banjar virtual ini, mengisi kembali balairung pertemuan para menteri yang sering kosong, mengisi kembali perpustakaan kerajaan yang mulai berdebu, mengisi kembali halaman istana dan pasar-pasar kerajaan yang mulai sepi pengunjung, mangkubumi, hulubalang dan panglima mulai berdatangan, anak sultan pun berseru sekali lagi : AHUIII  KADA ULUN BIARAKAN BUDAYA BANJAR HILANG DI DUNIA !!!

Posted in Sekapur Sirih | 13 Comments »

Sekilas Riwayat Hidup Pangeran Hidayatullah

Posted by Anak Sultan pada Februari 11, 2008

hidayat.jpg

Tulisan merupakan kiriman dari Keturunan Pangeran Hidayatullah di Cianjur

Foto dari halaman pertama buku “De Bandjermasinsche Krijg” van 1859-1863 Karangan W.A. van REES dengan tulisan dibawahnya “De Hoofdopstandeling” (“Kepala Pemberontak”).

Sekilas tentang Sultan Hidayatullah Al-watsiq billah dalam Perang Banjar.

Pangeran Hidayatullah diangkat menjadi Sultan Banjar berdasarkan Surat Wasiat Kakek beliau Sultan Adam. Pengangkatan ini dilakukan karena ayah Pangeran Hidayatullah, Sultan Muda Abdurrahman wafat.

Lahir di Martapura pada tahun 1822 M, di-didik secara Islami dipesantren Dalam Pagar Kalampayan ( Didirikan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari, salah seorang tokoh Agama Islam di Nusantara ) sehingga memiliki ilimu kepemimpinan serta keagamaan yang cukup tinggi untuk kemudian dipersiapkan menjadi Sultan.

Sebelum menjadi Sultan sempat menduduki jabatan sebagai Mangkubumi kesultanan pada tahun 1855 M. Pada saat itu jabatan Mangkubumi diangkat oleh Kolonial Belanda dengan persetujuan Sultan Adam. Dengan menduduki jabatan tersebut maka Pangeran Hidayatullah bisa lebih memahami & menyelami kondisi Kesultanan maupun rakyat Banjar, serta mengetahui kekuatan dan kelemahan kolonial Belanda (spionase), hal tersebut sangat berguna untuk persiapan perang.

Akibat campur tangan berulang-ulang pihak Belanda dalam pemerintahan Kesultanan, pemaksaan monopoli perdagangan, konsesi-konsesi pertambangan yang sepihak, serta kuatnya misi kaum nasrani ( Zending ) yang masuk kedalam benua banjar dengan dukungan tentara Hindia Belanda, maka mengakibatkan kebencian rakyat yang sangat mendalam. Perselisihan-persilisihan itu telah sangat lama terjadi, semenjak Kesultanan dipimpin oleh Sultan Suriansyah (~ 1600 M). Kebencian yang tak dapat lagi didiamkan, harus di tuntaskan, Sultan dan Rakyat bersatu untuk mengadakan perang Jihad Fisabilillah.

Sebelum dan ketika perang Sultan mengangkat beberapa Panglima perang karena luasnya areal medan pertempuran. Dari sebelah barat, Kesultanan Sambas, Sampit, Sangau, Kotawaringin, Pagatan bahkan jauh ke timur Kesultanan Pasir maupun Kesultanan Kutai dll. Dipersiapkan oleh Pangeran Hidayatullah sebagai areal perang maupun penyokong Perang Banjar .

Beberapa kutipan dari buku-buku karya Hindia Belanda.

Hidayat telah merencanakan dan mempersiapkan pemberontakan yang kemudian akan meluas diseluruh kerajaan “.

….. Loera housin telah menerima dari Hidayat batu permata untuk menghasut penduduk daerah itu melawan gubernemen “.

“ ….. Hidayat sebulan yang lalu berada di gunung Batu Tiris telah mengadakan rapat akbar yang dihadiri para kepala “.

“ ….. seorang bernama Doelmatalip di Nagara telah menerima sepucuk surat dari Hidayat guna memanggil rakyat untuk melakukan perang Sabil “. (De Bandjermasinsche Krijg hal 14,20,31 & 71)

Pengangkatan salah satu pimpinan perangnya seperti berikut ;

“ Surat Seruan Pangeran Hidajatoellah ;

Dengan ini saya menganugrahkan kepada seorang rakyat bernama Gamar gelar Tumenggung Cakra Yuda dan dengan ini pula memperkenankan kepadanya melakukan Perang Sabilullah untuk menegakkan kejayaan agama dan ajaran Nabi Muhammad Rasululloh SAW.

