Upacara Aruh Ganal
Ditulis oleh Anak Sultan di/pada April 24, 2007
Upacara Aruh Ganal ini merupakan upacara adat yang terdapat pada suku Dayak Bukit di Pegunungan Meratus. Suku Bukit yang sering melaksanakan upacara ini antara lain daerah Mancabung, Harakit, Balawaian, Batung, Danau Darah, dan Ranai.
Aruh Ganal artinya Kenduri Besar (aruh = kenduri, ganal = besar). Jadi upacara ini dilaksanakan secara besar-besaran oleh seluruh warga kampung dan dihadiri undangan dari kampung lainnya. Dinamai aruh ganal karena ada juga tradisi aruh kecil yang disebut baatur dahar. Baatur dahar ini biasanya hanya dilakukan di lingkungan keluarga. Kemeriahan aruh ganal yang dilakukan tergantung keadaan ekonomi warga di kampung tersebut, sebagai ukurannya adalah hasil panen padi, kacang, dan tanaman pokok lainnya. Apabila hasil tanaman tersebut banyak dan bagus maka akan diadakanlah upacara aruh ganal, sebaliknya jika panen kurang berhasil maka cukup diadakan aruh kecil atau bahkan tidak diadakan sama sekali.
Tujuan diadakannya aruh ganal ini sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang dilimpahkan oleh Yang Maha Kuasa, sekaligus memohon agar hasil tahun yang akan datang mendapat panen yang melimpah, dijauhkan dari mara bahaya dan mahluk perusak tanaman.
Waktu Penyelenggaraan
Aruh ganal pada dasarnya dilakukan setahun sekali, namun apabila dalam musyawarah adat menganggap bahwa penduduk banyak yang kurang penghasilannya, maka aruh ganal tidak dilaksanakan pada tahun itu. Waktu penyelenggaraan sesudah panen yang biasanya jatuh pada bulan Juli dan Agustus. Untuk menetapkan hari dan tanggalnya diputuskan dalam musyawarah desa yang dipimpin oleh Kepala Adat dibantu oleh Kepala Kampung. Dalam menentukan tanggal diperhatikan bulan muda , berkisar antara tanggal 1 sampai 15, hal ini berhubungan dengan simbol bahwa rejeki akan naik apabila dilaksanakan pada tanggal-tanggal tersebut.
Persiapan Upacara
Tempat dilaksanakannya upacara adalah di dalam Balai Adat. Persiapan aruh dimulai dengan hari batarah sehari sebelum upacara dimulai. Hari batarah maksudnya hari memulai pekerjaan, mempersiapkan segala sesuatu, membuat perlengkapan upacara, menyiapkan sesaji. Pekerjaan itu harus selesai dalam satu hari.
Perlengkapan upacara yang paling penting adalah langgatan. Langgatan merupakan induk ancak dan sesaji. Untuk menghias langgatan dilakukan pada keesokan harinya setelah malam pembukaan. Langgatan dibuat bersusun lima tingkat, ancak yang terbesar terletak di bawah, makin ke atas makin kecil. Langgatan itu nantinya digantung di tengah balai dengan menggunakan tali rotan yang diikat di empat sudutnya.
Langgatan ini namanya bermacam-macam sesuai dengan isi dan tujuannya. Ada yang bernama Ancak ka gunung (tidak bertingkat), Ancak Balai Raden (berbentuk perahu)
Jenis perlengkapan lainnya adalah Kelangkung, dibuat sebanyak tiga buah. Yang pertama disebut Kelangkung Mantit (nama nenek moyang burung), Kelangkung Nyaru (Dewa Petir), Kelangkung Uria (dewa yang memelihara segala mangsa dan bala yang merusak tanaman)
Pelaksana Upacara
Untuk menyelenggarakan kegiatan upacara yang bersifat khusus mulai awal sampai selesai dilakukan oleh Balian. Balian ini mempunyai pengetahuan yang luas mengenai seluk beluk adat dan tradisi yang dipercayai. Pengetahuan ini diperoleh dengan cara berguru kepada Balian Tuha dan balampah (melakukan semacam semedi untuk bersahabat dengan berbagai jenis roh halus untuk memperoleh kesaktian tertentu).
Dalam upacara ini Balian yang melakukan tugas ada beberapa orang. Sebagai pimpinan dari Balian ini adalah Pangulu Adat (penghulu adat).
