Kerajaan Banjar Virtual

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Dundam

Posted by Anak Sultan pada Februari 12, 2008

Tulisan mengenai mengenai kesenian Dundam ini sangat sedikit saya jumpai, sehingga pada tulisan kali ini hanya sekadar mengenalkan kepada urang Banjar bahwa ada kesenian khas Banjar yang bernama Dundam.

Kesenian Dundam atau dalam kata kerjanya Badundam, diyakini merupakan turunan dari kesenian Lamut. Dundam sudah ada sejak ± 1500 M dalam bentuk sastra lisan, setelah Islam masuk di Kalimantan Selatan, kesenian ini diiringi dengan alat musik tarbang . Dundam diperkirakan berasal dari kata “Memundang” atau “Mengundang” (tokoh-tokoh alam gaib). (Ian Emti, Dundam Sastra Lisan Kalimantan Selatan. 1991)

Diperkirakan perkembangan kesenian ini berada pada daerah pedesaan di sepanjang sungai. Satu-satunya tempat yang masih ada kesenian ini adalah di Desa Lok Baintan (Kecamatan Sungai Tabuk) dan Pundun Daun (Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar)

Tata cara penyajian diperkirakan sebagai berikut:

1. Pendundam duduk dengan perapian kemenyan yang harus tetap membara dan berasap.
2. Sebelum cerita dimulai pendundam mengundan tokoh-tokoh alam gaib dengan disertai suguhan 40 macam kue khas Banjar.
3. Semua proses dilakukan dalam keremangan gelap malam (tanpa penerangan lampu)

Setelah penyajian awal selesai maka mulailah pendundam mengumandangkan dundam. Cerita yang didundamkan biasa merupakan cerita kerajaan antah berantah dengan berbagai  macam tokoh fiksinya. Cerita tidak pernah dirancang terlebih dahulu tapi mengalir sesuai inspirasi yang datang saat mendundam. Perbedaan antara Lamut dengan Dundam adalah pada Lamut, Palamutan menceritakan tentang Paman Lamut (tokoh utama cerita) sedangkan pada Dundam, Pendundam sendiri yang berfungsi sebagai tokoh utama cerita (first point of view).

Waktu penyajian Dundam biasanya dimulai pukul 20.00 atau 21.00 dan berakhir saat menjelang subuh. Dialog yang disampaikan dalam bahasa Banjar diselingi bahasa Indonesia atau Jawa kuno seperti dalam wayang.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Kesenian | 12 Comments »

Obat Semangat Yang Mulai Kendur

Posted by Anak Sultan pada Februari 11, 2008

Bangun pagi hari minggu tadi, tanggal 10 Februari 2008, seperti biasa saya membaca koran pagi, alangkah terkejutnya saat saya membaca pada salah satu kolomnya ada blog yang telah saya tulis selama beberapa bulan ini.

Dengan dag dig dug membaca karena masih terkejut, saya menemukan sebuah tulisan yang sangat berarti,  ditulisan itu membahas secara khusus mengenai blog kerajaan banjar virtual ini.

Sungguh suatu kebanggaan apabila ada orang di luar sana yang begitu memberi perhatian dan mau meluangkan waktunya untuk memberikan ulasan mengenai blog yang sederhana ini.

Manusia Super begitu dia mengenalkan dirinya, seperti iman manusia yang bisa naik turun, apalagi dengan semangat menulis, tulisan itu menjadi obat bagi semangat saya.

Sungguh suatu obat yang sangat mujarab bagi saya untuk memulai menulis di dalam blog ini lagi, ditengah kesibukan kerja wajib sehari-hari yang tiada pernah habis. TERIMA KASIH untuk manusia super yang telah memberikan salah satu hasil karya tulisnya untuk menulis mengenai blog ini. Mudahan suatu saat bisa bertemu.

Saat semangat menulis mulai kendur, ada obat mujarab yang mengisi kembali energi kerajaan banjar virtual ini, mengisi kembali balairung pertemuan para menteri yang sering kosong, mengisi kembali perpustakaan kerajaan yang mulai berdebu, mengisi kembali halaman istana dan pasar-pasar kerajaan yang mulai sepi pengunjung, mangkubumi, hulubalang dan panglima mulai berdatangan, anak sultan pun berseru sekali lagi : AHUIII  KADA ULUN BIARAKAN BUDAYA BANJAR HILANG DI DUNIA !!!

Posted in Sekapur Sirih | 13 Comments »

Sekilas Riwayat Hidup Pangeran Hidayatullah

Posted by Anak Sultan pada Februari 11, 2008

hidayat.jpg

Tulisan merupakan kiriman dari Keturunan Pangeran Hidayatullah di Cianjur

Foto dari halaman pertama buku “De Bandjermasinsche Krijg” van 1859-1863 Karangan W.A. van REES dengan tulisan dibawahnya “De Hoofdopstandeling” (“Kepala Pemberontak”).

Sekilas tentang Sultan Hidayatullah Al-watsiq billah dalam Perang Banjar.

Pangeran Hidayatullah diangkat menjadi Sultan Banjar berdasarkan Surat Wasiat Kakek beliau Sultan Adam. Pengangkatan ini dilakukan karena ayah Pangeran Hidayatullah, Sultan Muda Abdurrahman wafat.

Lahir di Martapura pada tahun 1822 M, di-didik secara Islami dipesantren Dalam Pagar Kalampayan ( Didirikan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari, salah seorang tokoh Agama Islam di Nusantara ) sehingga memiliki ilimu kepemimpinan serta keagamaan yang cukup tinggi untuk kemudian dipersiapkan menjadi Sultan.