Selanjutnya saya memaklumkan, bahwa pengangkatan ini tidak dapat diubah lagi, sehingga dengan demikian Tuan dapat mengadakan musyawarah atau persetujuan dengan Mufti Muhammad Cholid (mufti gubernemen ), Mufti Abdul Jalil, Pangulu Machmud ( pengulu gubernemen Martapura ), Tuan Chalifah Idjra-ie ( bertugas melakukan penyumpahan para saksi di Mahkamah Militer di Martapura ), semua haji yang di Dalam Pagar ( tempat tinggal para ulama ) dan yang ada di mana-mana dan semua kepala didalam perang ini disamping semua penduduk kampung, baik lelaki maupun perempuan, yang masih terikat kepada Al Khaliq dan Rasulnya.

Bilamana ada diantara mereka yang tidak memperhatikan atau ada yang menentang peraturan yang telah saya keluarkan, maka saya memperkenankan kepada Tuan untuk menghukumnya sampai mati dengan jalan dipancung kepalanya dan menghancurkan harta bendanya.

Dalam hal Tuan tidak melaksanakan kemauan saya ini dengan seksama dan tidak memperhatikan semua perintah yang telah saya keluarkan dengan persetujuan orang tua saya , maka Tuan dan seluruh keturunan Tuan selama lamanya akan terkutuk.

Saya memohon semoga Yang Maha Kuasa akan memperkenankan harapan saya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan dari Dayak Dari, Dayak Dusun (Tanah Dusun) dan Dayak Biajau menyerang dan menghancurkan Martapura. Oleh karena yang disebut diatas masih orang kafir (belum Islam) maka akan merupakan suatu kebajikan apabila mereka ikut menghancurkan musuh-musuh Nabi .

Surat ditulis Pangeran Hidajatoellah tanggal 22 Jumadil Awal 1277 / 10 Desember 1860 ditandatanganinya dan juga oleh Pangeran Wira Kusumah (masing-masing cap dan Pangeran Hidajatoellah dengan cap Sulthan).

Surat itu diperlihatkan oleh Gamar kepada Resident ketika ia ditangkap oleh Belanda. (De Bandjarmasinsche Krijg halaman 162 & 163) ”.

Setelah Pengangkatan-pengangkatan dan persiapan-persiapan yang matang maka dikobarkanlah Perang Banjar pada tanggal 28 April 1859 dengan semboyan Beatip Beamal Fisabilillah secara serempak.

Jalannya peperangan terekam dalam beberapa tulisan berikut;

“ Sambil bertandak dan berdoa mereka menerobos sampai 10 langkah dari carre` ( formasi tempur berbentuk persegi empat ); meriam houwitser diisi lagi. “Tembak !!” , kedengaran dari mulut komandan, akan tetapi baik pipa houwitser maupun beberapa bedil macet. Beberapa orang musuh sekarang datang melalui houwitser masuk kedalam carre’: dengan pemimpinnya yang berpakaian kuning di muka sekali. Kopral Smit mendapat tusukan tombak pada saat akan memasang lagi isian bedil; van Halderen mendapat dua sabetan klewang yang mematikan pada saat akan memasang lagi pipa yang baru. Pistol kepunyaan van der Heijden juga macet, ketika ia akan menembak kepala penyerbu itu. Kepala yang gagah berani ini telah menerjangnya dan akan menekankan ujung tombak ke dadanya. Koch segera melompat, menangkis dengan pedang tusukan itu, akan tetapi ia sendiri terpanggang tusukan tombak dan keris, dan jatuh tersungkur”. (De Bandjermasinsche Krijg hal. 205)

“ Tentara (Hindia Belanda) telah mempertahankan kehormatan namanya, banyak perwira dan prajurit telah menunjukan keluarbiasaanya, banyak yang mengucurkan darahnya, banyak yang mengorbankan nyawanya.

Celakanya, terlalu sering !

Barisan menjadi tipis, rumah-rumah sakit dan kapal-kapal pengangkut diisi penuh prajurit yang kelelahan karena perang.

