Mandai Basang; Goreng Kulit Cempedak
Ditulis oleh Anak Sultan di/pada Maret 28, 2007
Dalam kebudayaan Banjar juga mengenal berbagai macam jenis makanan dan minuman, masakan yang ada di daerah Kalimantan Selatan biasanya unik dan menyesuaikan dengan bahan makanan yang ada di sekitar. Seperti jenis masakan yang satu ini, namanya Mandai Basang atau kulit buah Tiwadak (cempedak) yang digoreng. Orang Banjar menyebut kulit cempedak sebagai mandai ada juga yang menyebutnya dami. Banyak orang yang bingung dan tidak tahu dengan masakan dari kulit cempedak ini, bahkan ada beberapa kenalan saya yang tidak pernah memakan mandai ini padahal lahir di Banjarmasin. Rata-rata komentarnya ketika sudah merasakan “ai nyaman lah sakalinya” (ah enak ternyata), entah kenapa ada saja orang Banjar atau orang yang sudah lama tinggal di daerah Kalimantan Selatan yang tidak tahu jenis makanan ini.
Mandai sudah lama dijadikan lauk alternatif bagi orang Banjar, kalau hanya mengingat untuk memakan buahnya kebanyakan orang tidak terpikir untuk memanfaatkan kulitnya. Sebelum diolah, kulit cempedak dikupas bagian luarnya sehingga tampak putih kemudian dibersihkan. Nah, bagian inilah yang disebut mandai atau dami tadi, setelah menjadi mandai biasanya tidak bisa langsung digoreng tetapi harus direndam lebih dulu di dalam air selama beberapa jam. Lamanya merendam tergantung yang punya niat memasak, seperti mandai di rumah saya sudah sebulan masih saja direndam karena tidak tiap hari memakannya. Dengan direndam ini daging mandai akan menjadi lunak sehingga saat digoreng nanti lebih mudah dan hasilnya lebih enak seperti menggigit daging.
Berikut ini resep sederhana untuk memasak mandai:
Bahan : kulit cempedak yang sudah dibersihkan (mandai), minyak goreng
Bumbu : brambang/bawang merah, bawang putih, lombok merah/hijau, garam. semua bumbu secukupnya.
Cara membuat :
- kulit cempedak yang sudah dibersihkan dipotong-potong, besarnya tergantung keinginannya ada yang suka potongan besar ada juga yang kecil-kecil.
- bumbu-bumbu dikumpulkan kemudian dihaluskan bersamaan.
- campurkan mandai tadi ke dalam bumbu, dioles-oles atau cara apa saja yang penting mandai dan bumbu menyatu.
- panaskan minyak goreng, tunggu sampai panasnya merata agar menggoreng mandainya mudah.
- yang terakhir gorenglah mandai di dalam minyak yang sedang panas-panasnya untuk mendapatkan hasil yang aduhai
Cara menyajikan mandai sama seperti menyajikan lauk lainnya, cukup dihidangkan di dalam piring sudah bisa dinikmati oleh seluruh keluarga, apalagi dimakan dengan nasi panas, uma ai nyaman banar !! tapi bagi yang punya penyakit maag kambuhan hati-hati jangan kebanyakan
Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !

Maret 28, 2007 pada 7:40 pm
Sayang di Jerman nggak ada cempedak, kalau nggak sudah saya coba masak sendiri nih.
Mudah-mudahan kapan-kapan saya bisa ke Banjarmasin, ingin juga!!
ayo kalau ke Banjarmasin saya buatkan masakan mandai basang
Maret 29, 2007 pada 12:46 am
saya dulu sempet heran apa kurang makanan sampai kulit cempedak saja di makan, eee sekalinya nyaman jua.
bisa dimasak macam-macam juga pak Urip, disambal goreng, masak santan, dll bisa juga sebagai ganti lauk ikan kering mirip rasanya asin-asin kan
Maret 30, 2007 pada 5:28 pm
saya jg baru tau kalo kulit cempedak itu dimakan ya disini ini. awalnya heran juga kok kulit jg dimakan yah, klo kulit nangka g bisa dimakan yah. pas mencicipi rasanya aneh…asin agak sepet soale ndak pake nasi, tp lama kelamaan jd terbiasa
tp memang disini alternatif makanan buanyak sekali apalagi jenis buahnya.
nanti adakan penelitian kesehatan ya tentang mandai, pengaruhnya terhadap kesehatan dan kandungan gizi nya.. kalau kulit nangka juga bisa tapi tidak lazim, daging kulitnya agak keras dan kurang enak.