Sebelum menjadi Sultan sempat menduduki jabatan sebagai Mangkubumi kesultanan pada tahun 1855 M. Pada saat itu jabatan Mangkubumi diangkat oleh Kolonial Belanda dengan persetujuan Sultan Adam. Dengan menduduki jabatan tersebut maka Pangeran Hidayatullah bisa lebih memahami & menyelami kondisi Kesultanan maupun rakyat Banjar, serta mengetahui kekuatan dan kelemahan kolonial Belanda (spionase), hal tersebut sangat berguna untuk persiapan perang.

Akibat campur tangan berulang-ulang pihak Belanda dalam pemerintahan Kesultanan, pemaksaan monopoli perdagangan, konsesi-konsesi pertambangan yang sepihak, serta kuatnya misi kaum nasrani ( Zending ) yang masuk kedalam benua banjar dengan dukungan tentara Hindia Belanda, maka mengakibatkan kebencian rakyat yang sangat mendalam. Perselisihan-persilisihan itu telah sangat lama terjadi, semenjak Kesultanan dipimpin oleh Sultan Suriansyah (~ 1600 M). Kebencian yang tak dapat lagi didiamkan, harus di tuntaskan, Sultan dan Rakyat bersatu untuk mengadakan perang Jihad Fisabilillah.

Sebelum dan ketika perang Sultan mengangkat beberapa Panglima perang karena luasnya areal medan pertempuran. Dari sebelah barat, Kesultanan Sambas, Sampit, Sangau, Kotawaringin, Pagatan bahkan jauh ke timur Kesultanan Pasir maupun Kesultanan Kutai dll. Dipersiapkan oleh Pangeran Hidayatullah sebagai areal perang maupun penyokong Perang Banjar .

Beberapa kutipan dari buku-buku karya Hindia Belanda.

Hidayat telah merencanakan dan mempersiapkan pemberontakan yang kemudian akan meluas diseluruh kerajaan “.

….. Loera housin telah menerima dari Hidayat batu permata untuk menghasut penduduk daerah itu melawan gubernemen “.

“ ….. Hidayat sebulan yang lalu berada di gunung Batu Tiris telah mengadakan rapat akbar yang dihadiri para kepala “.

“ ….. seorang bernama Doelmatalip di Nagara telah menerima sepucuk surat dari Hidayat guna memanggil rakyat untuk melakukan perang Sabil “. (De Bandjermasinsche Krijg hal 14,20,31 & 71)

Pengangkatan salah satu pimpinan perangnya seperti berikut ;

“ Surat Seruan Pangeran Hidajatoellah ;

Dengan ini saya menganugrahkan kepada seorang rakyat bernama Gamar gelar Tumenggung Cakra Yuda dan dengan ini pula memperkenankan kepadanya melakukan Perang Sabilullah untuk menegakkan kejayaan agama dan ajaran Nabi Muhammad Rasululloh SAW.

Selanjutnya saya memaklumkan, bahwa pengangkatan ini tidak dapat diubah lagi, sehingga dengan demikian Tuan dapat mengadakan musyawarah atau persetujuan dengan Mufti Muhammad Cholid (mufti gubernemen ), Mufti Abdul Jalil, Pangulu Machmud ( pengulu gubernemen Martapura ), Tuan Chalifah Idjra-ie ( bertugas melakukan penyumpahan para saksi di Mahkamah Militer di Martapura ), semua haji yang di Dalam Pagar ( tempat tinggal para ulama ) dan yang ada di mana-mana dan semua kepala didalam perang ini disamping semua penduduk kampung, baik lelaki maupun perempuan, yang masih terikat kepada Al Khaliq dan Rasulnya.

Bilamana ada diantara mereka yang tidak memperhatikan atau ada yang menentang peraturan yang telah saya keluarkan, maka saya memperkenankan kepada Tuan untuk menghukumnya sampai mati dengan jalan dipancung kepalanya dan menghancurkan harta bendanya.

Dalam hal Tuan tidak melaksanakan kemauan saya ini dengan seksama dan tidak memperhatikan semua perintah yang telah saya keluarkan dengan persetujuan orang tua saya , maka Tuan dan seluruh keturunan Tuan selama lamanya akan terkutuk.

Saya memohon semoga Yang Maha Kuasa akan memperkenankan harapan saya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan dari Dayak Dari, Dayak Dusun (Tanah Dusun) dan Dayak Biajau menyerang dan menghancurkan Martapura. Oleh karena yang disebut diatas masih orang kafir (belum Islam) maka akan merupakan suatu kebajikan apabila mereka ikut menghancurkan musuh-musuh Nabi .

Surat ditulis Pangeran Hidajatoellah tanggal 22 Jumadil Awal 1277 / 10 Desember 1860 ditandatanganinya dan juga oleh Pangeran Wira Kusumah (masing-masing cap dan Pangeran Hidajatoellah dengan cap Sulthan).

Surat itu diperlihatkan oleh Gamar kepada Resident ketika ia ditangkap oleh Belanda. (De Bandjarmasinsche Krijg halaman 162 & 163) ”.

Setelah Pengangkatan-pengangkatan dan persiapan-persiapan yang matang maka dikobarkanlah Perang Banjar pada tanggal 28 April 1859 dengan semboyan Beatip Beamal Fisabilillah secara serempak.

Jalannya peperangan terekam dalam beberapa tulisan berikut;

“ Sambil bertandak dan berdoa mereka menerobos sampai 10 langkah dari carre` ( formasi tempur berbentuk persegi empat ); meriam houwitser diisi lagi. “Tembak !!” , kedengaran dari mulut komandan, akan tetapi baik pipa houwitser maupun beberapa bedil macet. Beberapa orang musuh sekarang datang melalui houwitser masuk kedalam carre’: dengan pemimpinnya yang berpakaian kuning di muka sekali. Kopral Smit mendapat tusukan tombak pada saat akan memasang lagi isian bedil; van Halderen mendapat dua sabetan klewang yang mematikan pada saat akan memasang lagi pipa yang baru. Pistol kepunyaan van der Heijden juga macet, ketika ia akan menembak kepala penyerbu itu. Kepala yang gagah berani ini telah menerjangnya dan akan menekankan ujung tombak ke dadanya. Koch segera melompat, menangkis dengan pedang tusukan itu, akan tetapi ia sendiri terpanggang tusukan tombak dan keris, dan jatuh tersungkur”. (De Bandjermasinsche Krijg hal. 205)

“ Tentara (Hindia Belanda) telah mempertahankan kehormatan namanya, banyak perwira dan prajurit telah menunjukan keluarbiasaanya, banyak yang mengucurkan darahnya, banyak yang mengorbankan nyawanya.