Terlalu sering kita ini wajib mengganti pasukan, dan menggantikannya dengan yang baru, yang didatangkan dari Jawa; bahkan demikian seringnya, sehingga kita dalam melukiskan jalannya peperangan segera berhenti memuat semua mutasi !!!”. (De Bandjermasinsche Krijg hal. 395 )

Perang yang tidak berkesudahan, kekalahan yang terus menerus, kematian prajurit maupun pimpinan tentara Hindia Belanda yang tiada henti, sungguh membuat bingung, lelah dan frustasi, sehingga dipersiapkanlah cara-cara yang sangat keji dan licik. Sebuah tipu muslihat yang sangat tidak pantas dipersiapkan untuk memperoleh suatu kemenangan dalam peperangan.

Penipuan itu dimulai dengan ditangkapnya Ratu Siti , Ibunda Sultan Hidayatullah, kemudian Pihak Belanda menulis surat atas nama Ratu Siti kepada Sultan, agar mengunjungi beliau sebelum dihukum gantung oleh Pihak Belanda. Surat tersebut tertera cap Ratu Siti…, padahal semua itu hanya rekayasa & tipuan tanpa pernah Ratu Siti membuat surat tersebut. Ketika bertemu dengan Ibunda Ratu Siti ditangkaplah Sultan Hidayatullah dan diasingkan ke Cianjur. Penangkapannya dilukiskan pihak belanda :

“ Pada tanggal 3 Maret 1862 diberangkatkan ke Pulau Jawa dengan kapal perang ‘Sri Baginda Maharaja Bali’ seorang Raja dalam keadaan sial yang dirasakannya menghujat dalam, menusuk kalbu karena terjerat tipu daya. Seorang Raja yang pantas dikasihani daripada dibenci dan dibalas dendam, karena dia telah terperosok menjadi korban fitnah dan kelicikan yang keji setelah selama tiga tahun menentang kekuasaan kita (Hindia Belanda) dengan perang yang berkat kewibawaanya berlangsung gigih, tegar dan dahsyat mengerikan. Dialah Mangkubumi Kesultanan Banjarmasin yang oleh rakyat dalam keadaan huru-hara dinobatkan menjadi Raja Kesultanan yang sekarang telah dihapuskan (oleh kerajaan Hindia Belanda), bahkan dia sendiri dinyatakan sebagai seorang buronan dengan harga f 1000,- diatas kepalanya.

Hanya karena keberanian, keuletan angkatan darat dan laut (Hindia Belanda) dia berhasil dipojokan dan terpaksa tunduk.

Itulah dia yang namanya :

Pangeran Hidajat Oellah

Anak resmi Sultan muda Abdul Rachman dst, dst, dst….. “.

( Buku Expedities tegen de versteking van Pangeran Antasarie, gelegen aan de Montallatrivier. Karya J.M.C.E. Le Rutte halaman 10).

Dengan penangkapan Sultan ini maka berakhirlah peperangan besar yang terjadi, peperangan yang terjadi berikutnya dilukiskan oleh tentara Hindia Belanda sebagai pemberontakan-pemberontakan kecil.

“Dengan Hidayat, pengganti sah dari Sultan Adam, rakyat yang memberontak itu kehilangan tonggak penunjangnya; dengan Hidayat, pemimpin Agama, para pemimpin agama kehilangan senjata yang paling ampuh untuk menghasut rakyat; oleh kepergian Hidayat, hilanglah semua khayalan untuk memulihkan kembali kebesaran dan kekuasaan Kerajaan Banjar, dengan kepergian Hidayat maka pemberontakan memasuki tahap terakhir” (De Bandjermasinsche krijg hal. 280)

“Dengan Hidayat hilanglah semua khayalan, hasrat suci yang berlebihan, pendorong semangat dan penyebab dari perang ini”(De Bandjermasinsche Krijg hal. 342)

Selesai

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 81 Comments »

Ayo Dukung Karya Urang Banjar !

Posted by Anak Sultan pada Oktober 21, 2007

Bagi yang mengikuti acara Eagle Award di Metro TV, ada satu video dokumenter finalis yang berasal dari Kalimantan Selatan. Video itu berjudul “Setangkup Asa Dibalik Kemilau Intan” yang mengangkat tema kehidupan para pendulang intan di daerah Cempaka, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Video yang membanggakan ini adalah hasil karya Zuraida Hamid urang Banjar kelahiran Banjarmasin dengan temannya Iwan Ahmad.