Setiap Balian selalu didampingi oleh Panjulang. Panjulang adalah wanita yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian atau dapat pula mengajukan permohonan atas kehendak masyarakat. Segala permintaan oleh Balian dilayani oleh Panjulang.
Upacara yang dilakukan oleh Balian ini akan berlangsung dalam lima hari berturut-turut sampai acara Aruh Ganal selesai.
Kada Ulun Biarakan Budaya Banjar Hilang di Dunia !
Alamnirvana berkata
Menarik juga ya, upacara Aruh Ganal suku Bukit, bagaimana dengan upacara suku Maanyan apa ada kemiripan? Apa suku Bukit juga memiliki upacara yan berkaitan dengan air atau sungai (Manyanggar Danau)? Kalau tidak salah suku Dayak Bangkalaan di Hampang, Kotabaru juga memiliki upacara badudus. Bagaimana dengan upacara di keraton Banjar tempo dulu, saya sekilas pernah membaca tentang upacara Aruh Mulud (Garebeg Mulud) dimana raja dimandikan (badudus) dengan air yang diambil dari 5 mata air dari Candi Agung, Candi Laras, Ulak Besar, Muara Cerucuk dan Muara Bincau? Kalau masyarakat di tepi sungai Balangan kesah paninian bahari, kalau wanita hamil tujuh bulan dibawa dengan “gerobak” (pedati) untuk dimandikan “badudus” di Gunung Batu Piring dekat Paringin, karena penduduk Balangan dikatakan “tutus” dari tempat tersebut. Itu jaman paninian bahari wayahini kada lagi! Berelaan, lah!
sepertinya upacara aruh ganal ini dilakoni oleh berbagai macam suku dayak seperti halnya upacara manyanggar banua atau padang atau danau, mungkin namanya yang berbeda. kalau ada referensi bisa dikirimkan supaya bisa diposting disini jua.
astrid salan berkata
mantabh (!)
anak qs 04 berkata
Ass
ulun urang banjar pak, tapi ulun kadak sakaluargaan kadak suah bulik kabanjar, ulun balajar bahasa banjar dari urangtuha ulun dari haloi. tapi ulun sama sekali kadak tahuk kayak apa adat istiadat urang banjar tu sabujurnya. karna urang tuhak ulun hanya ma ajarkan bahasa banjar. tolong ditulis cerita tentang adat istiadat perkawinan urang banjar pak,
ulun wahini badiam di riau-tembilahan. ditampat ulun badiam wahini hampir samuaan urang banjar.
takutancecak berkata
mun pian handak malihat langsung urang ba aruh umpat tulak ka balai baringan paramasan…disana masih pure
ipai berkata
Ass
Harat banar lih budaya dayak maratus nginih…
Ulun ni bingung pak ai, apa bedanya garang dayak maratus lawan kita banjar, padahal bahasanya mirip haja.
ulun jua parnah mandangar, jarnya banjar ni di sebut jua dengan dayak tabing, bujur kah kada kah ngintu pak lah…
Syarifuddin Ardasa berkata
Mun tradisi ini pernah ulun liput di Harakit, sempat nginap di balai semalaman. Puncak acaranya mirip urang bazakat, baras yang sudah dikumpulkan dibagi rata agar barakat jar.. (Tapi bagi pegiat fotojurnalis dan videojurnalis yang ingin mengabadikan kegiatan ini, agar berhati-hati. Karena tidak semua prosesi diijinkan untuk diabadikan. Bagi yang melanggar akan dikenakan denda adat, terutama saat mengambil gambar Balian dan tokoh adat yang sedang merapal doa). Oke… semoga tetap lestari.
cumie berkata
mantap infonya
maju terus banjar
ariev berkata
banjar bungas jangan katinggalan lawan kuta2 nang lainnya jua…
ayuam budaya madihin kita mainanakan pulang,pina lawas banar pajah..
rahma_wara20@yahoo.co.id berkata
ayu am di kisahkan kayapa adat orang banjar bakawinan,masalah duit yang handak di aruhakan.sebab suku lain menilai adat banjar bekawinan jujuran larang jer disambat bajual anak.tapi kita begamatan haja menjelaskan supaya kada salah paham.
coko berkata
tataian