Celakanya, terlalu sering !

Barisan menjadi tipis, rumah-rumah sakit dan kapal-kapal pengangkut diisi penuh prajurit yang kelelahan karena perang.

Terlalu sering kita ini wajib mengganti pasukan, dan menggantikannya dengan yang baru, yang didatangkan dari Jawa; bahkan demikian seringnya, sehingga kita dalam melukiskan jalannya peperangan segera berhenti memuat semua mutasi !!!”. (De Bandjermasinsche Krijg hal. 395 )

Perang yang tidak berkesudahan, kekalahan yang terus menerus, kematian prajurit maupun pimpinan tentara Hindia Belanda yang tiada henti, sungguh membuat bingung, lelah dan frustasi, sehingga dipersiapkanlah cara-cara yang sangat keji dan licik. Sebuah tipu muslihat yang sangat tidak pantas dipersiapkan untuk memperoleh suatu kemenangan dalam peperangan.

Penipuan itu dimulai dengan ditangkapnya Ratu Siti , Ibunda Sultan Hidayatullah, kemudian Pihak Belanda menulis surat atas nama Ratu Siti kepada Sultan, agar mengunjungi beliau sebelum dihukum gantung oleh Pihak Belanda. Surat tersebut tertera cap Ratu Siti…, padahal semua itu hanya rekayasa & tipuan tanpa pernah Ratu Siti membuat surat tersebut. Ketika bertemu dengan Ibunda Ratu Siti ditangkaplah Sultan Hidayatullah dan diasingkan ke Cianjur. Penangkapannya dilukiskan pihak belanda :

“ Pada tanggal 3 Maret 1862 diberangkatkan ke Pulau Jawa dengan kapal perang ‘Sri Baginda Maharaja Bali’ seorang Raja dalam keadaan sial yang dirasakannya menghujat dalam, menusuk kalbu karena terjerat tipu daya. Seorang Raja yang pantas dikasihani daripada dibenci dan dibalas dendam, karena dia telah terperosok menjadi korban fitnah dan kelicikan yang keji setelah selama tiga tahun menentang kekuasaan kita (Hindia Belanda) dengan perang yang berkat kewibawaanya berlangsung gigih, tegar dan dahsyat mengerikan. Dialah Mangkubumi Kesultanan Banjarmasin yang oleh rakyat dalam keadaan huru-hara dinobatkan menjadi Raja Kesultanan yang sekarang telah dihapuskan (oleh kerajaan Hindia Belanda), bahkan dia sendiri dinyatakan sebagai seorang buronan dengan harga f 1000,- diatas kepalanya.

Hanya karena keberanian, keuletan angkatan darat dan laut (Hindia Belanda) dia berhasil dipojokan dan terpaksa tunduk.

Itulah dia yang namanya :

Pangeran Hidajat Oellah

Anak resmi Sultan muda Abdul Rachman dst, dst, dst….. “.

( Buku Expedities tegen de versteking van Pangeran Antasarie, gelegen aan de Montallatrivier. Karya J.M.C.E. Le Rutte halaman 10).

Dengan penangkapan Sultan ini maka berakhirlah peperangan besar yang terjadi, peperangan yang terjadi berikutnya dilukiskan oleh tentara Hindia Belanda sebagai pemberontakan-pemberontakan kecil.

“Dengan Hidayat, pengganti sah dari Sultan Adam, rakyat yang memberontak itu kehilangan tonggak penunjangnya; dengan Hidayat, pemimpin Agama, para pemimpin agama kehilangan senjata yang paling ampuh untuk menghasut rakyat; oleh kepergian Hidayat, hilanglah semua khayalan untuk memulihkan kembali kebesaran dan kekuasaan Kerajaan Banjar, dengan kepergian Hidayat maka pemberontakan memasuki tahap terakhir” (De Bandjermasinsche krijg hal. 280)

“Dengan Hidayat hilanglah semua khayalan, hasrat suci yang berlebihan, pendorong semangat dan penyebab dari perang ini”(De Bandjermasinsche Krijg hal. 342)

Selesai

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia

Posted in Sejarah Kerajaan Banjar | 95 Comments »

Ayo Dukung Karya Urang Banjar !

Posted by Anak Sultan pada Oktober 21, 2007

Bagi yang mengikuti acara Eagle Award di Metro TV, ada satu video dokumenter finalis yang berasal dari Kalimantan Selatan. Video itu berjudul “Setangkup Asa Dibalik Kemilau Intan” yang mengangkat tema kehidupan para pendulang intan di daerah Cempaka, Banjarbaru Kalimantan Selatan. Video yang membanggakan ini adalah hasil karya Zuraida Hamid urang Banjar kelahiran Banjarmasin dengan temannya Iwan Ahmad.

Di akhir acara ada pemberitahuan oleh pembawa acaranya, kalau ingin menjadikan video ini menjadi video favorit maka ketik EA (spasi) INTAN kirim sms ke 3944. Untuk itu bagi teman-teman urang Banjar yang ingin menjadikan film intan ini mendapat tempat favorit sudi kiranya memberikan sedikit dukungan agar film yang mengangkat tema daerah dan adat Banjar dalam mendulang ini menjadi film yang ditengok oleh orang banyak pada malam penganugerahan hadiah nanti.