Di akhir acara ada pemberitahuan oleh pembawa acaranya, kalau ingin menjadikan video ini menjadi video favorit maka ketik EA (spasi) INTAN kirim sms ke 3944. Untuk itu bagi teman-teman urang Banjar yang ingin menjadikan film intan ini mendapat tempat favorit sudi kiranya memberikan sedikit dukungan agar film yang mengangkat tema daerah dan adat Banjar dalam mendulang ini menjadi film yang ditengok oleh orang banyak pada malam penganugerahan hadiah nanti.

Promosi ini bersifat sukarela, sebab saya pun tidak pernah mengenal pembuat film ini. Tetapi sebagai sesama urang Banjar yang sama-sama ingin mengangkat nama daerah maka tergerak untuk mendukung dengan cara semampunya.

Jadwal tayang film dokumenter Setangkup Asa Dibalik Kemilau Intan :
Tayang Perdana : 18 Oktober 2007 , Pkl : 19.35 – 20.00
Replay : 19 Oktober 2007, Pkl: 16.05 s/ 16.30
25 Oktober 2007, Pkl: 11.05 s/ 11.30

Eagle Award memberikan penghargaan pada 3 kategori, Pembuat Film Terbaik, Pembuat Film dengan Ide Cerita Terbaik, Pembuat Film Favorit Pemirsa.

Mudah-mudahan dengan dukungan kita, film Intan ini bisa mendapat salah satu award yang diperebutkan dan kisah di dalamnya bisa membuat orang di luar daerah menengok lebih dalam mengenai kebudayaan urang Banjar.

Jangan Kada Ingat Dukung Filim Favorit Ketik : EA (spasi) INTAN Kirim ke 3944.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang Di Dunia !

Posted in Sekapur Sirih | 6 Comments »

Balai Amas dan Batu Beranak

Posted by Anak Sultan pada Oktober 19, 2007

Cerita ini oleh-oleh dari pulang kampung tempat mertua di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Asal mula cerita Balai Amas (Balai Emas) dan Batu Beranak ini merupakan sebuah tempat berdirinya pohon Ulin yang sangat besar.

Balai Emas dan Batu Beranak

Dahulu kala, disebuah pohon Ulin yang sangat besar ini hidup seekor burung Garuda yang setiap waktu kerjaannya memakan anak bayi yang masih di dalam ayunan. Karena semakin lama semakin meresahkan, para penduduk kampung bersepakat untuk memikirkan cara bagaimana menyingkirkan burung Garuda tersebut. Pohon Ulin itu mempunyai diameter kira-kira sama besarnya dengan rumah tipe 36. (Gambar bangunan di atas mencerminkan besarnya ukuran pohon kayu ulin tersebut.)

Berbagai macam peralatan dicobakan untuk menebang pohon ulin tersebut tetapi tidak satupun yang mampu menggores batang kayunya. Akhirnya ada seorang tetuha kampung setempat mencoba menumbangkan pohon tersebut dengan sebilah pisau. Dikorek perlahan-lahan akar pohon ulin tersebut dengan hanya menggunakan sebilah pisau kecil tidak disangka-sangka pohon Ulin raksasa inipun roboh bersama burung Garuda di atasnya. Konon, saking tinggi dan besarnya pohon Ulin ini pucuknya sampai roboh ke daerah Marabahan, Barito Kuala (± 50 km dari Banjarmasin, ± 200 km dari Kandangan), sehingga nama daerah itu disebut Marabahan yang berarti tempat rabah (roboh) pohon Ulin tadi.

Setelah keadaan aman, bekas tumbuh pohon Ulin tadi dibuat sebuah balai (ada gambarnya). Di balai inilah sejak dulu diadakan berbagai macam selamatan dan acara adat setiap tahunnya. Menurut informasi pada malam ahad ini tanggal 20 Oktober 2007 akan diadakan upacara Manaradak di balai tersebut, sebagai tanda awal menanam padi.

Di kampung ini juga ada dua buah tempat yang diyakini penduduk memiliki kesaktian, yaitu Batu Beranak. Tempat batu beranak ini asalnya tidak ada apa-apa, tiba-tiba bermunculan batu-batu memenuhi tempat tersebut sehingga oleh penduduk setempat diberi gelar Batu Beranak. Konon, ukuran batu yang ada disini bisa tumbuh berkembang sampai akhirnya melahirkan batu kecil di sekelilingnya, begitu seterusnya seperti siklus hidup manusia.