Maret 30, 2007 pada 8:03 pm
Hwaduh… makanan favorit sekeluarga ini! Di rumah harus selalu tersedia sebagai “cadangan” kalau-kalau bosan dengan lauk yang biasa. Bahkan ada anak tetangga saya yang suka ngabur makan di rumah, demi bisa menikmati mandai, padahal di rumahnya lauk-lauk jaman sekarang macam KFC dan Chicken Nugget sudah tersedia…
BTW, hari apa mandai pertama di dunia dimasak?
Jawab: hari senin (Monday)
Hwehehe.. garing…
hehehe…tiada hari tanpa mandai
April 7, 2007 pada 3:40 pm
umm,sbnrnya sih, mandai bkn cm makanan khas bjr.tp byk org2 dayak yang mengenal mandai sejak zaman nenek moyang.rasanya sangat enak.namun sayangnya masih sangat sedikit kajian mengenai mandai.diharapkan nanti masyarakat indonesia tahu tentang mandai.
yup, rata-rata orang kalimantan pasti pernah mengenal mandai..kebetulan orang banjar yang lebih memasyarakatkan makanan ini.
April 7, 2007 pada 3:45 pm
mandai? hmmmm… rasanya enak banget, apalagi kalo digoreng kering terus sama sambal terasi. wow…g ada ikan pun tak apa-apa. cuma sayangnya kok susah banget ya nyari bahan tentang mandai di internet. kajiannya kurang banget. coba seluruh indonesia tau…
kajiannya memang kurang, mungkin orang diluar sana merasa kulit cempedak kurang berguna. mungkin ada mahasiswa dari akademi gizi yang mau meneliti tentang mandai ini.
April 20, 2007 pada 2:31 pm
Makanan kesukaan keluarga!!!! apalagi bila musim tiwadak….makan bisa jadi kada beingat….
hehehe hati-hati sakit parut lah…
April 27, 2007 pada 5:01 pm
waduh, jadi rindu makanan banjar nah T-T, unda sekarang ad di luar negeri, kada kawa makan makanan ky itu T-T hikz,,,
Juli 4, 2007 pada 3:03 pm
iwak karing cacapan asam
nyaman banar….,pas lagi KKN di garut, iseng2 meulah
eh sekalinya kakawanan yang mayoritas urang Sunda ketujuan jua makan iwak karing cacapan asam
hehehe…. ^_^
Juli 27, 2007 pada 4:47 pm
Keluarga besar ulun di Sampit pasti ada cadangan mandai. Soalnya dibelakang rumah masih luas halaman dan banyak pohon tiwadak ganal2 dan manis2 buahnya. Wayahini merantau ke Jakarta sudah lawas kada makan mandai lagi, ma ai kaganangan lawan mandai dimakan lawan gangan balamak plus iwak karing cacapan asam hehehe..batitikan nah liur…
Agustus 23, 2007 pada 4:48 pm
aduhhh, ini yang unda cari cari, akhirnya tatamu jua resepnya
malihat gambarnya aja baliuran nah
makasih lahhhhh
lawas pang kada bulik ka banjar….
dandaman banar…
ada resep maulah iwak wadi kada ?
wassalam
nurul/jakarta
Agustus 29, 2007 pada 9:39 pm
ehmh,,,,, kirim2 ke jogja bang!!!
September 4, 2007 pada 11:12 am
ada resepi murtabak banjar?