Promosi ini bersifat sukarela, sebab saya pun tidak pernah mengenal pembuat film ini. Tetapi sebagai sesama urang Banjar yang sama-sama ingin mengangkat nama daerah maka tergerak untuk mendukung dengan cara semampunya.

Jadwal tayang film dokumenter Setangkup Asa Dibalik Kemilau Intan :
Tayang Perdana : 18 Oktober 2007 , Pkl : 19.35 – 20.00
Replay : 19 Oktober 2007, Pkl: 16.05 s/ 16.30
25 Oktober 2007, Pkl: 11.05 s/ 11.30

Eagle Award memberikan penghargaan pada 3 kategori, Pembuat Film Terbaik, Pembuat Film dengan Ide Cerita Terbaik, Pembuat Film Favorit Pemirsa.

Mudah-mudahan dengan dukungan kita, film Intan ini bisa mendapat salah satu award yang diperebutkan dan kisah di dalamnya bisa membuat orang di luar daerah menengok lebih dalam mengenai kebudayaan urang Banjar.

Jangan Kada Ingat Dukung Filim Favorit Ketik : EA (spasi) INTAN Kirim ke 3944.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang Di Dunia !

Posted in Sekapur Sirih | 6 Comments »

Balai Amas dan Batu Beranak

Posted by Anak Sultan pada Oktober 19, 2007

Cerita ini oleh-oleh dari pulang kampung tempat mertua di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Asal mula cerita Balai Amas (Balai Emas) dan Batu Beranak ini merupakan sebuah tempat berdirinya pohon Ulin yang sangat besar.

Balai Emas dan Batu Beranak

Dahulu kala, disebuah pohon Ulin yang sangat besar ini hidup seekor burung Garuda yang setiap waktu kerjaannya memakan anak bayi yang masih di dalam ayunan. Karena semakin lama semakin meresahkan, para penduduk kampung bersepakat untuk memikirkan cara bagaimana menyingkirkan burung Garuda tersebut. Pohon Ulin itu mempunyai diameter kira-kira sama besarnya dengan rumah tipe 36. (Gambar bangunan di atas mencerminkan besarnya ukuran pohon kayu ulin tersebut.)

Berbagai macam peralatan dicobakan untuk menebang pohon ulin tersebut tetapi tidak satupun yang mampu menggores batang kayunya. Akhirnya ada seorang tetuha kampung setempat mencoba menumbangkan pohon tersebut dengan sebilah pisau. Dikorek perlahan-lahan akar pohon ulin tersebut dengan hanya menggunakan sebilah pisau kecil tidak disangka-sangka pohon Ulin raksasa inipun roboh bersama burung Garuda di atasnya. Konon, saking tinggi dan besarnya pohon Ulin ini pucuknya sampai roboh ke daerah Marabahan, Barito Kuala (± 50 km dari Banjarmasin, ± 200 km dari Kandangan), sehingga nama daerah itu disebut Marabahan yang berarti tempat rabah (roboh) pohon Ulin tadi.

Setelah keadaan aman, bekas tumbuh pohon Ulin tadi dibuat sebuah balai (ada gambarnya). Di balai inilah sejak dulu diadakan berbagai macam selamatan dan acara adat setiap tahunnya. Menurut informasi pada malam ahad ini tanggal 20 Oktober 2007 akan diadakan upacara Manaradak di balai tersebut, sebagai tanda awal menanam padi.

Di kampung ini juga ada dua buah tempat yang diyakini penduduk memiliki kesaktian, yaitu Batu Beranak. Tempat batu beranak ini asalnya tidak ada apa-apa, tiba-tiba bermunculan batu-batu memenuhi tempat tersebut sehingga oleh penduduk setempat diberi gelar Batu Beranak. Konon, ukuran batu yang ada disini bisa tumbuh berkembang sampai akhirnya melahirkan batu kecil di sekelilingnya, begitu seterusnya seperti siklus hidup manusia.

Pernah ada yang iseng-iseng mencoba mengukur batu tersebut, setiap hari Jumat batu yang sama diukur dan menurut keterangan para saksi batu yang diukur tersebut memang terus bertambah ukurannya. Pernah juga ada orang yang mengambil untuk dibawa pulang ternyata beberapa hari kemudian batunya hilang setelah diperiksa batu yang sama kembali ke tempatnya semula.

Demikian sekilas oleh-oleh cerita dari kampung dan memperkenalkan tempat yang diyakini masyarakat setempat sebagai tempat berkeramat sebagai bagian dari kekayaan budaya Banjar.

Bagi yang penasaran, silakan untuk mengunjungi dua tempat tersebut. Pisau yang digunakan untuk merobohkan pohon Ulin tadi masih disimpan secara turun temurun oleh penduduk kampung, bila berkunjung ke sana bisa mencari informasi lebih lanjut. Untuk sementara diberi photonya dulu.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Cerita Rakyat Kalsel | 74 Comments »

Terima Kasih, Dangsanak Samuaan

Posted by Anak Sultan pada September 12, 2007

Lawas jua ulun kada manulis di sini, maaf, karena kesibukan pekerjaan yang sering keluar kota. Tetapi semua komentar pasti ulun baca. Mengenai tidak ada komentar balasan, itu dikarenakan betapa bangga dan terharunya ulun melihat tanggapan dari pian samuaan, sampai ulun takutan salah memberi balasan komentar.  itulah sebabnya beberapa bulan ini komentar tanpa ada yang menanggapi.

Setelah kita baca-baca, banyak banar kulaan kita nang masuk, mulai nang badiam di banua Banjar sampai ke negeri seberang, semuanya sangat menghargai usaha kita ini. Semangat ulun semakin meninggi dan terpacu.