Pernah ada yang iseng-iseng mencoba mengukur batu tersebut, setiap hari Jumat batu yang sama diukur dan menurut keterangan para saksi batu yang diukur tersebut memang terus bertambah ukurannya. Pernah juga ada orang yang mengambil untuk dibawa pulang ternyata beberapa hari kemudian batunya hilang setelah diperiksa batu yang sama kembali ke tempatnya semula.

Demikian sekilas oleh-oleh cerita dari kampung dan memperkenalkan tempat yang diyakini masyarakat setempat sebagai tempat berkeramat sebagai bagian dari kekayaan budaya Banjar.

Bagi yang penasaran, silakan untuk mengunjungi dua tempat tersebut. Pisau yang digunakan untuk merobohkan pohon Ulin tadi masih disimpan secara turun temurun oleh penduduk kampung, bila berkunjung ke sana bisa mencari informasi lebih lanjut. Untuk sementara diberi photonya dulu.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Cerita Rakyat Kalsel | 70 Comments »

Terima Kasih, Dangsanak Samuaan

Posted by Anak Sultan pada September 12, 2007

Lawas jua ulun kada manulis di sini, maaf, karena kesibukan pekerjaan yang sering keluar kota. Tetapi semua komentar pasti ulun baca. Mengenai tidak ada komentar balasan, itu dikarenakan betapa bangga dan terharunya ulun melihat tanggapan dari pian samuaan, sampai ulun takutan salah memberi balasan komentar.  itulah sebabnya beberapa bulan ini komentar tanpa ada yang menanggapi.

Setelah kita baca-baca, banyak banar kulaan kita nang masuk, mulai nang badiam di banua Banjar sampai ke negeri seberang, semuanya sangat menghargai usaha kita ini. Semangat ulun semakin meninggi dan terpacu.

Ke depannya mudah-mudahan kita bisa lebih mengembangkan budaya Banjar, meskipun awalnya hanya dari tulisan di dalam blog ini. Setiap usaha yang ada untuk memajukan budaya Banjar kita sambut dan junjung. Bagi dangsanak nang baisi kemampuan lebih, bisa  mengembangkan budaya Banjar lebih daripada sekadar tulisan. Mudah-mudahan.

Ada beberapa event budaya Banjar penting yang terlewatkan untuk dimuat dalam blog ini, misalnya festival tari, pemilihan nanang galuh, penganugerahan gelar adat Banjar, festival wayang gung, dan lain sebagainya. Hal ini karena ketidakmampuan ulun dalam menyajikan informasinya ke dalam blog ini. Untuk itu mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Masih banyak informasi mengenai pelestarian budaya Banjar yang ada di pikiran yang ingin dicurahkan melalui blog ini, semoga ada waktu dan kesempatan untuk menyajikannya.

Terima kasih, kulaan sabarataan !

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!!

Posted in Sekapur Sirih | 19 Comments »

Ibarat Bajalan Kada Bagalumbang Banyu

Posted by Anak Sultan pada Mei 1, 2007

“Ibarat Bajalan Kada Bagalumbang Banyu”

ibarat = umpama
bajalan = berjalan
kada = tidak
bagalumbang = bergelombang/ombak besar
banyu = air

” umpama berjalan di atas air, tidak sampai menimbulkan gelombang/ombak besar “

Makna ungkapan:

Di dalam interaksi sosial sehari-hari janganlah sampai menyinggung atau menyakiti hati orang sekitar yang bisa berakibat ketidakharmonisan hidup.

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk bergaul dengan manusia lainnya sebagai mahluk sosial. Dalam pergaulan itu akan banyak ucapan dan perbuatan yang dilakukan atau bisa juga ekspresi wajah yang ditampilkan. Meskipun demikian hendaknya segala kelakuan itu dijaga dan diukur sesuai keadaan. Intinya segala tingkah laku harus bisa dikendalikan.

Ungkapan tradisional Banjar ini diberikan untuk tujuan mendidik masyarakat dalam menjalani pergaulan sehari-hari. Diibaratkan sebuah lapisan air yang tenang, kemudian manusia menjalani air tersebut dalam kehidupannya, tingkah laku manusia tidak sampai menimbulkan ombak besar yang akhirnya merusak ketenangan lapisan air sebagai lambang lingkungan sekitar.