September 10, 2007 pada 9:28 am
Ini kisah ulun lagi bujang pank, begawi di kampung urang jadi serumah lawan urang bermacam suku. Pas liburan bulik ka banua, basangu ai mandai lawan pakasam. Cagaran gasan makan pas hari libur (maklum mawarung tarus), sakalinya pas handak mamasaki kadada lagi sudah barangya. Dibuang lawan kawan nang urang subarang. Jar sudah buruk makanya dibuang. Nah am, kada tahu inya..
Wahini, balaki pulang urang luar banua, pas maulah mandai jarnya ” Kaya kambing aja, kulitnya pake dimakan” tapi pas disuruh nyoba, handak tarus.
Itu pank, masakan urang kita. Mungkin tangalih meyakinkan tentang rasanya mun kada langsung dicoba.
September 17, 2007 pada 12:18 pm
Saya mahasiswa pasca sarjana Bioteknologi ITB asal banjarmasin. walaupun bukan asli urang banjar, saya berminat untuk meneliti mandai sebagai tugas akhir saya. tapi, kesulitannya adalah untuk memperoleh data-data, al:
-prosedur pembuatan mandai
-konsentrasi garam yang biasa digunakan
-lama pemeraman
yang akan saya teliti adalah identifikasi mikroba (yg bikin mandai itu enak), pengaruh fermentasi terhadap zat gizi (makanan enak kan harus bergizi, ok!).
Karena penelitian ini pasti akan memperkaya pengetahuan kita terhadap makanan tradisional ini. saya sangat berharap untuk dibantu. bila ada kawan yang punya resep standar, tolong diinformasikan ke email saya: meilla@telkom.net
September 19, 2007 pada 11:48 am
saya tertarik dengan web ni..sebab saya juga keturunan banjar (khalwa) jika salah ejaan tolong betulkan. saya adalah generasi ke 3 di Malaysia yang mana asal datuk saya ialah Banjarmasin, tapi saya tak tahulah daerah mana.
macam pakasam, di Malaysia lazimnya kaum banjar ma ulah “wadi’” (wadik). ikan sapat/puyu atau tilapia nyaman jua diulah wadi. cumanya wadi hingkat disimpan batahun-tahun jika wadah menyimpannya di tutup rapat-rapat.
di sini saya sertakan bahan ma ulah wadi.
1.Ikan sapat/puyu/tilapia
2.Ikan disiang buang kepala, parut(perut) dan darah di celah tulang dalam parutnya. siripnya jangan dibuang.
3. Basuh ikan hingga langis (bersih) dan teeskan setumat.
bahan wadi:
1. beras jawi disanga hingga kakuningan dan ditumbuk hingga lumat
(kada macam pekasam, hanya di tumbuk angkal-angkal)
2. Garam kasar, asam keping , sedikit gula.
cara ma ulahnya:
1. balang kaca/ pelastik yang bertutup.
2.mulaan masukkan garam kasar agak-agak 1/2 inci ke dalam balang
3. kemudian masukkan ikan dan susun rata di atas uyah tadi.
4. masukkan beras sanga yang ditumbuk tadi berserta 1/2 asam kaping . kemudian masukkan garam kasar lagi di atas ikan tadi anggaran 1/2 inci, dan susun ikan lagi di atasnya sehingga rata dan ulangi langkah di atas sahingga panuh balang tadi.
5.katup balang tersebut dan dilapisi karung plastik dan diikat gelang getah di atasnya. (untuk menghindarkan di hurungi lalat).
simapan di tempat tertutup dan boleh di masak selepas lebih kurang 2 atau 3 minggu di simpan.
5.kalau pekasam jika handak dimasak kada payah dibasuh, amun wadi mestilah di basuh bersuh dahulu.
6.kalau digoreng, apinya hendaklah sederhana.
*masa ma ulah wadi tadi gula nya jangan banyak. jika ukuran satu balang jajan gula-gula biasa gula untuk wadi sasudu makan mayu dah. jika talabih gula bila di goreng ikannya nanti jadi hirang sangat.