Ke depannya mudah-mudahan kita bisa lebih mengembangkan budaya Banjar, meskipun awalnya hanya dari tulisan di dalam blog ini. Setiap usaha yang ada untuk memajukan budaya Banjar kita sambut dan junjung. Bagi dangsanak nang baisi kemampuan lebih, bisa  mengembangkan budaya Banjar lebih daripada sekadar tulisan. Mudah-mudahan.

Ada beberapa event budaya Banjar penting yang terlewatkan untuk dimuat dalam blog ini, misalnya festival tari, pemilihan nanang galuh, penganugerahan gelar adat Banjar, festival wayang gung, dan lain sebagainya. Hal ini karena ketidakmampuan ulun dalam menyajikan informasinya ke dalam blog ini. Untuk itu mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Masih banyak informasi mengenai pelestarian budaya Banjar yang ada di pikiran yang ingin dicurahkan melalui blog ini, semoga ada waktu dan kesempatan untuk menyajikannya.

Terima kasih, kulaan sabarataan !

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !!!

Posted in Sekapur Sirih | 19 Comments »

Ibarat Bajalan Kada Bagalumbang Banyu

Posted by Anak Sultan pada Mei 1, 2007

“Ibarat Bajalan Kada Bagalumbang Banyu”

ibarat = umpama
bajalan = berjalan
kada = tidak
bagalumbang = bergelombang/ombak besar
banyu = air

” umpama berjalan di atas air, tidak sampai menimbulkan gelombang/ombak besar ”

Makna ungkapan:

Di dalam interaksi sosial sehari-hari janganlah sampai menyinggung atau menyakiti hati orang sekitar yang bisa berakibat ketidakharmonisan hidup.

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk bergaul dengan manusia lainnya sebagai mahluk sosial. Dalam pergaulan itu akan banyak ucapan dan perbuatan yang dilakukan atau bisa juga ekspresi wajah yang ditampilkan. Meskipun demikian hendaknya segala kelakuan itu dijaga dan diukur sesuai keadaan. Intinya segala tingkah laku harus bisa dikendalikan.

Ungkapan tradisional Banjar ini diberikan untuk tujuan mendidik masyarakat dalam menjalani pergaulan sehari-hari. Diibaratkan sebuah lapisan air yang tenang, kemudian manusia menjalani air tersebut dalam kehidupannya, tingkah laku manusia tidak sampai menimbulkan ombak besar yang akhirnya merusak ketenangan lapisan air sebagai lambang lingkungan sekitar.

Saat berhati-hati melintasi lapisan air, memang akan selalu ada riak-riak kecil, riak kecil ini diumpamakan perbedaan pendapat yang sering terjadi. Tetapi segala perbedaan itu tidak boleh sampai menimbulkan ombak besar atau permusuhan.

Orang Banjar dahulu sering menanamkan sifat untuk menghargai pendapat orang lain, tidak boleh pendapat orang lain dikatakan tidak bermutu atau mendiskreditkan prestasi orang lain. Semua itu hanya akan menimbulkan ketidaktentraman dalam hidup. Ungkapan ini merupakan salah satu warisan budaya Banjar dalam mengatur tata kelakukan bermasyarakat.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Bahasa Banjar | 13 Comments »

Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Banjar 2007

Posted by Anak Sultan pada April 29, 2007

Dalam dokumentasi budaya Banjar memang ditemukan sedikit mengenai sastra tertulis dalam bahasa Banjar. Entah mengapa pendokumentasian karya-karya dalam bahasa Banjar agak sulit untuk dikumpulkan. Sebagai upaya untuk memperkaya dan pelestarian budaya serta meningkatkan apresiasi tentang bahasa Banjar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalsel, melalui Sub Din Bina Kesenian mengadakan Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Banjar 2007.

Menurut Kasubdin Bina Kesenian Disbudpar Kalsel, Drs. H. Syarifuddin R, lomba ini bertujuan memberikan motivasi kepada masyarakat menuangkan kemampuannya berbahasa Banjar. (Banjarmasin Post, 27/04/2007). Peserta lomba terbuka bagi siapa saja dan dimana saja.

Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya kepada panitia. Karya yang dilombakan paling lambat diterima panitia pada tanggal 31 Mei mendatang. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 18 Juni 2007.

Khusus dewan juri, terdiri dari seniman sastra Banjar, Lembaga Budaya Banjar, serta praktisi atau budayawan Banjar. Juara akan mendapat tanda kasih berupa uang tunai, tropi, dan piagam penghargaan.

Syarat Cerpen yang dilombakan:

  • Berbahasa Banjar
  • Tema bebas, tidak bertentangan hukum
  • Jumlah karakter antara 4000 – 8000 karakter
  • Minimal 5 halaman dan maksimal 8 halaman folio
  • Diketik 1,5 spasi
  • Belum pernah dipublikasikan di media mana pun
  • Bukan terjemahan

Penilaian:

  • Orisinalitas ide
  • Nilai sosial budaya lokal
  • Teknik bercerita
  • Bahasa jelas, makna dan penulisan mudah ditangkap pembaca
  • Memakai bahasa Banjar Hulu dan Kuala yang tepat dan baik.

Kelengkapan Peserta Menyertakan:

  • Nama dan alamat lengkap
  • Photocopy kartu pengenal yang masih berlaku
  • Nomor telepon atau handphone yang bisa dihubungi

Alamat Panitia Lomba Penulisan Cerpen Bahasa Banjar 2007 : Taman Budaya Propinsi Kalsel, Jl.Brigjen Hassan Basry No.2/43 Kayutangi Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70123. Telpon 3304735.

Bagi yang belum jelas, ingin mengetahui informasi lebih lengkap bisa kirimkan pertanyaan melalui kolom komentar di bawah postingan ini. Pertanyaan kalian akan langsung disampaikan ke Bapak Drs.H. Syarifuddin R. Jawabannya akan dibalas langsung di kolom komentar juga.