Saat berhati-hati melintasi lapisan air, memang akan selalu ada riak-riak kecil, riak kecil ini diumpamakan perbedaan pendapat yang sering terjadi. Tetapi segala perbedaan itu tidak boleh sampai menimbulkan ombak besar atau permusuhan.

Orang Banjar dahulu sering menanamkan sifat untuk menghargai pendapat orang lain, tidak boleh pendapat orang lain dikatakan tidak bermutu atau mendiskreditkan prestasi orang lain. Semua itu hanya akan menimbulkan ketidaktentraman dalam hidup. Ungkapan ini merupakan salah satu warisan budaya Banjar dalam mengatur tata kelakukan bermasyarakat.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Bahasa Banjar | 13 Comments »

Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Banjar 2007

Posted by Anak Sultan pada April 29, 2007

Dalam dokumentasi budaya Banjar memang ditemukan sedikit mengenai sastra tertulis dalam bahasa Banjar. Entah mengapa pendokumentasian karya-karya dalam bahasa Banjar agak sulit untuk dikumpulkan. Sebagai upaya untuk memperkaya dan pelestarian budaya serta meningkatkan apresiasi tentang bahasa Banjar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalsel, melalui Sub Din Bina Kesenian mengadakan Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Banjar 2007.

Menurut Kasubdin Bina Kesenian Disbudpar Kalsel, Drs. H. Syarifuddin R, lomba ini bertujuan memberikan motivasi kepada masyarakat menuangkan kemampuannya berbahasa Banjar. (Banjarmasin Post, 27/04/2007). Peserta lomba terbuka bagi siapa saja dan dimana saja.

Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya kepada panitia. Karya yang dilombakan paling lambat diterima panitia pada tanggal 31 Mei mendatang. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 18 Juni 2007.

Khusus dewan juri, terdiri dari seniman sastra Banjar, Lembaga Budaya Banjar, serta praktisi atau budayawan Banjar. Juara akan mendapat tanda kasih berupa uang tunai, tropi, dan piagam penghargaan.

Syarat Cerpen yang dilombakan:

  • Berbahasa Banjar
  • Tema bebas, tidak bertentangan hukum
  • Jumlah karakter antara 4000 – 8000 karakter
  • Minimal 5 halaman dan maksimal 8 halaman folio
  • Diketik 1,5 spasi
  • Belum pernah dipublikasikan di media mana pun
  • Bukan terjemahan

Penilaian:

  • Orisinalitas ide
  • Nilai sosial budaya lokal
  • Teknik bercerita
  • Bahasa jelas, makna dan penulisan mudah ditangkap pembaca
  • Memakai bahasa Banjar Hulu dan Kuala yang tepat dan baik.

Kelengkapan Peserta Menyertakan:

  • Nama dan alamat lengkap
  • Photocopy kartu pengenal yang masih berlaku
  • Nomor telepon atau handphone yang bisa dihubungi

Alamat Panitia Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Banjar 2007 : Taman Budaya Propinsi Kalsel, Jl.Brigjen Hassan Basry No.2/43 Kayutangi Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70123. Telpon 3304735.

Bagi yang belum jelas, ingin mengetahui informasi lebih lengkap bisa kirimkan pertanyaan melalui kolom komentar di bawah postingan ini. Pertanyaan kalian akan langsung disampaikan ke Bapak Drs.H. Syarifuddin R. Jawabannya akan dibalas langsung di kolom komentar juga.

Ayo bagi para penulis di seluruh jagad yang jago membuat cerpen, tunjukkan kehebatan kalian dalam lomba menulis cerpen bahasa Banjar. Rugi lamunnya kada umpat. Ingat batasnya 31 Mei 2007

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Event Budaya | 5 Comments »

Anak Sultan Kawin

Posted by Anak Sultan pada April 27, 2007

Berikut sedikit dokumentasi dari walimah perkawinan Anak Sultan, ditujukan untuk seluruh teman-teman dan senior-senior yang sudah bersedia hati melawat ke dalam Kerajaan Banjar Virtual.

Terima kasih banyak untuk seluruh rekan yang ada di blogroll dan sering menitip komentar dan saran di halaman Tentang Saya. Abah H. Nurdin, kaya apa? gagah kalo? hehehe…nang sampat datang kanda Taufik Arbain lawan Om Bambang Subiyakto, Eka BPost, Om Wajidi, kawan-kawan yang lain yang tidak sempat terundang, kami mohon maaf dan mohon doa restu.

gbrnkkwn.jpg

Posted in Sekapur Sirih | 24 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.