Resepi Wadi’
(A) Wadi Hampalam Anum (wadi mangga muda)
1.ikan wadi’
2.hampalam anum(muda) sebiji di cincang dan dihiris halus (kada kira hampalam apa pun kacuali (kuinin dan macang)
3.cabai perawit (cili pipit/cili burung) 10 biji,di hiris halus. amun handak sunging talinga banyaki pang.
4.bawang halui 5 biji.di hiris
5.bawang puteh 3 biji.di hiris
6.minyak masak 3 sudu makan
[cara ma ulah]
wadi di goreng huluk hingga agak-agak garing di angkat.
tumiskan bawang hingga naik baunya dan masukkan hampalam muda yang telah dicincang dan di hiris halus berserta cabai tadi.
masukkan ikan yang telah di goreng tadi hingga semua bahan tadi sebati. masukkan secubit gula dan perasa sedikit berserta 5 sudu makan banyuk.
anggaran kering sedikit banyuknya angkat lah lauk tadi.
** sedap dimakan tetangah nasi pun panas.
sekian untuk kali ini, jika ada yang berminat saya akan berikan lagi resepi untuk memasak wadi. selamat berpuasa
September 22, 2007 pada 5:45 am
Ulun kada tahuk namanya “mandai”.Mun musim tiwadak, lauk ikan atau daging kada diherani. Tiwadak goreng yang dicari.
Salam dari Malaysia.
September 27, 2007 pada 8:33 pm
TOLONG PANG BUATAKAN APAM BARABAI NAH…..
Oktober 21, 2007 pada 3:09 pm
makanan favorit sekeluarga.walau sudah lama tinggal di jakarta,makanan yang satu ini kada ketinggalan dirumah
Nopember 27, 2007 pada 9:56 am
hai ….. asyik jua ada komenter dami tiwadak
aku lagi maulah proposal penelitian tentang dami tiwadak.
Do’a kan lah diterima …. he..he..he…
Desember 7, 2007 pada 11:26 am
halo dewi,
aku pun sedang buat proposal tesis mengenai mandai ini. bisa sharing info?
tesisku ttg standardisasi produk mandai. tesis untuk magister bioteknologi di ITB. Aku dosen di Poltekkes Banjarmasin Jurusan Gizi (Akzi)
Desember 7, 2007 pada 10:34 pm
laparam aku
maka di balikpapan ni warung jauh-jauh
warung banjar ada jua di klandasan, situ pang bubuhannya badiam salain di kebun sayur
tapi kadada pakasamnya, hahahah
lapar, lapar
minta kirimi mama aja gin kena; pakasam, mandai, …
ya kalo, bang ansul (anak sultan), hehehe
Desember 13, 2007 pada 1:25 am
Ikan wadik lagik sadap … akuk ni banjar tapik kada tahuk makanan banjar malainkan ikan wadik…
April 29, 2008 pada 4:59 pm
bagus banar resep2nya nah.. dasar banjar tu banyak baisi masakan2 traditional, amun bahari waktu masih halus ulun rancak banar di bawai mama abah ke warung 41 di cempaka, di situ tersedia 41 macam masakan wan wadai khas banjar, terkenal banar wayah ulun halus. kada tahu lagi mun wahini..
tapi sayang disini haraga kulit tiwadak larang.. adanya jua kalengan.
waktu kuliah di malang ini, ulun suah maulahakan ibu kost ulun iwak mandai, sidin katuju jua, lawan bingung kenapa kulit tiwadak bisa diulah jadi lauk..
Amun kawa tulisakan lagi lah resep2 makanan khas banjar lainnya, kaya dodol kandangan, katupat kandangan, soto banjar, dll
Juni 17, 2008 pada 11:59 am
bagaimana cara merandam kulit cempedak? bersama garam atau air panas sahaja. Saya sudah mencoba nya arwah nenek yang goreng, memang nyaman dan rasanya macam daging……mula2 saya memang hairan mengapa kulit pun dimakan?????memang dah coba merandam tapi kalau lama2 jadi busuk…..kalau makan banyak2 boleh kena penyakit angin tak?
salam
banjar keturunan gusti