Ayo bagi para penulis di seluruh jagad yang jago membuat cerpen, tunjukkan kehebatan kalian dalam lomba menulis cerpen bahasa Banjar. Rugi lamunnya kada umpat. Ingat batasnya 31 Mei 2007

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Event Budaya | 5 Comments »

Anak Sultan Kawin

Posted by Anak Sultan pada April 27, 2007

Berikut sedikit dokumentasi dari walimah perkawinan Anak Sultan, ditujukan untuk seluruh teman-teman dan senior-senior yang sudah bersedia hati melawat ke dalam Kerajaan Banjar Virtual.

Terima kasih banyak untuk seluruh rekan yang ada di blogroll dan sering menitip komentar dan saran di halaman Tentang Saya. Abah H. Nurdin, kaya apa? gagah kalo? hehehe…nang sampat datang kanda Taufik Arbain lawan Om Bambang Subiyakto, Eka BPost, Om Wajidi, kawan-kawan yang lain yang tidak sempat terundang, kami mohon maaf dan mohon doa restu.

gbrnkkwn.jpg

Posted in Sekapur Sirih | 24 Comments »

Teater Japin Carita

Posted by Anak Sultan pada April 27, 2007

Japin Carita merupakan teater rakyat tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Selatan berasal dari pengembangan tari dan musik japin. Biasanya Japin Carita ini dibawakan untuk meramaikan malam pengantin dan hari besar Islam. Jenis Teater ini boleh dibilang hampir punah karena sudah sangat jarang dimainkan. Grup kesenian yang masih bisa memainkannya antara lain, Grup Teater Banjarmasin dan La Bastari Kandangan

Pada tahun 1900, di Banjarmasin telah mengenal Japin Arab, yang ditarikan oleh suku Arab di perkampungan Arab. Japin Arab berpengaruh besar masyarakat sekitar, yakni Kampung Melayu, Kuin, Alalak, Sungai Miai, Antasan Kecil, Kalayan, Banyiur. Sampai dengan tahun 1960 di Banjarmasin lebih dari sepuluh orkes Japin lengkap dengan tari-tarian Japin yang langkah-langkahnya agak mirip dengan Japin Arab. Tahun 1961 di kampung Sungai Miai dipergelarkan Japin yang berisi tari Japin dilanjutkan dengan sebuah cerita. Pada tahun 1975 dari dari Tapin menyebutkan bahwa ditemukan Japin bercerita di Kampung Binuang Dalam. Informasi sebelumnya didapatkan pada tahun 1958 terdapat pergelaran Japin Bakisah di Margasari.

Dengan demikian, Japin Carita muncul pada tahun 1958 dan tidak diketahui siapa pencetusnya. Yang jelas, bahwa Japin Carita adalah perkembangan dari Tari dan musik Japin pesisiran. Diperkirakan lahir di Banjarmasin karena pengaruh tonil/sandiwara dan komedi bangsawan kemudian berpengaruh pada masyarakat Badamuluk di Margasari.

japin-carita.jpg

Baca entri selengkapnya »

Posted in Kesenian | 11 Comments »

Percakapan Sehari-hari Bahasa Banjar – 1 –

Posted by Anak Sultan pada April 27, 2007

Bagi teman-teman yang kebetulan singgah di blog ini kemudian menemukan beberapa kalimat di kolom komentar yang memakai bahasa Banjar mungkin bisa ikut mempelajari bahasa Banjar sebagai penambah ilmu. Bahasa Banjar sebenarnya tidak susah asal bisa berbahasa Indonesia, sebab beberapa kalimatnya (bahkan banyak) mirip dengan bahasa Indonesia. Mungkin ini karena bahasa Banjar merupakan satu rumpun dengan bahasa Melayu asli yang kemudian berevolusi menjadi bahasa Indonesia.

Ada juga kata yang sama dengan bahasa Indonesia tetapi cuma vokalnya yang berubah, ini karena pengaruh pola pengucapan oleh orang Banjar. Misalnya, karing = kering, handak = hendak, karas = keras.
Kemudian kata bentukan yang mirip dengan bahasa Indonesia tetapi berubah sedikit karena pengaruh logat berbicara orang Banjar. Misalnya, biarakan = biarkan, sampaiakan = sampaikan, ambilakan = ambilkan.

Selain itu ada penambahan kata yang tidak ada artinya tetapi lebih kepada penekanan arti kata di depannya dalam percakapan. Misalnya, “am” “ai”.

Bila Anda kebetulan mendengar orang Banjar berbicara biasanya kata-kata berikut ini yang terdengar:

  • aku = aku
  • ikam = kamu (bahasa antar sebaya)
  • pian = kamu (bahasa kepada yang lebih tua; sopan)
  • ulun = aku, saya (bahasa kepada yang lebih tua; sopan)
  • nyawa = kamu (bahasa antar sebaya yang sangat akrab; di beberapa daerah Banjar dianggap kasar)
  • unda = aku, saya (bahasa antar sebaya yang sangat akrab; di beberapa daerah Banjar dianggap kasar)
  • kada = tidak
  • indah = tidak (biasanya menyatakan penolakan terhadap ajakan)
  • handak = mau; ingin; hendak
  • lawan = dengan; dan
  • uyuh = letih; lelah
  • lajui; hancapi; cepati; lakasi = cepat-cepat; lekas-lekas; segera (menunjukkan permintaan untuk ~ )
  • kanyang = kenyang
  • nyaman = enak
  • bungul = bodoh
  • bungas; langkar = cantik; tampan
  • lamak = gemuk

(bersambung)

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Bahasa Banjar | 239 Comments »

Upacara Baayun Wayang dan Baayun Topeng

Posted by Anak Sultan pada April 24, 2007

Masyarakat Banjar di antaranya ada yang melaksanakan upacara berdasarkan adat yang bersifat khusus di lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Salah satu upacara yang sering diadakan adalah upacara Baayun Wayang dan Baayun Topeng. Upacara ini biasanya dilakukan bersamaan dengan diadakannya Upacara Manyanggar Banua atau Babunga Tahun.

Bentuk ayunan dan peralatan lain yang digunakan hampir sama dengan ayunan pada upacara baayun mulud, perbedaannya hanya terdapat pada waktu pelaksanaan, tempat dan tujuan upacara. Upacara baayun wayang dilaksanakan dini hari menjelang Subuh sehabis pergelaran wayang sampir yang diadakan di panggung terbuka dalam rangkaian upacara manyanggar banua. Begitu pula dengan baayun topeng, hanya waktu pelaksanaannya saja dilakukan pada sore hari, yaitu setelah upacara memainkan topeng.

Pada upacara baayun wayang yang mengayun anak dalam buaian adalah seorang dalang sambil bamamang (membaca mantra) dengan wayang di tangan. Sedangkan pada upacara baayun topeng anak-anak juga diayun oleh seorang dalang membaca mantra dengan memegang topeng. Pada kedua upacara ini kedua orang tua hanya membawa anak ke tempat upacara kemudian memohon kepada dalang agar anaknya dapat diayun.

Upacara ini dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat yang biasa menunggui anak-anak. Menurut kepercayaan pada waktu diadakan upacara manyanggar banua diundang semua mahluk halus yang menghuni jagad raya, sehingga kesempatan itu digunakan untuk meminta agar jangan mengganggu anak cucu. Sebagai pelengkap upacara disajikan berbagai jenis kue-kue tradisional.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 8 Comments »

Upacara Aruh Ganal

Posted by Anak Sultan pada April 24, 2007

Upacara Aruh Ganal ini merupakan upacara adat yang terdapat pada suku Dayak Bukit di Pegunungan Meratus. Suku Bukit yang sering melaksanakan upacara ini antara lain daerah Mancabung, Harakit, Balawaian, Batung, Danau Darah, dan Ranai.

Aruh Ganal artinya Kenduri Besar (aruh = kenduri, ganal = besar). Jadi upacara ini dilaksanakan secara besar-besaran oleh seluruh warga kampung dan dihadiri undangan dari kampung lainnya. Dinamai aruh ganal karena ada juga tradisi aruh kecil yang disebut baatur dahar. Baatur dahar ini biasanya hanya dilakukan di lingkungan keluarga. Kemeriahan aruh ganal yang dilakukan tergantung keadaan ekonomi warga di kampung tersebut, sebagai ukurannya adalah hasil panen padi, kacang, dan tanaman pokok lainnya. Apabila hasil tanaman tersebut banyak dan bagus maka akan diadakanlah upacara aruh ganal, sebaliknya jika panen kurang berhasil maka cukup diadakan aruh kecil atau bahkan tidak diadakan sama sekali.

Tujuan diadakannya aruh ganal ini sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa, sekaligus memohon agar hasil tahun yang akan datang mendapat panen yang melimpah, dijauhkan dari mara bahaya dan mahluk perusak tanaman.

Waktu Penyelenggaraan

Aruh ganal pada dasarnya dilakukan setahun sekali, namun apabila dalam musyawarah adat menganggap bahwa penduduk banyak yang kurang penghasilannya, maka aruh ganal tidak dilaksanakan pada tahun itu. Waktu penyelenggaraan sesudah panen yang biasanya jatuh pada bulan Juli dan Agustus. Untuk menetapkan hari dan tanggalnya diputuskan dalam musyawarah desa yang dipimpin oleh Kepala Adat dibantu oleh Kepala Kampung. Dalam menentukan tanggal diperhatikan bulan muda , berkisar antara tanggal 1 sampai 15, hal ini berhubungan dengan simbol bahwa rejeki akan naik apabila dilaksanakan pada tanggal-tanggal tersebut.

Persiapan Upacara

Tempat dilaksanakannya upacara adalah di dalam Balai Adat. Persiapan aruh dimulai dengan hari batarah sehari sebelum upacara dimulai. Hari batarah maksudnya hari memulai pekerjaan, mempersiapkan segala sesuatu, membuat perlengkapan upacara, menyiapkan sesaji. Pekerjaan itu harus selesai dalam satu hari.

Perlengkapan upacara yang paling penting adalah langgatan. Langgatan merupakan induk ancak dan sesaji. Untuk menghias langgatan dilakukan pada keesokan harinya setelah malam pembukaan. Langgatan dibuat bersusun lima tingkat, ancak yang terbesar terletak di bawah, makin ke atas makin kecil. Langgatan itu nantinya digantung di tengah balai dengan menggunakan tali rotan yang diikat di empat sudutnya.

Langgatan ini namanya bermacam-macam sesuai dengan isi dan tujuannya. Ada yang bernama Ancak ka gunung (tidak bertingkat), Ancak Balai Raden (berbentuk perahu)

Jenis perlengkapan lainnya adalah Kelangkung, dibuat sebanyak tiga buah. Yang pertama disebut Kelangkung Mantit (nama nenek moyang burung), Kelangkung Nyaru (Dewa Petir), Kelangkung Uria (dewa yang memelihara segala mangsa dan bala yang merusak tanaman)

Pelaksana Upacara

Untuk menyelenggarakan kegiatan upacara yang bersifat khusus mulai awal sampai selesai dilakukan oleh Balian. Balian ini mempunyai pengetahuan yang luas mengenai seluk beluk adat dan tradisi yang dipercayai. Pengetahuan ini diperoleh dengan cara berguru kepada Balian Tuha dan balampah (melakukan semacam semedi untuk bersahabat dengan berbagai jenis roh halus untuk memperoleh kesaktian tertentu).

Dalam upacara ini Balian yang melakukan tugas ada beberapa orang. Sebagai pimpinan dari Balian ini adalah Pangulu Adat (penghulu adat).

Setiap Balian selalu didampingi oleh Panjulang. Panjulang adalah wanita yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian atau dapat pula mengajukan permohonan atas kehendak masyarakat. Segala permintaan oleh Balian dilayani oleh Panjulang.

Upacara yang dilakukan oleh Balian ini akan berlangsung dalam lima hari berturut-turut sampai acara Aruh Ganal selesai.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 23 Comments »

Balai Laki

Posted by Anak Sultan pada April 20, 2007

Tempat bersanding pengantin Banjar berikutnya yang akan dibahas disini adalah Balai Laki.

Bentuk

  • Menyerupai panggung atau pentas dengan ketinggian sekitar 2 m dan lebarnya sekitar 2 – 3 m.
  • Bahan bangunan yang digunakan sebagai tiang adalah batang Pinang ataupun bahan kayu lainnya yang cukup kuat menahan beban 4-6 orang.
  • Bagian atas panggung digunakan sebagai tempat duduk yang memanjang untuk tempat duduk pasangan mempelai serta pendamping mempelai dan petugas upacara

Penempatan Balai

Balai dibangun di tepi jalan raya atau tempat lain dimana memungkinkan masyarakat dapat berkumpul untuk menyaksikan penampilan pasangan mempelai serta menampilkan atraksi kesenian sejak awal menyertai kegiatan ini.

Perlengkapan Hias Balai

  • Tempat duduk mempelai dihias megah
  • Bubungan atau atap pelindung dari teriknya matahari yang memancar, karena umumnya upacara bersanding di balai laki diselenggarakan menjelang tengah hari sekitar pukul 11.00 – 13.00
  • Tabir air guci, hiasan kain aneka warna yang menambah megahnya Balai Laki.

Hiasan Pelengkap

  • Di sekitar balai laki dihias dengan janur daun pucuk kelapa atau pucuk enau
  • Pada beberapa daerah tertentu menggunakan umbul-umbul yang terbuat dari kain sarung wanita yang disusun dan direntang ke segala penjuru sebagai layaknya bendera isyarat yang digunakan di kapal samudera pada hari-hari besar. Konon dulu jika yang mengadakan acara perkawinan adalah orang kaya maka sarung yang jadi umbul-umbul itu akan dibagi-bagikan.
  • Setelah selesai upacara balai laki tidak segera dibongkar, tetapi tetap dibiarkan mungkin akan digunakan lagi seandainya ada keluarga/tetangga yang akan menyelenggarakan upacara serupa.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Adat Istiadat | 6 Comments »

Rumah Tradisional Banjar – Pondasi –

Posted by Anak Sultan pada April 19, 2007

Bentuk dari berbagai macam rumah tradisional tiap daerah biasanya dipengaruhi oleh lingkungan alam sekitarnya. Pengaruh ini bisa berupa sumber daya alam yang tersedia, bentuk daratan atau cuaca yang terjadi di daerah tersebut. Di Kalimantan Selatan yang merupakan daerah tropis dengan hutan yang banyak, tersedianya berbagai macam jenis kayu mempengaruhi bahan bangunan tradisional yang ada. Kemudian jenis tanah di Kalimantan Selatan yang cenderung berawa memberikan pengaruh kepada bentuk pondasi.

Pada daerah Kerajaan Banjar masa lalu, sungai adalah sarana yang sangat penting bagi jalur komunikasi dan transportasi. Hal ini menyebabkan begitu banyaknya bangunan-bangunan yang dibuat di sepanjang aliran sungai pada waktu itu. Mengingat daerah pinggiran sungai mempunyai jenis tanah yang rendah dan berair maka bangunan tersebut harus mempunyai bentuk pondasi yang mantap untuk menyokong bangunan di atasnya.

Untuk pondasi biasanya dipakai kayu galam yang banyak terdapat di sepanjang rawa Kalimantan. Kayu galam ini mempunyai sifat yang khusus sehingga sangat pas untuk dijadikan bagian pondasi bangunan rumah di sepanjang pinggir sungai. Sifat kayu galam adalah semakin terendam maka kekuatannya menjadi awet. Kayu galam yang terendam di lumpur terus menerus mempunyai kekuatan sampai puluhan tahun.

Teknik pemasangan pondasi ini ada dua cara, yaitu:

  1. Pondasi Batang Besar, apabila pondasi yang dipilih adalah pondasi batang besar maka digunakan teknik kalang pandal. Kayu yang digunakan biasanya berdiameter 40 cm lebih. Caranya, kayu besar ditoreh bagian atasnya sampai rata kemudian bagian yang ditoreh itu dilobangi untuk tempat menancapkan tiang dan tongkat. Setelah itu bagian ini akan direndamkan ke dalam tanah dengan kedalaman 50 – 100 cm tergantung kondisi tanah. Batang disusun berjejer sesuai dengan deretan tongkat dan tiang rumah yang akan dibangun. Untuk menahan tiang atau tongkat agar tidak terus menurun maka dipakai sunduk.

    batangbesar.jpg

  2. Pondasi Dengan Batang Kecil, kayu galam yang digunakan dalam pondasi ini biasanya berdiameter minimal 15 cm untuk tampuk ujung dan sekitar 20 cm untuk tampuk tengahnya. Cara pemasangannya agak berbeda dengan cara batang besar yang hanya satu lapis. Untuk pondasi batang kecil ada dua lapis, bagian bawah disebut Kacapuri dan lapisan atas disebut kalang sunduk, yaitu untuk penahan sunduk tiang atau sunduk tongkat. Ujung tiang atau tongkat tertancap hingga kedalaman dua meter dari permukaan tanah.

    kacapuri.jpg

Demikian garis besar pembuatan pondasi pada rumah tradisional Banjar, pondasi sederhana sesuai dengan perkembangan zaman pada masa itu. Kalau ada teman-teman insinyur sipil/arsitek yang lebih mengetahui semoga bisa menambahkan beberapa materi untuk tulisan ini.

Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Posted in Arsitektur Banjar | 17 Comments »